Skip to content

Menuju Jurnalis sebagai Cendikiawan

May 3, 2014

Hairus Salim HS, Penulis dan salah seorang pendiri AJI Jogjakarta

Orasi Budaya pada Hari Kebebasan Pers, 3 Mei 2014, di Bentara Budaya, yang diselenggarakan oleh AJI Jogjakarta.

 

Ass. Selamat malam dan salam sejahtera utk kita semua.

 

Yang terhormat Ketua AJI Jogjakarta dan teman-teman jurnalis, aktivis, dan mahasiswa.

Pertama, saya ingin mengucapkan selamat Hari Kebebasan Pers kepada semua teman jurnalis. Semoga kebebasan dan jaminan keamanan bagi jurnalis semakin membaik dan meningkat, serta tidak akan ada lagi kekerasan pada jurnalis, dan dengan atmosfir itu semua jurnalis makin berperan dlm membentuk masyarakat yang demokratis, damai, adil dan sejahtera.

 

Kawan-kawan sekalian. Para jurnalis idealis mungkin seperti makhluk alien sekarang ini.

Pada awal April 2014 lalu, sejumlah jurnalis dari situs berita online terkemuka di negeri ini ramai-ramai keluar dari tempat mereka bekerja. Tempat mereka bekerja itu sebenarnya sangat bonafid, keren dan sudah masyhur. Apalagi situs berita itu merupakan bagian dari sebuah stasiun televisi swasta yang sudah punya nama. Ikhwal apakah yang membuat mereka keluar dari tempat kerja yang nyaman tersebut?

 

Menurut berita, mereka keluar karena menolak campurtangan anak sang pemilik yang tidak setuju dengan sebuah iklan yang dipandangnya mendukung salah seorang calon presiden. Jika benar alasan itu, maka sesungguhnya yang dipersoalkan dan dikeluhkan para jurnalis ini adalah hilangnya kebebasan. Bagaimana bisa lebih dari 15 tahun reformasi, kebebasan itu masih dikebiri? Negara yang kuat memang telah lama lewat. Tapi dalam situasi apapun, kebebasan tidak akan selalu praktis ada dan di bawah politik yang dikuasai modal, penyerahan dan penaklukan atas kebebasan justru berlangsung lebih halus.

 

Peristiwa itu sangat menyedihkan. Rupanya memang para jurnalis idealis makin menjadi makhluk aneh dalam jagat jurnalisme sekarang ini. Tetapi marilah kita bersyukur juga, karena meski merupakan makhluk aneh dan walau mungkin cuma segelintir, tetap saja ada yang hendak mendudukkan dirinya sebagai jurnalis yang berhasrat menyampaikan kebenaran dan meluruskan informasi yang bengkok. Masih banyak yang bersedia meneruskan perjuangan Muhammad Syafrudin atau udin, jurnalis yang mati terbunuh hampir dua dekade lalu karena memberitakan kebobrokan birokrasi dan petingginya.

 

Dan menyebut nama udin, berarti mengingatkan kita pada hutang sejarah yang belum lunas. Agustus tahun ini, tragedi ini telah memasuki usia 18 tahun. Betapa lamanya, tapi betapa masih segarnya juga di ingatan kita. Di kalangan sejarawan, 18 tahun itu bukanlah waktu yang lama, karena melalui metodologi tertentu, bahkan peristiwa berabad-abad lalu pun bisa mereka ungkapkan. Karena itu, jarak kita dengan peristiwa Udin bukanlah jarak waktu seperti dengan semena-mena digariskan oleh hukum, sebagai kadaluwarsa. Jarak kita dengan Udin adalah jarak antara yang prokeadilan dan yang antikeadilan, antara yang ingin tegaknya kebenaran dan yang menghamba pada kebusukan, antara yang peduli demokrasi dan yang emoh demokrasi, dst. Jaraknya lebih soal mentalitas dan harapan, bukan angka, dan dari situ jelas “18 tahun’ hanya soal alibi dan apologi. Kita harus tetap membayar lunas hutang ini, sampai kapan pun.

 

Di luar dan setelah Udin, ternyata masih ada beberapa jurnalis yang tewas terbunuh karena tugas dan tanggungjawabnya. Dan seperti Udin, tak ada satu pun kasusnya yang diungkap aparat hukum. Sementara kekerasan kepada jurnalis terus saja berlangsung. Menurut sebuah sumber, sejak Mei 2013 hingga April 2014 lalu saja, terjadi 43 kekerasan terhadap jurnalis. Nyata bahwa kebebasan belum sepenuhnya dipegangi jurnalis dan jaminan keamanan serta penghormatan pada profesi ini sangatlah lemah.

Sahabat-sahabat sekalian, itulah perkara yang tetap dan terus menjadi keprihatinan kita. Diperlukan waktu yang lebih lama dan kesabaran yang kuat untuk menegakkan kebebasan ini.

 

Namun di luar itu, “kita” penting juga memikirkan tuntutan yang keras dari masyarakat terhadap tanggung jawab dan penegakan etika jurnalisme. Di tengah-tengah banjir berita seperti sekarang ini, dan kecenderungan jurnalisme baru yang dibawakan oleh perkembangan luar biasa teknologi komunikasi dan informasi, kedudukan etika ini menjadi carut marut. Praktik jurnalisme menuntut kecepatan pelaporan berita dan kontestasi berlangsung makin keras. Istilah ‘harian’ apalagi ‘mingguan’ pada dasarnya sudah lama menjadi usang dan basi. Maka salah satu praktik yang menggejala dalam konteks ini adalah ‘soundbites’.

 

Saya belum menemukan padanan istilah ini dalam bahasa Indonesia. Awalnya soundbites adalah klip singkat dari sebuah pidato atau musik yang diambil dari rekaman audio yang lebih panjang dan lengkap, yang sering digunakan sebagai promosi atau contoh. Karena orang tidak cukup waktu menonton dan atau mendengarkan versi yang lengkap, maka dibuatkanlah semacam soundbites. Praktik soundbites ini dilakukan para tim sukses kampanye Presiden Ronald Reagen pertengahan 1980an lalu.

 

Rupanya soundbites ini menjalar ke dunia jurnalisme. Bentuknya berupa frase pendek atau kalimat singkat yang hendak menangkap esensi dari apa yang dikatakan seorang pembicara atau narasumber. Sounbites digunakan untuk meringkas informasi sekaligus diharapkan menarik perhatian pembaca atau pemirsa. Dalam praktiknya, baik di media cetak maupun penyiaran, soundbites secara konvensional sering disandingkan dan diselingi dengan komentar si jurnalis untuk membuat berita yang baru sama sekali. Idealnya yang muncul adalah laporan berita yang seimbang yang diharapkan mengandung suara yang mewakili kedua sisi perdebatan. Tetapi kenyataannya, bagaimanapun, hal ini bisa menyebabkan bias pelaporan karena soundbites itu lebih dipilih untuk tujuan sensasi, atau digunakan untuk mempromosikan sudut pandang satu individu atau kelompok atas yang lain. Kecenderungan terakhir inilah yang sering terjadi.

 

Soundbites menjadi-jadi sekarang ini karena jurnalis dituntut harus melaporkan berita secepatnya sekaligus dengan itu bisa memikat pembaca. Maka yang muncul adalah soundbites tersebut. Ibarat dalam sebuah rimba di tengah malam, soundbites merupakan kobaran api yang tinggi menyala yang membuat seorang pengelana yang sedang mencari jalan akan langsung datang ke sana. Dalam praktik media sosial, fesbuk dan twitter misalnya, soundbites mirip dengan praktik ‘capture’. Orang dikabarkan dengan satu bagian kecil dari komentar ‘seseorang’ yang panjang dan luas, tanpa konteks, tanpa argumen, tanpa informasi apapun. Segera saja ‘capture’ itu menarik perhatian, dan membuat berang banyak orang.

 

Sungguh menyedihkan kalau praktik jurnalisme yang terhormat itu jatuh dalam sensasi murahan. Orang menjadi kehilangan penghormatan pada jurnalisme dan pada diri jurnalisnya.

 

Mungkin soundbites menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan. Tapi jelas jurnalis butuh kecerdasan dan komitmen intelektual  yang kuat agar soundbites tidak menjadi sesuatu yang semata sensasional.

Teman-teman sekalian, sebagai penutup, sekadar cerita sedikit. Ketika saya ditunjuk sebagai sekretaris AJI Jogja beberapa tahun lalu, saya ditanya oleh seorang jurnalis. Waktu itu Orde Baru di tubir kejatuhannya. “Mau dibawa kemana jurnalis yang bergabung di AJI?” Ada beberapa jawaban saya, tapi salah satunya adalah, saya ingin para jurnalis kembali menjadi cendikiawan sebagaimana di tahun-tahun awal kemerdekaan. Transformasi menjadi cenkiawan akan terjadi jika para jurnalis bisa menegakkan tanggung jawab dan komitmennya sebagai jurnalis, serta memanfaatkan kebebasan yang terbatas ini untuk nubuat sosial. Dan jurnalis sebagai cendikiawan itulah yang menjadi salah satu ujung tombak pembentukan masyarakat ini.

 

Dan siapakah Udin yang namanya kita gemakan dari hari ini? Udin, yang telah menjadi monumen dan lambang kebebasan pers, bukan sekadar jurnalis. Ia telah bertranformasi. Ia dalah cendikiawan par excellence.

Demikian. Maaf kalau ada kekurangan dan terima kasih atas perhatian.

 

Salam

From → Kertas Kerja

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: