Skip to content

Nasionalisme dari Dunia Pinggiran: Memahami Lukisan Budi Kampret

November 27, 2012

Hairus Salim HS

Pengantar diskusi: dalam pameran tunggal Seni Lukis Budiyono Aka Budi Kampret, “Nasionalisme dan Penyaksian: Kampret!”, Galeri Biasa, Yogyakarta, 10-17 Maret 2012

Awal Maret lalu, Kompas menurunkan sebuah tulisan dengan tajuk yang memikat sekali: “Nasionalisme dalam Selembar Sarung.” Mungkin karena menyebut-nyebut nasionalisme, maka tulisan itu tampil di halaman depan dan menjadi ‘berita utama’ Kompas Minggu (4/3) itu.

Saya menyebut ‘memikat’ karena nasionalisme itu diperbincangkan tidak dalam kaitannya dengan sesuatu yang ‘heroik’ seperti darah, keringat, air mata, dan sejenisnya, yang bertemali dengan apa yang disebut sebagai ‘nasionalisme antikolonial’ selama ini. Nasionalisme itu juga tidak dituturkan dari medan laga, lapangan olah raga, atau batas perbatasan negara. Perbincangan nasionalisme itu datang dari pentas Indonesia Fashion Week 2012, yang gemerlap, sejuk, dan mungkin penuh dengan tebaran harum aroma parfum.

Panggung catwalk itu menjadi presentasi nasionalisme, menurut tulisan itu, karena para desainer muda finalis kompetisi wirausaha mode yang menjadi bagian dari Indonesia Fashion Week 2012 tampil dengan variasi bahan sarung Nusantara: sarung tajung, samarinda, bugis, baduy, dan lainnya.

Melihat kembali sarung sebagai ikon nasionalisme, tentu bukan hal yang mengada-ada, karena sarung –bersama kebaya— dulu memang pernah ditampilkan oleh Sukarno sebagai pakaian nasional setelah kemerdekaan. Tapi itu dulu. Lalu apa artinya sekarang? Kalau dikatakan sebagai ‘identitas nasional’, maka ia adalah identitas yang mati, karena dalam kenyataan sarung bukanlah pakaian sehari-hari, kecuali mungkin buat kalangan santri, dan karenanya mereka pernah dijuluki sebagai ‘kaum sarungan’. Dan istilah ‘sarungan’ di situ menunjuk pada suatu yang ndeso, tradisional, dan jadul. Hanya layak dipakai kalangan orang tua di kampung. Memang di tangan anak-anak muda ini, sarung bertransformasi menjadi suatu yang modern, urban, elegan, kosmopolit. Tetapi di mana nasionalismenya? Apakah nasionalisme itu mengangkat sesuatu yang semula terkesan ndeso, kumuh, kacau, rusak, menjadi urban, bersih, tertib, dan baik? Tentu juga kita jangan pura-pura lupa dan tidak tahu, dalam hal sarung sebagai pakaian nasional ini, orang-orang Myanmar-lah yang utama.

Saya serta merta ingat laporan Kompas di atas, ketika melihat pameran Budiyono Aka Budi Kampret “Nasionalisme dan Penyaksian Kampret” 10 Maret 2012 lalu di Galeri Biasa dan membaca ulasan dengan judul yang sama oleh kurator Hajriansyah. Laporan Kompas dan pameran lukisan Budi Kampret ini memperlihatkan bagaimana nasionalisme diangkat dan diperbincangkan lagi dalam wacana sosial-politik Indonesia kontemporer. Mungkin bukan kebetulan kalau keduanya berkaitan dengan pameran: pameran lukisan dan pameran busana. Tetapi seperti banyak para pengunjung, atau setidaknya dua teman yang saya ajak menonton pameran itu, saya juga bertanya: dari mana dan bagaimana nasionalisme itu dihadirkan dan dilihat dari karya Budi Kampret ini?

***

Sebagai kurator, Hajriansyah melihat bagaimana proses Budi Kampret berkarya, membincangkan bagaimana estetika sebuah seni, bertukar pikiran mengenai perkara sosial-politik, dan menelusuri seluruh karya-karyanya, akhirnya membawanya pada suatu kesimpulan bahwa Budi sedang bergumul dengan soal-soal kebangsaan: nasionalisme. Saya kira jika disejajarkan dalam pembacaan sastra, yang dilakukan Hajriansyah adalah melihat peranan pelukisnya dan aspek referensial lukisan-lukisan Budi Kampret. Hal ini mungkin tidak terhindarkan karena perkawanan dan kedekatan kurator dan pelukisnya. Namun, ketika pengetahuan yang diperoleh dari pertemuan itu ditiadakan dan orang kembali pada lukisan-lukisan itu sendiri sebagai suatu karya yang otonom: pastilah orang akan bertanya, di mana nasionalismenya? Karena kesan nasionalisme itu lebih banyak didapat dari pengamatan dan pergumulan pada kehidupan si pelukis, dan bukan terutama pada lukisan-lukisan itu sendiri.

Karena tahu bahwa pelukisnya suka dengan kehidupan yang srawung dan guyub dalam sebuah komunitas, Hajriansyah langsung menghubungkannya dengan imagined community-nya Ben Anderson. Tampaknya konsepsi Anderson di sini dicomot begitu saja. Sejauh saya pahami, community dalam pengertian antropologi telah  berubah maknanya ketika kosa kata ‘imagined’ diterakan padanya. Yang pertama mengacu pada sehimpunan kecil orang yang hidup dan berdiam di satu teritori yang sama, serta memiliki budaya yang relatif sama. Dengan jumlah yang kecil, tinggal di tempat yang sama dan relatif memiliki kebiasaan hidup yang sama, maka tidak terlalu aneh jika mereka memiliki rasa persaudaraan dan kesetiakawanan, sebagai komunitas, tapi itu bukan perasaan ‘nasionalisme’. Tetapi ketika ditambahkan kata ‘imagined’, ia berarti yang sebaliknya: sejumlah besar orang yang tinggal di tempat yang berbeda-beda, tidak saling kenal dan berlainan pula adat istiadatnya, tetapi juga memiliki rasa kesetiakawanan dan solidaritas yang sama, bahkan satu sama lain bersedia berkorban. Itulah ‘nasionalisme’. Mengapa bisa demikian? Karena ada yang ‘menghubungkan’nya, sehingga meskipun bersifat ‘khayali’, rasa persaudaraan sebangsa itu terhubung dan menjadi aktual, nyata.

Dengan menyatakan ini, bukan berarti tema nasionalisme yang dilekatkan pada pameran ini batal. Saya melihat hubungan dengan nasionalisme itu sangat kental justru di dalam representasi lukisan-lukisan itu sendiri.  Tidak terlalu sukar menelusurinya, karena sebagian besar lukisan Budi masih bersifat representasional, meski telah didistorsi. Dengan sedikit kejelian, kita bisa mengidentifikasi suatu kecenderungan dalam lukisan-lukisannya. Dari 16 lukisan yang ditampilkan, saya melihat misalnya setidaknya ada 7 lukisan yang menampilkan simbol peci atau sosok wajah orang berpeci: “Manusia Kayangan,” “Tanah dan Air Kita”, “Terikat Tanah Kelahiran,” “Bergerak Gus”, “Angin Selatan,” “God Bless” dan “Pandu.“ Tentu saja peci ini memiliki makna semiotik dan rujukan historisnya dengan sejarah nasionalisme. Peci, kopiah beluduru hitam itu, diangkat Soekarno sebagai lambang kebangsaan. Hal ini dilakukannya sebagi kritik terhadap kalangan intelegensia didikan barat yang emoh dan merasa terhina jika memakai peci. Peci dianggap sebagai tutup kepala para tukang becak atau rakyat jelata lainnya. Dengan demonstratif, Soekarno memakai peci itu dalam pertemuan Jong Java di Surabaya, yang membuat para intelegensia itu kaget dan terpana. Sejak itu ia selalu memakai peci, bahkan kemudian identik dengan peci, dan menjadikannya identitas bangsanya. (Cindy Adams, 1966)

Soekarno memperjuangkan dan membangun nasionalisme melalui ‘ranah spiritual’ karena ranah inilah yang tidak tersentuh kekuatan kolonial. Berbeda dengan ‘ranah material’, seperti dalam pembentukan negara, ekonomi, ilmu dan teknologi dimana kekuasaan kolonial sangat superior, ranah spiritual dipandang imun dari intervensi barat, dan melalui pemeliharaan dan penguatan di ranah inilah, tanda-tanda esensial dari identitas kebudayaan dibangun, dijaga, dan dilemparkan sebagai sebentuk perlawanan. Ranah spiritual adalah situs perlawanan, benteng perjuangan. Ranah material adalah dunia ‘publik’ dan “luar”, sedang ranah spiritual adalah dunia ‘batin’ dan ruang ‘pribadi’ bangsa. Jika di dalam ranah material, kita harus mengakui keunggulan barat dan bahkan dituntut untuk meniru dan mempelajarinya, maka di ranah spiritual, barat tersebut disingkirkan dan ditendang. (Partha Chatterjee, 1993).

Peci, dengan demikian, menjadi simbol perjuangan pada masa kolonial, terutama di ranah spiritual. Tetapi kita tahu juga bahwa peci di dalam lukisan-lukisan itu, terkesan dipakai oleh kalangan tua saja. Ia juga tampak samar dan buram. Dan yang pasti ia berhadapan dengan unsur-unsur lain, yang lebih modern dan yang lebih powerfull. Di sini tampak bahwa nasionalisme itu sedang dalam keadaan goyah, rapuh, dan lelah.

Selain itu, sosok berpeci itu juga memiliki relasinya dengan unsur lain, misal tokoh super hero Batman atau cowboy atau pencantuman tanda bintang. Dalam arena yang carut marut dan tak lagi berbatas itu, ‘Peci’ seperti keluar dari dunia ‘batin’nya, dari ranah ‘pribadi’nya, dan melesat ‘keluar’, ke ranah ‘publik’, menjadi subjek yang harus berinteraksi dan berkontestasi dengan banyak kalangan dan menjadi sosok post-modern. Peci itu menjadi simbol figur yang datang dari dunia ketiga, wilayah pinggiran, kampung, untuk masuk ke dunia pertama, ke pusat kekuasaan ekonomi-politik, ke kalangan urban perkotaan.

Di satu sisi, dengan memilih peci, terasa bahwa ada identitas yang hendak dipegangi dan dipertahankan. Tetapi dengan menghubungkannya dengan ikon-ikon budaya modern, ada juga dorongan untuk menjadikan ‘sosok berpeci’ itu sebagai manusia yang fleksibel dan cair, manusia trans-nasional. Fleksibilitas adalah modus operandi dari hidup di masa kapitalisme mutakhir.

Dan Budi, seperti tercermin dalam lukisan-lukisannya ini, seperti menyaksikan bahkan merasakan semua pertarungan dan tarik menarik tersebut. Budi bukan manusia perbatasan, seorang seniman, saudagar atau bangkir, yang melakukan perjalanan ulang-alik lintas dunia. Ia datang dari dunia pinggiran, dan respon nasionalisme yang diberikannya jadi khas pinggiran juga.

From → Kertas Kerja

One Comment
  1. Menarik ya!sayang ga ikut diskusinya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: