Skip to content

Identitas, Kitab, dan Sejarah: Catatan atas Karya-karya Amin Maalouf

December 15, 2011
Oleh: Hairus Salim HS
Bahan diskusi di TBS Surakarta
  • Novel-novel Amin Maalouf adalah novel-novel sejarah, dalam arti bahan ceritanya berlatar dari suatu peristiwa dan suatu periode sejarah. Tokoh-tokohnya diangkat dari tokoh yang menyejarah juga. Sejarah dalam novel tentu bukanlah sejarah yang berhenti, tapi sejarah yang hidup dan terus bergerak. Peristiwa-peristiwanya, tokoh-tokohnya, interaksi tokoh-tokohnya, pertarungan dan perkawanan kelompok-kelompok masyarakat, serta ‘ketegangan’ yang diakibatkan dari itu semua, membuat ‘sejarah’ itu seperti hidup, berputar-putar, dan memantul di hadapan kita, di masa kini.
  • Tokoh utama dalam novel-novelnya adalah individu yang bergulat melawan represi politik dan agama, dan sebagai buahnya, penyeragaman (budaya). Karena faktor politik, ekonomi, dan kebudayaan, mereka harus dan telah melakukan perjalanan panjang meninggalkan kampung halaman, melintasi berbagai wilayah, yang jauh dan asing, yang berbeda bahkan bertentangan dengan kultur asal mereka. Dalam Cadas Tanios (CT), karena pembunuhan politik, Tanios Gerios, anak hubungan gelap Cheikh Kfariabda dengan istri Kepala Rumah Tangganya, harus meninggalkan kampungnya dan menuju Cyprus. Dalam Leo The African (LTA), untuk menghindari inquisisi, Hassan bin Waqzan, berkelana dari Granada, Fez, Kairo, hingga Roma. Dalam Balthasar’s Odyssey (BO), Baldassare Embriaco, saudagar buku asal Gibelet keturunan Genoa, menjelajahi dan berkeliling tiga benua –Libanon, Maroko, Turki, Yunani, Portugal, Spanyol, Belanda, Inggris, Prancis, Italia— demi mencari sebuah kitab yang diyakini memiliki kekuatan magis mampu menyelamatkan dunia dari ancaman kiamat. Dan dalam Samarkand (S), Benyamin O. Lesage, warga Amerika keturunan Prancis, bertualang ke Paris, Teheran, Turki, demi menelusuri sebuah buku kuno.
  • Dengan demikian, tokoh-tokoh dalam novel-novel Amin Maalouf adalah individu-individu yang dibentuk oleh dan berkenalan dengan banyak kebudayaan, bahasa, dan agama; memiliki banyak identitas, dan karena itu bersifat hibrid. Tak aneh kalau dialog, pertemuan, dan persilangan tradisi menjadi semangat utama dalam novel-novelnya. Tapi pada saat yang sama, novel-novelnya juga mempertontonkan ‘konflik identitas’ yang sangat keras dan mematikan.
  • Salah satu soal utama dalam pertemuan (atau pertengakaran) ini, tentu saja, adalah “bahasa”: baik dalam pengertian harfiahnya maupun metaforiknya. Isu bahasa ini misalnya kita peroleh dengan terang dalam pembuka novel LTA, ketika Hassan memperkenalkan kepada pembaca siapa dirinya. Juga semangat untuk belajar bahasa “orang lain”-lah di antaranya yang mendorong tokoh Tanios yang Katolik dalam CT bersekolah di sekolah pendeta Anglikan, Inggris. Lalu…. Ini barangkali suatu metafora bagaimana kita harus saling memberi-menerima dengan orang lain.
  • Mungkin bahasa ini pulalah yang membuat novel-novelnya selalu mengacu dan menghubungkan diri dengan sebuah kitab. Catatan Montagne, karya Rahib Elias, menjadi basis bagi penceritaan CT dan Riwayat Hassan bin Waqzan menjadi basis bagi kisah LTA. Dari kitab-kitab itu lalu mengalir, tersusun dan terbentuk cerita. Sebagian cerita ini seperti sebuah “syarah”  terhadap isi kitab itu (CT-LTA). Sebuah “syarah” tentu juga artinya sebuah tafsir, terhadap gelegak konflik dan gagasan zaman yang ada di dalam kitab itu, yang menjadi rahim sosial kelahiran sebuah kitab. Kitab memiliki riwayat, asal-usul, gambaran zaman, suasana intelektual, dan juga politik. Dengan menelusuri Naskah Samarkand karya Omar Khayyam (S) dan Nama Tuhan Yang Keseratus karya Abu Maher Al-Mazandarani (BO) berarti mendedahkan perjalanan sang penulisnya, juga riwayat sebuah rezim, sehimpunan gagasan, pergulatan politik dan intelektual, dan seterusnya.
  • Saya tidak tahu persis, apakah kitab-kitab itu benar-benar ada atau tidak. Tetapi Amin Maalouf memberikan tanda bagaimana suatu tulisan, sebuah kitab bisa menghubungkan masa lalu dan masa kini. Bagaimana sejarah hadir berulang dan memantul di hadapan kita. Sebuah buku selalu menyimpan sukanya tapi sekaligus duka zamannya. Memeriksa sejarah –melalui kisah mengapa dan bagaimana sebuah kitab ditulis, dan juga dengan cara apa ia sampai di zaman terkini— berarti menelusuri bagaimana beragam identitas dihadirkan, bertemu, bertengkar, dan juga saling memengaruhi satu sama lain, mencair dan membeku, berubah, dan seterusnya.
  • Selain melalui tokoh-tokoh yang dihadirkannya, tak ada lain, penjelmaan historis dan sekaligus abadi dari identitas yang hibrid itu adalah kitab-kitab itu sendiri. Mengapa sebuah kitab? Karena kitab itu, isinya maupun di dalam dirinya, adalah suatu monumen ‘hidup’ dari masa lalu. Ia ditulis dengan melibatkan pikiran dan keprihatinan banyak orang. Sepanjang orang membacanya, tafsirnya terus berkembang, dan itu artinya kitab itu terus hidup.
  • Amin Maalouf menjadikan sejarah pertemuan antaragama pada masa abad pertengahan hingga akhir abad 19, di kawasan yang kini dikenal sebagai Meditarian dan Eropa Barat, sebagai latar novel-novelnya. Dua kawasan ini pada zaman itu sangat dinamis dan bergolak, ada semangat penaklukan-penaklukan, tapi ada juga ghirah pencarian pada ilmu pengetahuan. Sebagian dari ‘masa kini’ kita bisa ditelusuri jejaknya dari buah perdebatan, hiruk-pikuk, dan pertukaran di zaman itu.
  • Salah satu, cara terbaik membaca novel-novel Amin Maalouf adalah menyimak kumpulan esainya: In the Name of Identity. Buku ini saya kira hampir-hampir merupakan ‘pengantar’ untuk membaca novel-novelnya, dan buku ini yang secara khusus mengulas problem identitas  dengan mudah dipahami dengan membaca novel-novelnya. Antara novel-novelnya dan buku esainya ini saling menjelaskan, memberi, dan menyumbang.
  • Pada akhirnya, Hassan bin Waqzan pada abad ke-15/16, Balthasar pada abad ke-17, Benyamin O. Lesage pada abad ke-18, Tanios Gerios pada abad ke-20 adalah individu sekaligus ikon hibrid pada zamannya. Hibriditas itu bukan buah globalisasi masa kini tapi telah ada di masa lalu, ketika migrasi dan diaspora memperlihatkan gejalanya. (barangkali ini bedanya dengan para penulis paskakolonial yang juga menggarap isu identitas dalam karya-karya mereka, dengan mengambil pengalaman paskakolonial abad 20 ini).  Last but not least, Amin Maalouf sendiri, adalah sosok hibrid di peralihan abad ini. Ia, adalah seorang dari sejumlah orang yang berimigrasi dan mengalami diaspora. Dan barangkali juga kita semua, meski kesadaran sejarah yang lemah, membuat kita tetap menjadi sehimpunan ‘suku global’. Ini adalah istilah Amin Maalouf untuk menyebut mereka yang karena imigrasi, atau juga karena teknologi informasi, telah menjadi makhluk global. Tetapi keyakinan pada identitas, yang tetap dan tunggal, membuat mereka terus saja menjadi warga ‘suku.’

From → Kertas Kerja

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: