Skip to content

Agama dalam Sastra: Pertemuan dan Persimpangannya

June 23, 2010

Oleh Hairus Salim HS

Catatan: Pengantar diskusi ‘Agama dan Kesusasteraan,’ Balai Budaya Soejatmoko, Solo, 6 September 2009 M/16 Ramadhan 1430 H.

Kehidupan dan pandangan keagamaan di dalam sastra adalah suatu yang mendalam di dalam tradisi sastra Indonesia. Di kalangan para pengarang Muslim misalnya, sastra diyakini sebagai suatu sarana yang penting untuk mengungkapkan ekspresi dan aspirasi keagamaan. Kehidupan keagamaan terutama sebagai latar belakang dan sekaligus sebagai ’pemecah persoalan’ di dalam sastra seperti disinyalir Gonawan Mohamad beberapa tahun silam masih sangat kuat terutama di lingkungan pengarang Muslim. Dan ini menurut saya menjadi corak utama sastra Indonesia dalam relasinya dengan agama dalam beberapa tahun terakhir ini.
Corak lainnya yang menonjol di kalangan Muslim ini adalah karya yang berunsur mistis-sufistik. Godlob-nya Danarto adalah pemuka dari gejala sastra ini. Para penerusnya, dengan tingkat yang berbeda-beda, hingga kini masih meneruskan tradisi ini.
Sedangkan corak yang ketiga, berisi kritik terhadap formalisasi kehidupan beragama, baik menyangkut kehidupan internal agama maupun hubungan antaragama yang lalu dibarengi dengan ikhtiar-ikhtiar pencarian spiritual. Karena sebab-sebab yang mungkin bersifat historis dan politis, corak ini meski ada tetapi sangatlah jarang. Karya dengan corak ini dikerumuni kalangan pengarang yang tidak terlalu senang dengan predikat kepemelukan agama dilekatkan kepada diri pengarang.

Puritanisme Keagamaan
Karya yang menghadirkan kehidupan keagamaan sekaligus pemecah persoalan, hadir sebagai suatu jawaban daripada suatu pertanyaan. Kebenaran agama di sini bersifat formal, institusional dan sudah a priori. Tidak ada dilema-dilema atau pun paradoks-paradoks yang memprovokasi pembaca untuk merenung, menimbang-nimbang, memeriksa ulang suatu pandangan. Dunia terbentang hanya dalam dua warna: hitam dan putih. Para pembaca telah diserahi suatu pilihan yang pasti dan tegas. Sastra di sini berubah betul menjadi khotbah par excellence. Pandangan keagamaan yang bercorak puritan sangat menonjol dalam karya-karya seperti ini.
Dalam “Ada Pencuri di dalam Rumah” (APdR) misalnya, kita berkenalan dengan seorang kakek yang sakti, yang sebentar lagi akan mewariskan kesaktian dan ilmu sihirnya itu pada cucunya. Tetapi si kakek urung mewariskan ilmunya itu kepada sang cucu setelah melihat gejala ilmu itu hanya akan membawa sang cucu pada kesesatan. Ini setelah sang cucu mengajak sang kakek untuk ’main tuhan-tuhanan’ dengan kemampuan ilmu tersebut. Sadar dengan bahaya itu, sang kakek kemudian mengajak cucunya untuk beristigfar dan membakar kitab yang berisi ajaran yang bisa menggiring pada kemusyrikan itu, meski untuk itu sang cucu jadi kecewa dan merasa kehilangan.

Dalam APdR karya Kuntowijoyo ini, saya kira, tampak sekali suatu pandangan keagamaan yang dipengaruhi semangat pemurnian: sementara saya menyebutnya sebagai ’puritanisme keagamaan.’ Di dalam pandangan ini, ilmu kanuragan adalah sejenis bid’ah dan takhayul, sihir yang bisa membawa seseorang pada kesesatan. Dunia yang menampilkan ’keluarbiasaan’ manusia, yang sakti dan mandraguna, adalah dunia irrasional, pintu yang bisa membawa pada kemusyrikan. Karena ’keluarbiasaan’ itu –kalau pun itu benar bisa dilakukan— pada hakikatnya melawan hukum alam sekaligus hukum Allah.

’Puritanisme keagamaan’ seperti ini kuat mewarnai cerpen-cerpen yang ditulis Kuntowijoyo menjelang wafatnya, seperti tampak pada sejumlah cerpen dalam koleksinya Hampir Sebuah Subversi (Grasindo, 1999) dan novelnya Mantra Penjinak Ular (Buku Kompas, 2000). Dalam MPU, Kuntowijoyo mengisahkan tentang seorang muslim Jawa, Abu Kasan Sapari, yang hidup di tengah-tengah masyarakat kejawen yang penuh mistik. Tapi, tokoh utama dalam novel itu, mampu mengemban jati dirinya menjadi manusia shaleh dalam situasi tersebut. Ia berdakwah di masyarakatnya dengan berprofesi sebagai seorang dalang muslim dan membuat wayang jenis baru dengan mengangkat tema-tema Islam.
Kuntowijoyo tidak sendirian. Novel populer Laskar Pelangi karya Andrea Hirata tampil dengan ’puritanisme keagamaan’ yang lebih tebal dan verbal lagi. Diceritakan dalam satu episode dari novel tersebut seorang sakti mandraguna, raja ilmu gaib dan orang paling sakti, yang mampu menerawang, Tuk Bayan Tula. Mahar, salah seorang dari anggota Laskar Pelangi, yang percaya pada kehebatan dukun itu harus mendapat pelajaran khusus betapa bahwa percaya pada dukun itu merupakan sebuah kemusyrikan dan kesesatan. Sebenarnya delegitimasi terhadap kesaktian Tuk Bayan Tula dengan halus dan cerdas telah ditunjukkan pengarang dengan kekeliruan dan kegagalan Tuk Bayan Tula memberi petunjuk kepada Mahar dan kawan-kawan untuk mencari temannya Flo yang hilang. Meski demikian, Mahar tetap percaya pada dukun itu dan persistensi kepercayaan Mahar pada sang dukun itu dengan gampang dipatahkan dengan sebuah nasehat di dalam kelas. ”Camkan ini anak muda, tidak ada hikmah apapun dari kemusyrikan, yang akan kau dapat dari praktik-praktik klenik itu adalah kesesatan yang semakin lama semakin dalam… Iblis mengipasimu setiap kali kau kipasi bara api kemenyan-kemenyan itu.” (hal. 352).
Melampaui semangat para pengarang di atas, kalangan pengarang muslim muda yang berteduh dalam Forum Lingkar Pena, jauh lebih verbal lagi usahanya untuk menundukkan sastra di bawah kepentingan agama. Di sini Islam diajukan sebagai solusi atas seluruh permasalahan kehidupan. Dalam novel Amungme (Mizan, 2005) misalnya, Peringga Ancala menghadirkan tokoh Omabak, anak suku Amungme yang setelah bersekolah di Jawa, kembali ke desanya dengan membawa Islam untuk menggantikan Dewa Mam On yang diyakini oleh orang-orang Amungme.
Jika dakwahnya Kuntowijoyo dan Andrea Hirata adalah membersihkan dan memurnikan ajaran-ajaran Islam dari ajaran sesat di lingkungan internal umat Islam, dakwah Peringga Ancala pergi lebih jauh lagi ke kalangan non-muslim. Keduanya bersifat negasi pada nilai-nilai dan kepercayaan lain yang berbeda.

Mistik-Sufistik
Seorang lelaki dengan pakaian, baju, dan peci hitam naik naik ke bus penumpang antar kota yang panas, gerah, dan sumpek. Ia mendendangkan shalawat badar dengan suara yang fasih dan bening. Ia kemudian memohon kepada para penumpang sekeping receh untuk itu. Tapi sejak ia naik hingga shalawat itu tuntas digemakan, para penumpang –entah karena kantuk, bakhil, atau lelah, tampak mengabaikannya. Dan sopir bus memarahinya karena tak turun dari bus. Tidak berapa lama, bus oleng, jatuh, terbakar. Di sela rintihan para penumpang yang terluka dan terjepit, ’seorang lelaki kusut keluar dari bangkai bus. Badannya tak tergores sedikitpun. ..dengan tenang…terus berjalan…: ”shalatullah salamullah, ’ala thaha rasulillah…”’

Cerpen “Pengemis dan Shalawat Badar” karya Ahmad Tohari ini, saya kira, merupakan satu eksampel karya sastra yang bercorak mistis-sufistik. Keluarbiasaan adalah suatu yang mungkin dan mendapat tempat di dalam pandangan mistis-sufistik, lebih-lebih jika hamba diyakini telah bersatu dengan khalik-Nya. Keluarbiasaan seperti ini ditampung dalam konsep ’kekeramatan’ yang bisa dicapai oleh seorang wali atau bisa jadi oleh orang biasa-biasa saja. Demikianlah, pengemis yang melantunkan shalawat badar itu, yang telah dihinakan oleh hampir seluruh penumpang bus, selamat dari kecelakaan bus tanpa sedikit pun luka.
Cerpen “Gus Jakfar” karya A. Mustofa Bisri adalah jenis lain dari karya mistik-sufistik ini. Gus Jakfar diyakini sebagai wali yang memiliki kemampuan luar biasa, yang di antaranya bisa menebak ajal seseorang. Tetapi kemampuan ini tak pernah lagi dikeluarkan oleh Gus Jakfar semenjak kepergiannya selama seminggu dan bahkan ia jadi pendiam sejak itu. Rupanya, dia berjumpa dengan ’seseorang’ yang telah menunjukkan hakikat yang lebih tinggi dari kebenaran yang tak mampu dilihatnya, yang penglihatannya selama ini hanya terbatas pada yang kasat mata saja. Cerita ini pastilah mengingatkan kita pada perjumpaan Musa dan gurunya Khaidir. Motif ’pencarian’ dan ’pengenalan diri’ memang menjadi orientasi utama dari karya-karya dengan corak ini. Sebagaimana diktum kaum sufi: barang siapa mengenal Tuhannya akan mengenal dirinya.
Namun karya-karya ini, saya kira, masih sangat membatasi diri dan agak enggan memanfaatkan tradisi-tradisi agama lain. Padahal dalam tradisi mistik, seluruh agama dan kepercayaan secara esoteris pada dasarnya sama: suatu jembatan menuju Tuhan. Dalam hal inilah, karya-karya bercorak mistik-sufistik yang baru-baru ini terbit tidak mampu melampaui Godlob-nya Danarto, yang dengan mudah dan indah, menyerap tradisi berbagai agama dan kepercayaan, mengolahnya, dan menampilkan dalam suatu karya sastra yang menantang dan menuntut perenungan. Sebuah passing-over, melintas batas, yang juga telah umum di kalangan mistikus.

Sastra sebagai Kritik pada ’Agama’
Dalam kehidupan yang tertutup, represif, dikuasai oleh satu nilai kebenaran tertentu, entah itu berdasar politik, ideologi, maupun agama, sastra berperan untuk melakukan interupsi. Tetapi hal ini tidaklah mudah, lebih-lebih terhadap kemapanan yang bersumber pada suatu agama, karena sastra dengan corak seperti ini bisa segera dituduh anti-Tuhan, menghina agama, memprovokasi konflik, dan sebagainya, yang membuatnya sah untuk diberangus. Cerpen Ki Panji Kusmin yang membawa H. B. Jassin ke penjara atau heboh The Satanic Verses-nya Salman Rhusdie yang difatwa mati oleh Khomeini adalah contoh-contoh ancaman ini.

Tetapi karya dengan corak ini bukan sama sekali tidak ada di dalam karya sastra Indonesia mutakhir. Katrin Bandel telah menyoroti karya tiga pengarang perempuan Indonesia (masing-masing Dewi Lestari Supernova, Clara Ng, Tujuh Musim Setahun dan Ani Sekarningsih, Memburu Kalacakra) yang dikatakannya memberikan kritik yang pedas pada kehidupan keagamaan yang tertutup, yang mengklaim kebenarannya sendiri, sekaligus dengan itu, menawarkan pandangan keagamaan yang lebih moderat dan terbuka. Penting dicatat bahwa agama di sini bukan suatu yang telah terlembaga, atau agama-agama semetik saja, tetapi menyangkut juga kepercayaan-kepercayaan lokal, agama-agama baru (new age), dan lain-lainnya.
Saya kira salah satu karya yang penting disoroti dalam arus semangat ini adalah Bilangan Fu (Gramedia, 2009) karya Ayu Utami. Barangkali bukan kebetulan, seperti ketiga karya perempuan yang disoroti Katrin di atas, karya ini juga ditulis oleh seorang pengarang perempuan. Seperti ketiga karya yang diamati Katrin di atas, Bilangan Fu pada keseluruhannya ditujukan dengan sangat kuat untuk melakukan kritik terhadap ’agama’ dan menawarkan suatu yang disebutnya sebagai ’spiritualitas kritis.’ Barangkali karena demikian bersemangatnya, kritik di sini jadi demikian verbal sekali.
Bilangan Fu yang tebalnya 536 hlm. adalah suatu karya yang alurnya cukup jelas. Berkisah tentang persahabatan dua orang pemuda pendaki bukit, Sandi Yudha dan Parang Jati. Parang Jati memperkenalkan suatu teknik pendakian yang benar kepada Sandi, yang –berbeda teknik pendakian Sandi dan teman-temannya selama ini— tidak dengan memaku dan menghancurkan dinding-dinding batu. Dua pendakian ini adalah metafora dari dua jenis agama, kepercayaan, atau spiritual: yang mengancam dan yang mengayomi, yang membenci dan yang mencintai, yang cemburu dan yang merangkum, dan seterusnya.

Parang Jati sendiri adalah anak angkat seorang guru kebatinan Suhubudi. Ayahnya tidak diketahui siapa, karena ia datang seperti Musa yang dilarutkan di sungai. Ia memiliki adik, yang juga datang misterius, Kupukupu. Jika Parang Jati meneruskan pandangan dan kepercayaan ayah tirinya, yang termanifestasikan di antaranya dalam upacara sajen pengantin ke Watugunung, Kupukupu sebaliknya, menganggap kepercayaan itu sebagai syirik. Bersama seorang guru ilmu alam dari kota dan pemuda-pemuda lain, ia memobilisasi gerakan untuk melawan dan memberangus kepercayaan lokal, milik nenek moyangnya, dengan seluruh pernik dan ritualnya. Sosok Kupukupu dan kawan-kawannya itu pastilah akan merujukkan kita pada gerakan-gerakan keagamaan yang marak dan gemar pada kekerasan dalam satu dekade terakhir ini.

Cemburu, benci, dan mengklaim sebagai pemilik kebenaran adalah ciri khas dari seluruh agama semitik. ”Kenapa monoteisme begitu tidak tahan pada perbedaan?” demikian tulis Parang Jati dalam catatan harian. Dalam episode bertajuk ’Gugatan Hu atas Moneteisme’ yang lebih mirip sebuah esai, didedahkan asal mula monoteisme itu dan mengapa ia demikian bebal. Gugatan mendasar karya ini, dengan demikian, adalah pada monoteisme. Lalu, ditawarkan di sini kepercayaan yang diyakini lebih toleran, yakni kepercayaan gnostik yang menerima pada kesunyatan, kesunyian, kekosongan. Itulah misteri dalam bilangan fu.

Meski beralur sederhana, karya Ayu ini cukup kompleks. Ia mendedahkan lagi beberapa kepercayaan kuno pra-Islam dan menganyamnya dalam relasi cerita yang bertingkat-tingkat, berlapis-lapis, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dari suatu topik ke topik lain. Ilmu pengetahuan modern dipertemukan dengan kearifan kuno yang telah banyak dilupakan. Kita dihadapkan pada keriuhan teks yang mewacanakan kehadirannya sendiri-sendiri.

Demikianlah, sastra dan agama, memiliki banyak jenis relasi. Kompleks dan bervariasi. Betapa menariknya, membaca secara intertekstual karya-karya ini!

From → Kertas Kerja

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: