Skip to content

H u j a n

February 28, 2007

hujan-di-bayan.jpg

Hujan di Senaru, kaki Gunung Rinjani, 2006, foto by hs 

Karena hujan itu kelembutan, kesegaran, dan keindahan, maka ia sangat mencintainya. Setiap hujan datang ia duduk di beranda rumah, menatap keserempakan hujan, bercakap-cakap dengan hujan, dan menikmati hujan yang menari-nari. Perlahan ia sendiri kemudian menari dengan diiringi musik hujan. Lama. Tubuhnya basah kuyup, bukan oleh hujan, tapi oleh keringat. Hujan lalu menjelma dan memancar dari dalam dirinya. Demikian cerpen “Hujan” Sutardji Calzoum Bachri yang bercerita tentang Ayesha, gadis 16 tahun, yang demikian mencintai hujan.

Hujan adalah inspirasi. Karena itulah banyak karya seni: puisi dan cerita, lagu, musik, rupa, film, dan juga teater, yang menggali, mengambil, dan mengolah tema hujan. Mungkin karena hujan berarti kesuburan, yang menyegarkan bumi yang kering kerontang. Dan sebelumnya, ia menghapus mendung, yang bermakna kelam dan pesimistik.

Tapi bagi penyair Sapardi Joko Damono, hujan adalah sebuah interupsi terhadap rutinitas. Hujan membukakan ruang untuk jeda dan merenung sejenak. Keinginan untuk bersegera dan terburu-buru tiba-tiba dihentikan oleh hujan. Suasana yang panas membakar, termasuk dalam hati dan pikiran, tiba-tiba dibasuh oleh hujan.

hujan turun sepanjang jalan
hujan rinai waktu musik berdesik-desik pelan
kembali bernama sunyi
kita pandang: pohon-pohon di luar basah kembali

tak ada yang menolaknya. Kita pun mengerti, tiba-tiba
atas pesan yang rahasia
tatkala angin basah tak ada bermuat debu
tatkala tak ada yang merasa diburu-buru
(“Hujan Turun sepanjang Jalan”)

Dalam suasana hujan, kadang sepasang kekasih seperti diberi waktu dan ruang hanya untuk berdua, rapat berdempetan, berpegangan tangan, dan bercerita tentang masa lalu. Dalam suasana hujan juga, sebuah keluarga atau sekumpulan kawan duduk bersama, menikmati kopi dan hangat kudapan, membincangkan hal yang remeh-temeh dan tidak penting.

Ternyata hal yang remeh temeh dan tidak penting itulah yang membuat kebersamaan menyala kembali, dan hujanlah yang menawarkannya kesempatan untuk diketengahkan lagi. Ajaib betul hujan, yang menyelinap dalam waktu kita yang padat. Yang membuat “kita” menjadi sungguh kita dalam kebersamaan, dengan batin yang bersih dan hening.

Dalam arti membawakan kesuburan sekaligus kebersamaan itulah maka hujan begitu dinantikan. Ketibaannya yang telat membuat orang gelisah, takut, dan merasa bersalah. Lalu, sebuah ritual memohon hujan pun digelar. Inilah yang kita ingat dari kebiasaan kalangan masyarakat dulu –misal di Madura dengan ojung atau ojungan di Cilacap— yang masih dekat dan terikat dengan alam. Di festival minta hujan itu, orang-orang berkumpul, memanjatkan doa, melakonkan permainan, dan membagi-bagikan makanan. Hujan disambut dengan meriah seperti menyambut seorang tersayang yang telah lama menghilang. Ketiadaan hujan, seperti menandai kelemahan dan ketidakberdayaan manusia, dan kehadiran hujan dianggap sebagai anugerah-Nya.

Tapi hujan tak selalu diharap dengan hati terbuka, karena ia juga tak melulu memberikan kenangan yang indah saja. Hujan, bagi banyak orang, juga bisa bermakna kepedihan dan kesedihan. Jadi metafora bagi air mata, dilawankan dengan sinar matahari yang menjadi perlambang kecerahan dan kebahagian, seperti dalam lagu “Rain and Tears” yang pernah didendangkan oleh Aphrodites Child (juga Dennis Roussos dan Papa Winnie):

Rain and tears are the same…
Both i shun
For in my heart there ‘ll never be a sun

Kadang hujan membangkitkan lagi kenangan yang pahit, dalam kesendirian dan kesepian, seperti yang digemakan Alanis Morisette. Dalam lagunya “Rain”, suara kekasihnya yang pergi menjelma jadi rintik hujan yang menyayat:

That night is just a memory
But I still feel you standing next to me
And when I think I hear you voice all I hear is the rain…

Karena itu bisa dimengerti jika banyak orang juga takut hujan. Apalagi jika ia membawakan banjir (dan longsor), seperti yang dengan tragik menimpa Jakarta, kota yang gagah dan megah itu.

Tapi, omong-omong mengapa orang takut hujan? Jawabnya, karena ia datang keroyokan. Lha tentu, kalau yang datang satu persatu, itu bukan hujan tapi kencing berdiri seorang lelaki dewasa dari lantai tiga sebuah bangunan. Di sini, hujan jadi lelucon!

Dimuat dalam rubrik Tatap, majalah GONG, ed. 88/VIII/2007 

From → Tatap

6 Comments
  1. Aku tidak suka hujan, seperti juga Ophisa. Karena hujan membuatku selalu teringat pada Ophisa yang tidak suka hujan.

    hasil reportase matapenanya kita tunggu lho mas, ntar dimuat juga di blog matapena.

  2. Ophisa itu sapa, anakmu ya?…koq mirip akronim namaku ya…

  3. tata permalink

    Hai Om…! Hujan itu memang indah. Apalagi ujan duit… hehehehehe…. gak ada kelembutan, gak ada keteduhan, yang ada yaa…… tajir! iya gak om?

  4. ya…ya…trims, qmu betul hujan duit pasti bnyk yg senang…jd ingat zaman dulu ada lagu dangdut judulnya “hujan duit….”.coba deh tanya bpk ibumu!…

  5. rere permalink

    apanya yang indah??
    hujan kan bikin sakit,om!
    gmn c?

  6. ya jgn hujan2an…hujan itu dipandang sj…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: