Skip to content

Agelaste

June 5, 2008

Pernahkah anda punya seorang teman, kenalan, sanak, tetangga, atau siapapun juga, yang tak senang tertawa? Orang itu, dalam situasi apapun, tak sudi tertawa. Ia memilih menghindar dari tawa dan menutup, bukan saja mulutnya, tapi juga keinginanannya untuk tertawa. Jika suatu kali ia terjebak dalam hiruk pikuk tawa, di mana di depannya berlangsung suatu lintasan peristiwa yang semestinya bisa menghadirkan gelak tawa, ia tetap tak akan tertawa. Ia bahkan mungkin merasa bersalah berada –meski secara kebetulan— dalam arena yang menimbulkan tawa itu. Lalu, ia akan mencipta alibi dan mencari permakluman maaf untuk kesalahan yang baginya sangat besar itu. Pada tingkatan tertentu, ia bukan lagi tak ingin tertawa, tapi memang sudah tak bisa lagi tertawa.

 

 

Bukan. Yang saya maksud bukan karena orang itu sedang terkena sakit gigi. Ini bisa saja, tapi itu pasti berlangsung sangat sementara. Sesembuh dari sakit giginya, ia bisa jadi akan tertawa penuh gelak menengok lagi ironi dirinya ketika sakit gigi: sebuah serangan kecil sebenarnya tapi ia rasakan saat itu seperti badai yang maha besarnya. Sekali lagi, bukan.

 

 

Anda akan jawab tegas: tidak pernah. Dan orang seperti itu mungkin tidak akan pernah ada, lanjut anda. Ya. Lukisan orang yang tak bisa tertawa seperti di atas mungkin tak pernah seutuhnya ada. Tapi semburat karakter dan ciri orang seperti itu, bagi novelis Ceko Milan Kundera, akan selalu ada. Itulah agelaste: sebuah kata Yunani yang artinya seseorang yang tak bisa tertawa, yang tak memilki sense of humor.

 

 

Milan Kundera mengambil neologisme itu dari novelis Prancis, Francois Rabelais. Rabelais, menurut Kundera, membenci para agelaste. Ia takut pada mereka. Ia mengeluh para agelaste telah memperlakukannya tidak manusiawi sehingga ia hampir saja berhenti menulis –dan sudah barang tentu berpikir— untuk selamanya.

 

 

Untuk memahami agelaste-agelaste ini mungkin para aparat keamanan negara bisa jadi umpama. Pernahkah anda melihat tentara atau polisi yang tertawa ketika mereka sedang bertugas dengan uniformnya yang gagah? Saya tak pernah, sungguh. Entah kalau anda. Mengapa? Mungkin karena tawa diyakini menghilangkan wibawa. Dan terutama karena tawa membuat apa yang seharusnya mereka awasi tak sepenuhnya jelas lagi untuk mereka awasi, apa yang  seharusnya mereka amankan tak sepenuhnya lagi tampak untuk mereka amankan, dan akhirnya apa yang seharusnya mereka jaga tak sepenuhnya penting lagi untuk dijaga. Semua telah menjadi kabur dan cair, dan itu akibat tawa.

 

 

Sebuah pepatah Yahudi mengatakan: Manusia berpikir, Tuhan tertawa. Manusia menelusur dan melacak sampai ke dasar yang dasar dan ujung yang ujung untuk merumuskan kebenaran, tapi persis ketika mereka merasa ‘kebenaran’ yang mereka ikhtiarkan itu ketemu pada saat itu jugalah kebenaran itu menciut dan mengerucut. Kebenaran ternyata demikian cair, ia bisa meleleh ke segala arah. Kebenaran juga banyak, ia terpancar di banyak tempat. Upaya manusia mencari kebenaran itu lalu seperti sebuah lelucon. Meski begitu kebenaran tetap harus dicari, tapi tidak untuk dimonopoli, dipeluk hidup-mati. Ia hanya perlu diyakini dan dijalankan dengan sikap rendah hati.    

 

 

Tapi para agelaste tidak setuju dengan pandangan demikian. Bagi mereka, kebenaran itu jelas dan tegas. Kebenaran seperti benda konkrit yang bisa diraba dan dipegangi dengan tangan. Tidak ada posisi abu-abu: kemungkinan sama benar dan sama salahnya. Ia juga suatu yang satu dan padu. Tak ada tawar-menawar terhadapnya. Ia sesuatu yang serius, tidak main-main, dan tak bisa ditertawakan. Keyakinan terhadap kebenaran seperti ini pada akhirnya mendorong dan mewajibkan mereka untuk menegakkan kebenaran itu sepenuh hati dan jiwa. Dengan cara apapun juga.

    

 

Para agelaste tentu bukan milik zaman Rabelais saja. Ia ada dan lahir di setiap zaman dan tempat.  Para agelaste bersarang di kepala atau di kelompok mereka yang punya tendensi untuk memonopoli suatu kebenaran. Mereka yang merasa kebenaran milik mereka, dari mereka, dan untuk mereka. Bisa jadi mereka ada di sekitar anda, mengawasi gerak-gerik anda, bahkan juga pikiran anda. Tentu, mereka akan segera meluruskan jika tingkah dan pikiran anda itu dianggap bengkok

 

 

Kini, masihkah anda yakin bahwa anda tak pernah punya teman, kenalan, sanak, tetangga, atau siapapun juga di sekitar anda, yang tak suka, bahkan tak bisa, tertawa?

 

From → Tatap

One Comment
  1. heruyaheru permalink

    tulisan yang bagus mas…
    salam. btw, ini blog saya: heruyaheru.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: