Skip to content

‘Deadline’

December 26, 2008

bandung

Ini mungkin merupakan salah satu kata yang sulit dicari padanannya dalam Bahasa Indonesia. Secara harfiah, maknanya terdengar sangar: “garis atau batas yang mati.” Ya memang, barangsiapa yang tidak bisa memenuhi batas atau garis yang telah ditentukan tersebut alamat rezekinya akan terbang dan bahkan mungkin kariernya akan melayang.

‘Deadline’ –fixed limit of time for finishing a piece of work— memang kata yang berasal dari latar masyarakat Barat yang sangat menghargai dan memuliakan waktu. Dari latar masyarakat ini pula lahir pepatah ‘waktu adalah uang.’ Tentu saja tidak dari sono-nya masyarakat Barat demikian. Adalah melalui proses-proses sosial yang panjang yang telah membentuk pandangan mereka menjadi sedemikian ketat —dan dalam beberapa hal juga kaku– terhadap waktu. Menurut sejarawan E. P. Thompson, pemuliaan yang tinggi terhadap waktu di Inggris baru dimulai pada abad ke-14 ketika jam mulai diperkenalkan dan disebarkan, serta menyusul itu, terjadi revolusi industri. Sejak itulah mulai dikenal namanya target, waktu dan disiplin kerja, upah, status buruh-majikan, dan juga deadline itu.

Dalam bahasa Indonesia, deadline sering diterjemahkan sebagai ‘batas waktu’ atau ‘tenggat waktu.’ Dengan terjemahan itu, kesan sangarnya terasa jadi mencair. Tak aneh kalau karena itu ‘batas waktu’ atau ‘tenggat waktu’ ini seringkali masih bisa ditawar dan diulur-ulur, karena ia tidak lagi sesuatu yang ‘dead(ly),’ yang (me)mati(kan). Bisa dipahami jika banyak teman tetap lebih senang menggunakan kata aslinya, deadline, agar tetap terasa efek represi dan provokasinya.

Sebagian besar masyarakat masih memperlakukan waktu secara lunak dan santai. Bahkan di kalangan urban, yang telah terikat pada budaya industri pun, perlakuan demikian masih kuat melekat. Diburu waktu, dalam hal apapun, sangat menekan dan menyiksa. Santai sungguh sebuah kemewahan. Terlalu patuh pada deadline memang belum menjadi bagian dari budaya kita.

Tetapi yang menarik, jika kita menengok beberapa legenda, tersurat di sana soal deadline ini. Ingat misalnya legenda Sangkuriang yang jatuh cinta pada ibunya Dayang Sumbi. Sang ibu yang tahu itu cinta terlarang menolak dengan cara meminta Sangkuriang membuatkannya sebuah danau dan sebuah perahu dalam semalam. Sangkuriang yang mandraguna bersedia dan hampir bisa memenuhi permintaan itu. Tapi sebelum deadline itu tiba dan pekerjaan hendak usai, Dayang Sumbi dengan culas bersama teman-temannya telah mengetuk lesung dan menggemakan kokok ayam pertanda fajar menjelang. Sangkuriang kalah dalam pertaruhan itu.

Legenda yang serupa terjadi berkaitan dengan asal-mula Candi Prambanan. Konon Roro Jonggrang yang ogah menerima cinta Bandung Bondowoso mensyaratkannya membuat seribu candi dalam semalam. Tak sulit bagi Bandung Bondowoso yang sakti untuk memenuhi syarat itu. Tapi seperti legenda Sangkuriang, sebelum fajar benar-benar menyingsing, Roro Jonggrang dan para dayangnya telah membakar jerami dan menumbuk lesung. Dan ayam pun berkokok pertanda hari telah pagi. Karya Bandung Bondowoso dianggap gagal.

Dari legenda yang meninggalkan pusaka alam yang indah Tangkubanperahu dan Candi Prambanan ini, tampak bahwa orang-orang yang sanggup memenuhi deadline adalah mereka yang digjaya dan hebat. Dalam konteks modern sekarang: merekalah orang-orang yang profesional, yang tangkas dan siap bertarung dan berkontestasi dalam hidup. Tapi kesanggupan memenuhi deadline ini, celakanya tidak sepenuhnya diterima dan dianggap benar. Ia dipotong dan ditolak dengan curang. Dianggap ngoyo atau nggaya.

Barangkali ini sebab kita tak sepenuhnya bisa menjadi Sangkuriang atau Bandung Bondowoso, meski tak mau juga jadi Dayang Sumbi atau Roro Jonggrang!

Gong edisi 105, November 2008

From → Tatap

2 Comments
  1. fayyadl permalink

    Btw, tulisan ini jadi karena deadline juga kan Mas? : )

  2. sudah ada mas bahasa indonesianya. “tenggat”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: