Skip to content

Pertemuan Kedua dengan Soepriyadi Tomodihardjo: Sedikit Tentang Kumpulan Cerpen “Cucu Tukang Perang”

September 29, 2011

Pengantar diskusi yang diselenggarakan oleh Kelompok Rumah Lebah, 2011

Oleh: Hairus Salim HS

Saya bertemu lelaki itu di rumah Asahan Aidit, di sebuah kawasan di pinggiran kota Leiden. Hari itu matahari bersinar cerah sekali dan udara terasa hangat setelah sebelumnya selalu gelap, berkabut, dan dingin. Saya datang ke rumah itu atas ajakan Pak Mintardjo, seorang eksil yang tinggal di Leiden, tempat saya menumpang inap. Katanya, di rumah Asahan hari itu akan ada pertemuan dengan sastrawan sepuh Ajip Rosidi yang kebetulan sedang ada acara di kota pendidikan ini.

Di rumah berukuran mini yang serupa tipe 21 di sini, telah berkumpul sekitar lima belasan orang yang rata-rata telah sepuh, kecuali mungkin Hari Latif, seorang penyair Indonesia yang berdiam di Leiden, Amik, mahasiswa S-3 di Leiden, dan saya sendiri. Ajip Rosidi duduk di tengah-tengah. Di antara orang-orang yang belum pernah saya kenal itu, mungkin karena faktor kedekatan tempat duduk, akhirnya saya lebih banyak berbincang dengan lelaki itu dan perempuan di sampingnya.

Ia memperkenalkan namanya ‘Soeprijadi’ yang segera mengingatkan saya pada mantan tentara PETA yang membangkang pada kekuasaan Jepang. Di sampingnya, duduk istrinya, yang wajah cantik-aristokratisnya masih tampak dari rautnya. Soeprijadi sendiri tak kalah gantengnya. Perawakannya tegap dan wajahnya berwibawa. Saya tak menduga bahwa usianya sudah melampaui 70 atau tepatnya sudah 76 tahun saat itu. Mereka berdua datang ke pertemuan itu dari Jerman dengan mengendarai mobil sendiri, menembus dingin dan kabut. “Saya kangen bertemu teman-teman,” katanya.

Soeprijadi berpenampilan tenang, lebih banyak diam, dan hanya sekali dua berbicara, itu pun jika saya menanya. Akhirnya, dengan istrinyalah saya lebih banyak berbincang, sementara suaminya mengiya-iyakan saja apa yang dituturkan istrinya.

Tahun 1965, Soeprijadi, jurnalis muda di majalah Wijaya, Jawa Timur, ditugaskan untuk meliput peringatan Revolusi Oktober di Beijing. Pada bulan yang sama, meletus peristiwa G30S. Dan sejak itu, ia tak pernah pulang lagi ke Indonesia. “Janjinya hanya sebulan, kok sampai bertahun-tahun,” jelas istrinya penuh tekanan. Melalui jalan yang keras, berbelit-belit, panjang, dan penuh tantangan, sembilan tahun kemudian, cerita perempuan itu, ia berhasil menyusul suaminya ke Jerman dengan membawa kedua anak mereka yang masih kecil. Sejak itu, mereka tinggal di Jerman hingga kini.

Saya ingat lagi perbincangan ini, ketika membaca cerpen “Mereka Cuma Ketawa” dalam kumpulan ini. Cerpen ini bercerita tentang seorang duda yang berusia 40an dan tinggal jauh di negeri orang. Di kampungnya, duda itu meninggalkan dua orang anak yang masih kecil, yang selain diasuh kakek-neneknya, juga diasuh oleh bu lik-nya yang selama ini mereka panggil ‘ibu’. Ibu kedua anak yang bapaknya pergi dan tak bisa kembali itu sendiri diceritakan telah meninggal di ‘tembok biru tempat dia diasramakan’. Atas saran kedua orang tua mereka, kedua laki-perempuan yang sebelumnya bersaudara ipar itu lalu menikah. “Mereka menjemput nasibnya dengan tertawa. Hari itu, Selasa 23 Maret 1974.” Demikian cerpen itu ditutup dengan cerita kedatangan dan pertemuan yang mengharukan di bandara.

Soeprijadi, sang cerpenis, adalah sedikit di antara penulis ‘eksil’ yang kini masih hidup dan terus menulis. Namanya mungkin sangat tidak dikenal, di samping karena memang tidak produktif, juga karena baru-baru ini saja dia menulis. Seperti para penulis eksil lainnya, bahan utama penulisan kumpulan cerpen ini, adalah pengalaman tragiknya (atau teman-temannya), hidup sebagai eksil, secara langsung maupun tidak langsung (kecuali tiga cerpen “Lelaki Yang Menyepi”, “Tutuka” dan “Ziarah”).

Pengalaman ini luar biasa memilukan, menyedihkan, menyeramkan, dan bahkan mungkin menghancurkan. Pengalaman ini sangat mahal, kaya dan eksklusif. Tentu saja tidak semua orang bisa mengalaminya. Karena pengalaman ini seperti sebuah suratan nasib. Tidak setiap orang bisa menolaknya, pun juga tidak setiap orang bisa memintanya.

Keterampilan menulis dan ketajaman pikiran, akan mengubah pengalaman yang absurd, tragik, dan dramatik dan juga mungkin komikal tentang kemanusiaan itu menjadi sebuah karya yang luar biasa. Tetapi barangkali persis di sini juga masalahnya. Pengalaman yang penuh melimpah itu sering membuat orang tidak sanggup untuk menceritakannya, dalam bentuk media apapun, karena menceritakannya berarti membelah kembali luka. Tak aneh kalau sebagian besar mereka kemudian memutuskan untuk melupakannya saja, mendekapnya erat-erat dalam kenangan, menyimpannya rapat-rapat dalam batin. Dan kalaupun ada yang mencoba menceritakannya, sering karena keluarbiasaan pengalaman itu, hampir segala hal hendak diceritakan dan diungkapkan. Sudut demi sudut, pojok demi pojok, detil demi detil, dari perjalanan dan pengalaman itu hendak ditumpahkan. Saya teringat misalnya dalam hal ini torehan Utuy Tatang Sontani “Di Langit Bulan Tak Berbintang.” Jadinya memang semacam sebuah laporan etnografis atau historis. Atau, sadar dengan keinginan untuk menceritakan segala hal ini, yang muncul kemudian memang lebih banyak berupa otobiografi atau memoar.

Dalam hal ini, saya kira, kumpulan cerpen ini agak berbeda. Soepriyadi tidak berambisi untuk menceritakan segala hal yang dia ketahui dan alami. Dia hanya mengambil serpihan-serpihan atau kepingan-kepingannya saja atau episode-episodenya saja.

Dengan itu pula, ia tak menghadirkan pengalaman itu sebagai pengalaman ‘massa’ tapi mengolahnya sebagai pengalaman yang personal sekali. Sebagai contoh, cerpen “Mereka Cuma Ketawa” di atas, dia hanya mengungkapkan ketegangan sepersekian menit di bandara menunggu kedua anak dan adik iparnya itu. Kegembiraan akan segera bertemu buah hatinya, dan juga adik iparnya yang akan jadi istrinya, tarik-menarik dengan perasaan cemas, khawatir, takut. Batin seorang eksil, yang jauh beribu kilo meter dari kekuasaan otoriter di tanah air, tetap merasa diawasi dan diteror. Dia tidak menceritakan mengapa dia tidak bisa pulang ke tanah air, dia juga tak cerita mengapa istrinya meninggal, dan akhirnya, ia juga tak menuturkan mengapa ia harus takut, khawatir, dan cemas, kalau-kalau kedua anak dan juga adik iparnya itu tidak akan bisa sampai. Yang pasti, ketakutan dan kekhawatiran itu aktual dan nyata.

Semangat yang serupa tampak juga dalam cerpen-cerpen lainnya. Misal dalam “Hari Terakhir Kami”, ia bercerita pertemuan terakhirnya dengan Mei Lan, penerjemah mereka, sebelum ia dan teman-temannya pergi ke Rusia. Karena suatu kesalahan, Mei Lan tidak lagi diperkerjakan sebagai penerjemah mereka dan harus dikirim ke desa. Tetapi apakah karena itu, mereka harus pergi, atau diusir, ke Rusia? Mengapa Banuadji tidak pernah kembali dari Rusia dan mengapa Kanti bersikeras hendak menolak Riza? (“Banuadji Tiada Lagi”). Atau mengapa rumah bunda diambil alih? (“Rumah Bunda”).

Pembaca ‘muda’ yang tak mengenal latar belakang cerita ini bisa jadi bertanya-tanya mengenai latar yang samar ini. Tetapi latar yang samar inilah kelebihan cerpen-cerpen ini, karena ia meninggalkan rasa bertanya dan penasaran. Dalam beberapa hal kita hanya dikasih tahu sekadarnya saja. Misalnya menyangkut beberapa lokasi cerita: “sanatorium kaum penderita cacat’ (Cucu Tukang Perang), “gedung tempat kami ditampung” (Hari Terakhir Kami), “losmen kami” (Mimpi Dorothea Schuhmann), “kamar kerja kami yang sempit” (Namaku Loman, Zen Loman), “hotel tempat tinggalnya selama berbulan-bulan” (Pagi Mula Musim Semi), “Tembok Biru tempat dia diasramakan” atau “bandara” (Mereka Cuma Ketawa). Tak ada penjelasan mengenai tempat-tempat itu, dan barangkali memang tidak perlu penjelasan. Karena kata itu mengandung makna semiotis yang luas. Jika kita periksa satu persatu tempat itu, hampir semuanya adalah tempat ‘antara’: sebuah persinggahan dari perjalanan panjang yang hendak ditempuh dan dilalui.

Dengan demikian, jika karya-karya para eksil terdahulu, berpretensi untuk memberitahu orang sebanyak mungkin, cerpen-cerpen ini justru tidak, tapi efeknya bisa jadi mendorong orang untuk mengetahui lebih banyak lagi. Cerpen-cerpen ini, bukan tidak mungkin, menjadi jendela yang membuka keinginan untuk menelusuri peristiwa-peristiwa kelabu itu.

Karena waktu, cerita dengan bahan pengalaman beberapa tahun silam ini, kini ditulis dalam sebuah jarak yang memberi ruang penulisnya untuk mengendapkan dan menyeleksi. Hampir semua cerpen ditulis pada tahun 2000an, ketika angin kapitalisme-liberal kian kuat bertiup. Tembok Berlin yang memisahkan dua Jerman telah hancur, Uni Soviet telah bubar, dan rezim Soeharto telah jatuh. Singkatnya, pokok sengketa telah mengabur. Barangkali inilah untungnya bagi Soeprijadi menulis pengalaman itu dalam waktu belakangan ini.

Maka, berbeda pula dengan cerita-cerita sejenis yang penuh dengan nada heroik, atau sebaliknya, mengeluh dan memelas, cerita-cerita dalam cerpen ini lepas dari kemungkinan keduanya. Ia tak hendak unjuk gigi, tapi juga tak melankolis dengan tuntutan simpati dan empati yang berlebih. Tak ada sumpah serapah, kepalan tangan penuh amarah, atau sebaliknya, nada-nada melodramatis. Cerita dituturkan dengan dingin dan sikap yang lebih realistis. Dalam “Mimpi Dorothea Schuhmann” misalnya, ia menerima dengan terbuka dan pasrah sahabatnya Dorothea Schuhmann, dan teman-teman lainnya, yang ‘minggat ke Barat’. They really have a wonderfull dream, tutup cerpen ini. ‘Minggat ke Barat’ berarti meninggalkan ‘Timur’ yang hari-hari lalu dipertahankan dan diperjuangkan sehebat-hebat dan sekeras-kerasnya.

Tanpa kepalan tangan lagi, bukan berarti seluruh pengalaman pahit itu, hendak dihadirkan menjadi cerita yang manis. Kekerasan, kepahitan, dan kekecewaaan itu tetap ada dan bergema, tetapi ia dikemukakan tidak lagi dengan cara yang lugas, menuding-nuding, dan dendam. Ia kini hendak diangkat sebagai perkara kemanusiaan, yang mengundang semua orang berpikiran sehat untuk merenungkannya. Jika tak ada lagi semacam nada perlawanan, sebagaimana stereotipe karya-karya eksil, atau sebagaimana pandangan untuk menilai karya-karya eksil selama ini, maka saya kira hal seperti inilah yang menarik dari cerpen-cerpen ini.

Membaca cerpen-cerpen ini membuat saya merasa bertemu lagi dengan Pak Soeprijadi dan istrinya. Sekarang saya tahu kalau ada kata “Tomodihardjo” di belakang namanya. Sungguh, karena kekurangpargaulan, waktu itu, saya tak menyangka kalau bapak tua ini adalah seorang penulis cerpen yang bagus. Kini saya membayangkan dia berdiri di sudut-sudut tempat peristiwa ceritanya berlangsung, menatap dan mencatat. Saya membayangkan telinganya dibuka lebar-lebar ketika teman-temannya berkeluh kesah, lalu merekamnya dalam ingatan. Dan mengalirlah cerpen-cerpen yang cukup mengharukan ini.

Saya pernah berharap ada novel yang menceritakan pengalaman para eksil ini (atau sudah ada, tapi saya yang tidak tahu?). Berbeda dengan cerpen, novel mungkin lebih lengkap, panjang, dan mendalam, serta berkemungkinan membawa pembacanya lebih terlibat di dalamnya. Peristiwa politik hampir setengah abad yang lalu itu, yang di antaranya menciptakan sekelompok manusia eksil ini (di luar negeri) dan tapol (di dalam negeri), adalah peristiwa kemanusiaan yang terlalu berharga untuk dilupakan. Dan novel adalah salah satu monumen dan sekaligus dokumen penting pengingatnya. Barangkali Pak Soeprijadi Tomodohardjo bisa mewujudkan harapan ini?

From → Resensi Buku

2 Comments
  1. herry anggoro permalink

    Ada banyak orang yg kisah hidupnya mirip pak soeprijadi di tanah air, yang bukan aktivis atau tokoh melainkan orang-orang biasa yg ingin hidup sebagai orang biasa tetapi kemudian jadi orang yang “tidak biasa” dengan pemenjaraan dan stigmatisasi sepanjang hayat.Mereka tidak memiliki kemampuan dan kemauan untuk bisa menceritakan kisah-kisah hidupnya yang “tidak biasa” itu.

  2. aku suka ceritanya…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: