Skip to content

‘Bapak’ Telah Kembali: Fenomena Rindu Soeharto

September 25, 2013

Hairus Salim HS

Tak mudah mencari orang yang menyebut diri secara terbuka sebagai ‘suhartois’, meski ada banyak fenomena yang menunjukkan bahwa kekuatan politik lama yang ‘terkait dengan Suharto’ ini masih jaya atau sedang bangkit.

Pada awal Juni 2013 lalu, bersama sejumlah teman, saya menggelar seminar “Pancasila dalam Pemikiran dan Praktik Politik Tiga Presiden,” untuk menyambut Hari Lahir Pancasila. Ketiga presiden yang kami maksud adalah Sukarno, Suharto, dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ketiganya dipilih karena memiliki pandangan yang jelas mengenai Pancasila dan mempraktikkannya ketika memimpin negara ini.

Tidak sulit untuk mencari narasumber untuk tema Sukarno dan Abdurrahman Wahid. Kedua tokoh ini sudah di-adjektif-kan menjadi ‘sukarnois’ dan ‘gusdurian’. Artinya, ada banyak kalangan yang mengaku sebagai ‘pengikut Sukarno’ atau ‘pengikut Gus Dur’. Tapi ternyata tak mudah untuk mencari narasumber untuk tema Suharto. Sejauh yang saya tahu, tak atau belum ada individu atau kalangan yang secara terbuka menyebut diri sebagai ‘Suhartois’. Ini agak aneh, karena:

Pertama, Golkar, partai warisan Suharto, masih termasuk sebagai salah satu dari partai terbesar di negeri ini. Selain itu, beberapa partai baru yang ikut dalam pemilu 2014 akan datang dipimpin oleh bekas para pengikut Golkar, artinya memiliki hubungan ideologis dengan Suharto.

Kedua, merebaknya sticker-sticker atau poster-poster Suharto. Sticker-sticker ini banyak tertempel di belakang mobil angkutan umum atau motor. Juga tersebar di media-media sosial.

Dua fenomena di atas menunjukkan bahwa kekuatan politik Suharto atau yang terhubung langsung tidak langsung dengan Suharto masih bertahan dan bahkan akan bangkit. Tetapi sekali lagi tidak mudah untuk mencari seseorang atau sekelompok orang yang mengaku Suhartois. Pada umumnya karena alasan politis bahkan banyak yang tidak ingin dan tidak suka dihubungkan dengan Suharto.

Rupanya sangat disadari bahwa Suharto masih merupakan kenangan buruk bagi banyak orang. Itulah alasan mengapa ikhtiar membangkitkannya dilakukan dengan cara yang campur aduk antara sikap khawatir, malu-malu, sembunyi-sembunyi. Kemunculan sticker-sticker dan poster-poster Suharto dengan jelas memperlihatkan hal ini.

‘Bapakisme’

Sticker-sticker atau poster-poster ‘rindu’ Suharto memiliki berbagai jenis visual. Umumnya memperlihatkan gambar tokoh ini tersenyum kecil dan tenang, sambil melambaikan tangan. Tersenyum memang ciri khas tokoh ini dan kita tentu ingat judul biografinya The Smiling General yang ditulis oleh O.G. Roeder. Wajah yang ditampilkan mengesankan seorang ‘bapak’, yang sebagaimana umumnya pengertian bapak dalam sebuah keluarga, sangat melindungi dan menjaga keluarganya.

Dihubungkan dengan teks yang mengiringinya “piye kabare le, isih penak zamanku tho?”, kesan sebagai ‘bapak’ ini makin kokoh lagi. “Le”, kata Jawa, yang berasal dari “thole”, panggilan akrab dan sayang kepada anak-anak. Jadi Suharto atau pengikuti Suharto mendudukkan diri sebagai ‘bapak’ dan rakyat sebagai “anak-anak” yang harus dijaga dan dilindungi. Orde yang tertib berjalan ketika ‘anak’ taat kepada ‘bapak’ dan ‘bapak’ sungguh-sungguh menjaga dan melindungi ‘anak’. Orde Baru, seperti dikemukakan Saya Shiraishi (2001), dibangun mirip suatu keluarga dengan hubungan hirarkis dan tertib antara ‘bapak’ dan ‘anak’. Struktur mirip keluarga ini diterapkan dalam praktik hidup sehari-hari, seperti tampak dalam hubungan ‘bapak’ – ‘anak buah’ di dalam kantor-kantor birokrasi pemerintah maupun swasta, organisasi masyarakat sipil, perusahaan, media, dan lainnya.

Orde menjadi kacau ketika ‘anak’ melakukan penentangan terhadap ‘bapak’. Itulah yang terjadi dengan Reformasi. Sticker-sticker dan poster-poster Suharto yang belakangan ini merebak, seperti visualnya menunjukkan, jelas ingin mengembalikan lagi hubungan hirarkis dan sehat antara ‘bapak’ dan ‘anak-anak’ ini.

‘Bapak’ Telah Kembali

Kini, saya kira, bisa dimengerti mengapa tidak mudah untuk mencari seorang atau sekelompok orang yang secara terbuka menyatakan diri sebagai ‘suhartois.’ Tapi jelas sekali seperti fenomena belakangan ini  menunjukkan, bukan berarti tidak ada sama sekali, ‘suhartois’ tersebut.

‘Bapak’ itu muncul tidak dengan lengkingan pidato serius macam Sukarno atau santai penuh humor ala Gus Dur. Sebagai ‘bapak’, ia bertindak halus dan tenang. Di balik kehalusan dan ketenangannya terdapat kebenaran yang tak terbantahkan.

Sticker-sticker itu muncul di kalangan pinggiran, di angkutan-angkutan umum, truk dan bis kota, dan sepeda-sepeda motor. Mereka diandaikan sebagai ‘anak-buah’ yang menjadi korban kekacauan penentangan sebagian ‘anak’ terhadap ‘bapak’. ‘Anak-buah’ ini yang mengharap dan perlu diselamatkan, dijaga dan dilindungi oleh ‘bapak.’

“Penak zamanku tho” menarik garis yang jelas antara zaman ketika ‘bapak’ masih memiliki kuasa, zaman yang masih ada tertib sosial dan tertib ekonomi-politik. Bukan zaman gaduh dengan banyak korupsi dan kenaikan bensin sekarang ini.

Kalimat itu memanfaatkan ingatan yang pendek, tak utuh, dan kacau para ‘anak-buah’ akan masa lalu politik ‘bapak’. Para ‘anak-buah’ ingat bahwa memang hampir tak ada koruptor yang ditangkap pada masa lalu, tapi lupa bahwa mereka yang melakukan korupsi itu ‘anak-buah’ kesayangan ‘bapak’, jika bukan ‘bapak’ sendiri. Karena itu atas kuasa ‘bapak’ memang tak ada koruptor yang ditangkap. Harga BBM jelas jauh lebih murah di zaman ‘bapak’ tinimbang sekarang, tapi alpa seolah-olah perbandingan harga bisa ditarik begitu saja. Para ‘anak-buah’ juga tak pernah mengerti  bahwa seluruh perkara ini, mulai hutang luar negeri, rendahnya gaji, premanisme politik, dan lain-lain, adalah warisan dari ‘bapak’.

Seluruhnya ‘seakan’ telah terhapus oleh senyum ‘si bapak’ yang tenang dan kecil. Kekuatan penerus kuasa ‘bapak’ muncul tidak dengan genderang dan gema terompet yang hingar bingar. Tapi diam-diam ia sudah ada hanya satu dua langkah di belakang kita. Atau bahkan bukan tidak mungkin sudah di depan kita!

‘Bapak’ telah kembali!

Catatan: esai ini sebelumnya diterbitkan di buletin Flama, IRE, Yogyakarta

From → Gerundelan

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: