Skip to content

Pengalaman Membaca Cerpen-Cerpen Gunawan ‘Cindhil’ Maryanto

April 4, 2007

bonsuwung2.jpg

Bahan perbincangan kumpulan Cerpen “Bonsuwung”, karya Gunawan Maryanto, di Toko Buku Toga Mas, 13 April 2005.

Bagi mereka yang terbiasa membaca cerpen pada hari minggu, dengan ‘stereotipe’-nya bahwa cerpen benar-benar ‘cerita pendek’ yang bisa menghibur, membaca cerpen-cerpen Gunawan ‘Cindhil’ Maryanto (GcM) tentu sebuah teror yang menyesakkan. Cerpen-cerpen GcM bukan saja berat tapi memang sama sekali tidak punya pretensi ‘menghibur.’ Malah kepala bisa-bisa pusing dibuatnya. Tema-tema ceritanya memang menarik tapi juga sangat ‘aneh.’ Alur ceritanya tak lazim atau bahkan seperti tanpa alur. Tokoh-tokohnya misterius dan hadir seperti tiba-tiba. Tidak ada awal dan tidak ada akhir sebagai sebuah cerita. Dan kalaupun ada, cerita-cerita itu tampak rangkap dan berlapis-lapis. Semacam ada gaya ‘cerita dalam cerita.’

Sedikit banyak ini mengingatkan akan gaya cerita di dalam Mahabarata. Saya curiga beberapa tokoh dalam cerpen-cerpennya, yang sempat disebut selintas, yang masih misterius itu, nantinya akan diceritakannya ulang. Tentu dalam cerpen-cerpen yang lain.

Memang, seringkali bahan cerpen-cerpennya ‘diolah’ dari satu episode dari sebuah teks lama seperti Serat Centhini atau Serat Cariyos Dwi Sri. Sebagian pembaca tentu mengenal atau setidaknya pernah mendengar cerita dalam serat-serat ini. Tapi sebagian besar mungkin juga merasa asing. Dan dengan cerpen-cerpennya, GcM kadang justru membuat cerita dalam serat-serat ini ‘tambah asing.’

Karena itu, mungkin mereka yang membaca akan segera menyerah pada alinea kedua atau ketiga. Atau sejak awal telah memutuskan untuk tak membacanya, karena –selain ‘berat’ itu– cerpen GcM terhitung sangat panjang (dibanding cerpen Minggu umumnya, seingatku: biasanya memenuhi satu halaman penuh koran).

Namun dengan semua soal teknis di atas, saya tetap tak hendak alpa membaca cerpen-cerpen GcM. Dengan agak menunda dan mencari waktu yang sedikit luang dan pikiran tenang, saya tetap merasa perlu membacanya. Dengan keterbatasan menangkap ‘pesan’nya, saya menganggap cerpen-cerpen GcM sangat kuat dan memikat. Bahasanya seperti menari-menari indah. Diksinya terpilih dan kalimatnya mengalir lancar. Dan yang sangat saya gemari adalah metaforanya yang orisinil, beragam, dan kaya. Dan metafor-metafornya bukanlah metafor yang beku dan klise (dead metaphor), yang makna metaforisnya tak terlalu berjarak dengan makna literalnya. Metafor-metafor GcM sangat baru dan atau menghidupkan kembali metafor-metafor yang beku. Dengan ini semua, cerpen-cerpen GcM jadi laksana puisi. Sebagai seorang jurnalis dan penulis, tentulah saya sangat belajar dari karya sastra seperti ini. Dan yang lebih penting lagi, sangat menikmatinya.

Demikianlah pengalaman awal membaca cerpen-cerpen GcM. Namun, tentu saja, itu tidaklah cukup. Tetap selalu ada godaan untuk menelusuri makna referensialnya. Meski cerpen-cerpen ini membuka kemungkinan untuk pengungkapan makna ini, tapi itu tidak mudah. Berulang-ulang kalipun teks-teks ini dibaca. Ketika membaca “Khima” dan “Lubdaka,” saya sempat menduga GcM sedang bertutur tentang politik kekerasan dan dendam yang melanda warga bangsa ini. Tapi ketika mencoba menyimak ulang, mencermatinya dengan hati-hati, saya seperti kehilangan jejak, dan menjadi ragu kembali.

Konon menghadapi cerpen-cerpen yang retoris, yang kaya dengan metaforis, kita tidak bisa mengacu pada makna semantiknya. Kita, mau tidak mau harus menafsirkannya secara metaforik juga. Namun penafsiran metaforik membutuhkan pengetahuan dan pengalaman yang luas dengan materinya. Jika tidak kita mungkin terjebak dalam labirin makna. Dalam hal cerpen-cerpen GcM ini, mungkin pengetahuan dan pengalaman itu adalah tentang mitologi Jawa. Dan inilah mungkin soalnya!

Hairus Salim HS

From → Resensi Buku

One Comment
  1. wah… bagus!
    mampir2 yhaw,,,,,,,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: