Skip to content

Maestro

August 30, 2007

Sudah lama saya penasaran dengan istilah “maestro.” Di dunia seni Indonesia akhir-akhir ini, istilah ini makin sering didengungkan. Tapi entah mengapa selalu kesan yang muncul maestro di sini artinya ”tua” atau ”sepuh.” Di kampus ISI Yogyakarta akhir Desember tahun 2006 lalu, saya lihat ada spanduk pentas tari berjudul ”Sang Maestro”. Lalu di bawahnya ada nama lima penari dari berbagai daerah sekaligus umurnya. Dalam catatan saya, yang termuda dari lima penari itu berumur 58 tahun. Kesan saya jadi tambah tegak: maestro = tua.

 

Tapi apa sebenarnya maestro? Kamus Bahasa Inggris-Indonesia mengartikan maestro secara sederhana, yakni ’pemimpin musik simponi’ dan ’ahli musik.’ Agak mirip dengan itu, kamus Bahasa Indonesia memaknainya sebagai: ’orang yang ahli dalam bidang seni, terutama bidang musik, seperti komponis, konduktor.’  Yang menarik, tesaurus Bahasa Indonesia meletakkan kata ’empu’ sebagai padanan dari kata ’maestro’ itu, yang artinya adalah ’orang yang sangat ahli, terutama dalam pembuatan keris.’ Tentu saja bukan arti seperti yang diterakan kamus-kamus ini yang diterapkan dan dimaksudkan untuk menyebut sejumlah pelaku seni di Indonesia akhir-akhir ini. Karena jika yang pertama terbatas mengacu pada musik, maka yang kedua merujuk pada kecanggihan membuat keris. Tampaknya, yang menjadi kata kunci di sana adalah ’ahli dalam bidang seni.’ Maka masuklah seluruh mereka yang dianggap ahli di dalam masing-masing bidang seninya sebagai maestro. Dan setiap bidang seni memiliki ’maestro’-nya sendiri. Tapi rupanya ’seni’ di sini pun bisa dalam arti luas, misal sebagai skill, keahlian teknis, dalam olah raga misalnya. Karena itu, Rudy Hartono yang pernah meraih 8 (delapan) kali Piala All England sudah lama dan sering disebut sebagai ’maestro bulu tangkis’ Indonesia.  Hampir pasti maestro adalah wacana seni modernisme yang mengandaikan ada estetika yang tinggi, bagus, indah, dan di seberangnya (atau tepatnya, di bawahnya!) ada estetika yang rendah, jelek, dan buruk. Dan ”maestro” di sana adalah instrumen untuk menegakkan adanya seni tinggi dan ada seni rendah itu. Karya-karya sang maestro adalah karya-karya yang terindah, terbaik, dan tertinggi nilai estetiknya. Dan karena semua nilai estetika tinggi itu, si senimannya beroleh gelar ”maestro.” Soalnya adalah nilai estetika tidaklah universal. Ia sangat terikat pada ruang dan waktu, serta terutama juga selera personal orang perorang dan kolektivitas suatu kelompok masyarakat. Yang dianggap ’indah’ di suatu zaman, belum tentu ’indah’ di zaman yang lain. Yang diagungkan ’hebat’ di suatu tempat, hanya dianggap biasa atau bahkan diabaikan di tempat yang lain.  Singkatnya, estetika tidaklah mempunyai suatu ukuran yang jelas dan definitif. Sekali ada yang hendak membuat standarnya, maka ia berarti sedang melakukan rezimentasi, membangun suatu konstruksi, yang beroperasi di dalamnya pengetahuan yang didukung suatu kekuasaan, dan sebaliknya juga suatu kekuasaan yang ditopang suatu jenis pengetahuan. Estetika juga bisa soal kekuasaan. Instrumen kelembagaannya bisa macam-macam: konsep-konsep estetika yang (didaku) ilmiah, dukungan seorang (atau lebih) yang dianggap pakar, penghargaan-penghargaan, dan lain-lainnya. Dari kesadaran seperti inilah, sebutan ’maestro’ seni bagi seseorang itu seringkali mengundang kontroversi. Siapa (yang berhak) menentukan, untuk apa, pakai paramater yang bagaimana? Bahkan, sering pada tingkatan tertentu, belum sampai pada tingkatan ’maestro’ itu, dalam bentuk-bentuk kecil, seperti terhadap pemenang suatu kompetisi dan atau peraih penghargaan dalam bidang seni tertentu, hasilnya kerap dipertanyakan dan digugat.  Meski demikian, tentu saja penyebutan ’maestro’ itu bukan sekadar basa-basi kultural. Menyimak bagaimana istilah ini digunakan dalam wilayah seni tradisi, maka yang terasa di sana lebih merupakan suatu penghargaan sekaligus keprihatinan. Pertama adalah penghargaan terhadap ’seseorang’ karena pengabdian yang lama dan panjang pada suatu bentuk seni, meski seni itu, terutama secara ekonomis, tidaklah banyak memberi padanya. Tapi serentak dengan itu juga keprihatinan karena pada saat yang sama, yang bersangkutan adalah satu-satunya atau setidaknya satu dari sedikit orang yang masih menguasai suatu bentuk seni tersebut. Penyebutan maestro lebih merupakan penghargaan pada dedikasi, dan seperti sebuah siasat konservasi.     Di wilayah seni tradisi, penyebutan ’maestro’ tampaknya tidaklah soal yang melulu berkait dengan estetika, bahkan mungkin terutama soalnya sama sekali bukan estetika itu sendiri. Karena itu cukup bisa dimengerti jika ada yang menyebut Rasinah sebagai maestro topeng Cirebon atau Mak Coppong sebagai maestro Pakarena. Ini barangkali bisa menjelaskan mengapa kesan saya maestro itu selalu artinya ’tua’ atau ’sepuh’?

From → Tatap

3 Comments
  1. Muhammad bisa jadi merupakan maestro islam. Bukan begitu?

  2. Zulkarnain permalink

    Orang kita cendrung oportunis memahami kata, seolah sebuah gengsi yang harus dipertahankan. Padahal istilah itu keasing asingan. Ini budaya lata, mudah terjebak pada prosa sihir bangsa asing. Sepertinya di Indonesia sudah tidak ada satu katapun yang bisa dipakai bergengsi. Itulah modernisasi kebablasan.

  3. Maestro seni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: