Skip to content

‘Recycle’

February 22, 2007

Recycle’ adalah sebuah gagasan mengenai efisiensi. Sebuah benda lama, bekas atau sisa, yang statusnya boleh dibilang sampah, tidak seharusnya dibuang begitu saja. Dengan sebuah tekad dan dukungan teknologi sederhana, himpunan sampah itu bisa diolah menjadi suatu produk baru yang bermanfaat dan bernilai. Recycle memang alternatif terhadap pemborosan. 


Kalangan pengguna Bahasa Indonesia sudah punya kata yang bagus untuk istilah ini: daur-ulang. Meski Kamus Besar Bahasa Indonesia masih mengartikannya secara terbatas: peredaran ulang suatu masa, dan belum merengkuh pemakaiannya yang baru ini. 

Tapi daur-ulang sebenarnya tidak menyangkut benda-benda yang konkrit saja. Karya seni pun bisa didaur-ulang. Ini sangat mencolok misalnya dalam ranah musik pop. Beberapa lagu pop barat yang populer tahun 1970-an, misal –sekadar menyebut satu eksampel—lagu “I Have a Dream”, yang dinyanyikan kelompok musik ABBA asal Swedia, dinyanyikan ulang oleh West Life. Anak muda yang tergila musik pop, tapi terbatas wawasan sejarah musik popnya, mengira itu lagu baru dan hanya milik zaman mereka.  

Dunia musik pop Indonesia pun tak kalah senangnya mendaur ulang. Ambil contoh yang mutakhir saja, lagu “Semua Bisa Bilang” yang tempoe doeloe dinyanyikan oleh Charles Hutagalung dari kelompok The Mercy’s dan “Sesaat Kau Hadir” yang didendangkan Januari Cristy,  telah dirilis ulang oleh Balawan.  

Salahkah daur ulang ini? Tentu saja tidak. Bagaimanapun juga lagu-lagu itu tidak dinyanyikan ulang begitu saja. Ada penambahan dan pengurangan, yang membuat karya itu bisa lebih bagus, tapi sekaligus juga bisa lebih buruk, dari ‘asli’-nya. Tergantung sudut pandang estetik yang diterapkan.  

Fenomena daur ulang dalam seni pop adalah perkembangan mencolok dari kapitalisme seni yang menuntut sesuatu yang “baru” selalu setiap hari.

Pada kenyataannya tidaklah gampang menciptakan sesuatu yang baru itu dan yang ada lalu memamah dan menelan ulang yang lama. Terlebih tak ada ruang untuk merenungkan karya secara lebih mendalam dengan waktu yang begitu singkat. Yang digarap pada akhirnya hanyalah sebentuk kemasan. Tak salah kalau ada yang menyebut “pop” pada dasarnya sebagai kemasan. Seni pop adalah seni kemasan.  

Mungkin ini di antaranya yang membedakan “seni pop” ini dengan karya seni yang dianggap serius, adiluhung, dan tinggi. Pada bidang ini, para seniman yang dianggap baik adalah mereka yang mampu menciptakan tradisi. Dan untuk menciptakan tradisi, seorang seniman harus mempunyai gagasan dan ungkapan yang orisinil. Benarkah ada sesuatu yang sungguh-sungguh orisinil? Saya kira inilah salah satu ilusi dari para pendukung seni ini.  

Sastarawan T. S. Eliot pernah berujar: “Para penyair buruk meminjam, para penyair baik mencuri.” Kata ‘penyair’ di situ bisa saja diganti dengan ‘seniman.’ Dan meneruskan ujaran Eliot itu, saya meyakini, bahwa tidak ada sebenarnya karya seni yang sungguh-sunguh orisinil dan asli 100%. Sebuah karya tidak turun dari langit, seperti layaknya ilham atau wahyu, yang diklaim kalangan nabi, sebagai datang langsung dan asli dari Tuhan. Sebuah karya, yang kita kira inovatif sekalipun, selalu saja hasil dari lanjutan pendakian dari pendakian para seniman sebelumnya, seperti halnya eksperimentasi demi eksperimentasi, uji coba demi uji coba, yang dilakukan para ilmuwan dari waktu ke waktu hingga kemudian mendekap suatu temuan ilmiah mutakhir yang lebih sempurna. 

Dalam esai “Para Pencipta Tradisi” yang sangat satiris, sastrawan Budi Darma pernah menuliskan pengalaman seorang tokoh fiktif bernama Nirdawat yang sempat terkagum dengan perkembangan seni di negerinya: drama baru, puisi baru, cerpen baru, esai baru, yang diciptakan oleh mereka yang disebut sebagai pencipta tradisi di tanah airnya. Setelah banyak membaca dan bertualang ke negeri-negeri lain, ia tercengang dan menyumpah-nyumpah karena “ternyata” semua itu adalah bias pengaruh dari sejumlah karya yang ada di negeri lain. Tapi karena ia merasa orang bodoh, ia tak berani menyematkan julukan “pencuri” pada para seniman yang dianggap menemukan hal baru itu. 

Tentu saja ia tak bisa menuduh mereka itu menjiplak atau mencuri. Karena dalam kasus terakhir ini, –berbeda dari karya yang sejak awal dimaksudkan sebagai daur-ulang—proses kreatifnya sangat halus dan subtil, bahkan kadang tak disadari (atau diakui) oleh pelakunya sendiri. Sedemikian halus dan subtil, proses pinjam meminjam dan curi-mencuri itu seperti memerlukan dan membentuk “seni” tersendiri. Memang seperti ujaran Eliot, karya mereka yang buruk ‘peminjamannya’ tampak mencolok, sebaliknya karya mereka yang dianggap baik ‘pencuriannya’ begitu cemerlang. Tapi pengamat yang jeli dan luas wawasannya akan selalu bisa melihat pengaruh “karya” orang lain memantul di dalam sebuah karya yang diklaim paling baru itu sekalipun.  

Dimuat dalam rubrik Tatap, majalah GONG, ed. 87/VIII/2006

From → Tatap

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: