Skip to content

Filmisasi Karya-Karya Sastra Islami

September 2, 2008

Pemfiliman karya-karya sastra (baik yang serius maupun yang pop) tentu bukanlah gejala baru. Sejak dini, film sudah banyak yang mengambil inspirasi (inspired by) atau (adapted from) karya-karya sastra. Menurut Garin Nugroho, 85% film pemenang Oscar merupakan adaptasi dari karya sastra (novel, cerpen, drama). Sementara 45% film cerita dan 83% miniseri televisi merupakan adaptasi dari novel. Bahkan 70% peraih Emmy Award –penghargaan terbaik untuk karya-karya televisi— merupakan adaptasi dari berbagai karya tulis.

Dalam sejarah film Indonesia, prosentasinya barangkali tidak sebesar itu. Meski begitu, film-film Indonesia yang mengadaptasi karya-karya sastra boleh dikata tidak sedikit. Sebagian besar film-film ini laku secara komersial (seperti Badai Pasti Berlalu, Cintaku di Kampus Biru, dan Karmila), meski jarang berhasil secara estetis (dalam arti memperoleh penghargaan). Dari 20 film peraih Piala Citra sejak 1973-1992 misalnya, dalam penelusuran saya hanya ada 2 film yang diambil dari karya sastra, yaitu Kemelut Hidup (1979) dan Taksi (1990).

Sementara itu, dalam ranah karya sastra islami, sejauh ini hanya ada satu karya sastra yang diangkat ke film yaitu roman Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Hamka. Film ini sempat tertahan lama di badan sensor karena judulnya dianggap merupakan kampanye bagi suatu partai politik. Setelah itu, mungkin di antaranya karena faktor politis itu film ini peredarannya tersendat, tidak mengalami sukses secara komersial, dan tak juga memperoleh apresiasi yang memadai dari pengamat film.

Sedikitnya karya sastra yang difilmkan dalam sejarah film Indonesia, mungkin bisa ditelusuri dari tidak mudah dan problematisnya mengadaptasi sastra ke dalam film. Tetapi dalam kasus film keagamaan Islam, mungkin alasannya tidak sekadar soal teknis itu, tetapi juga memang sedikit dan terbatasnya apa yang disebut karya-karya sastra islami saat itu.

Sukses komersial film “Ayat-Ayat Cinta” yang diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Habiburrahman el-Syirazi baru-baru ini karena itu dapat dipastikan segera akan mendorong gerakan pemfiliman kembali karya-karya sastra, lebih khusus lagi karya-karya sastra islami. Estimasi ini tidak hanya berangkat dari kebetulan sukses itu diperoleh oleh sebuah film yang diambil dari novel islami, tetapi juga kenyataan bahwa kini demikian banyak karya sastra islami tersebut. Didorong oleh aktivitas sanggar-sanggar penulisan kreatif, baik yang berbasis di kampus, kampung, maupun NGO, kini lahir banyak sastrawan muda, dengan karya-karya sastra mereka, termasuk yang bercorak islami. Dengan berbagai motif, pemfiliman karya-karya sastra islami ini akan menjadi kecenderungan setidaknya dalam 2-3 tahun mendatang. Novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman yang lain dan Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, serta Bait-Bait Cintakarya Gaidurrahman misalnya, kini sedang dalam proses penulisan skenario dan pengambilan gambar.

Dengan demikian, jika ada minat, kini ada banyak karya sastra islami yang ‘bisa’ untuk difilmkan. Tetapi soalnya, tentu bukan semata ketersediaan dan kelimpahan karya-karya ini, tetapi pada soal adaptasi karya-karya ini ke dalam film. Soalnya yang pertama, apakah karya-karya sastra itu perlu dan layak, terutama dari segi cerita (dan juga dari segi komersial), untuk difilmkan. Yang kedua, pada kemampuan untuk mengadaptasinya. Sastra dan film memiliki bahasa dan logika penceritaan yang berbeda. Karena berbedanya bahasa yang diekspresikannya, pengadaptasian sebuah karya sastra yang berbasis pada bahasa tulis ke bahasa film yang berbasis visual, tentu butuh keterampilan dan kemampuan yang khas. Karya-karya sastra dalam bentuk buku baru merupakan bahan mentah atau baru sebagai bibit. Keduanya perlu diolah atau dipupuk dan disiram. Tahap awalnya adalah penulisan skenario (dari tiga tahap pembuatan film sebelum penyutradaraan dan penyuntingan). Naskah skenario menentukan baik tidaknya sebuah film. Karya sastra yang baik tetapi skenarionya tidak ditulis dengan bagus akan menjadi film yang juga tidak bagus. Sebaliknya, karya sastra yang biasa-biasa saja kalau diskenario dengan baik akan menghasilkan film yang baik pula. Karena bahasa ceritanya yang berbeda, maka ada dua problem utama dalam pengadaptasian karya sastra ke film. Pertama seberapa jauh kesetiaan dan ketidaksetiaan pada teks asli karya satra dan kedua melakukan penyesuaian, baik berupa pengurangan maupun penambahan, yang dianggap perlu. Jika hendak difilmkan, karya-karya sastra ini membutuhkan (penulis) skenario yang bagus.

Sering orang mengatakan: nilailah film sebagai film. Tetapi dalam kaitan film yang diadaptasi dari karya sastra, tak terhindarkan orang, terutama pembaca novel yang difilmkan itu, akan menghubungkan dengan karya novelnya. Kerap terlontar pertanyaan: sesuai tidak dengan novelnya? bagus mana antara novel dan filmnya? Tokoh A-nya atau B-nya bagaimana, ganteng tidak? Gantengnya seperti apa? Dst? Kadang pandangan ini datang dari si penulis novelnya sendiri. Beberapa tahun yang lalu ketika berkunjung ke rumah Ahmad Tohari saya pernah menyinggung film Ronggeng Dukuh Paruk-nya. Ia menyatakan kecewa dengan film itu dan meminta saya untuk melupakannya saja. Hal yang sama pernah saya dengar langsung juga mengenai film Roro Mendut dari mulut Y. B. Mangunwijaya.

Pemfiliman novel pertama-tama harus berhadapan dengan ‘persepsi’ pembaca novel yang telah dulu hadir. Lebih-labih kalau novel itu novel yang laku keras. Tidak setiap adegan atau dialog dalam sastra perlu dan harus tampil di film. Dan jika pun harus tampil, ia perlu strategi adaptasi sesuai kebutuhan medianya sebagai film, dan terutama plot cerita yang dirancang untuk film itu sendiri. Ketika mengangkat Salah Asuhan, pengamat JB Kristanto mempertanyakan adegan dan karakter sombong Hanafi yang baru pulang dari sekolah di luar negeri. Di zaman di mana sekolah dan pergi ke luar negeri sekarang merupakan hal yang biasa, adegan dan karakterisasi itu jadi lucu, kata JB Kristanto. Para pembaca Ayat-Ayat Cinta yang menonton filmnya banyak yang kecewa karena tidak mendapat panorama Cairo dengan Sungai Nil dan Piramidanya yang eksotik serta Al-Azhar yang legendaris, yang bertebaran dalam novel. Tetapi para penonton, yang tak membaca novel ini, atau pembaca novel ini yang berorientasi happy week end sangat senang karena akhirnya Fahri menikah dengan Maria dan sempat menikmati manisnya bulan madu suami istri, sesuatu yang di dalam novel tidak ada. Tetapi untuk film yang skenarionya tiga babak ala Hollywood, strategi ini dianggap tepat karena di bagian ini sutradara mengaduk-aduk emosi penonton, membangun adegan-adegan lucu dan paradoksal dalam sebuah keluarga poligami.

Demikian problematis hubungan film dan novel ini, karena itu dari segi audiens, ada orang yang memutuskan tidak menonton film yang diangkat dari novel, kalau novelnya itu telah ia baca. Sebaliknya, ia tak akan membaca novel yang filmnya sudah ia tonton. Ini menjaga agar ia tak kecewa dan ia tetap mampu melihat film sebagai film.

Memperlakukan film sebagai film, inilah soalnya. Di luar negeri, penulis yang telah merelakan novelnya difilmkan, akan menyerahkan sepenuhnya pemfiliman novelnya itu kepada ahlinya. Terserah mau diapakan. Karena bagi mereka, film itu telah berdiri sebagai karya sendiri, dan sebagai penulis, ia tidak mempunyai wewenang profesional untuk mencampurinya. Kalau dia bagus, harus dilihat sebagai film yang bagus. Sebaliknya juga kalau ia jelek.

Untuk film dengan basis sastra islami barangkali tingkat kesulitan berikutnya tentu ada pada ajektif ‘islami’ tersebut. Karena ia diambil dari karya sastra yang dianggap ‘islami’ maka karya filmnya pun ‘mesti’ islami. Maka, soalnya bagaimanakah ‘islami’ itu dikonstruksi?

Mengikuti pernyataan Goenawan Mohamad beberapa tahun lampau, sastra keagamaanumumnya mengacu pada dua hal, yaitu menghadirkan kehidupan agama sebagai latar belakang dan agama sebagai pemecah masalah. Dua kecenderungan ini, saya kira, masih relevan untuk melihat ranah sastra islami ini. Bedanya hanya, jika sastra islami tempo dulu, misal karya-karya Hamka dan Jamil Suherman, menghadirkan latar kehidupan Islam, karya-karya islami sekarang bersemangat menghadirkan Islam sebagai pemecah masalah. Apapun juga kecenderungannya, apa yang disebut sastra islami –karena demikian sifat dan tujuannya– memiliki nilai didaktis yang tinggi, penuh khotbah dan pesan keagamaan. Nilai-nilai yang ditawarkan sangat formalistis dan sesisi. Pemfiliman karya-karya sastra islami ini tak akan jauh-jauh amat dari kecenderungan ini.

Sebagai kasus aktual, Ayat-Ayat Cinta, baik sebagai novel maupun film mengangkat kehidupan keluarga Islam Indonesia di Cairo sebagai latar dan pada saat yang sama menghadirkan Islam itu sebagai pemecah masalah. Nilai-nilai yang dihadirkan adalah nilai yang ideal. Hampir-hampir tak ada pergumulan dan konflik batin di antara tokoh-tokohnya dalam melihat masalah. Yang baik pasti menang. Semua berjalan mulus dan linear. Film seperti ini tak akan memantulkan perenungan yang dalam bagi penonton, kecuali kesan sesaat yang bersifat hiburan dan mimpi bahwa kehidupan sehari-hari akan berjalan demikian lurus juga dalam kenyataan.

Sukses film Ayat-Ayat Cinta jelas mengikuti sukses novelnya yang terjual ribuan kopi dan tepat waktu ketika film Indonesia dipenuhi tema hantu dan cinta remaja yang cengeng. Tetapi saya khawatir jika kecenderungan melodramatis dan didaktis yang formal seperti ini terus berlangsung, film-film islami hanya akan segera membosankan dan menjadi trend sesaat saja. Seperti film hantu dan cinta cengeng remaja, ia hanya akan jadi film konsumen, dan bukan film prestise.

Dalam sejarah film Indonesia, barangkali kita bisa belajar dan membandingkan dua film bercorak islami –meski tak diangkat dari novel Islami– yang sampai sekarang masih terus dikenang, yaitu Al-Kautsar (1977) dan Titian Serambut Dibelah Tujuh (1983). Kedua film ini, meski bercorak islami, sama sekali tak jatuh dalam khotbah yang verbal dan klise serta hitam-putih.

 

Catatan untuk Workshop “Filmisasi Sastra Islami” di UII, Yogyakarta, 13 Juni 2008.

From → Kertas Kerja

3 Comments
  1. Iya Oom. Dhany sepakat, Al-Kautsar sama TSDT tidak terjebak dalam verbalisasi Islam. Saya belom nonton sih, tapi Ayah lah yang cerita di rumah. Sampai sekarang belum ada yang Oom film ‘islami’ yang bermutu, bukan sekadar menghibur tetapi bisa menjadi bahan refleksi yang mendalam. Salam Oom Salim, Selamat Berpuasa

  2. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

    Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
    (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

    JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

    Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

    Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

    Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

    Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

    SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

    Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

    Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan How you see others, How others see you dan How others see themselves, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

    Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

    SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

    Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

    Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

    Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

    SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

  3. tito permalink

    halo Bung/Mbak Haisa,

    Boleh saya tahu judul tulisan Gunawan Muhammad yang anda kutip di atas? Saya sendiri sedang menulis soal film Islam di Indonesia. Terima kasih banyak.

    Salam,
    Tito

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: