Skip to content

Wawasan Jurnalis Indonesia: Tawaran Perbincangan

September 23, 2014

Bahan perbincangan dengan anggota baru AJI

Baru-baru ini saya membaca sebuah buku bertajuk Jurnalisme dan Politik di Indonesia (YOI, 2011) karya David T. Hill, seorang indonesianis penting asal Australia. Buku ini adalah biografi kritis terhadap perjalanan hidup, pemikiran, sepak terjang, dan perjuangan Mochtar Lubis (alm.), seorang jurnalis dan pengarang Indonesia terkemuka pada zamannya.

Mochtar Lubis dikenal sebagai jurnalis yang berjihad melalui media mengkritik rezim penguasa, baik pada masa Orde Lama maupun pada masa Orde Baru. Ketegaran, ketegasan, dan keberaniannya dalam mengkritik penyalahgunaan kekuasaan mengantarnya dua kali ke bilik penjara, masing-masing pada akhir kekuasaan Sukarno dan terulang pada masa-masa awal kekuasaan Suharto. Serentak dengan itu juga koran yang dipimpinnya Indonesia Raya dibreidel.

Banyak aspek yang menarik dari pendedahan riwayat kehidupan Mochtar Lubis sebagai jurnalis dan pengarang di buku ini, yang di satu sisi memperlihatkan situasi sosial politik dan kebudayaan Indonesia pada zamannya dan pergumulan seorang manusia Indonesia, yang ‘kebetulan’ seorang jurnalis (dan pengarang) dengan masalah-masalah sosial-politik dan kebudayaan masyarakat dan bangsanya. Dalam bahasa yang diperpadat, yang didedahkan David T. Hill bukan semata persona seorang ‘jurnalis dan pengarang’ tapi seorang cendikiawan par excellence.  Ya, Mochtar Lubis bukan sekadar jurnalis, apalagi ‘kuli tinta’ sebagai sebutan yang lebih pejoratif. Dengan visi dan wawasan yang ada di kepalanya, terlepas kita setuju atau tidak dengan visinya tersebut, dia adalah ‘cendikiawan organik’ (meminjam istilah Antonio Gramsci).  Memang jurnalis pada hakikatnya adalah cendikiawan!!!

Tentu saja ada perbedaan mendasar antara struktur ekonomi-politik dan kebudayaan pada zaman Orde Lama dan Orde Baru, dengan Orde Reformasi sekarang ini. Tantangan yang dibentangkannya dan kemudahan yang disajikannya pasti lain sama sekali. Aspek-aspek teknis di dalam praktik jurnalistik juga lain sekali. Tetapi, hal ini tidak menghalangi keharusan seorang jurnalis untuk pada saat yang sama menjadi cendikiawan bagi masyarakatnya. Ini hanya mungkin jika sang jurnalis sendiri memiliki visi dan wawasan yang jelas mengenai masalah-masalah yang melilit masyarakat dan bangsanya. Bersama unsur cendikiawan lain: akademisi, aktivis NGO, seniman, dan politisi, sang jurnalis dengan caranya sendiri ikut memecahkan dan mendorong penyelesaian masalah masyarakat dan bangsanya tersebut.

***

Kini apa persisnya visi dan wawasan tersebut? Ini konsep yang abstrak dan bersifat luas sekali, tetapi dalam rumusan yang singkat ia adalah suatu ‘pengetahuan sadar’ akan masalah-masalah ekonomi-politik dan kebudayaan, baik di tingkat regional, nasional maupun internasional, serta pada saat  yang sama ‘arah’ penyelesaiannya, sekarang ini dan di masa depan. Tentu saja pengetahuan ini bersifat garis besarnya saja, dan ini yang membuat seorang jurnalis dianggap ‘tahu sedikit tentang banyak hal.’ Tetapi ‘tahu sedikit tentang banyak hal’ ini naik derajatnya ketika ia dibingkai dalam suatu kesadaran intelektual akan peta, duduk masalah dan arah solusinya. Visi dan wawasan ini, dengan demikian, jadi bersifat politis. Ia menjadi prisma untuk menyeleksi berita apa yang hendak diangkat, bagaimana dia ditulis, siapa yang diwawancarai, dan seterusnya. Sekali lagi, ini jika pekerjaan jurnalistik ini dianggap sebagai pekerjaan cendikiawan, bukan pekerjaan tukang.

***

Dengan rumusan di atas, kini kita bisa membincangkan apa saja masalah-masalah ekonomi-politik dan kebudayaan yang melilit masyarakat dan bangsa kita sekarang ini dan di masa depan. Yang lebih penting lagi, apakah kita menyadari hal ini? Besaran-besaran di bawah ini adalah beberapa isu yang, menurut saya, menjadi problema penting sekarang ini dan di masa depan. Boleh setuju, boleh tidak. Silahkan juga jika ingin menambahkan dan mempertajam!

Politik: Hingga sekarang kita masih menyebut era ini sebagai ‘transisi’ menuju reformasi yang sejati. Hal ini ditandai dengan masih aktifnya berbagai komisi ad hoc, sepertik KPK, KOMNASHAM, dan lain-lain. Menjadi pertanyaan sampai kapan transisi ini? Pemilu(kada) jelas menunjukkan suatu prosedur yang demokratis di dalam dirinya, tetapi politik uang yang mewarnai di hampir setiap proses politik itu membuat hasil dari prosedur demokrasi itu menjadi hambar. Rekruitmen pemimpin menjadi macet, karena kriteria-kriteria kepemimpinan disingkirkan oleh mesin uang. Kantor pemimpin daerah dan gedung parlemen akhirnya dalam banyak hal menjadi sarang para penjarah. Apa yang salah dengan sistem politik ini dan bagaimana solusinya?

Ekonomi: pasar bebas yang jendelanya telah dibuka sejak akhir masa pemerintahan Suharto, kini telah memasuki bagian dalam rumah Indonesia kita. Sudah sejak awal diprediksikan bahwa dalam sistem ini ‘yang kecil’ akan termakan. Pasar tradisional tersungkur. Pekerja kecil mati berdiri. Perusahaan-perusahaan besar merambah ke pelosok desa dan kampung. Industri pertanian hancur. Hukum pasar bebas diikuti dengan patuh sekali, haram proteksi negara tentang apapun dan kepada siapapun. Semuanya harus bebas-lepas.  Kesenjangan melebar. Tetapi rupanya kesenjangan ini bersifat berjenjang: antara dunia pertama dan ketiga, utara-selatan, desa-kota, dan seterusnya. Krisis yang terjadi di Eropa dan Amerika sekarang ini, telah memperlihatkan bahwa sistem ini kini sedang dipertanyakan.

Agama: Terserah apa label yang kita capkan, ‘kebangkitan agama’ ataukah ‘fundamentalisme’, suatu kenyataan yang tampak adalah makin menguatnya kehidupan keagamaan di masyarakat kita. Inilah bangsa yang sejak bangun tidur hingga tidur kembali dipenuhi dengan khotbah-khotbah keagamaan, baik melalui media maupun secara langsung. Jumlah rumah ibadah luar biasa banyak dan hampir seluruh pejabat publik dan tokoh masyarakat terlibat dalam kegiatan keagamaan sebagai kegiatan publik. Tetapi semangat keagamaan yang luar biasa ini berlawanan lurus dengan rendahnya ‘nilai keadaban publik’ dan meluasnya korupsi. Hingga kini Indonesia masih masuk sebagai negeri terkorupsi. Agama dalam hal ini seperti sebuah kemasan saja, dan radikalisme keagamaan adalah jenis lain dari kemasan tersebut. Akan bagaimana agama ini di masa depan dan bagaimana pengaruhnya?

Kependudukan: Salah satu yang memengaruhi masa depan adalah besar-kecilnya populasi penduduk. Makin besar jumlah penduduk makin besar beban negara. Indonesia masih menduduki negeri ketiga yang terbesar penduduknya. Menarik bahwa perkembangan penduduk dalam satu dekade terakhir ini boleh dibilang besar. Yang mengejutkan perkembangan ini terjadi di kalangan masyarakat bawah, yang terbatas akses kontrasepsinya dan masih beranggapan anak adalah modal, dan relatif tidak di kalangan masyarakat menengah atas. Sungguh ironis. Maka suatu pelestarian kemiskinan berlangsung di sana. Wajahnya kita lihat misalnya bagaimana problematiknya transportasi rakyat.

***

Demikian sekadar beberapa ilustrasi besaran problema yang mungkin menarik kita perbincangkan. Sekali lagi, ini sekadar perbincangan. Sekadar ilustrasi saja. Yang penting diingat, tidak perlu berpikir bahwa wawasan itu ‘harus’ didapat dengan membaca buku. Kita bisa memperolehnya juga dengan diskusi-diskusi kecil dan perbincangan-perbincangan informal. Sebuah ‘forum diskusi jurnalis’ jadi penting di sini!

From → Kertas Kerja

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: