Skip to content

B e r p i k i r

August 7, 2008

“Nagabonar,” satu dari sedikit film komedi Indonesia yang bermutu dikenang para penontonnya di antaranya karena ungkapan, “Sudah kubilang kau, berhentilah berpikir!” Ungkapan yang diekspresikan tokoh Nagabonar dengan dialek Batak dan terus diulang sepanjang film itu meninggalkan pesan yang menarik.

Dalam suasana genting dan mendesak, seperti situasi perang dalam film tersebut, ‘berpikir’ –atau lebih lunak, berpikir yang terlalu lama— adalah tindakan yang boros, tidak efisien, dan juga tidak efektif. Berpikir jadi suatu yang negatif, yang mengguratkan kesan lamban dan juga dalam banyak hal, pengecut. Yang diperlukan dengan segera adalah tindakan yang cepat dan praktis, yang langsung mengarah pada penyelesaian masalah. Soal hasil dan akibat nanti urusan belakang.

Tapi, adakah tindakan yang betul-betul tidak dilandasi pemikiran dan perenungan lebih dulu, seminim apapun kadarnya?

Konon yang membedakan manusia dan binatang adalah adanya otak yang menjadi instrumen untuk berpikir. Berpikir dengan demikian merupakan fitrah insani. Hilang pemikiran berarti hilang unsur kemanusiaan. Berpikir menjadi landasan eksistensial manusia. Itulah yang dikemukakan oleh filsuf Rene Descartes, “Aku berpikir, maka aku ada,” yang kemudian menjadi landasan filsafat rasionalisme. Lalu manusia didorong untuk berpikir sekeras-keras dan sedalam-dalamnya. Bukan semata untuk mengatasi problem dan tantangan hidup, tapi itulah kenyataan hidup itu sendiri.

Manusia terus berpikir, baik untuk tujuan yang bersifat praktis-pragmatis maupun yang etis-filosofis. Pada yang pertama, berpikir memang menjadi suatu mahal dan mewah sekali, sementara pada yang kedua, berpikir menjadi suatu yang langka dan juga bisa berbahaya. Tapi apapun juga manusia harus terus berpikir dan mungkin tak pernah bebas dari ‘berpikir.’ Tidak berpikir, bebas dari kungkungan pemahaman intelektualitas, mungkin hanya ada dalam gagasan mistik, yang bertujuan untuk menyatu dengan yang Ilahi. Agus S. Gunadi pernah menceritakan dengan verbal soal ini:

Suatu hari seorang bhiksu sedang bermeditasi di taman vihara. Temannya, seorang bhiksu yang lain, lewat. Ia tergoda untuk bertanya, “Mengapa engkau duduk di sini dengan diam. Bagai batu?”

Bhiksu yang ditanya itu tetap diam, tak bergeming.

“Apa yang sedang engkau pikirkan?” tanya teman itu lagi sambil memegang pundaknya.

“Saya sedang tidak berpikir.”

Heran dengan jawaban itu, ia bertanya lagi, “bagaimana kau melakukan itu?”

“Dengan tidak berpikir!”

Tidak berpikir, atau setidaknya berendah hati dengan kemampuan berpikir, barangkali suatu resistensi terhadap rasionalisme yang menjadi basis modernisme. Tapi itu tak mudah. “Sudah kubilang, berhentilah berpikir,” yang diulang-ulang dalam film Nagabonar itu bukan mengesankan lucu saja tapi juga bahwa berhenti berpikir itu sangatlah sulit, dan dalam banyak juga, mustahil.

From → Tatap

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: