Skip to content

Kisah-Kisah Mereka yang “Terganggu oleh Bacaan.”

December 9, 2013

Diskusi buku Mantra Maira, Sofie Dawayanti, Jalasutra, 2010, diselenggarakan BPAD dan Penerbit Jalasutra, 23 September 2013.

“Alia, kau tahu, di era postmodern ini, jarak antara teks dan pembaca sudah lebur sama sekali. Sebagai penulis, semakin dalam dan semakin reflektif, tulisanmu akan semakin baik. Seharusnya kau merasa beruntung karena terganggu oleh bacaan. Itu wajar. Kita tak bisa berjarak dari buku dan menganggapnya terpisah dari hidupmu. Kau tahu itu, kita sudah membahasnya berminggu-minggu.”

(“Jalan Bata”)

Sebuah bacaan adalah sebuah dunia alternatif. Melalui kegiatan membaca orang menyulam dan membangun dunianya, yang sepi, yang indah, yang tak seorang pun bisa mengintervensinya.

Alia, mahasiswa sastra sebuah universitas, tak hendak, dan merasa tak kuasa, melanjutkan pekerjaannya menulis tinjauan sebuah novel. Nazneen, tokoh perempuan dalam novel yang hendak dibahasnya itu, seakan-akan hidup dan bergerak; mengajaknya berbicara, mengajukan tanya padanya, dan mengejeknya. Nazneen, yang menikah dengan seorang lelaki tua, yang menyayangi dan memanjakannya, tapi tak pernah membuatnya dewasa, seperti pantulan nasibnya saja. Jika ia meneruskan tinjauan itu, sesungguhnya ia tak menulis tentang Nazneen, tapi tentang nasib dan duka dirinya sendiri.

Alia adalah contoh dari seorang pembaca yang “terganggu oleh bacaan.” Tapi seperti , diungkapkan Barbara, dosen pengajarnya yang dikutip di atas, “Kita (pembaca) tak bisa berjarak dari buku dan menganggapnya terpisah dari hidupmu (kita pembaca).” Segala cerita yang tertera dalam tulisan sedikit banyak beririsan dengan perjalanan hidup seorang pembaca. Karena tak ada yang sungguh-sungguh fiksi, seperti tak ada yang sungguh-sungguh nyata. Kepingan hidup berbaur antara keduanya.

Namun sebuah bacaan, sebuah teks, sebagai media komunikasi, tidak selalu lurus dan karena itu selalu sama efeknya kepada setiap pembaca.  Sifat polisemi sebuah teks membuatnya senantiasa memiliki gema yang beragam kepada pembaca. “Terganggu”, dengan demikian, bisa berarti bermacam-macam: tergerakkan,larut dan tenggelam di dalamnya, marah dan melawan, biasa-biasa saja, dst.

Hampir seluruh cerpen dalam kumpulan “Mantra Maira” ini bercerita tentang orang-orang yang “terganggu oleh bacaan.” Bacaan itu bisa berupa cerita, dongeng, mantra. Ada Rombeng, pelacur dan pencopet, yang suka sekali membaca dongeng dan menganggap penulis dongeng itu adalah ibunya. Konon sewaktu ia masih bayi, ada orang yang menukarnya di rumah sakit sehingga kini ia terlempar menjadi pelacur jalanan. Sewaktu saat, katanya, ibunya akan datang menjemputnya (“Dongeng Rombeng”).

Dalam “Kota Kaca” kita berjumpa dengan tokoh cerita seorang anak kecil yang baru ditinggal bapaknya yang semasa hidupnya senang membacakannya cerita. Si anak ini kemudian bermimpi bertemu dengan tokoh-tokoh dongeng yang pernah diceritakan bapaknya dan merasa nyaman dan tenang berteman tokoh-tokoh dalam imajinasinya tersebut. Ia menjalani hidup dengan bayangan yang dibangunnya dari cerita-cerita dan dongeng-dongeng, melintasi waktu.

Lalu ada Har, seorang penulis yang berjuang untuk menulis. Sedari awal ia hanya ribut mencari inspirasi, memacu adrenalis, dan membangun suasana, tapi tulisan yang dibayangkannya tak pernah lahir. Ia kemudian ditinggalkan sang istri, yang menuduhnya “memakan airmata dari merangkai kata-kata.” (“Telaga Air Mata”)

Saya tidak tahu, mengapa Sofie Dewayani, demikian berminat dengan cerita mengenai “hubungan” orang-orang dengan tulisan, dengan bacaan. Apakah karena ia mahasiswa yang menggeluti relasi dan pengaruh sastra terhadap pembaca? Atau adakah ini berhubungan juga dengan status keperempuanannya dan keterasingannya di di negara orang? Kegiatan membaca memang merupakan kegiatan alternatif untuk membunuh kesepian. Keasyikan membaca juga seperti memasuki “dunia lain” yang berbeda dengan dunia sehari-hari, damai dan tenang di dalamnya. Membaca juga nisa menjadi aksi pembebasan dan penyembuhan batin, yang tertekan, yang tersakiti, yang terbebani. Membaca adalah kegiatan batin, yang sangat pribadi sekali, dan orang membangun kemerdekaan dan kebebasan di dalamnya. Bagi perempuan, membaca bisa menjadi ruang-waktu alternatif untuk membangun dunia yang ramah perempuan dan non-patriarki.

Ini bukan topik yang baru. Sudah sering kita mendengar cerita bagaimana pembaca berubah menjadi tokoh di dalam cerita yang dibacanya dan bagaimana sebuah bacaan menggerakkan seseorang. Novel awal dalam sejarah Don Kisot de la Mancha karya Cervantes bahkan bercerita tentang bagaimana seorang pembaca yang terobsesi menjadi pendekar ksatria karena pengaruh bacaan. Terkenal kutipan pendeta yang memeriksa buku-buku apa yang dibaca oleh Quichada yang membuatnya meninggalkan kekayaan dan memutuskan berkelana sebagai kesatria yang mengabdi pada kemanusiaan: “Hanya ada dua kemungkinan, jika orang membaca dan percaya buku-buku itu: murtad dan hilang ingatan.”

Kendati demikian, Sofie Dewayani mengolah topik usang ini secara baru, menghubungkannya dengan kemajemukan teks dan media sekarang ini, dan menjadikannya sebagai permasalahan psikologis di tengah problem masyarakat post-modern. Jika Don Kisot, setelah membaca, keluar dari dunianya dan ingin terjun sebagai ksatria yang ingin memberantas kejahatan,  maka tokoh-tokoh dalam cerpen-cerpen ini, “masuk ke dalam”, ke dunia pribadi, ke dalam batin, dan dengan itu “mereka’ membebaskan dan memerdekakan diri.

Ada dramatisasi luar biasa bagaimana sebuah bacaan demikian mengganggu. Tetapi hal ini dimungkinkan, karena kehidupan pribadi juga bersifar dramatik. Yang nyata sehari-hari bertemu dengan yang fiktif dalam tulisan. Kekecewaan dan ketegangan dalam hubungan-hubungan sosial: hubungan dengan ayah/ibu, hubungan dengan istri/suami, relasi dengan teman, dipecahkan dengan menyimpan dan merenungkannya dalam batin, dengan kegiatan membaca dan melalui bacaan.

Ada cerpen yang ringan untuk dibaca, tetapi ada yang teras berat. Hal ini terutama kalau ada kebutuhan untuk mengetahui tokoh dalam sebuah buku yang sedang diceritakan. Apakah memang ada novel yang menampilkan tokoh Nazneen?  Novel apa? Dalam buku dongeng apakah Jack yang memiliki pohon kacang ajaib yang demikian memikat imajinasi anak kecil itu?

Cerpen-cerpen ini mengundang kita untuk merenungkan hubungan teks dan pembaca, mengapa seseorang membaca dan bagaimana pengaruh bacaan itu pada batinnya. Jalinan cerita dibangun terutama melalui dialog-dialog antartokoh dan penggambaran suasana batin yang sangat menarik. Kata-kata dipilih sangat hati-hati dan membentuk kalimat yang berirama. Perhatikan kalimat ini: “… Aku ingin mempercepat langkah/bukan karena angin dingin yang terasa basah/tapi karena keluhku seperti hendak tumpah ruah” (“Jalan Bata”). Atau kalimat berikut: “Aku seperti menemukan mainan mewah/keanggunan tak terjamah/Adrenalinku memuncak, produktivitasku melimpah-ruah/Kutulis puluhan puisi, tak peduli remeh-temeh dan murah/Aku tahu dia juga jatuh cinta, hanya sikapnya pongah/Aku tahu suatu saat nanti hatinya akan tergugah/Aku yakin itu, saat dengan puisi kuajak dia menikah/Dia tak menolak, tampaknya pasrah/Air mataku seketika tumpah/Dan, dia menatapku dengan matanya yang tampak resah” (“Telaga Air Mata”).  Kalimat berirama seperti ini banyak sekali. Kadang terasa menarik, tapi kadang juga jadi genit dan dipaksakan. Bagaimanapun ini bukan syair, tapi prosa.

 

From → Kertas Kerja

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: