Skip to content

Haji dalam Masyarakat Banjar[1]

September 21, 2013

Hairus Salim HS

Masyarakat Banjar terkenal sebagai salah satu sub-Melayu Muslim dengan tradisi dan intensitas perjalanan haji warganya yang sangat tinggi. Catatan-catatan kolonial menunjukkan bahwa wilayah ini menduduki urutan antara ke-3, ke-4 atau ke-5 di bawah Jawa Barat, Sumatera Barat, Jawa Tengah (Timut & Madura), serta Sulawesi (Lih. Vredenbregt, 1997). Hingga saat ini pun, orang Banjar tetap menjadi salah satu kawasan dengan jumlah jamaah haji yang besar dan tinggi.

Haji, dengan demikian, secara sosial-budaya merupakan aspek yang sangat penting. Sayang sekali hanya sedikit kajian mengenai hubungan antara haji dan sistem sosial-budaya masyarakat Banjar ini. Dalam buku Islam dan Masyarakat Banjar (1997), sebuah kitab etnografi yang mungkin paling lengkap mengungkap kebudayaan orang Banjar, Alfani Daud menuliskan tentang haji ini.

“Jika mereka memang alim sebelumnya, penghormatan orang kepadanya lebih meningkat sekembalinya dari Mekkah. Jika mereka sudah agak berumur, mereka biasa dipanggil sebagai tuan (pa tuan, untuk pria dan ma tuan, untuk wanita) atau haji (pa haji atau ma haji). Ketika mereka akan pergi ke Mekkah, mereka dilepas dengan sangat ritualistis dan disambut demikian pula ketika kembali…. diadakan selamatan untuk keselamatan mereka, setiap minggu (biasanya malam Jumat) dan khusus pada malam hari Arafah (malam tanggal 9 Dzullhijjah, ketika jemaah haji serempak menuju padang Arafah) selamatan yang agak besar, sampai mereka tiba kembali di rumah.”

Ada tiga hal yang bisa dipetik dari deskripsi singkat di atas. Pertama, penghormatan terhadap haji. Kedua, soal hubungan antara haji dan pengetahuan agama. Ketiga, perayaan-perayaan dan ritual melepas, menunggu, dan menyambut kedatangan seorang haji. Saya akan membahas satu persatu masalah ini, dengan menggunakan sumber-sumber tertulis plus pengamatan dan pengalaman pribadi sebagai keluarga keturunan Banjar. Pengalaman pribadi, mencopot kesarjanaan feminisme, bisa menjadi data dan bukti yang berharga untuk penulisan sejarah sosial (Foss, Keren A & Sonja K. Foss, 1994).

Penghormatan terhadap Haji

Tentu saja berhaji adalah ikhtiar untuk memenuhi rukun Islam yang kelima. Tetapi di luar kewajiban teologis ini, penghormatan yang diberikan kepada  atau diterima seorang haji, bisa jadi merupakan suatu modal sosial yang penting. Pa haji atau ma haji, membuat seseorang bisa berdiri di shaf pertama dalam salat berjamaah di masjid atau langgar. Gelar ini juga membuat seseorang duduk di ruang utama, bersama tokoh-tokoh lain, di dalam sebuah ajang pertemuan: selametan, rapat kampung, pengajian, dsb. Berdiri di shaf pertama dan duduk di ruang utama, menunjukkan bahwa seseorang itu penting atau setidak-tidaknya dianggap penting. Suaranya akan didengarkan jika ia memberi pendapat dan ditunggu jika masih diam. Anggukan persetujuan dan gelengan kepala seorang pa haji atau ma haji bisa mempertebal kekuatan sebuah keputusan atau bisa juga menganulir sebuah sebuah keputusan yang hendak diketuk.

Gelar haji juga semacam branding untuk sebuah kepercayaan dalam bisnis. Buat saudagar atau pedagang hal ini sangat penting sekali. Ada semacam silogisme bahwa seorang haji pasti bisa dipercaya dan jujur. Barangkali bisa dimengerti dalam hal ini jika ada yang secara terbuka menamai warung atau kiosnya dengan menyantumkan nama dan predikat haji ini, seperti Dodol Hj. Ernawati atau itik bakar Ma Haji, untuk menyebut beberapa yang terkenal di kawasan Kalimantan Selatan. Tentu saja, hal ini sekarang bukan fenomena khas Banjar, di daerah-daerah lain pun sudah banyak, orang yang menyandangkan predikat haji untuk nama warung dan kiosnya. Tetapi yang ingin saya katakan fenomena ini telah lama dan membentuk tradisi bisnis di kawasan ini. Bahkan tanpa perlu dicantumkan secara terbuka pun, orang-orang akan menyematkan nama pa haji atau ma haji kepada kios atau warungnya. Dalam percakapan sehari-hari, nama warung atau kios merujuk kepada nama pemilik dan gelar hajinya: kios Haji Iyus, warung Haji Jannah, dll.

Itu sebab mengapa banyak pedagang yang bergelar haji, bukan semata-mata karena pedaganglah yang di antaranya bisa beperjalanan ke tanah suci, tapi mungkin juga berkait dengan soal kepercayaan ini.Dalam kumpulan kisdap (kisah handap) Galuh karya Jamal T. Suryanata (2005), kita banyak sekali menemukan sosok-sosok mereka yang bergelar haji. Kebanyakan mereka disebut sebagai yang kaya dan memiliki usaha kios, warung, mobil, dsb.

“…Ruku sudah habis sabungkus. Handak batulak manukar pulang ka wawarung Haji Ijuh, katia malam asa sudah kalandungan. …” (Kariwaya)

 “Muntung sidin pagun haja cipus-cipus. Sambung puting. Kada sing rantian maisap ruku. Kukusnya makaam nangkaya kanaput kalotok ha lagi (lamun asa kadapati gancang, ya kakaya carubung pabrik banih Haji Idak-lah,…” (Kariwaya)

Namun, agak berbeda dengan citra haji di Jawa beberapa tahun lalu misalnya (lih. Geertz, 1981), yang negatif di kalangan masyarakat kebanyakan, di kalangan masyarakat Banjar, haji dipandang sebagai orang yang baik, murah hati dan dermawan.

“…Bangsa saparampat jam, Darsani sudah cangul pulang lawan pambakal mambawa mutur pick up ampun Haji Idak…” (Kariwaya)

“Isuk imbah basubuh, kita tulakan umpat mutur Haji Samat.” (Mudik)

Dengan demikian, haji adalah sosok yang penuh makna, termasuk makna sosial. Penghormatan terhadap seorang haji  adalah penghormatan yang nyata, yang mencerminkan kecenderungan sosial-politik dari seorang haji itu sendiri.

Saya ingat tak lama setelah ayah-ibu saya berhaji di akhir 1970an, dalam perjalanan terakhir menggunakan kapal laut “Gunung Jati” saya terlibat pertengkaran dengan beberapa anak kampung sebelah. Ketika itu kami sudah berhadap-hadapan untuk sebuah perkelahian. Tapi entah mengapa tiba-tiba nafsu menyerang musuh saya itu mengendor, ketika temannya mengatakan: “Dia ini anak haji… Abahnya baru pulang dari berhaji.” Betapa  gelar haji sehingga musuh ini takut dan kemudian urung memukul saya.  Waktu itu orang yang bergelar haji memang masih jarang. Tapi itu bukan berarti pengaruh dan citra sosok haji menurun. Menurut saya, maknanya telah berubah dan bermetamorfosa dalam makna-makna kontemporer.

Tentu saja  tidak berarti sosok haji selalu baik. Kadang ada juga kritik dan cibiran. Dalam cerpen “Aluh Campaka” karya Bakhtiar Sanderta terdapat sosok bernama Hajjah Siti Jamilah yang sangat jahat dan sombong(via Jamal T. Suryanata, 2012) . Menarik bahwa hingga sekarang pun sinisme terhadap haji ini, baik muncul dalam perbincangan maupun dalam teks-teks sastra/jurnalistik, dianggap wajar dan biasa saja, bukan dipandang sebagai suatu penghinaan. Umumnya dalam perbincangan sehari-hari, haji yang pelit, jahat, dan berwatak buruk, secara berbisik-bisik, dianggap sebagai ‘haji mardud’.

Dalam pandangan masyarakat Banjar, haji yang layak diberi penghormatan dan yang mesti diabaikan seperti jelas di depan mata: itulah pembedaan antara haji mabrur dan haji mardud.

Haji dan Pengetahuan Agama

Pandangan terhadap haji adalah pandangan terhadap Mekkah. Mekkah bukan hanya pusat ritual keagamaan, tapi juga tempat menimba ilmu pengetahuan keislaman. “Pernah di Mekkah sekian tahun” misalnya menjadi ucapan untuk menunjukkan bagaimana kualifikasi seseorang dalam ilmu pengetahuan keislaman. Setelah menyelesaikan pendidikan, misal di Darussalam Martapura, Normal Islam, Amuntai, maka tahapan selanjutnya adalah Mekkah.

Tradisi belajar ke Mekkah ini telah terbangun setidaknya sejak abad 18, ketika dua orang terkemuka dari kawasan ini Syekh Muhammad Arsyad al-Banjary, penulis kitab fikih Sabilal al-Muhtadin dan Syekh Muhammad Nafis, penulis kitab tasawuf ad-Dur an-Nafis, sama-sama belajar dan pulang dari Mekkah untuk menyebarkan dan memantapkan tradisi keislaman di kawasan ini. Sejak itu tradisi belajar ke Mekkah berlanjut terus hingga ke generasi belakangan, setidaknya tahun 1980an. Penting diingat, hingga setidaknya tahun 1980an, ulama-ulama asal Indonesia yang memiliki kualifikasi tertentu diizinkan membuka halaqoh-halaqoh di Masjidil Haram, Mekkah. Tanpa harus memasuki sekolah formal seperti Darul Ulum, Mekkah, para jamaah haji asal Indonesia, tak terkecuali dari Banjar, mukim beberapa tahun di Mekkah untuk belajar dengan guru-guru asal Indonesia di Masjidil Haram ini.

Orang yang paling berkepentingan pergi ke Mekkah, pertama-tama dan terutama, adalah para agamawan. Bukan untuk menunaikan haji saja, tapi juga untuk mencari pengetahuan. Belajar di Mekkah sekian tahun menjadi semacam legitimasi dan kewenangn bagi seseorang untuk menjadi patuan guru di kawasan ini.

Ketika mendaftar orang-orang Banjar yang terkenal pada awal pemerintahan Belanda (1860), Amir Hassan Kiaibondan (1953) menyebut para mufti dan penghulu, dua pejabat keagamaan yang sangat penting, yang semuanya bergelar haji. Ini menunjukkan bahwa ‘kehajian’ di situ sekaligus bertumpang tindih maknanya dengan ‘kealiman.’

Ibu saya sering menceritakan tentang ayahnya, atau kakek saya, Tuan Guru Haji Japeri (allah yarham) yang bertahun-tahun tinggal dan belajar di Mekkah. Saya selalu ingat –hingga bertahun-tahun setelah kakek wafat– orang –orang yang menjadi atau pernah menjadi muridnya selalu menyebut bangga guru mereka ini ‘sebagai orang yang pernah belajar di Mekkah bertahun-tahun.’ Artinya, mereka ingin menyatakan bahwa mereka bukan belajar kepada orang yang salah dan main-main. Mereka telah belajar kepada orang-orang yang tepat.

Dalam riwayat keluarga memang diceritakan bahwa, kakek saya dan saudaranya pergi berhaji dan belajar Islam di Mekkah sekitar tahun 1930an. Setelah empat tahun di sana, kakek saya kemudian pulang ke daerahnya. Barangkali tinggal di Mekka bertahun-tahun itu membuat karirnya sebagai ulama menanjak. Ia diangkat sebagai penghulu dan sering diundang untuk memberikan pengajian dari masjid ke masjid, dan langgar ke langgar, di kawasan Tabalong, Kelua, Amuntai (Kalsel), Tamianglayang (Kal-Teng) dan Samarinda (Kaltim).

Belajar ke Mekkah menjadi obsesi santri-santri di kawasan ini, tak terkecuali saya. Selama beberapa tahun saya pernah membayangkan pergi dan belajar agama juga ke Mekkah. Namun cita-cita ini meleleh beriringan dengan meninggalnya kakek dan berubahnya juga sistem dan peraturan mukim di Mekkah. Sekarang, konon sudah tidak ada lagi system belajar di haloqah-haloqah seperti dulu.  Kalau mau belajar di Mekkah maka harus melalui jalur formal dan memenuhi beberapa persyaratan yang tak mudah, seperti penguasaan Bahasa Arab. Padahal dulu tanpa menguasai bahasa Arab pun orang bisa datang dan belajar, karena para guru juga orang-orang Indonesia sendiri.

Tahun 1986, dalam sebuah acara maulid di pesantren Al-Falah, tampil Syekh Abdul Karim al-Banjary, yang kala itu disebut-sebut sebagai salah seorang pengajar di Masjidil Haram, Mekkah. Usianya sudah tua sekali dan suaranya serak, meski demikian ceramah keagamaannya sangat memukau sekali. Menurut seorang teman, beliau adalah orang Banjar terakhir yang mengajar di Masjidil Haram dalam system halaqoh-halaqoh sebelum kemudian dilarang dan dihapuskan.

Penghapusan itu memutus mata rantai pengajaran Islam sunni, termasuk yang dikembangkan oleh orang-orang Banjar. Kini ajaran agama yang datang dari kawasan ini selalu beraroma ajaran Wahaby.

Perayaan-perayaan Melepas, menunggu, dan menyambut haji

Bepergian untuk menunaikan ibadah haji adalah perjalanan air mata. Sebelum era pesawat terbang seperti sekarang ini, ia membutuhkan waktu yang lama dan panjang. Sering orang tak membayangkan lagi akan bisa pulang. Karena itu melepas sanak saudara yang pergi haji seperti melepas seseorang yang hendak pergi ke medan perang. Tak salah jika Alfani Daud menyamakan perayaan-perayaan ini dengan perayaan-perayaan melepas orang yang akan pergi merantau. Situasi ini melahirkan berbagai perayaan baik kala melepas, menunggu dan menyambut kedatangan seorang haji.

Saya tidak akan merinci satu persatu perayaan ini, karena bisa dilihat dalam karya Alfani Daud di atas maupun Deny Arisandi (2009) yang meneliti  tentang ritual-ritual ini. Saya akan menyoroti aspek sosial-budayanya saja. Sebelum berangkat sanak kerabat dan sahabat akan mendapat pemberitahuan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dari orang yang akan berangkat haji. Sanak kerabat ini kemudian akan bertandang ke rumah calon haji untuk ikut salat hajat dan sekaligus biasanya akan memberikan amplop sebagai tambahan sangu dan bagi orang-orang yang belum berhaji biasanya minta tolong titip salam ke makam Nabi Ibrahim dan minta didoakan untuk kelak juga bisa berangkat haji. Ketika datang, mereka akan kembali berkunjung untuk mengambil ‘barokah’ orang yang baru datang haji ini. Mereka kemudian mendapat oleh-oleh seperti tasbih, sajadah, minyak harum, dll., yang seolah-olah dari Mekkah, meski pada dasarnya dari Surabaya atau Banjarmasin saja. Pada dasarnya oleh-oleh itu adalah uang tambahan sangu yang diberikan sebelum keberangkatan haji tersebut.

Di beberapa tempat pelepasan dan penyambutan haji ini melibatkan orang hampir sekampung. Ketika tiba, seperti dulu ketika ayah ibu saya, di depan rumah dibuat semacam pintu gerbang besar bertuliskan “selamat datang dari tanah suci: semoga menjadi haji yang mabrur”. Turun dari mobil, si haji akan berjalan ke rumahnya di atas kain putih yang memanjang ke rumahnya. Berhari-hari ia duduk di ruang tamu untuk menyambut tamu-tamu yang mengucapkan selamat dan pulang dengan membawa kenang-kenangan haji.

Perjalanan haji yang jauh lebih singkat sekarang ini membuat upacara penyambutan ini tidak sedramatis dan semeriah dulu lagi. Di tempat saya sekarang sudah tidak ada lagi orang mendirikan baliho dan pintu gerbang selamat datang dari tanah suci, tetapi saya masih menyaksikan hal ini di daerah-daerah di Kaliman Selatan lain.

Apapun juga, mendatangi sanak kerabat dan kenalan yang akan berhaji, dan kemudian menemui setibanya nanti, adalah bagian dari etika sosial di kalangan orang Banjar. Ia sama pentingnya dengan menziarahi orang sakit dan mendatangi orang nikah atau meninggal.


[1]Draft paper untuk diskusi di LABEL, 2 Mei 2013. Belum untuk dikutip dan dipublikasikan!

From → Kertas Kerja

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: