Skip to content

G i L a

January 18, 2008

orang-gila.jpg

Akhir-akhir ini, dalam perjalanan ke berbagai kota, saya sering melihat orang ‘gila’ berkeliaran di pinggir-pinggir jalan, jembatan, taman kota, terminal, atau pembuangan sampah. Pakaian mereka compang camping dan kumal, kulit dekil dan penuh daki, rambut gimbal penuh debu, terkekeh-kekeh tanpa sebab yang jelas, mengumpat-umpat tak tahu arah, atau melemparkan tatapan kosong dan jauh entah ke mana, termangu dan melamun, atau asyik mengotak-atik sesuatu. Kadang ada yang tak berpakaian sama sekali. Mereka seperti telah menjadi pemandangan buram dari sebuah kota.  

Saya tidak tahu apakah itu sebenarnya gejala lama yang kebetulan saja baru saya perhatikan. Atau suatu gejala yang benar-benar baru, yang mengiringi perkembangan pesat kota-kota yang makin gemar dan terburu-buru menggabungkan dirinya pada kapitalisme dunia. Entahlah! Nyatanya di koran-koran terlalu sering saya membaca bagaimana katanya kuantitas orang yang disebut gila itu terus meningkat, tentang rumah sakit jiwa yang tak lagi muat untuk menampung. Atau tentang orang ‘gila’ yang mengamuk, mengobrak-abrik dan menghancurkan rumah, warung, atau mengganggu orang-orang yang hendak dan sedang lewat.
  

Sejajar dengan dianosa para psikolog, sastrawan Indonesia kerap menggambarkan kehadiran orang gila sebagai gejala kejiwaan yang tergoncang karena tekanan dan penderitaan yang tinggi, yang tak mampu lagi dibendung. Gambaran ini terutama dipetik dari latar masa transisi politik: ketika ekonomi sulit, tatanan politik kacau, hukum lemah, dan keamanan terus terancam, orang gila tiba-tiba seperti muncul di mana-mana. Novel Merahnya Merah karya Iwan Simatupang, yang menggambarkan situasi perubahan politik tahun 1965-66, memunculkan seorang ‘gila’ yang demikian absurd. Novel itu dibuka dengan prasa yang sangat provokatif:   

Sebelum revolusi, dia calon rahib. Selama revolusi, dia komandan kompi. Di akhir revolusi, dia algojo pemancung kepala pengkhianat-pengkhianat tertangkap. Sesudah revolusi, dia masuk rumah sakit jiwa.’  

‘Dia,’ tokoh dalam novel itu, seperti jelmaan saja dari jiwa masyarakatnya yang mengalami krisis dan goncang ketika menjalani fase-fase perubahan politik. Tapi, ‘dia’ juga tak ingin larut dan tenggelam dalam arus perubahan yang demikian dahsyat, yang membuat setiap orang jadi ‘gila,’ karena itu ia lalu memutuskan menjadi gila dan menolak ‘waras.’ Ia lalu menggelandang, menelusuri jalan-jalan dan gang-gang kota, dan ‘merdeka’ di lingkungan para gelandangan di bawah jembatan dekat pembuangan sampah.  

Sapardi Djoko Damono, yang piawai menulis puisi, telah menulis cerpen ‘Membunuh Orang Gila,’ yang boleh disebut semacam catatan kaki terhadap efek reformasi yang bergulir hampir sepuluh tahun lalu. Alkisah, secara tak sengaja mobil tokoh ‘aku’ ditabrak seorang gila, yang membuat orang itu tewas. Peristiwa ini demikian menusuk hati ‘aku.’ Kini ia merasa tak lagi bisa memandangi dan melemparkan senyum pada orang gila yang kerap menyusuri jalan antara rumah dan kantornya itu.   

Selama ini, orang gila itu telah mengingatkannya pada kemunculan banyak orang gila di kampungnya setelah zaman Jepang. Itulah korban revolusi, kata ibunya. Yang mati jadi pahlawan, yang hidup jadi ‘gila.’ Kini ia bertanya-tanya, apakah orang gila yang menabrak mobilnya ini adalah juga korban reformasi? Yang jelas, setelah reformasi ia saksikan banyak sekali orang seperti itu di pinggir-pinggir jalan. Ia tak bisa menjawab. Yang pasti, ia demikian menyesal dan merasa kehilangan telah tanpa sengaja membuat orang gila itu mati. Pikirnya, barangkali kinilah saatnya ia menggantikan orang gila yang memilih mati dan jadi pahlawan itu. Ia jadi tersenyum-senyum sendiri setelah memikirkan kemungkinan itu.  

Gila, barangkali bukan semata gejala kejiwaan, tapi juga sosial. Revolusi atau reformasi yang tak pernah jelas terminal akhirnya itu, membuat orang kehilangan arah dan peta untuk menyikapi situasi. Yang lama goyah, yang baru masih demikian payah. Yang lama goncang, yang baru belum juga terpegang. Tahun 1965, kita membayar ribuan nyawa, sementara tahun 1998, ada pemerkosaan dan pembakaran. Ini belum dikalkulasi yang kecil-kecil dalam hidup sehari-hari: jegal-menjegal, tipu-menipu, dan bantai-bantai. Setelah reformasi ini, waras dan ‘gila’ bisa saja tertukar. Siapakah sebenarnya yang ‘gila,’ siapa yang ‘waras’? Mereka yang hidup ‘bebas’ di pinggir-pinggir jalan itu. Atau jangan-jangan ‘kita’ sebenarnya yang ‘gila.’             

From → Tatap

4 Comments
  1. Ka Salim, bisa sudah ulun maubah ukuran font di blog ulun walaupun tetap tidak sehebat tampilan dan isi ampun pian. Tapi kada mangira jua pang, orang Udik kaya ulun nih bisa maulah blog, mun bakayuh jukung wani haja pang balajuan.

  2. aku kada handak balalajuan, mun basaruan hakun ai…

  3. rully SMAnsakare permalink

    ihhhhhhhhhhhhhh elu yang gila

  4. yunant permalink

    gimana to?????????????
    gua kaga’ngeh bro??????????????????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: