Skip to content

Si Bongkok

January 5, 2010

Konon, di Cina hiduplah seorang penjahit dengan istri yang jelita dan setia. Sebagai penghiburan, suatu hari mereka mengundang makan malam seorang lelaki bongkok yang piawai main rebana, bernyanyi, dan melucu. Dengan perut kenyang, mereka tertawa riang. Sambil bergurau si penjahit menjejalkan sepotong ikan ke mulut Si Bongkok yang membuatnya tak dapat bernapas dan tidak sempat mengunyah, hingga langsung menelannya. Bagian tulang ikan itu menancap di kerongkongannya dan membuatnya tewas seketika.

Takut dipersalahkan suami istri itu kemudian membungkus tubuh Si Bongkok dan dengan diam-diam di gulita malam itu menggotong dan meletakkannya di lantai dua depan pintu rumah seorang dokter Yahudi. Si Dokter mengira ada pasien yang hendak berobat. Ia keluar tergesa-gesa. Kakinya menabrak tubuh Si Bongkok yang lalu jatuh menggelinding di tangga rumahnya. Ia kaget ketika memeriksa tubuh itu sudah tak bernyawa lagi. Pikirannya dilanda ketakutan.

Tapi atas saran dan bantuan istrinya, ia kemudian membawa mayat itu ke atas atap dan menurunkannya ke bagian sudut rumah tetangganya, seorang bujangan Muslim. Si bujangan ini adalah seorang pelayan raja yang suka membawa pulang banyak mentega dan makanannya lainnya. Tapi mentega dan makanan itu sering habis disikat oleh kucing dan tikus yang banyak bersarang di rumahnya.

Sewaktu si pelayan pulang dari pengajian Quran di tengah malam itu, ia kaget ketika dalam keremangan cahaya lilin melihat seorang lelaki berdiri di sudut rumah. Hatinya berkata: rupanya selama ini yang mencuri mentega dan makananku bukanlah kucing dan tikus, tapi manusia. Betapa berdosanya aku selama ini telah membunuh banyak kucing dan tikus. Ia segera mengambil gada dan memukul kepala lelaki itu hingga jatuh. Ia terus memukulnya berkali-kali. Tapi ketika sadar bahwa lelaki bongkok itu telah tewas, wajahnya pucat dan hatinya kecut. Ia telah membunuhnya.

Malam belum lagi habis, ketika si pelayan itu memutuskan untuk membawa mayat itu ke pasar, menyandarkannya di sebuah toko, dan meninggalkannya di situ. Seorang saudagar Kristen yang tengah sempoyongan pulang dari pesta mabuk lewat di lorong remang itu. Tiba-tiba serbannya dijambret seseorang dan ia melihat ada sesosok lagi berdiri di hadapannya yang ia kira hendak merampas miliknya yang lain. Ia segera meninju orang itu dan ikut rubuh bersamanya. Ketika paginya siuman, ia tahu bahwa tuduhan telah dijatuhkan: seorang Kristen telah membunuh seorang Muslim. Ia heran bagaimana bisa dengan sekali tinju saja ia bisa membunuh lelaki bongkok itu.

Pengadilan memutuskan akan menghukum gantung saudagar Kristen itu. Ketika hukuman akan diambil, Si Pelayan menerobos masuk. Ia minta hukuman dibatalkan, karena sebenarnya dialah yang membunuh Si Bongkok itu. Ia merasa berdosa telah membunuh saudara Muslimnya, dan kini jika ia membiarkan hukuman itu, ia makin terbebani dengan membiarkan kematian seorang Kristen. Ia pun mengungkapkan ceritanya. Setelah mendengar kesaksiannya, Saudagar Kristen itu dibebaskan dan Si Pelayan itulah yang ganti akan dihukum.

Tetapi hukuman untuk Si Pelayan ini pun batal, ketika tampil Si Dokter Yahudi yang mengaku sebagai pembunuh sebenarnya. Ia pun menceritakan ikhwalnya. Sudah cukup berdosa baginya telah membunuh seorang Muslim dan tak perlu lagi menambah dengan kematian Muslim yang lain. Atas dasar pengakuan itu, Si Pelayan pun dibebaskan, dan kini gantinya Si Dokter Yahudi.

Tapi hukuman gantung untuk Dokter Yahudi itu kembali gagal digelar ketika tiba-tiba Si Penjahit menyela dan mengaku dialah sejatinya si pembunuh. Ia pun mendedahkan pengakuannya, dan atas dasar itu, tali gantungan pun berpindah ke lehernya.

Kebetulan Si Bongkok adalah badut kesayangan raja. Malam itu ia tidak muncul di hadapan raja dan paginya raja mendengar kabar bahwa Si Bongkok telah mati dengan diiringi cerita yang menakjubkan ini. Raja terpesona, dan atas titahnya, Si Penjahit itu pun dibebaskan.

Cerita ini, saya padatkan dari malam ke-101 hingga 107 Kisah Seribu Satu Malam. Seperti ditulis si empunya cerita: ”Ada suatu misteri di balik kisah ini, dan itu harus dicatat dalam buku-buku, bahkan dengan huruf emas.”

Majalah Gong edisi 115/X/2009

From → Tatap

One Comment
  1. Fransiska Lazora permalink

    nice..thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: