Skip to content

Jurnalisme Sastrawi dan Etnografi Awam

July 10, 2008

Setelah membolak-balik dan menelusuri apa yang disebut sebagai ‘jurnalisme sastrawi,’ saya berpendapat setidaknya ada tiga hal yang penting di dalamnya.

Pertama, sebagaimana namanya menunjukkan, jurnalisme sastrawi pertama-tama adalah suatu tulisan yang bersifat jurnalistik, yang disuguhkan kepada pembaca. Sifat jurnalistiknya tercermin dari penggalian subyek berita yang sungguh-sungguh menerapkan asas-asas jurnalistik: berdasar peristiwa aktual, wawancara atau datang langsung ke sumber berita, jujur, mencakup sumber dua arah, dan lainnya.

Kedua, ia tak sekadar suatu laporan yang singkat dan dangkal. Ia berdasar pada suatu investigasi yang mendalam, yang meliputi pengamatan dan wawancara yang luas. Pada tingkat tertentu, boleh dikata, investigasi ini sudah setara –untuk tidak mengatakannya kadang bahkan melebihi— suatu penelitian sosial. Tak jarang ia diperlengkapi pula dengan studi pustaka. Membacanya kita bukan semata beroleh ‘keping-keping informasi,’ tapi juga suatu ‘pengetahuan.’ Kita tak sekadar mendapat ‘kesan,’ tapi sungguh seperti menemu ‘ilmu.’

Ketiga, ia –sebagaimana adjektif yang disandangnya— dihadirkan sebagai ‘laporan panjang’ atau sejenis features yang ditulis dengan pola seperti orang bercerita. Dan memang pada dasarnya ia hendak bercerita, bukan sekadar berkabar. Lancar, mengalir, dan renyah. Tidak kaku dan berat sebagaimana bahasa ilmiah, namun juga tidak dangkal sebagaimana tulisan straight news biasa. Diksinya dipilih dengan cermat. Sebisa mungkin tidak boleh ada pengulangan kata. Kalimat-kalimat yang panjang dan bertingkat, yang membuat rumit dan berbelit, sedemikian rupa dihindari. Pembaca lalu seperti disuguhkan sebuah ‘tulisan bergaya sastra,’ yang tak membosankan dan ingin terus mencicipinya.

Ketiga hal di atas setara pentingnya. Tak ada yang lebih utama dan tak ada yang lebih di belakang. Ketiganya merupakan pokok yang menyatu dan berada dalam satu tubuh yang disebut jurnalisme sastrawi itu. Kemampuan jurnalistik, penelitian sosial, dan penulisan bergaya sastra sekaligus tampaknya harus dimiliki oleh seorang pelaku jurnalisme sastrawi. Sungguh betapa beratnya! Betapa idealnya juga!

Biar tidak buru-buru berkerut kening dan mengundurkan diri, harap diingat jurnalisme sastrawi tetaplah jurnalisme. Sastrawi dan ‘me’ di situ hanya menunjukkan bahwa ia meminjam dan mengadopsi gaya penulisan sastra danpola penelitian sosial. Dua yang terakhir ini ‘dicuri’ sebagai suatu gaya, dan diterapkan dengan segala penyesuaian dan kebutuhan sebagai suatu jurnalisme. Saya ingin membicarakan yang kedua, yakni ilmu sosial dan kaitannya dengan jurnalisme sastrawi.

Etnografi Awam

Ketika menelaah kemungkinan menghadirkan etnografi sebagai kritik budaya, beberapa tahun lalu, Heddy Shri Ahimsa-Putra dari UGM, Yogyakarta, memperkenalkan apa yang disebutnya sebagai ‘etnografi awam.’ Etnografi adalah metode penelitian sosial yang dikenal di kalangan antropologi. Karya penelitian yang mereka tulis disebut sebagai karya etnografi. Berbeda dengan pengertian itu, etnografi awam adalah etnografi yang umumnya bukan ditulis oleh para ahli antropologi, tetapi oleh para jurnalis. Kebanyakan tulisan ini dimuat di surat-surat kabar dan majalah-majalah populer. Heddy menunjuk beberapa laporan feutures mengenai kehidupan suku-suku yang terpencil seperti yang termuat dalam Kompas, Suara Karya, atau majalah Intisari, sebagai contoh dari etnografi awam ini.

Tulisan-tulisan itu ia sebut ‘etnografi,’ karena memiliki ciri yang tidak jauh berbeda dengan berbagai etnografi para ahli antropologi. Tetapi pada saat yang sama, ia sandangkan kata ‘awam’ karena seturutnya tidak menerapkan konsep-konsep antropologis atau pun analitis yang biasa ditemui dalam etnografi antropologis. Selain itu, deskripsi etnografi awam ini dipandangnya sangat datar, tidak mendalam.

Pemikiran ini menarik. Apa yang dikemukakan Heddy menunjukkan bahwa dalam tingkatan-tingkatan tertentu kalangan jurnalis telah mengadopsi (mungkin tanpa disadari) suatu pola penelitian sosial (dalam hal ini etnografi) dalam kerja jurnalistiknya. Lepas bahwa pengadopsian itu masih bersifat artifisial.

Etnografi kadang dimaknai sebagai metode observasi-partisipasi. Dalam metode ini, peneliti biasanya terlibat, terang-terangan maupun tersamar, dalam kehidupan sehari-hari subjek yang diteliti: menyaksikan apa yang terjadi, mendengar apa yang dikatakan, menanya dan mewawancara, dan mengumpulkan data-data yang diperlukan lainnya. Setelah keterlibatan dalam periode yang agak panjang itu, peneliti menuliskan laporan penelitiannya dalam bentuk suatu deskripsi, atau bentuk penyempaian cerita. Karena itu, tak aneh jika ada yang mendefinisikan etnografi sebagai ‘suatu deskripsi mengenai suku, komunitas, kelompok, orang…’ atau sebagai suatu ‘cerita mengenai…’ (telling-story). Sifat ‘literer’ dari etnografi membuat ‘fakta’nya sering dipertanyakan, dan ‘fiksi’nya demikian terasa menonjol.

Penggalian dan pengumpulan data, serta kemudian pola penyusunan dan penulisan seluruh data itu membuat etnografi berkesesuaian dengan kebutuhan jurnalisme sastrawi. Dan jurnalisme sastrawi, saya pikir, kian memperoleh ‘daging’-nya dengan pengadopsian metode etnografi. Apalagi jika kita menengok ‘pembaruan’ yang luas dalam bidang etnografi beberapa dekade terakhir ini.

Satu misal mengenai subject of matter-nya. Dulu etnografi dianggap ilmu yang khusus mempelajari suku-suku terpencil (seperti juga yang ditunjukkan Heddy di atas), tapi sekarang mencakup topik sosial budaya yang lebih luas. Ia tidak lagi mempelajari desa tapi juga kota. Ia tak membatasi semata komunitas tapi juga pribadi. Tak semata suku/etnis tapi juga kelompok-kelompok sosial. Tak melulu lapangan, tapi juga pustaka.

Kita misalnya selama ini jarang mendapat informasi yang mendalam bagaimana suatu proses penciptaan karya teater karena yang disuguhkan pada kita selalu laporan ‘produk akhirnya,’ yakni ketika karya itu dipentaskan. Ikhtiar berdarah-darah, perdebatan, intrik, problema kekurangan dana, pemilihan aktor dan pergantiannya, dan lain-lain, tak pernah kita peroleh. Kita juga jarang menemukan informasi yang mendalam bagaimana kehidupan seorang seniman di hari-hari tuanya. Dilema dan tawar-menawar sosial sebuah sekte keagamaan, kelompok anak muda punk, atau rombongan seni keliling, hilang begitu saja dari pandangan kita, kecuali laporan-laporan yang lebih banyak bersifat stereotifikal mengenai mereka. Metode etnografi mungkin bisa membantu di tingkat ini.

Dalam bidang penulisan, etnografi telah menerapkan penggunaan orang pertama tunggal ‘saya’ atau ‘aku’ dalam penulisan laporan (ilmiah)nya. Kita tahu, selama ini metode penulisan ilmiah mengharamkan penggunaan penggunaan orang pertama tunggal, karena dianggap arogan. Tapi etnografi berpendapat sebaliknya. Penggunaan orang pertama tunggal itu bagian dari pertanggungjawaban sekaligus pengakuan bahwa tulisan itu hanya pendapat dia pribadi dan karena itu menjadi tanggung jawab pribadinya pula. Ia mengkritik penggunaan kata pasif yang menghilang subjek di dalam penelitian sekaligus pada saat yang sama menjadikan yang diteliti sebagai objek. Ia juga tak terima dengan kata ‘kami’ karena itu seperti manipulasi seakan tulisan itu pendapat banyak orang. Penggunaan orang pertama tunggal dalam tulisan populer (termasuk jurnalisme sastrawi), bagi etnografi, jadi jauh dianggap lebih ‘ilmiah’ dan ‘jujur.’

Sementara dalam bidang epistimologis, etnografi telah mencairkan apa yang disebut sebagai ‘objektivitas.’ Karena tulisan adalah sebuah ‘konstruksi,’ maka ia mengandung fakta tapi sekaligus dengan itu juga fiksi. Bagaimana mungkin peristiwa menyedihkan seperti pembunuhan atau kemiskinan bisa ditulis dengan indah dan literer, kalau tidak berperan di dalamnya ‘fiksi’? Objektivitas karena itu adalah konstruksi. Objektivitas bisa tidak ada, tapi kalau pun ada ia tertera dalam seberapa jujur dan rendah hati tulisan itu. Pada kejujuran (fairness) itulah letak objektivitas.

Dengan beberapa strategi, metode etnografi sangat membantu jurnalisme sastrawi. Inilah yang ingin saya tawarkan.

Tulisan untuk ‘Workshop Esai, Kritik Sastra, dan Jurnalisme Sastra,’ Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah, 28 Juni 2008.

———

Clifford, James and George E. Marcus, Writing Culture: The Poetics and Politics of Etnography, Univesity og California Press, 1986.

Hammersley, Martin dan Paul Atkinson, Ethnography: Principles in Practice, Tavistock Publications, London and New York, 1983.

Santana Kurnia, Septiawan, Jurnalisme Sastra, Gramedia, Jakarta, 2002

Shri, Heddy Ahimsa-Putera, “Etnografi sebagai Kritik Budaya: Mungkinkah di Indonesia?” Jerat Budaya, No. 1, 1997.

From → Kertas Kerja

6 Comments
  1. dianhapsari permalink

    menarik…

  2. slm mas hairus. ternyata anda ngeblog jg. he. saya haris, panitia workshop d TBJT juni lalu…ingat tidak? yg menjemput anda di stasiun. he2…

  3. ya ingat donk…trims ya. aq jg liat blogmu…bagus

  4. Tulisan Prof. Ahimsa Putra seolah-olah memberi pembelajaran penting kepada kita yang berkecimpung di dunia kewartawanan. Berita-berita yang ditulis wartawan sering mendapat komplain dari para pejabat,– dengan alasan tidak berimbang atau tidak objektif. Wartawan sepertinya harus berterima kasih kepada etnografi (antropologi). Sebab, ia telah mencairkan apa yg disebut dgn “objektivitas”. Karena tulisan adalah sebuah ‘konstruksi’, maka ia mengandung fakta tapi sekaligus dengan itu juga fiksi. objektitivitas bisa saja tidak ada, tetapi kalaupun ada ia tertera dalam seberapa jujur wartawan yg menulis suatu berita..? GBU Prof.

  5. terima kasih bung mahyudin damis! komentarnya yang panjang memperkuat apa yang ingin saya katakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: