January 18, 2008

Akhir-akhir ini, dalam perjalanan ke berbagai kota, saya sering melihat orang ‘gila’ berkeliaran di pinggir-pinggir jalan, jembatan, taman kota, terminal, atau pembuangan sampah. Pakaian mereka compang camping dan kumal, kulit dekil dan penuh daki, rambut gimbal penuh debu, terkekeh-kekeh tanpa sebab yang jelas, mengumpat-umpat tak tahu arah, atau melemparkan tatapan kosong dan jauh entah ke mana, termangu dan melamun, atau asyik mengotak-atik sesuatu. Kadang ada yang tak berpakaian sama sekali. Mereka seperti telah menjadi pemandangan buram dari sebuah kota.
Saya tidak tahu apakah itu sebenarnya gejala lama yang kebetulan saja baru saya perhatikan. Atau suatu gejala yang benar-benar baru, yang mengiringi perkembangan pesat kota-kota yang makin gemar dan terburu-buru menggabungkan dirinya pada kapitalisme dunia. Entahlah! Nyatanya di koran-koran terlalu sering saya membaca bagaimana katanya kuantitas orang yang disebut gila itu terus meningkat, tentang rumah sakit jiwa yang tak lagi muat untuk menampung. Atau tentang orang ‘gila’ yang mengamuk, mengobrak-abrik dan menghancurkan rumah, warung, atau mengganggu orang-orang yang hendak dan sedang lewat. Read the rest of this entry »
4 Comments |
Tatap |
Permalink
Posted by haisa
September 5, 2007
Riwayat pakaian adalah riwayat sejumlah perjumpaan. Orang Eropa, Cina, atau Asia Barat, yang berkunjung ke Asia Tenggara pada abad ke-16 merasa terkejut dengan ‘ketelanjangan’ banyak penduduknya, demikian tulis sejarawan Anthony Reid. Maksudnya, orang Asia Tenggara –termasuk tentu Nusantara ini— waktu itu hampir tanpa kecuali bertelanjang kaki, bertelanjang kepala, dan seringkali juga telanjang dari pinggang ke atas. Perjumpaan dengan Islam, Kristen, dan Konfusianismelah yang membuat seluruh –atau setidaknya sebagian— dari tubuh yang terbuka ini lalu ditutupi.
Read the rest of this entry »
2 Comments |
Tatap |
Permalink
Posted by haisa
August 30, 2007
Sudah lama saya penasaran dengan istilah “maestro.” Di dunia seni Indonesia akhir-akhir ini, istilah ini makin sering didengungkan. Tapi entah mengapa selalu kesan yang muncul maestro di sini artinya ”tua” atau ”sepuh.” Di kampus ISI Yogyakarta akhir Desember tahun 2006 lalu, saya lihat ada spanduk pentas tari berjudul ”Sang Maestro”. Lalu di bawahnya ada nama lima penari dari berbagai daerah sekaligus umurnya. Dalam catatan saya, yang termuda dari lima penari itu berumur 58 tahun. Kesan saya jadi tambah tegak: maestro = tua.
Read the rest of this entry »
2 Comments |
Tatap |
Permalink
Posted by haisa
June 21, 2007

“Speed is part of my life.” Setiap kali pergi ke tempat kerja pandangan mata saya tertumbuk pada reklame dalam baliho besar bertuliskan kalimat ini. Bagi salah satu produk minyak pelumas ini, kecepatan tentu saja menjadi prinsip utama yang mereka tawarkan.
Kata “saya” (my) yang dipakai dalam kalimat itu, memaksa mereka yang membaca seolah menyatakan sendiri pernyataan itu. Lalu, pemajangannya di jalan utama dengan ukuran besar, kian menegaskan bahwa slogan ini tidak hanya untuk produk itu saja tapi telah menjadi prinsip utama dalam kehidupan sekarang ini. Harus cepat dalam hal apapun, jika tidak ingin ketinggalan dalam hal apapun juga! Read the rest of this entry »
4 Comments |
Tatap |
Permalink
Posted by haisa
May 23, 2007

Sepuluh tahun yang lalu, tepatnya 23 Mei 1997, sebuah kerusuhan sosial melanda Banjarmasin. Kerusuhan yang berawal dari kampanye putaran terakhir Pemilu 1997 itu, telah mengakibatkan –menurut data resmi–, 123 orang tewas, 1 gereja musnah dan 10 rusak berat, 151 rumah, 144 buah toko, 3 pusat perbelanjaan dan hiburan, 3 pasar swalayan, 5 bank, 4 kantor pemerintah, 1 sarana hiburan, 3 sekolah, 1 rumah jompo, 1 apotik, 36 mobil, dan 34 sepeda motor musnah terbakar. Media setempat dan nasional menamai peristiwa itu sebagai peristiwa “Jumat Kelabu,” karena kebetulan terjadi pada hari Jumat.
Beberapa hari setelah peristiwa itu, Lembaga Bantuan Hukum (LBH), Jakarta, yang ketika itu dipimpin oleh Bambang Widjojanto, meminta seorang relawan untuk membantu mereka melakukan investigasi. Sebagai orang Banjar yang sedang di rantau, saya menangkap tawaran itu. Demikianlah, bersama Andi Achdian dan Munir (alm.) dari Jakarta dan saya dari Yogyakarta, kami terbang ke Banjarmasin. Selain membantu menyelidiki kemungkinan ada pelanggaran HAM baik dalam maupun sesudah peristiwa itu, saya bersama Andi Achdian juga menelusuri latar belakang sosial yang mengalasi peristiwa itu. Sebagian laporan kami kemudian diolah menjadi buku dan terbit dengan judul, Amuk Banjarmasin (YLBHI, 1997). Kami bukan satu-satunya yang melakukan investigasi saat itu. Setidaknya, masih ada Komnas HAM yang dipimpin Baharuddin Lopa (alm.) dan juga sebuah kelompok yang menamakan Lembaga Pengkaji Pengembangan Potensi Pembangunan Banjar (LP4R) yang juga melakukan invenstigasi. Read the rest of this entry »
9 Comments |
Bukuku |
Permalink
Posted by haisa
May 5, 2007

Kalau yang ini adalah modul Belajar Bersama mengenai pluralisme dan multikulturalisme. Saya susun bersama seorang teman Suhadi (staf CRCS, UGM, Yogyakarta) berdasarkan pengalaman berbilang tahun mengampu belajar bersama mengenai dialog, pluralisme, hubungan antaragama, multikulturalisme, dan topik-topik yang terkait dengannya di LKiS sejak tahun 1998 hingga kira-kira tahun 2004.
Persisnya judulnya, Modul Belajar Bersama: Membangun Pluralisme dari Bawah, terbit Januari 2007 yang lalu. Masih agak segar, meski naskahnya sebenarnya sudah lama rampung. Tebal 170 + xiv hlm., dengan ukuran 19 cm x 26 cm.
Sebagaimana sebuah modul, isinya meliputi bagaimana merencanakan, mengatur, menjalankan, mengelola forum, membagi waktu, mengisi topik-topik, dan mengevaluasi, serta hal-hal yang terkait dengan sebuah pelatihan, khususnya yang bersifat lintasagama, lintasbudaya, dan lintas etnik.
Dengan segala kekurangan dan (barangkali kalau ada) kelebihannya, buku ini saya kira cocok buat Anda yang ingin membuat sebuah pelatihan lintasagama dan lintasetnik.
5 Comments |
Bukuku |
Permalink
Posted by haisa
May 3, 2007

Ini adalah buku yang saya tulis secara utuh, Kelompok Paramiliter NU. Itu pun karena merupakan tesis di S-2 Antropologi UGM. Kajiannya tentang pasukan paramiliter NU yang bernama Banser dan terbit akhir 2004 yang lalu. Tebal 234 hlm+xxviii, 12 cm x 18 cm, dan diterbitkan oleh LKIS. Barangkali saja ada teman yang masih berminat membacanya. Pengantar diberikan oleh Dr. Budi Susanto S.J., dari Pusat Studi Realino Berikut saya kutipkan secuil kalimat dari pengantarnya (tentu yang agak memuji ya! Hehehe!):
“…Buku ini memang bukan kitab tentang beragam peristiwa yang terjadi. Buku ini lebih tepat disebut “buku menyejarah” karena bercerita kepada pembaca lebih tentang maknanya, daripada tentang peristiwanya.”
2 Comments |
Bukuku |
Permalink
Posted by haisa
April 4, 2007

“Aku Hantunya!”
Setelah malam-malam dalam setahun terakhir ini kita mungkin selalu menonton 4mata Tukul Arwana, sekarang palingkanlah perhatian ke film Nagabonar Jadi 2-nya Deddy Mizwar. Sungguh, ini bukan dagelan dengan eksploitasi kekurangan atau cacat tubuh seseorang, atau kegenitan lelaki bergaya pria, atau gaya plesetan yang sudah klise. Kualitas film ini cukup setara dengan Nagabonar-nya Asrul Sani (1986) dan Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1987). Film ini sendiri memang didedikasikan untuk Asrul Sani, penyair, esais, penerjemah, dan juga sutradara. Saran saya, kalau ada waktu tontonlah! Kalau punya teman dekat ajaklah! Tertawalah dengan cerdas!
9 Comments |
Gerundelan |
Permalink
Posted by haisa