Skip to content

“Sekadar Melihat” atau “Melihat Ke dalam”: Catatan Sesrawungan1 Wang Sinawang

Hairus Salim HS

Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM menyelenggarakan acara Sesrawungan1 Wang Sinawang, yang berlangsung di PPKH sejak 16 – 30 November. Dalam kegiatan ini mereka mengundang dan melibatkan komunitas-komunitas keagamaan: khat (khilafah art networks), sebuah kelompok seni yang berafiliasi dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI); Seni Rupa Kristen Indonesia (Seruni), sebuah kelompok para perupa Kristen-Katolik; Narayana Smrti Ashram, sebuah kelompok Hindu yang memuja Krishna; Konghucu; Sanggar Seni Budaya Bhuana Alit, kelompok seni Katolik yang berbasis kampung; dan Budha Meitriya, suatu aliran di dalam agama Budha. Kelompok-kelompok ini diajak menggelar pameran, pertunjukan dan diskusi, selama beberapa hari.

Read more…

Advertisements

Pameran 17:71: Menelusuri Jejak Nasionalisme Antikolonial

Hairus Salim HS

Menonton pameran 17-71 adalah menyelami bagaimana sosok proklamator Bung karno demikian mencandui karya-karya seni rupa dan mengolahnya menjadi perlawanan antikolonial. Benar belaka lontaran banyak kalangan bahwa kolektor sekaliber apapun di Indonesia sekarang dan sampai kapanpun hanya akan menduduki peringkat dua, karena tahta nomor satunya sudah abadi diduduki Sukarno.

Demikianlah, melalui pameran 17-71 yang digelar Galeri Nasional bekerjasama dengan Sekretariat Negara pada 2-30 Agustus lalu, khalayak bisa menyaksikan beberapa lukisan yang telah dihimpun Sukarno dan kemudian dipajang di dinding istana. Setiap kali tamu Negara berkunjung, Sukarno akan membanggakan dan menjelaskan makna lukisan-lukisan tersebut. Foto-foto dokomentasi menunjukkan bagaimana Sukarno menggelar acara dan berfoto di depan lukisan-lukisan tersebut. Memang hanya 28 lukisan dari 21 perupa, belum 10%nya dari koleksi istana, tapi peristiwa ini telah menggenapi rasa penasaran mengenai koleksi karya rupa istana yang kini menjadi kekayaan ‘pusaka budaya’.

Read more…

Khitah, Islah, Tabayun, dan NU

Hairus Salim HS

(Versi Lengkap dari yang dimuat di Koran Tempo, Senin, 3 Agustus 2015)

Teman saya baru-baru ini kirim peran singkat. “Besok saya pulang ke kampung. Saya mau kembali ke khittah saja. Pamit. Mohon doanya.” Yang dia maksud kembali ke khittah (dengan huruf ‘t’ ganda) adalah menjadi pedagang sebagaimana tradisi keluarganya dan meninggalkan profesi penulis yang selama beberapa tahun terakhir digeluti.

Kamus Bahasa Indonesia karya W.J.S. Poerwadarminta (1952) belum memasukkan kata khitah ini. Tapi Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994) sudah memasukkannya dengan mengartikan khitah sebagai: 1 cita-cita; 2 langkah; rencana; 3 tujuan dasar; garis haluan; landasan perjuangan; kebijakan.Jadi dari mana dan bagaimana riwayat kata ini masuk ke perbendaharaan Bahasa Indonesia? Bisa jadi kata ‘khitah’ masuk ke perbendaharaan Bahasa Indonesia atas ‘sumbangan’ NU secara tidak sengaja melalui dinamika organisasinya yang mendapat liputan media. Read more…

Wawasan Jurnalis Indonesia: Tawaran Perbincangan

Bahan perbincangan dengan anggota baru AJI

Baru-baru ini saya membaca sebuah buku bertajuk Jurnalisme dan Politik di Indonesia (YOI, 2011) karya David T. Hill, seorang indonesianis penting asal Australia. Buku ini adalah biografi kritis terhadap perjalanan hidup, pemikiran, sepak terjang, dan perjuangan Mochtar Lubis (alm.), seorang jurnalis dan pengarang Indonesia terkemuka pada zamannya.

Mochtar Lubis dikenal sebagai jurnalis yang berjihad melalui media mengkritik rezim penguasa, baik pada masa Orde Lama maupun pada masa Orde Baru. Ketegaran, ketegasan, dan keberaniannya dalam mengkritik penyalahgunaan kekuasaan mengantarnya dua kali ke bilik penjara, masing-masing pada akhir kekuasaan Sukarno dan terulang pada masa-masa awal kekuasaan Suharto. Serentak dengan itu juga koran yang dipimpinnya Indonesia Raya dibreidel. Read more…

Blusukan

Catatan: sekitar 6 bulanan setelah Jokowi menjabat Gubernur DKI, saya membuat tulisan sederhana ini. Saya kirim ke sebuah media, tapi tak ada kabar alias tidak dimuat.

Joko Widodo (Jokowi), mantan walikota Solo, yang kini menduduki kursi nomor 1 DKI melesat sebagai tokoh nasional. Bersamanya juga melesat sebuah kata Jawa: ‘blusukan.’ Jokowi terkenal dan dielu-elukan di antaranya karena kegiatan ‘blusukan’-nya. Sedemikian memesonanya blusukan ini, bahkan Presiden SBY pun disebut-sebut meniru kegiatan blusukan ala Jokowi ini. Read more…

Menuju Jurnalis sebagai Cendikiawan

Hairus Salim HS, Penulis dan salah seorang pendiri AJI Jogjakarta

Orasi Budaya pada Hari Kebebasan Pers, 3 Mei 2014, di Bentara Budaya, yang diselenggarakan oleh AJI Jogjakarta.

 

Ass. Selamat malam dan salam sejahtera utk kita semua.

 

Yang terhormat Ketua AJI Jogjakarta dan teman-teman jurnalis, aktivis, dan mahasiswa.

Pertama, saya ingin mengucapkan selamat Hari Kebebasan Pers kepada semua teman jurnalis. Semoga kebebasan dan jaminan keamanan bagi jurnalis semakin membaik dan meningkat, serta tidak akan ada lagi kekerasan pada jurnalis, dan dengan atmosfir itu semua jurnalis makin berperan dlm membentuk masyarakat yang demokratis, damai, adil dan sejahtera.

 

Kawan-kawan sekalian. Para jurnalis idealis mungkin seperti makhluk alien sekarang ini.

Read more…

Sengketa Visual Ruang Publik

Oleh Hairus Salim HS

Artikel ini pernah dimuat di Koran Tempo, 21 September 2011

Ketegangan antargolongan, yang dalam banyak hal bisa meningkat menjadi konflik, yang terjadi belakangan ini di tanah air boleh dikatakan meningkat, bukan berkurang, meluas bukan menyempit. Jika sebelumnya ketegangan didasarkan pada soal penyiaran agama atau pendirian rumah ibadah, kini sebab masalah bertambah menyangkut soal visual di ruang publik. Read more…