Skip to content

C e p a t

June 21, 2007

agung-suharyanto-penari-asal-medan.jpg

Speed is part of my life.” Setiap kali pergi ke tempat kerja pandangan mata saya tertumbuk pada reklame dalam baliho besar bertuliskan kalimat ini. Bagi salah satu produk minyak pelumas ini, kecepatan tentu saja menjadi prinsip utama yang mereka tawarkan. 

Kata “saya” (my) yang dipakai dalam kalimat itu, memaksa mereka yang membaca seolah menyatakan sendiri pernyataan itu. Lalu, pemajangannya di jalan utama dengan ukuran besar, kian menegaskan bahwa slogan ini tidak hanya untuk produk itu saja tapi telah menjadi prinsip utama dalam kehidupan sekarang ini. Harus cepat dalam hal apapun, jika tidak ingin ketinggalan dalam hal apapun juga! 
Dalam soal makan misalnya, kita diperkenalkan dengan banyak jenis santapan yang disebut sebagai makanan cepat saji. Bumbu telah diramu. Kombinasinya telah diolah. Dan kadar ukurannya pun telah diperhitungkan. Semua tinggal dipakai, disajikan, dan tentu disantap. Tak perlu berlama-lama, tak butuh berlelah-lelah, dan terutama tak mensyaratkan pengetahuan yang bertele-tele dan mendalam. 
 
Dalam hidup yang mengedepankan nilai kecepatan ini, efisiensi dan efektivitas, baik dari segi waktu maupun materi, jadi hal yang utama. Berbagai buku petunjuk dan pelatihan untuk melakukan atau meraih sesuatu apapun dengan cepat kini jadi tren: meraih sukses dalam bisnis dengan cepat, cara mudah jadi bintang, dan atau cara praktis jadi pemimpin. Proses menjalani dan mengalami unsur-unsur kehidupan telah dipadatkan, diringkaskan atau jangan-jangan bahkan dihilangkan sama sekali. Semua serba instant.
 
Tiba-tiba pepatah lama, “biar lambat asal selamat” kini seperti tidak relevan lagi dan jadi terasa kadaluarsa.
Lambat terlanjur dipandang sebagai suatu yang buruk. 
Namun dengan itu semua, kita seperti selalu disandera oleh waktu. Kini sebagai bagian dari budaya yang mengagungkan nilai kecepatan ini, berkembang pesat berbagai teknologi mutakhir yang di antara tujuan utamanya adalah mengatasi kelambatan.
Segala yang manual telah digeser oleh segala yang otomatis. Banyak hal yang kini jauh lebih mudah, praktis, dan cepat bisa dilakukan. Tetapi anehnya kita senantiasa tetap saja kekurangan waktu. Semua serba diburu dan dipacu. Ketenangan dan kesabaran makin menipis. Juga keceriaan untuk menjalani hidup. Santai, bersahabat, dan penuh gelak tawa makin absen dari kehidupan sehari-hari. 
Segala yang cepat rupanya juga telah menghilangkan nilai ’seni’ dalam hidup ini. Kita kehilangan ’cita rasa,’ kesegaran, kualitas gizi, dan juga keceriaan memasak bersama teman, anak atau istri, misalnya. Rasa makin tunggal saja dan kenikmatan mencecap makanan makin memudar. Kita seperti tak lagi bisa menjalani hidup secara wajar dan biasa-biasa saja. Kita selalu menatap hasil, dan sering abai pada proses. Untuk itulah kita membayar segala hal yang bisa memberikan hasil segera, dan enggan mengarungi proses. Pragmatisme menggejala. Kulit lalu jadi lebih penting dari pada isi.  
 
Tampaknya kini kita harus menempatkan lagi gerak ’cepat’ dalam proporsinya yang tepat. Tidak perlu segala hal harus dilakukan dengan ’cepat.’ Dan di sisi lain, menengahkan lagi gerak ’lambat’ untuk menegakkan lagi keindahan hidup. Lambat bukanlah suatu yang selalu negatif. Lambat tidak selalu berarti lamban. Lambat, yang dalam banyak hal akan memberikan lagi ruang pada detil dan proses, pada pengalaman, perasaan, dan nikmat petualangan, adalah ketenangan dan sekaligus keindahan.
 
Barangkali kita tidak akan lupa bagaimana ’gerak lambat’ ditampilkan lebih memikat dan indah justru untuk memperlihatkan ’gerak maha cepat’ misalnya dalam film-film laga televisi Six Millions Dollar Man atau Bionic Woman tempo dulu. Atau dalam film-film silat Jacky Chen. Dengan ’gerak lambat’ itu, adegan justru lebih terasa dramatis dan mengesankan.
 
Dalam tradisi tari, misalnya dalam tari topeng Panji Cirebon atau Pakarena, Bugis, ada beberapa bagian gerak yang lambat sekali, bahkan ada yang secara fisik betul-betul diam. Bagi si penari (maupun juga penontonnya), keduanya menuntut ketenangan, konsentrasi, dan juga perenungan yang tinggi. Karena itu, tidaklah mengada-ada jika ada yang mengatakan bahwa bagian yang sangat sulit dalam tari ini justru adalah gerakan yang sangat lambat sekali, atau bahkan diam sama sekali ini. Dan hebatnya, yang lambat ini demikian indah sekali.
 
Mungkin mencibir mereka yang diburu cepat dan disandera waktu itu, maka baru-baru ini grup band anak muda Slank, yang sering meneriakkan kata ”peace,” meluncurkan album Slow But Sure (2007). Dua lagunya, ”Slow But Sure” dan ”Alon-Alon Asal Kelakon” seperti meneriakkan lagi hikmah lambat itu. Katanya:
 
Jangan buru-buru

Jangan keburu nafsu

Kalau mau sesuatu…

Harus pikir-pikir dulu….
 
Slank
benar. Sering dalam keinginan yang diburu cepat dan segera, kita tak sempat lagi berpikir. 

Dimuat dalam rubrik Tatap, GONG, edisi 91, 2007           

From → Tatap

4 Comments
  1. agung suharyanto permalink

    waduh mas hairus salim, makasih atas dimuatnya fotoku yang tidak seberapa itu. asik juga blognya. sederhana tapi passs

  2. euh.. memang menurut hadist juga di akhir jaman teh waktu akan terasa sangat cepat… pilot pesawat juga harus super hati2,tapi biar sehati-hati apapun pesawat nyah tetap sangat cepat…kalau dibalik yah pesawat sangat cepat jadi proses mengendalikannyah yang harus sangat hati2 alias lambat…
    memang terburu2 ituh perbuatan syaitan… pandai2 lah memilih cepat yang bukan terburu2 di jaman sekarang inih teh…

  3. itulah mas, apalagi di kota padat spt jkt, serba susah. Naek mobil, macetnya gak ketulungan. naek motor, polusinya ngujubileh. ruwetnya lagi, naek motor pun gak bisa nyantai. habis gimana ya, pelan-pelan diklakson terus dari belakang. kalo ngebut, bisa benjol juga tuh kalao nabrak orang…. kasian deh lu cagub jkt (apa hubungannya…??).

  4. mas agung, terima kasih juga, semoga nari nya + sukses
    – makasih jg mas kabayan dan surur, klo sdh gk kuat lagi di jakarta mengundurkan diri saja rur! kayak ak ini…hehehe…tetap bertahan di yogya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: