Skip to content

Toleransi

January 5, 2010

Mengingat Voltaire adalah di antaranya mengingat Jean Calas. Dan mengenang dua nama ini dalam satu nafas adalah menyadari bahwa sikap toleransi, menegang, dan menghormati orang yang berbeda, tidaklah datang serta merta, tapi melalui perjuangan, pengalaman, dan juga air mata.

Pada 10 Maret 1762, Jean Calas dihukum mati. Ia dituduh membunuh anaknya Marc-Antoine Calas. Tuduhan itu muncul dengan sendirinya dan diterima luas kebenarannya, termasuk oleh para hakim penyelidik waktu itu, karena Jean Calas sekeluarga dikenal sebagai penganut Calvinis, sementara sebelumnya telah tersiar kabar bahwa Marc-Antoine berkeinginan konversi ke Katolik. Bagi masyarakat Prancis waktu itu, ‘sudah pasti’ Jean Calas membunuh anaknya karena motif keagamaan. Bersamanya juga akan dihukum istrinya, anak laki-lakinya Pierre, Gaubert Lavaisse, dan seorang perempuan tua Jeane Viguiere, seorang Katolik, yang merupakan pembantu mereka.

Sesuai prosedur zaman itu, Jean Calas dihukum dengan cara “disiksa hidup-hidup lalu dicekik dan dijatuhkan di atas api yang membara.” Hukuman ini diyakini sebagai penyucian dosa untuk menjelmakannya menjadi kebahagian. Tapi sebelum eksekusi, dijalankan hukuman yang biasa dulu, anggota badannya ditarik dengan alat pemberat dan ia diminta meminum sepuluh gentong air. Menghadap Tuhan dengan cara seperti ini diyakini akan mampu menyingkap kebenaran. Calas dipaksa untuk mengakui kesalahan. Tapi ia tak mau mengaku dan tetap mengatakan dengan teguh ia tidak bersalah dan bersih. Hingga ajal merenggutnya dengan cara yang primitif itu, ia tetap kukuh dengan pendiriannya. Tentu saja ini membuat luruh pandangan masyarakat yang kadung memvonisnya dengan buta.

Masa itu Louis XIV memegang kuasa politik. Ia menetapkan Katolik sebagai agama negara. Sementara Protestan telah berkembang cepat di luar kawasannya. Perkembangan ini mengancam, bukan hanya dominasi Katolik, tapi juga kekuasaannya. Itulah lalu diperlakukan undang-undang yang sangat diskriminatif dan intoleran. Semua orang harus Katolik. Kepercayaan di luar yang dirumuskan negara adalah kejahatan. Prasangka menyebar. Intimidasi meluas. Tak ada tempat untuk ‘yang lain.’ Lalu, sekian orang ditangkap dan dihukum lantaran berbeda kepercayaan. Jean Calas sekeluarga adalah salah satu dari korbannya. Kesalahan Jean Calas, karena itu, pertama-tama bukanlah pembunuhan itu sendiri, tapi karena ia seorang Calvinis. Ia dijerat dengan undang-undang antiprotestan.

‘Perlawanan’ atau lebih tepat ‘keteguhan’ Jean Calas itu meyakinkan Voltaire untuk menyelidiki kasus itu. Berbekal pandangan yang terbuka dan kehendak yang tulus, serta tentu saja perjuangan yang gigih melawan fanatisme yang meluas waktu itu, Voltaire membuka cadar ‘kebenaran’ yang diselimuti fanatisme dan intoleransi keagamaan. Akhirnya tersingkap: Marc-Antoine mati karena bunuh diri dan nama Jean Calas pun direhabilitasi.

Kasus yang menyedot perhatian intelektual dan spiritual Voltaire ini menyulut usahanya lebih lanjut untuk merumuskan pentingnya suatu sikap toleransi dalam kehidupan kemanusiaan. Kemajemukan harus diterima, bukan semata sebagai kenyataan, tapi juga ‘keyakinan,’ bersisian dengan keyakinan yang dipeluk. Betapa berbahayanya fanatisme dan pemaksaan pada satu kepercayaan saja. Dalam Traktat Toleransi-nya, tragedi Jean Calas ini hadir menjadi pembuka.

Bisa dimaklumi, apa yang dirumuskan oleh Voltaire memang belumlah ideal dan masih sangat terbatas. Ia belumlah menyentuh aspek-aspek terdalam dan terjauh dari bagaimana kemungkinan-kemungkinan kehidupan yang berbeda-beda dan majemuk, tapi penuh toleransi dan penghormatan serta kesetaraan itu, mesti dibangun. Namun, Voltaire telah ikut merintis jalan. Para pemikir modern melengkapi dan menyempurnakannya.

Tragedi Jean Calas dan perjuangan gigih Voltaire untuk merumuskan pandangan mengenai toleransi itu sudah seharusnya menjadi pengalaman dan pengetahuan universal. ‘Kita’ tak perlu mengulang lagi kekerasan dan konflik keagamaan sekian abad lalu itu. Penyegaran ini perlu dilakukan terus-menerus. Tapi ‘sebagian’ kita rupanya banyak yang lupa dan seperti ingin menghadirkan file-file kehidupan sosial lama itu di hadapan kehidupan modern kita: mengulang lagi sikap-sikap intoleransi.

Benar kata seorang sahabat. Gaya hidup suatu zaman bisa dianggap usang di zaman lain, tapi pada zaman yang lain lagi bisa hadir sebagai suatu yang baru dan trendy. Tak mengapa, tapi saya berharap, sikap ‘intoleran’ bukanlah gaya, apalagi pandangan hidup usang, yang ingin dihadirkan kembali itu!

Gong Edisi 106/2009

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: