Skip to content

Pengalaman Membaca Esai

December 6, 2007

rak-buku-dan-meja-makan.jpg

Di usia sekolah tingkat pertama dan atas, saya biasa membaca majalah-majalah milik ayah seperti Tempo, Panjimas, dan sesekali koran Kompas yang didapatnya secara temporer. Kadang saya juga beroleh bacaan dari majalah Kartini dan Amanah milik kakak tertua saya. Dan rupanya dari kebiasaan inilah yang memupuk kecintaan saya untuk membaca. Barulah agak belakangan, setelah minat membaca itu mekar bertumbuh, saya akrab dengan sejumlah buku: novel, biografi, sejarah, dan lainnya yang dihamparkan oleh perpustakaan sekolah.   

Saya mencoba mengingat-ingat, mengapa saya bisa menikmati sejumlah tulisan di media yang sebenarnya ditujukan untuk orang tua itu. Sebagian besar, kalau tidak semua, isi dari bacaan itu tidaklah saya pahami. Tetapi sekali lagi saya tetap membaca dan menikmatinya. Teringatlah nama-nama seperti Mahbub Junaidi (alm.), M. A. W Brouwer (alm.), Th. Sumartana (alm.), Y. B. Mangunwijaya (alm.), Umar Kayam (alm.), Abdurrahman Wahid, Arief Budiman, Putu Wijaya, yang kala itu secara bergantian muncul di Kompas dan Tempo, dan last but not least, Goenawan Mohamad dengan Catatan Pinggir-nya yang hadir setiap minggu. Sementara dari majalah Amanah, saya selalu tak lupa membaca renungan hikmah dari Arman Arroisi (alm.) dan dari Kartini, tulisan-tulisan Hadeli Hasibuan dan La Rose. Belakangan, nama-nama penulis yang memikat bertambah dengan kehadiran Emha Ainun Nadjib, Mohamad Sobary, dan Seno Gumira Ajidarma, untuk menyebut beberapa di antara mereka yang menonjol.  

Sekali lagi, mengapa saya bisa jatuh cinta pada tulisan-tulisan itu? Jawab sederhana, tulisan itu kebanyakan dikemukakan secara singkat dan padat. Umumnya, ia hadir hanya sehalaman majalah saja, kadang plus dengan ilustrasi dan foto si penulis. Sungguh pendek. Bisa dibaca hanya dalam selintas saja. Tetapi pendek itu mungkin bukan alasan yang utama. Yang membuat tulisan-tulisan itu menarik adalah penuturannya yang begitu enak, mengalir, dan lancar. Renyah dan enak untuk dicicipi, meski kadang perkara yang diajukan amatlah pelik.  

Topik-topik yang diangkat para penulis ini demikian luas dan beragam. Kadang masalah yang sepele saja, tapi tak jarang juga soal yang begitu serius. Tapi apapun juga topik yang diajukan, tulisan itu selalu saja menarik untuk dibaca. Di dalamnya kadang terselip humor yang segar dan cerdas, yang mendorong saya untuk tersenyum. Kadang pula di dalamnya ada pernyataan yang dikemukakan setengah bercanda setengah serius, yang meninggalkan rasa penasaran.  

Saya senang misalnya dengan kolom-kolom Brouwer.  Salah satu yang sering saya ingat adalah berjudul “Bandung” yang pernah dimuat di Kompas. Dalam esai ini ada kalimat, “Sering dikatakan Bandung terjadi waktu Tuhan senyum.” Ini pernyataan provokatif yang ingin menunjukkan betapa indahnya alam ibu kota Jawa bagian barat itu. Wajar kalau sering dikutip teman-teman dari atau yang tinggal  di Bandung. Belakangan ketika saya pertama kali melancong ke daerah Jawa Barat saya selalu merasa ingin melihat langsung seberapa indah sebenarnya Jawa Barat yang diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum itu. 

Kadang lagi ada tulisan yang kata dan kalimatnya seperti dipilih dengan jeli dan disusun dengan indah, yang dengan halus mendorong saya untuk berpikir dan merenungkan perkara yang diajukan tulisan itu. Saya pernah begitu tergetar menyimak tulisan Goenawan Mohamad yang berjudul “the death of sukardal,” yang saya baca sehabis magrib di kamar rumah saya yang lampunya remang. Tulisan itu dimulai dengan kalimat singkat yang menyentak, “Sukardal menggantung diri pada umurnya yang ke-53.” Lalu, sebuah deskripsi mengapa ia menggantung dan sederetan pertanyaan reflektif, mengapa di negeri merdeka Indonesia ini, ada orang yang menggantung diri karena becaknya disita oleh aparat tibum. Sementara judulnya yang dalam bahasa Inggris itu, mirip judul sebuah film, seolah kematian seorang yang hebat dan agung, sungguh suatu paradoks. Yang dikemukakan GM sebenarnya bukanlah sebuah news apalagi suatu hasil investigasi.Tetapi entah mengapa, tulisan itu demikian menyentuh perasaan dan mampu menggedor rasa kemanusiaan.  

Demikianlah untuk menyebut satu dua tulisan indah dan sekaligus mengesankan itu. Demikian memikat, kadang terasa seperti membaca karya sastra saja. Mungkin bukan kebetulan kalau sebagian besar dari tulisan-tulisan itu belakangan telah dihimpun dalam satu buku dan hingga sekarang pun sebagian besar tulisannya tetap enak dibaca, dan karena itu pula masih layak jual.  

Belakangan, saya baru tahu kalau jenis tulisan, yang bukan puisi, bukan pula cerpen itu, dalam khazanah ilmu tulis-menulis, dalam jagat jurnalistik disebut sebagai esai. Lalu, apakah sesungguhnya esai itu? 

Tentang Esai

Buku panduan menulis esai mendefinisikan esai sebagai “…secara mudahnya, boleh dipandang sebagai suatu usaha untuk melahirkan pandangan mengenai suatu topik dengan bentuk yang pendek serta dengan cara penuturan yang sebaik-baiknya. Yang terpenting dalam esai bukan apa yang dibicarakan, melainkan bagaimana membicarakannya.” 

Sebagai perbandingan, saya perlu kemukakan pula pengertian yang diajukan Arief Budiman yang mengutip Ensiklopedi Britanika. Baginya, esai adalah “karangan yang sedang panjangnya, biasanya dalam bentuk prosa, yang mempersoalkan suatu persoalan secara mudah dan sepintas lalu, tepatnya mempersoalkan suatu persoalan sejauh persoalan itu merangsang hati penulis.” 

Dua pengertian ini saya kira bisa saling melengkapi dan memberi. Esai pada dasarnya suatu bentuk tulisan yang berisi suatu opini, suatu pandangan, suatu pendapat, yang bersifat pribadi. Karena itu unsur ‘subjektivitas,’ dalam arti bagaimana suatu masalah dipandang, dilihat, dipikirkan benar-benar dari sudut yang pribadi, sangatlah menonjol dalam sebuah esai. Di dalam sebuah terbitan, seperti majalah atau koran, esai ini umumnya muncul di rubrik opini, dan ditulis oleh penulis di luar anggota redaksi, baik yang mengirimkan tulisan maupun yang resmi diminta oleh redaksi. Masalah yang diulas pun bisa apa saja.  

Namun, tidak semua tulisan yang muncul di rubrik opini itu bisa memperoleh status ‘esai’ karena unsur keindahan –dalam arti bagaimana cara dan gaya dalam mempersoalkan suatu masalah—  dari tulisan itu harus menjadi aspek penting. Bisa saja tulisan itu semata artikel ilmiah yang ditulis dengan kaku dan kering, penuh dengan istilah-istilah teknis yang rumit, sesak dengan kutipan, kalimat yang panjang-panjang, dan seterusnya. “Cara penuturan yang sebaik-baiknya” seperti digariskan dalam pengertian esai di atas, seberapapun relatifnya pengertian “cara penuturan sebaik-baiknya” itu adalah karakter dasar sebuah esai.  

Singkatnya, jika anda membaca sebuah tulisan, yang bukan puisi bukan pula cerita pendek, namun anda begitu menikmati cara dan gaya penuturan dari tulisan itu, bisa untuk sementara dikatakan tulisan itu sebagai suatu esai. Esai karena itu, menurut saya, bisa juga dipahami sebagai suatu gaya di dalam menulis. Dalam hal ini, bisa dikatakan sebagai suatu tulisan yang mengambil teknik penulisan karya sastra: naratif, penggunaan diksi yang kaya dan terpilih, kadang agak menabrak kaidah tata bahasa yang telah dibakukan, judul yang memikat, penggunaan orang pertama tunggal atau kadang kadang orang kedua tunggal sehingga seolah-seolah seperti ada lawan bicara, penerapan dialog, pemakaian anekdot, metafora, ilustrasi, dan lainnya.  

Sebagai gaya, ia bisa saja muncul dalam bentuk atau dalam rubrik editorial, laporan, resensi (buku, album musik, film, pertunjukan seni), artikel, sketsa tokoh, dll. Mungkin karena itulah sebuah buku pengantar tentang Jurnalisme Sastrawi memasukkan esai sebagai bagian dari bentuk feature. Yayasan Pantau, yang berawal dari Majalah Pantau, yang mengembangkan dan mengajarkan pelatihan jurnalisme sastrawi, menurut saya, pada dasarnya mengajarkan menulis berita dengan gaya esai. Hanya bedanya dalam jurnalisme sastrawi ini arti penting fakta dan prosedur pengungkapan fakta (wawancara, investigasi, pengecekan silang, dll.) yang dalam tingkat tertentu sudah seperti sebuah penelitian sosial, sangat penting dan diutamakan.   

Sedemikian luasnya kemungkinan pengadopsian teknik penulisan sastra dalam penulisan esai, maka ia bisa sampai membentuk gaya penulisan yang sangat personal dan khas sekali. Dan rupanya semacam itulah kekuatan sebuah esai, yakni bukan pertama-tama pada isinya, tapi pada bagaimana cara mengemukakannya. Tulisan-tulisan Umar Kayam (alm.) yang muncul di setiap Rabu, di halaman Kedaulatan Rakyat beberapa waktu lalu, terkenal dengan gaya dialognya yang campur aduk antara bahasa Jawa dan Indonesia, karakter tokoh-tokohnya, filosofi hidup wong cilik, dan sinisme sosialnya. Sementara gaya tulisan Ahmad Tohari, Abdurrahman Wahid, Mohamad Sobary kuat dalam narasi, pemilihan topik yang sepele namun diakhiri dengan suatu konklusi yang mengejutkan. Sindhunata amat populer dengan esai-esainya yang mengulas dunia sepakbola yang dipadu dengan pengetahuan filsafatnya. Sampai-sampai, konon, mereka yang tak senang bola pun gemar membacanya. 

Tulisan-tulisan Goenawan Mohammad sangat terkenal dengan unsur reflektifnya, yang disusun dari serentetan kalimat pendek dengan diksi yang terpilih, yang berisi pertanyaan-pertanyaan perenungan yang dalam, plus kutipan-kutipannya yang indah terhadap buku dan atau wacana sosial, baik lama maupun mutakhir, yang berasal dari beragam tradisi. Berikut saya kutipkan paragraf awal dan akhir dari salah satu tulisannya yang berjudul “O, Anak”: 

Anak adalah sumber kecemasan berabad-abad. Atau barangkali lebih tepat: anak adalah tempat orang tua menggantungkan kecemasan-kecemasannya sendiri.  

Sungguh, ini adalah suatu pernyataan yang indah, sekaligus menggoda. Bagaimana bisa anak menjadi sumber kecemasan yang abadi? Untuk memperjelas pernyataannya ini, selanjutnya GM bercerita tentang satu episode dari kerajaan Mataram ketika Amangkurat I yang jatuh sakit dalam pelarian politiknya meminta kepada anaknya kelapa muda. Ketika ia lihat kelapa muda yang disodorkan sudah berlubang, ia segera meminumnya dan mengucapkan terima kasih kepada Pangeran Adipati, putera mahkota yang menyuguhkannya, yang menurut sangkanya telah meracuninya. Melengkapi cerita ini, GM kemudian membentangkan hubungan seorang mulia dan suci, Mahatma Gandi dengan anak-anaknya.  

Cara GM membentangkan problema sangatlah khas. Ia tak terlalu tegas mengambil pandangan antara ya dan tidak, mendukung dan menolak, maju dan mundur, dst. Yang dikemukakannya adalah suatu pertanyaan-pertanyaan dan pilihan-pilihan. Bukan suatu posisi yang jelas hitam dan putihnya. Kita hanya beroleh wawasan bahwa orang tua pada umumnya –seperti tercermin dalam hikayat baik Amangkurat I yang bengis dan Gandi yang mulia itu– sama menginginkan anak-anak mereka seperti angan dan cita di kepala mereka, orang tuanya. Esai ini kemudian diakhiri dengan suatu deskripsi yang memukau: 

“O, Anak,” kata sebuah judul buku Imam Ghazali, yang seakan terdengar seperti “O, kecemasanku!” Mungkin dunia akan lebih baik jika seorang raja dan seorang suci tak melahirkan keturunan. Raja punya kekuasaan yang teramat besar, orang suci punya kesucian yang amat tinggi. Kecemasan mereka, cinta mereka, konflik mereka, dan investasi mereka dalam urusan anak-anak mereka, bisa membuat banyak tindakan di luar proporsi. 

Akhir tulisan ini menyuguhkan suatu renungan. Betapa kecintaan pada anak yang berlebihan, bisa membahayakan. Terlebih jika si bapak seorang besar, pemimpin politik atau orang suci. Renungan ini tidak akan mudah disuguhkan jika GM tak kenal riwayat Amangkurat I dan Mahatma Gandi, serta buku kecil Al-Ghazali itu. Dan yang lebih penting juga bagaimana bahan bacaan itu direnungkan dan kemudian diolah serta kemudian sajikan kembali ke dalam tubuh esai ini. 

Jika kita perhatikan, kata-kata dan kalimat yang dibangun GM, sangat serius dan dalam. Tak ada unsur bercanda di dalamnya. Tetapi itu, sekali lagi, sama sekali tak mengurangi kerenyahan tulisan ini.  

Sementara Emha Ainun Nadjib terkenal dengan kritik sosial yang dikemasnya dalam humor dan lelucon yang segar. Ingat misalnya salah satu esainya yang terkenal, yang ditulisnya pada saat-saat puncak dari kekuasaan Soeharto, “Makan Minum Dak Tentu,” yang diumumkan di Tempo. Dengan bobot kritik yang dibungkus humor yang canggih, esai ini berkisah tentang kebiasaan orang Madura yang jika ditanya selalu menjawab ‘dak tentu.’ Misalnya ketika para penjual ikan di sebuah pasar ditanya siapa presiden Indonesia, jawab mereka: “O, ndak tentu, Pak!” Selanjutnya, tulis Emha: 

Serasa ditonjok jidat sang pejabat. “Siapa presiden Indonesia” adalah pertanyaan paling gampang di seluruh Nusantara. Dan jawaban dak tentu sungguh-sungguh harus diwaspadai. 

Daktentu bagaimana?” Pak Pejabat mengejar. 

“Yaa kadang-kadang Subandrio, ka-dang-kadang Yusuf Muda Dalam. Pokoknya dak tentu, Pak!”  

“Lho, kok bisa begitu begitu?” 

“Lha yang di teve atau gambarnya di koran itu dak tentu!”  

Pecah rasa kepala. “Lantas kalau Pak Karno itu siapa?” Pak Pejabat kita naik pitam dan membentak. 

Tetap dengan tenang pula si Madura menjawab, “Ooo lain, Pak! Itu bukan presiden, Pak Karno itu rajaaa!”  

Alkisah pejabat kita itu marah besar, lantas memanggil pejabat-pejabat pulau itu, dikumpulkan dan disuruh kor lagu wajib. Itu karena jelas terbukti bahwa nasionalisme orang Madura amat rendah. Kabarnya para pamong daerah itu ambil suara bareng. “Saaa…” Tapi kemudian yang dinyanyikan bukan Satu Nusa Satu Bangsa, melainkan, “Salatullah salamullaaaah….” 

Meski Emha mengaku tidak setuju dengan anekdot ini, apapun juga anekdot ini dengan menakjubkan dipakai sebagai kritik yang sangat pedas terhadap kokohnya kekuasaan (Orde Baru) saat itu. Bahwa yang dipakai Emha sebagai ilustrasi adalah Soekarno dan menteri-menterinya tak lain tak bukan semata sebagai bagian dari strategi membungkus kritik dengan humor itu. Kalau Pak Karno di sana ditulisnya dengan Pak Harto, dan sejumlah menteri zaman Soekarno itu diganti dengan menteri-menterinya Pak Harto, tentu saja Emha akan di’amankan’, karena dianggap menghina kepala negara. Tapi pada masa itu, di kepala saya –dan saya yakin hampir semua orang yang membacanya— yang dimaksud jelas adalah Pak Harto dan menteri-menterinya.  

Inilah seni kritik dalam sebuah tulisan, dalam sebuah rezim yang represif. Sebuah perlawanan halus, yang dalam kajian cultural studies sekarang, bisalah dimasukkan sebagai suatu jenis resistensi. Dan yang bisa dengan baik mewadahi semangat dan motif tulisan seperti ini, tak lain adalah esai.  

Personalitas gaya ini pada tingkat tertentu telah menjadi ciri khas seorang penulis yang kuat. Seorang yang rajin membaca esai akan segera bisa menebak siapa penulis dari sepotong paragraf –katakan misalnya dari GM, Emha, atau Seno Gumira Ajidarma—, meski nama penulisnya disembunyikan. Karena gaya –tentu gaya yang telah ‘menjadi’—, adalah suatu yang bersifat personal, sudah semacam trade mark 

Contoh paling mencolok dari personalitas gaya yang khas ini misalnya bisa dibaca dari esai-esai yang hadir sebagai editorial majalah Jakarta-Jakarta (almarhum) yang rutin ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma. Seno menamakan editorial untuk majalah yang dikelolanya ini sebagai “Surat dari Palmerah,” menunjuk alamat kantor majalahnya tersebut.  

Sebagai namanya, esai itu ditulis berupa surat yang ditujukan kepada seorang temannya yang ia panggil bung. Dalam surat itu ia menceritakan pandangan-pandangannya terhadap suatu masalah yang sedang aktual di masyarakat atau renungan-renungannya terhadap situasi sosial. Kadang ia bercerita, bertanya, menggugat, atau menunjukkan rasa bingungnya terhadap sesuatu yang terjadi pada bangsa ini. Bahasa yang dikemukakan Seno sederhana dan gampang dicerna. Yang unik, sebagaimana umumnya surat juga, di akhirnya ada inisial pengirim SGA, tentu maksudnya Seno Gumira Ajidarma, yang diiringi tanda tangan dan juga suatu NB: yang berisi semacam celetukan, yang nyelekit, tajam, dan lucu. Sebagai interior grafis, Seno menyertakan  kopi iklan atau merek produk-produk dagangan lawasan, yang mungkin merupakan koleksinya. Berikut saya kutipkan penuh esai “Tiga Humor Sufi” dari salah satu “Surat dari Palmerah” yang ia siarkan pada Kamis, 8 Februari 1996: 

Tiga Humor Sufi 
Bung,

Akhirnya kita pun mendekati Lebaran. Pada hari itu kita saling meminta dan membeir maaf—masalahnya, dalam dunia politik, apakah hal itu bisa berlangsung secara tulus? Bisakah seseorang yang tersingkir dari percaturan politik benar-benar ikhlas mengha-pus segala dendam kompetitifnya (masih mending kalau kompetitif) kepada seseorang lain yang telah menyingkirkannya? Politik adalah permainan dengan konsensus: den-dam politik hanya sahih dalam konteks politik—dendam pribadi mestinya tidak rele-van. Sekali lagi: mes-ti-nya. Tapi, kita bukan-lah manusia kalau tidak sekali-sekali berbuat bodoh.

Bung, banyak kisah sufi yang memberi pelajaran tentang kepintaran dan kebodohan. Seperti Enam Ekor Keledai ini: 

Pada suatu hari Nasrudin Afandi pergi membawa enam ekor keledai untuk dijual ke pasar. Baru berjalan sebentar ia sudha capai, maka dinaikinya salah satu keledai itu. Sambil berjalan, ia menghitung keledainya. Nasrudin kaget: kok tinggal lima? Ia lantas turun dan mencari, tapi tidak ketemu. Waktu dihitungnya lagi, ia heran, ternyata sekarang genap enam ekor.

Ia berangkat lagi, naik seekor keledai. Baru lima menit, ia hitung lagi keledainya. Eh, kok tinggal lima lagi? Nasrudin jadi bingung. Kebetulan kenalannya lewat, dan bertanya kenapa Nasrudin kebingungan.

“Aku pergi dari rumah membawa enam ekor keledai. Waktu kuhitung kok jadi lima, lantas enam, lantas lima lagi— coba lihat, satu, dua, tiga, empat, lima…”

“Sebetulnya keledai itu tujuh,” kata kenalannya.

“Tujuh?” Nasrudin makin bingung.

“Enam dengan yang kamu tunggangi, dan yang ketujuh adalah kamu.” 

Hahaha! Namun benarkah Nasrudin begitu bodoh? Dengarlah cerita Celana dan Jas berikut: 

Ketika berjalan-jalan, Nasrudin ingin membeli celana. Di toko, dipilih-pilihnya cela-na yang ada, dicobanya, lalu memilih satu yang cocok. Tapi tiba-tiba Nasrudin ingin membeli jas saja, yang harganya kira-kira sama. Ia serahkan celana itu kembali, lalu mengambil sebuah jas, dan langsung pergi.

“Ini belum dibayar!” teriak pemilik toko.

“Lho saya kan sudah meninggalkan cela-na yang harganya sama itu sebagai gantinya.”

“Tapi celana itu juga belum dibayar!”

“Tentu tidak saya bayar,” jawab Nasrudin, “Untuk apa membayar barang yang tidak saya beli?”

Terlalu ya? Apalagi yang berjudul Pertanyaan: 

“Hei, Nasrudin,” tanya tetangganya pada suatu hari. “Kenapa kau selalu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan pula?

“Apa iya?” 

Hehehe. Begitulah Bung, orang pintar berpura-pura bodoh, orang bodoh berpura-pura pintar— kita termasuk yang mana? 

Selamat Lebaran, Selamat Liburan 

SGA 

NB. Ini ada foto waktu mampir di Masjid Demak—anggap saja kartu Lebaran. Oya, saya harap Bung tidak termasuk orang yang bersilaturrahmi ke rumah atasan, atau pejabat posisi basah, sebagai usaha menjilat.  

Secara sederhana SGA mengambil dan menceritakan ulang saja tiga cerita humor Nasrudin dan kemudian di akhir tulisan memaknai ketiga cerita itu, “Orang pintar berpura-pura bodoh, orang bodoh berpura-pura pintar.” Lalu, bertanya, “Kita termasuk yang mana?” Menghadirkan anekdot, humor, dongeng, atau apa saja, lalu menafsirkannya, adalah siasat umum dalam penulisan esai.  

Tetapi esai SGA ini unik dalam bentuknya, yakni berupa semacam surat kepada sahabatnya. Tentu sahabatnya itu segera menjelma menjadi para pembaca yang menyimak tulisan itu. Terpancar kesan akrab dalam obrolan dua orang sahabat. Lalu, ada kesan main-main dan bercanda. Tetapi tentu setelah kita simak apa yang disajikan adalah sesuatu yang serius juga. Sebagai pemimpin redaksi, Seno punya kesempatan untuk mengeksplorasi esainya sampai  pada tingkat yang sangat unik, dan itulah kelebihannya.  

Antara Sastra dan Ilmiah

Kecenderungan yang puitis dan prosais, main-main dan serius, cair dan padat, jelas dan kabur, bebas dan terikat, membuat esai sempat diperdebatkan apakah masuk  dalam sastra atau telaah ilmiah. Suatu masa pernah arti esai mengalami penyempitan atau dipahami secara sempit, semata sebagai tulisan yang mengulas dan menimbang karya sastra, atau singkatnya tulisan yang berisi kritik sastra saja. Ini mungkin karena dulunya di dalam tradisi jurnalistik Indonesia, kebanyakan apa yang disebut sebagai ‘esai’ itu adalah tulisan-tulisan yang berisi kritik sastra, dan kebetulan pula, kebanyakan para penulisnya adalah sastrawan, seperti di antaranya yang terkenal adalah Asrul Sani. Bahkan istilah ‘esai’ dalam sastra Indonesia diperkenalkan oleh kritisi sastra H. B. Jassin, yang himpunan kritiknya diterbitkan menjadi Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei, sebanyak empat jilid. 

Bagaimanapun, esai bukan hanya mengulas sastra, tapi bisa membicarakan banyak hal. Yang penting, kuat di sana unsur subjektif sekaligus sifat sastrawinya. Dalam hal bersifat sastrawi inilah, gaya sebuah esai kadang memang bisa bersilangan dengan prosa: cerpen atau novel misalnya. Coba perhatikan deskripsi pembuka dari esai Abdurrahman Wahid, “Kiai Dolar Berdakwah” berikut ini: 

Gerak-geriknya memang mirip wanita. Serba luwes, termasuk caranya berbicara dan tertawa yang tampak seakan-akan manja. Belum lagi kegemarannya memukulkan tangan pada lengan orang lain yang diajaknya berbicara untuk menekankan ungkapan yang juga sangt luwes, “Ah, masa begitu, Mas!”

Gaya kewanitaan itu lebih-lebih terlihat dalam ketelitiannya memilih barang dan kepandaiannya untuk tawar-menawar dalam hal apapun, dengan menunjukkan hal-hal kecil sebagai points untuk tawarannya sendiri. 

Dengan esai ini, GD hendak memerikan pandangan dunia seorang Kiai Masyhuri Syahid, yang selain da’i juga saudagar. Aktivitasnya berdagang ini memengaruhi materi dakwahnya, yang banyak menganjurkan orang untuk maju dalam kehidupan duniawi. Ini tentu sangat berbeda dengan kebanyakan dakwah yang banyak menyerukan pentingnya aspek kehidupan akhirat.  

Untuk memulai esainya, GD memotret sang tokoh dari segi-seginya yang unik (sifatnya yang mirip wanita, kebiasaan memukulkan tangan pada lengan orang yang diajak bicara, dst.). Tentu sangatlah tidak menarik, jika GD mengemu-kakannya secara bertele-tele, panjang lebar, dan mungkin beberapa hal yang klise dari seorang kiai (misal penampilannya yang bersorban, dll.). Bagaimanapun, jika kita ‘hanya’ baca dua paragraf ini, tidaklah keliru jika kita mengira bahwa tulisan ini (bagian dari) sebuah cerpen, karena biasanya deskripsi seperti itu hadir dalam cerpen atau novel. Bandingkan misalnya dengan deskripsi sejumlah tokoh yang banyak bertebaran dalam kumpulan cerpen Orang-Orang Bloomington karya Budi Darma, seperti tokoh Ny. Ellison dalam cerpen “Yorrick” ini:  

Ny. Ellison, demikianlah nama pemilik rumah, ternyata nampak seperti mayat. Matanya cekung, kening dan pipinya keriput, kupingnya terlalu besar untuk kepalanya, nampak agak berat dan kadang-kadang akan jatuh. Seperti yang pernah saya dengar melalui telpon, suaranya masih tegas dan jelas, tidak cocok dengan tubuhnya. Kalau hanya mendengarkan suaranya, orang akan menyangka paling tinggi umurnya lima puluhan… 

Gaya mendeskripsikan kedua kutipan yang saya ambil secara sewenang ini –yang satu esai dan yang satu cerpen—, hampir mirip. Sehingga secara sekilas cukup susah untuk dibedakan. Mungkin hanya derajatnya yang agak berbeda. Dalam cerpen Budi Darma, deskripsi tokohnya itu tampak agak liar, dan karena itu lebih kuat unsur fiktifnya. Sebaliknya, deskripsi GD lebih terjaga dan setia pada faktanya. Dan yang lebih penting lagi, gaya naratif dalam tulisan GD ini hanyalah pinjaman saja dari strategi di dalam penulisan karya sastra.   

Pensejajaran petikan kedua tulisan ini mungkin bisa dengan baik menunjukkan bagaima-na lekat hubungan esai dengan sastra. Berikut saya sodorkan lagi dua kutipan dari dua penulis yang berbeda: 

Ivan Ivanovitch meninggal hari sabtu pukul lima. Begitu juga Abdul Rachman, dan Martin Christian. Bertiga mereka berjalan ke tempat hari akhirat. Tidak bisa melihat siapa Ivan, siapa Abdul, atau siapa Martin karena toh tidak ada yang pakai wajah, tidak ada raut muka.Dari jauh mereka melihat cahaya. Itulah Jesus, kata Martin. Sebentar lagi kelihatan cahaya lagi, itulah Muhammad SAW kata Abdul. Dan ketiga kalinya dilihat warna lagi. Itulah Sanctus Carolus Marx kata Ivan Ivanovicth, seorang komunis yang sejati. Sampai akhirnya mereka melihat cahaya begitu kuat dan terang sehingga tiga roh dipenuhi cahaya dan kemuliaan, … 

Lalu, sebuah kutipan dari tulisan lain: 

Sebelum revolusi, dia calon rahib. Selama revolusi, dia komandan kompi. Di akhir revolusi, dia algojo pemancung kepala peng-khianat-pengkhianat tertangkap. Sesudah revolusi, dia masuk rumah sakit jiwa.  

Yang mana dari kedua itu merupakan esai, dan yang mana cerita? Tentu sekilas tidak gampang untuk diterka, kecuali jika kita disodorkan keseluruhan dari kedua tulisan itu, dan mungkin juga dengan mengetahui kedua nama penulisnya. Yang pertama di atas adalah esai “Ivan, Abdul, Martin” karya M. A. W. Brouwer, sedangkan yang kedua adalah alinea pembuka dari novel Merahnya Merah karya Iwan Simatupang.  

Pensejajaran ini sekali lagi memberikan ilustrasi betapa dekatnya esai dan sastra. Peristiwa imajinatif yang dihadirkan Brouwer di awal tulisannya adalah ilustrasi untuk tulisannya tentang bagaimana tidak mudah kehidupan itu digaris secara tegas, baik-buruk, hitam-putih, sukses-gagal, dst.. Ada banyak nuansa, ada banyak pilihan. Dengan gaya ini, dan kemudian disusul dengan cara seperti ngobrol, unsur didaktik dari tulisan Brouwer ini lalu tidak jadi “menggurui.” Sementara Iwan memulai novel yang menjadi salah satu tonggak perkembangan karya sastra Indonesia pada masanya ini dengan suatu pernyataan yang memikat tentang tokoh yang mengalami krisis eksistensial di zaman revolusi. Selanjutnya novel itu bercerita secara kilas balik tentang perjalanan hidup yang absurd dari tokohnya yang semula rahib, kemudian tentara, algojo, dan terakhir jadi gila, dan kini hidup sebagai gelandangan.     

Kedekatan esai dengan sastra, ditambah unsur subjektifnya yang kuat, memunculkan pertanyaan adakah nilai ilmiah dalam sebuah esai? Di satu sisi, sebuah esai mempersoalkan suatu persoalan, tapi karena persoalan itu dilihat dan ditulisnya secara khas –dan bahkan sangat pribadi sekali– maka nilai ilmiahnya segera mencair. Dalam esai, subjektivitas dikembangkan, sementara dalam sebuah karya ilmiah, obyektivitaslah yang harus diutamakan. Dan itu artinya orang harus menekan unsur subjektivitas. Subjektivitas, bagaimanapun, berada di seberang obyektivitas yang menjadi standar sebuah karya ilmiah. 

Untuk mencapai status ilmiah dan obyektif, dalam hal berbahasa, karya ilmiah haruslah jelas dan pasti, yang sering mengesankan bahasa yang kaku dan kering. Sebaliknya, sebuah esai bisa tampil dengan bahasa yang bebas dan menari-nari, meski tak sebebas sebuah puisi. 

Namun bukan berarti dengan itu semua, seorang ilmuwan tidak bisa menggunakan gaya esai untuk menyajikan pokok-pokok pikiran, hasil temuan ilmiah, atau pengetahuan profesionalnya. Ilmuwan yang menginginkan kelugasan dan pembaca yang luas, tak segan-segan memakai gaya esai. Dalam hal inilah, kita mengenal sejumlah ilmuwan yang menggunakan gaya esai untuk menyajikan pikiran mereka, seperti Liek Wilarjo (fisika), Kwik Kian Gie (ekonomi), Faisal Baraas (kesehatan), dan belakangan Eef Saefulah Fatah (politik). Sementara di sisi lain, sastrawan dan penulis yang menginginkan diskursif, mau tidak mau memilih esai –bukan puisi atau cerita. Karena itu ada yang bilang, esai berada di antara ketegangan antara karya sastra dan karya ilmiah. 

Bagaimana ketegangan yang tarik-menarik antara karya ilmiah yang terikat dan obyektif, dan esai yang bebas dan subjektif, bisa ditelusuri lebih lanjut dalam esai Ignas Kleden, ”Esai: Godaan Subjektivitas.” 

Mungkin ada yang berubah dalam cara saya memandang suatu ‘tulisan,’ sekarang dan beberapa tahun lalu.  Seperti wartawan senior Farid Gaban, sekarang saya juga merasa bahwa tulisan-tulisan, entah itu ulasan ekonomi, politik, maupun budaya, yang muncul di media-media akhir-akhir ini terlalu kering, dan monoton. Bobot analisis ilmiahnya memang canggih, tapi cara bertutur dan pengungkapannya terasa kaku. Saya tidak tahu persis apa sebabnya. Tapi Farid Gaban mengajukan tesis bahwa ini karena para penulis di media sekarang kebanyakan adalah para akademisi. Celakanya, sebagian besar mereka tidak memiliki persentuhan yang intensif dengan sastra.  Ini membuat tulisan-tulisan mereka jadi kering dan kaku. Mungkin bagi mereka, cara bertutur itu nomor dua , yang pertama dan utama adalah isi dan argumentasi.    

Betul atau tidak, entahlah. Tapi saya sangat setuju bahwa membaca ‘sastra’ adalah modal yang penting bagi seorang penulis esai yang baik. Tidak harus sastrawan, tapi mengenal dan membaca karya sastra. Itulah sebabnya, beberapa penulis masalah sosial-politik yang tulisannya enak sekarang ini adalah mereka yang cukup bersentuhan dengan sastra, sebagai pembaca maupun kreatornya.

  

Bahan untuk materi “Esai,” Workshop Creative Writing Berkelanjutan III, untuk remaja, di Magelang, 25 Maret 2007 (bersama Radio Fas FM dan PP. Tegalrejo), Surakarta, 1 April 2007 (bersama Yayasan Pinilih), dan Yogyakarta, 16 April 2007, diselenggarakan oleh LKiS, Yogyakarta, dan juga in-house training untuk staf-staf program LKiS.

From → Kertas Kerja

9 Comments
  1. isma permalink

    membaca postingan yang ini saya serasa mengikuti Workshop Creative Writing Berkelanjutan III…

  2. “pengalaman membaca essai” tak terasa mengajarkan menulis essai.

  3. Terima kasih komentarnya… sekadar membagi pengalaman saja koq…

  4. pusing baca tulisan ini…kecil-keciiiiiiil banget, sampai mata pedes melototinnya.

    Mas Salim, yang gede donk font-nya…

  5. makasih…aduh maaf ya. akan coba saya besarkan. mksih kunjungannya!

  6. Mas Salim, bolehkah saya pakai tulisan Njenengan ini untuk bahan ngajar nulis di IAIN Jambi? Salam buat temen2 di Yogya.
    Matursuwun,

    Abid

  7. mas abid…silahkan saja, hanya jgn lupa namanya ya…hehehe…n trims ya

  8. Trims Mas. Tentu ya nama njenengan dicantumkan. Biar jadi pengaya bahan dan penyemangat mahasiswa nulis kok.
    Matursuwun,

    Abid

  9. sebuah pengalaman membaca jadi hal unik dalam kegiatan menulis. maka menulislah dan terus membaca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: