Skip to content

Penerjemahan Karya Sastra: Pandangan seorang Pembaca

February 3, 2014

Hairus Salim HS

(Ikhwal penerjemahan sastra telah banyak dibicarakan. Baca misal Anton Kurnia “Penerjemahan Sastra, Sebuah Pandangan”, Horison, Oktober 2012 yang membahas hampir seluruh isu –yang sepertinya tak bergeser—mengenai penerjemahan sastra modern ini. Kajian Doris Jedamsky (2008) dan Maya H.T Liem (2011) memberikan wawasan bagaimana praktik penerjemahan era kolonial dan setelah kemerdekaan, yang tak banyak berubah situasinya dengan masa kini. Lalu sebuah himpunan tebal berjudul Sadur: Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia (2009), yang dikumpulkan dan disunting oleh Henri Chambert-Loir, memberikan pengetahuan luar biasa jenis-jenis, problem-problem, dan sumbangan karya terjemahan pada kebudayaan. Rasanya hampir tak ada lagi yang bisa dibahas. Berikut ini sekadar catatan seorang pembaca sastra terjemahan modern dalam bahasa Indoensia). 

———————————————————————————————————

Terlalu sering kita dengar bahwa karya terjemahan merupakan karya tersendiri, yang mesti mendapatkan apresiasi tersendiri pula. Dan ini ungkapan klise yang lain: melalui jasa para penerjemahlah, kita mengenal karya-karya sastra dunia.   

Meski demikian, tak ada penghormatan yang memadai terhadap karya sastra terjemahan. Penghargaan-penghargaan sastra sama sekali tidak meliriknya dan mungkin menganggapnya sepi. Tidak ada undangan khusus kepada penerjemah untuk membincangkan sekaligus mempertanggungjawabkan karya terjemahannya.

Tapi para penerjemah sendiri rupanya tidak begitu percaya diri. Hal ini terlihat dari jarangnya ‘mereka’ mencantumkan nama sebagai penerjemah di sampul depan sebuah buku sastra terjemahan. Di antara yang sedikit bisa disebut misalnya NH Dini, Nin Bakdi Soemanto dan A.S. Laksana. Masing-masing ketika menerjemahkan Sampar (Albert Camus), The Name of the Rose (Umberto Eco) dan Daerah Salju (Yasunari Kawabata). Umumnya nama penerjemah tertulis kecil di dalam halaman kredit titel. Tanpa riwayat, tanpa penjelasan. Atau sekadar tertera di halaman dalam, dengan nada yang agak malu-malu.  

Kecenderungan kedua: penerjemah biasanya tidak memberikan pengantar pengalamannya bergumul dengan teks asing ini, ikhtiarnya memahami siktaks, diksi dan gaya si pengarang, kesulitan-kesulitan yang dihadapi, berapa lama menerjemah, dan akhirnya sarannya kepada calon pembaca karya terjemahannya, singkatnya semacam “catatan penerjemah”. Pada halaman pertama setelah halaman Romawi sering tiba-tiba ‘kita’ disuguhkan langsung dengan terjemahan.[1]   

Apakah pentingnya suatu pengantar penerjemah itu? Barangkali bisa kita ambil di sini, Bahrum Rangkuti,  satu di antara sedikit ‘penerjemah’ yang membuat pengantar untuk karya terjemahannya, ketika menerjemah puisi-puisi panjang karya Muhammad Iqbal, Asrar al-khudi, Rahasia2 Pribadi, beberapa tahun lampau (1953). Dalam pengantar, Bahrum menulis:

“Menjalin sudah tentu lain tjaranja dari membatja. Membatja ialah kesanggupan dan keasjikan meni’mati tjita pengarang, sedangkan menjalin ia berusaha mendjelmakan sesanggup mungkin keindahan. Irama, warna dan suasana jang dimaksudkan pengarang. 

Untung ada pula seorang ahli Bahasa Farsi. Tuan Arif Hussein, B.A.LL.B., dikedutaan Pakistan, Djakarta, jang banjak menolong saja memahamkan kata dan kalimat jang sulit-sulit dalam bahasa tersebut.”

Saya  tak bermaksud menilai kualitas terjemahan Bahrum ini, dan juga tak punya kuasa dan wewenang untuk melakukan penilaian. Yang hendak saya sampaikan adalah bagaimana melalui pengantar ini, penerjemah menunjukkan kesungguhan dan pergumulan mereka dalam ikhtiar penerjemahan. “…menjalin” tulis Bahrum, adalah “berusaha mendjelmakan sesanggup mungkin keindahan.” Dan usaha ini adalah suatu keinginan untuk setia pada “irama, warna dan suasana jang dimaksudkan pengarang.” Pada bagian berikutnya, dengan jujur dan rendah hati, Bahrum mengakui banyak tidak memahami kata dan kalimat dalam bahasa yang hendak diterjemahkan itu. Untunglah, menurutnya, ada seorang yang ahli dalam bahasa tersebut yang turut membantunya.

Kerja terjemahan bukan main-main. Ia perlu kesungguhan dan kesediaan untuk belajar. Tentu tidak ada jaminan bahwa dengan usaha –seperti yang dikemukakan dalam pengantar ini—terjemahan akan sangat baik. Tapi pengakuan ini telah dengan jitu meyakinkan saya, sekali lagi sebagai pembaca, bahwa terjemahan ini telah dikerjakan dengan serius, sungguh-sungguh, berpeluh-peluh.

Contoh lain adalah NH. Dini ketika menerjemahkan karya Albert Camus, Le Peste menjadi Sampar (1985). Dalam pendahuluannya NH Dini menulis:

“Pengalaman “menggauli” Albert Camus sampai terjemahan ini selesai, sangat mengayakan. Bahasa Prancis jauh lebih berumur dari Bahasa Indonesia. Liku-liku teknik dan nuansanya hanya bisa ditandingkan dengan dengan bahasa (yang saya kenal) Jawa. Ditambah gaya khas Albert Camus! Tetapi saya mencintai pengarang ini. Dalam cinta saya, di antaranya ada rasa hormat dan kekaguman. Keduanyalah yang mengendalikan seluruh waktu “pergaualan” kami, yang menyebabkan saya selalu berusaha bekerja seteliti mungkin.

Dibantu oleh Benedicte, Anne-Marie, Bulan, Edi dan Asti, ternyata Albert Camus memang mungkin diperkenalkan kepada penggemar bangsa Indonesia…”

Kita membaca nada yang sama dari yang ditulis Bahrum: menerjemah adalah suatu ikhtiar yang melelahkan dan kemauan keras untuk belajar sekaligus memberi. “…saya selalu berusaha bekerja seteliti mungkin,” tulis Dini, meski sayang sekali, ia tidak mengurai lebih terperinci dan menawarkan satu-dua contoh bagaimana gaya khas Albert Camus dalam Bahasa Prancis yang ia anggap penuh lika-liku dan bernuansa itu. Tetapi sekali lagi, saya sebagai pembaca, diyakinkan dengan pengantar ini.

Dua contoh yang saya comot ini rupanya bukan kebetulan. Keduanya menerjemah dari bahasa aslinya. Bahrum Rangkuti dari Bahasa Persia dan NH. Dini dari Bahasa Prancis. Bahrum belajar Islam dan Bahasa Persia dua tahun di Rabwah, Pakistan, dan karena itu cukup kenal bahasa Parsi percakapan dan sastrawi. NH Dini pernah bersuamikan orang Prancis dan tinggal di sana beberapa tahun. Dengan demikian, ia cukup paham bahasa Prancis, sebagai bahasa ilmiah, sastra maupun percakapan. Tetapi ‘pengetahuan’ ini bisa jadi justru yang menghalangi mereka untuk tidak mudah mengetikkan satu kata atau menggariskan satu kalimat dalam bahasa Indonesia, karena merasakan adanya ketidaktepatan, kekurangcocokkan, atau kekurangserasian. Meski sebenarnya kata atau kalimat yang hendak dituliskan itu tidaklah salah. Tapi ‘rasa’ tidak mendukung dan mengizinkannya. Kedua p enerjemah ini harus berjuang untuk memilih dan memilah mana kata yang paling tepat dan mana kalimat yang paling akurat. Inilah perjuangan dan pergumulan itu. Setelah upaya ini, tidak aneh, kalau NH Dini mencantumkan namanya di sampul depan sebagai “alih bahasa” dan Bahrum membuat pengantar yang panjang ke sosok Iqbal dan pemikirannya.

Meski demikian, bukan berarti proses penerjemahan melalui bahasa kedua tidak memiliki pergulatan dan perjuangannya. Penerjemahan bagaimana pun adalah kerja intelektual yang penuh tantangan dan pencarian. Sebagian ia merupakan pekerjaan soliter, sepi sendiri di sebuah kamar. Tapi ternyata tidak sepenuhnya, ia juga butuh untuk belajar lebih banyak dan berdiskusi dengan orang lain, tak terkecuali penerjemahan dari bahasa kedua. Sebagai contoh adalah “catatan penerjemah” yang diberikan Nin Bakdi Soemanto ketika menyalin karya besar Umberto Eco, The Name of the Rose:

“Bersetuju dengan William Weaver yang menerjemahkan novel ini dari Bahasa Itali ke dalam Bahasa Inggris, dalam edisi terjemahan ini pun saya tetap mempertahankan frasa-frasa Bahasa Latin yang bertaburan di sepanjang novel ini…

Terhadap frasa-frasa itu Latin tersebut, kecuali judul buku dan apa yang terbaca pada katalog perpustakaan yang banyak disebut dalam novel ini, kami berusaha untuk sedapat mungkin untuk memberikan terjemahannya secara harfiah yang dirangkum dalam catatan kaki. Untuk itu, kami berutang budi kepada Dr. I. Kuntara Wiryamartana SJ dan Dr. Martin Sardi OFM yang banyak membantu kami memahami frasa-frasa tersebut.

Munculnya banyak catatan kaki tersebut semoga tidak mengganggu, sebaliknya justru memberikan penjelasan kepada pembaca yang ingin memahaminya dengan baik.”

Pertama-tama Nin mendedahkan kesulitan-kesulitannya dalam menerjemah karya Eco ini dan kemudian keputusan-keputusan yang diambilnya. Berikutnya bagaimana dia harus meminta tolong orang-orang yang dianggap ahli untuk meminta masukan atas terjemahannya. Serupa gema yang dikemukakan Bahrum dan Dini, meski terjemahan ini berasal dari bahasa kedua, ia telah hadir –setidaknya buat saya– dengan cukup meyakinkan.[2]

Seperti karya Umberto Eco ini, sampai di sini, kita harus menyadari bahwa sebagian besar sastra terjemahan kita tidak langsung dari bahasa aslinya, tetapi melewati, terutama bahasa Inggris dulu. Tentu ini bukanlah kekurangan. Penerjemahan adalah tindakan di masa darurat. Orang perlu bekerja cepat dan dengan segala keterbatasan. Karena tidak mungkin membaca yang asli, kita mau tak mau membaca terjemahan, dan karena belum mungkin membaca terjemahan dari bahasa aslinya secara langsung, “terjemahan atas terjemahan” pun bolehlah. Meski harus mengitari rute melingkar dulu dan menunggu karya itu diterjemahkan terlebih dulu dalam bahasa Inggris  (atau bahasa dominan lainnya).

Menanti terjemahan karya-karya besar sastra Rusia langsung dari Bahasa Rusia, karya Mo Yan dari Bahasa Mandarin atau Orhan Pamuk dari Bahasa Turki, untuk menyebut beberapa, mungkin seperti ‘menunggu Godot’. Menantikan sesuatu yang barangkali tidak akan pernah mewujud. Karena itu, dengan penuh hormat, kita –saya terutama—harus tetap berterima kasih kepada para penerjemah ini. Meski harus diakui ini bisa jadi bukan terjemahan yang ideal. Tapi ikhtiar untuk mewujudkannya, seperti yang dicontohkan Nin, harus dilakukan.

Hanya saja yang sedikit agak menyebalkan, sejauh pengamalian saya, ada beberapa penerbit yang tidak mencantumkan judul bahasa Inggris karya tersebut dan versi terjemahan siapa dan tahun berapa. Penting diingat dalam tradisi sastra terjemahan –terutama Bahasa Inggris—kadang ada lebih satu versi terjemahan.[3] Antara satu terjemahan dengan terjemahan lain terjadi persaingan, bisa saling menampik, bisa saling meniadakan, mana yang buruk mana lebih baik. Bahkan ada suatu karya peraih nobel yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, yang saya tidak tahu: ini terjemahan dari Bahasa Inggris atau dari bahasa aslinya. Penerjemah tidak memberi “catatan” dan kredit titel buku, bolak-balik saya pelototi, tidak memberikan informasi. Alih-alih, mengesankan terjemahan tersebut dari bahasa aslinya. Semacam sebuah tipuan halus.

Demikian, sebagai seorang yang tak mudah dan tak murah mengakses karya-karya berbahasa Asing, saya sangat memerlukan karya terjemahan. Tetapi seperti yang saya dedahkan di atas, saya hanya akan memilih terjemahan yang ‘bertanggungjawab’ dan bisa meyakinkan saya.

Sebagai penutup, saya ingin mengemukakan cerita sepasang penerjemah: Richard Pevear dan Larissa Volokhonsky. Kedua orang ini adalah pasangan suami-istri: satu Amerika dan satu lagi Rusia. Kedua nama ini terkenal sebagai penerjemah karya-karya sastra(wan) klasik Rusia seperti Tostoy, Turgenev, Dostoyeksky, dan Boris Pasternak. Mereka menyabet sejumlah penghargaan, menjadi tajir dan terkenal dari pekerjaan menerjemah.

Sebelum mereka, karya-karya sastra Rusia yang agung dan luar biasa itu telah diterjemahkan oleh Constance Garnett, seorang perempuan yang berasal dari keluarga aristokrasi sastra. Hampir seluruh keluarganya bergelut di badang sastra: penulis, penerjemah, atau pengajar sastra. Puluhan tahun, para pembaca sastra berbahasa Inggris –termasuk Hemingway– mengenal karya sastra Rusia melalui terjemahan Constance Garnett ini.

Namun, belakangan karya terjemahan Constance banyak dikritik, dianggap kacau dan menyesatkan. Keagungan dan kedalaman sastra Rusia jadi hilang di tangannya. Di antara pengkritik kerasnya adalahVladimir Nobokov, pengarang Lolita.

Suatu kali Pevear membaca “Kamarazov Bersaudara” karya Dostoyevski versi Inggris terjemahan David Magarshack, epigon Constance Gernett. Larissa, diam-diam, ikut membaca di belakangnya. Ia kaget dan berang ketika menemukan banyak kesalahan dan merasa betapa Dostoyeksky telah menjadi penulis buruk dalam karya itu. Mereka kemudian mempelajari terjemahan David ini, membandingkannya dengan terjemahan Andrew MacAndrew, dan tak ketinggalan, Constance Garnett. Kesimpulannya: mereka perlu menerjemahkan ulang karya tersebut. Ini menjadi awal dari perjalanan mereka sebagai penerjemah, terutama, karya-karya sastra Rusia ini.

Pembagian kerja mereka -hingga sekarang pun—sangat jelas. Pertama, Larissa menulis semacam terjemahan persis dan harfiah dari aslinya (hyperaccurate), dilengkapi catatan tentang diksi, sintaks, dan referensi Dostoyeksky. Kemudian, Richard, yang belum pernah menguasai percakapan Rusia, menulis teks Inggris yang lebih halus, lalu mendiskusikannya dengan Larissa tentang keaslian dan kemungkinannya untuk bisa atau tidaknya untuk dipakai. Mereka melakukan hal itu bolak-balik, termasuk pada bagian terakhir di mana Richard membaca versi Inggris-nya dengan keras dan Larissa mengikutinya dengan versi Rusia. Harapan mereka adalah untuk setia pada gaya Dostoyevsky,  yang terkenal kegemarannya pada repetisi, penuh perasaan, dan melodramatik. Pola kerjasama ini mereka pertahankan hingga sekarang.

Awalnya proposal terjemahan mereka ditolak oleh University Press dan Random House, namun atas dukungan para sarjana Slavia, terjemahannya dipublikasikan oleh sebuah penerbit kecil. Terjemahannya ini kemudian mendapat banyak pujian dan meraih penghargaan. Dan paling utama, menggeser tahta Constance Gernett sebagai penerjemah paling otoritatif karya-karya sastra Rusia.[4]

Apa yang menarik dari revisi atas terjemahan-terjemahan karya sastra Rusia ini? Generasi baru pembaca karya-karya sastra Rusia mungkin akan berbeda memandang sastra Rusia dan tokoh-tokohnya, serta masyarakat dan manussia Rusid, dan pada gilirannya akan memperkaya sastra Amerika dengan cara yang lain.   


[1] Dalam praktiknya, tak jarang penerbit menghadirkan ‘pengantar’ untuk versi Indonesia dan namanya dicantumkan di sampul depan, jauh lebih penting daripada peran penerjemahnya. 

[2] Baca juga pengantar penyunting terjemahan Seratus Tahun kesunyian, Wendoko, beberapa tahun lalu (2003): “Novel ini disunting dengan memeriksa kembali edisi berbahasa Inggris terbitan Penguin Books Ltd. dan membandingkannya dengan terbitan Pan Books Ltd. London serta edisi berbahasa Malaysia Sumpah Tujuh Turunan terjemahan Mokhtar Ahmad dan Zulkifli Ahmad,…” 

[3] Dalam hal ini penerbit Serambi yang gencar menerbitkan buku-buku sastra belakangan ini sangat jujur dengan mencantumkan judul bahasa Inggris dan nama penerjemahnya. Lihat contoh terjemahan karya-karya Orhan Pamuk, Mo Yan, dan lain-lain keluaran Serambi.

[4] Baca David Remnick, “Onward and Upward With the Arts The Translation Wars”, http://www.newyorker.com/archive/2005/11/07/051107fa_fact_remnick?currentPage=all?mbid=social_retweet

From → Kertas Kerja

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: