Skip to content

P a k a i a n

September 5, 2007

Riwayat pakaian adalah riwayat sejumlah perjumpaan. Orang Eropa, Cina, atau Asia Barat, yang berkunjung ke Asia Tenggara pada abad ke-16 merasa terkejut dengan  ‘ketelanjangan’ banyak penduduknya, demikian tulis sejarawan Anthony Reid. Maksudnya, orang Asia Tenggara –termasuk tentu Nusantara ini— waktu itu hampir tanpa kecuali bertelanjang kaki, bertelanjang kepala, dan seringkali juga telanjang dari pinggang ke atas. Perjumpaan dengan Islam, Kristen, dan Konfusianismelah yang membuat seluruh –atau setidaknya sebagian— dari tubuh yang terbuka ini lalu ditutupi.

Bagi Islam maupun Kristen, ketelanjangan adalah manifestasi dari keterbelakangan dan kekafiran. Islam masuk ke Nusantara dan meyakinkan masyarakat untuk mengganti pakaian mereka. Sementara ekspansi kekuatan Barat (Kristen), juga memaksa masyarakat dalam derajat yang bervariasi untuk menutupi tubuh mereka. Masuk Islam atau Kristen hampir selalu ditandai dengan perubahan dalam gaya berbusana. Perubahan gaya berbusana ini dengan demikian menjadi bagian penting dari konversi keagamaan. 

Kehadiran Islam dan Kristen, yang disebut Jean Gelman Taylor, sejarawan Belanda, sebagai “proses pembudayaan” ini, penuh dengan kontestasi, saling saing, yang jangkanya panjang. Termasuk tentunya dalam menggariskan apa dan bagaimana pakaian semestinya dikenakan. Mungkin karena itulah, para teoritisi ilmu sosial, berdalih bahwa pakaian bukan sekadar kombinasi kain penutup tubuh, tapi petanda suatu identitas, juga suatu konstruksi wibawa dan kuasa. Pakaian apa dan siapa yang dikenakan memperlihatkan identitas yang ditampilkan, kuasa apa dan siapa yang sedang berlaku.  

Riwayat pakaian adalah riwayat sejumlah perjumpaan. Dan perjumpaan di situ tidak selalu dalam arti yang lancar, lurus, dan mudah. Dalam prosesnya ada berbagai negosiasi, dan tak jarang juga resistensi. Tak pernah ada suatu penerimaan yang penuh sekaligus juga perlawanan mutlak. Pada paroh pertama abad 20, sarung dan kebaya misalnya, pernah ditunjuk sebagai tandingan terhadap gaya setelan Eropa yang kala itu mulai populer dan menegar. Yang menarik, sarung dan kebaya ini sendiri adalah hasil percampuran dari Jawa dan mestizo. Ia tidaklah ‘asli’ setempat. Sarung dan kebaya ini mungkin bisa dianggap sebagai suatu strategi mimikri, peniruan budaya dari mereka yang terjajah terhadap penjajah. Mimikri, sekali lagi, menunjukkan tak adanya suatu ketundukan sekaligus juga penolakan yang penuh. 

Sekarang ini standar berpakaian Barat dan –dalam beberapa hal— Islamlah, yang mendominasi kehidupan kita sehari-hari, yang ordinary. Kendati demikian, hegemoni pakaian tak pernah berlaku sepenuhnya. Selalu ada celah untuk menampilkan identitas diri: bukan untuk melawan tapi hanya untuk mengatakan “perbedaan.”  Maka, jika suatu jenis kuasa menguasai yang ordinary, yang sehari-hari, selalu ada yang bukan sehari-hari, yang extraordinary. Sebagai contoh, sarung, yang menurut Denys Lombard, pada awal abad 20, ketika mode berpakaian Barat makin menguat, ia tetap memperoleh gengsi dan wibawanya, setidaknya sekali dalam sepekan, yakni saat shalat Jumat.  

Tampaknya ruang dan waktu yang extraordinary itu, selalu menjadi kesempatan untuk menampilkan identitas diri. Dan tak ada situs extraordinary, yang paling strategis kecuali pada wilayah seni, ritual, dan upacara-upacara peralihan. Demikianlah misalnya, pada acara-acara seperti sembahyang, bersih desa, penghormatan pada gunung, laut, bumi atau sendang, pesta panen, perkawinan, ritual pengobatan dan lain-lainnya, kita selalu menyaksikan suatu gaya berbusana para pelakunya yang tak biasa. Ada bagian-bagian yang tampak sengaja dibuka, atau setengah dibuka setengah ditutup, dan pemakaian kain yang tembus pandang dan ketat, dengan warna-warni yang cerlang cemerlang. Lalu perhiasan yang beraneka ragam. Bahkan tak jarang tubuh itu sendiri yang dilukis dan dihiasai. Dalam cara berbusana ini, tubuh tampaknya dipahami sebagai keindahan. Diberikan kebebasan dan dirayakan.  Dan karena itulah, tubuh dan pakaian di situ, jadi semacam performance tersendiri. Konstruksi pakaian seperti inilah yang kemudian dianggap sebagai ‘asli’ dan dijadikan sebagai ciri setempat. Pakaian seperti ini, di Indonesia ini, demikian kaya dan beragam. Dan keberagaman, harap tetap dicatat adalah ‘kunci’ dari Indonesia sekarang. 

Demikianlah saudara, ketika Anda membaca esai ini, pakaian apapun yang Anda kenakan, haraplah diingat bahwa pakaian itu melengket ke tubuh Anda tidak dengan begitu saja. Ia hadir melalui liku sejarah, tawar-menawar budaya, dan proses sosial yang panjang. Yang saya khawatirkan adalah jika ada keharusan suatu ‘cara berpakaian’ yang ditetapkan melalui jalur politik. Dan orang tak punya pilihan lain!          

From → Tatap

2 Comments
  1. aal permalink

    menarik baca artikel tentang ‘Pakaian’. Mas, aku mau infokan liputan acara Diskusi Terbuka bersama Nasr hamid Abu Zayd kemarin. Tp bingung mo ditoreh di mana, jadinya, terpaksa aku selipkan di sini. Maaf ya…

  2. aal permalink

    aliusman.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: