<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Penaku, Pikiranku</title>
	<atom:link href="http://haisa.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://haisa.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 26 Dec 2008 03:45:22 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language></language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='haisa.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/fcf3716edfe680f26bd083e9781edb37?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Penaku, Pikiranku</title>
		<link>http://haisa.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>&#8216;Deadline&#8217;</title>
		<link>http://haisa.wordpress.com/2008/12/26/deadline/</link>
		<comments>http://haisa.wordpress.com/2008/12/26/deadline/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Dec 2008 03:45:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haisa.wordpress.com/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[
&#60;!&#8211;  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:&#8221;"; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} &#8211;&#62;

 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:&#8221;Table Normal&#8221;;
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:&#8221;";
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
	mso-para-margin:0cm;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
Ini mungkin merupakan salah satu kata yang sulit dicari padanannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haisa.wordpress.com&blog=801864&post=132&subd=haisa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignnone size-full wp-image-131" title="bandung" src="http://haisa.files.wordpress.com/2008/12/bandung.jpg?w=95&#038;h=127" alt="bandung" width="95" height="127" /></p>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]-->&lt;!&#8211;  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:&#8221;"; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} &#8211;&gt;</p>
<p><!--[if gte mso 10]&gt;--><br />
 /* Style Definitions */<br />
 table.MsoNormalTable<br />
	{mso-style-name:&#8221;Table Normal&#8221;;<br />
	mso-tstyle-rowband-size:0;<br />
	mso-tstyle-colband-size:0;<br />
	mso-style-noshow:yes;<br />
	mso-style-parent:&#8221;";<br />
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;<br />
	mso-para-margin:0cm;<br />
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;<br />
	mso-pagination:widow-orphan;<br />
	font-size:10.0pt;<br />
	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;<br />
	mso-ansi-language:#0400;<br />
	mso-fareast-language:#0400;<br />
	mso-bidi-language:#0400;}</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="IN">Ini mungkin merupakan salah satu kata yang sulit dicari padanannya dalam Bahasa Indonesia. Secara harfiah, maknanya terdengar sangar: “garis atau batas yang mati.” Ya memang, barangsiapa yang tidak bisa memenuhi batas atau garis yang telah ditentukan tersebut alamat rezekinya akan terbang dan bahkan mungkin kariernya akan melayang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="IN"> <span id="more-132"></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="IN">‘Deadline’ –<em>fixed limit of time for finishing a piece of work</em>— memang kata yang berasal dari latar masyarakat Barat yang sangat menghargai dan memuliakan waktu. Dari latar masyarakat ini pula lahir pepatah ‘waktu adalah uang.’ Tentu saja tidak dari <em>sono</em>-nya masyarakat Barat demikian. Adalah melalui proses-proses sosial yang panjang yang telah membentuk pandangan mereka menjadi sedemikian ketat —dan dalam beberapa hal juga kaku&#8211; terhadap waktu. Menurut sejarawan E. P. Thompson, pemuliaan yang tinggi terhadap waktu di Inggris baru dimulai pada abad ke-14 ketika jam mulai diperkenalkan dan disebarkan, serta menyusul itu, terjadi revolusi industri. Sejak itulah mulai dikenal namanya target, waktu dan disiplin kerja, upah, status buruh-majikan, dan juga deadline itu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="IN">Dalam bahasa Indonesia, deadline sering diterjemahkan sebagai ‘batas waktu’ atau ‘tenggat waktu.’ Dengan terjemahan itu, kesan sangarnya terasa jadi mencair. Tak aneh kalau karena itu ‘batas waktu’ atau ‘tenggat waktu’ ini seringkali masih bisa ditawar dan diulur-ulur, karena ia tidak lagi sesuatu yang ‘dead(ly),’ yang (me)mati(kan). Bisa dipahami jika banyak teman tetap lebih senang menggunakan kata aslinya, deadline, agar tetap terasa efek represi dan provokasinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="IN">Sebagian besar masyarakat masih memperlakukan waktu secara lunak dan santai. Bahkan di kalangan urban, yang telah terikat pada budaya industri pun, perlakuan demikian masih kuat melekat. Diburu waktu, dalam hal apapun, sangat menekan dan menyiksa. Santai sungguh sebuah kemewahan. Terlalu patuh pada deadline memang belum menjadi bagian dari budaya kita. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="IN">Tetapi yang menarik, jika kita menengok beberapa legenda, tersurat di sana soal deadline ini. Ingat misalnya legenda Sangkuriang yang jatuh cinta pada ibunya Dayang Sumbi. Sang ibu yang tahu itu cinta terlarang menolak dengan cara meminta Sangkuriang membuatkannya sebuah danau dan sebuah perahu dalam semalam. Sangkuriang yang mandraguna bersedia dan hampir bisa memenuhi permintaan itu. Tapi sebelum deadline itu tiba dan pekerjaan hendak usai, Dayang Sumbi dengan culas bersama teman-temannya telah mengetuk lesung dan menggemakan kokok ayam pertanda fajar menjelang. Sangkuriang kalah dalam pertaruhan itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="IN">Legenda yang serupa terjadi berkaitan dengan asal-mula Candi Prambanan. Konon Roro Jonggrang yang ogah menerima cinta Bandung Bondowoso mensyaratkannya membuat seribu candi dalam semalam. Tak sulit bagi Bandung Bondowoso yang sakti untuk memenuhi syarat itu. Tapi seperti legenda Sangkuriang, sebelum fajar benar-benar menyingsing, Roro Jonggrang dan para dayangnya telah membakar jerami dan menumbuk lesung. Dan ayam pun berkokok pertanda hari telah pagi. Karya Bandung Bondowoso dianggap gagal. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="IN">Dari legenda yang meninggalkan pusaka alam yang indah Tangkubanperahu dan Candi Prambanan ini, tampak bahwa orang-orang yang sanggup memenuhi deadline adalah mereka yang digjaya dan hebat. Dalam konteks modern sekarang: merekalah orang-orang yang profesional, yang tangkas dan siap bertarung dan berkontestasi dalam hidup. Tapi kesanggupan memenuhi deadline ini, celakanya tidak sepenuhnya diterima dan dianggap benar. Ia dipotong dan ditolak dengan curang. Dianggap <em>ngoyo</em> atau <em>nggaya</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="IN">Barangkali ini sebab kita tak sepenuhnya bisa menjadi Sangkuriang atau Bandung Bondowoso, meski tak mau juga jadi Dayang Sumbi atau Roro Jonggrang! </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="IN"><em>Gong</em> edisi 105, November 2008</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haisa.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haisa.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haisa.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haisa.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haisa.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haisa.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haisa.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haisa.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haisa.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haisa.wordpress.com/132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haisa.wordpress.com&blog=801864&post=132&subd=haisa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haisa.wordpress.com/2008/12/26/deadline/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb571dc20662e091bb5a8429c979f9e3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haisa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://haisa.files.wordpress.com/2008/12/bandung.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bandung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengapa Saya Menonton “Laskar Pelangi”</title>
		<link>http://haisa.wordpress.com/2008/09/26/mengapa-saya-menonton-%e2%80%9claskar-pelangi%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://haisa.wordpress.com/2008/09/26/mengapa-saya-menonton-%e2%80%9claskar-pelangi%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 04:32:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gerundelan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haisa.wordpress.com/?p=128</guid>
		<description><![CDATA[
&#60;!&#8211;  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:&#8221;"; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} &#8211;&#62;

 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:&#8221;Table Normal&#8221;;
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:&#8221;";
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
	mso-para-margin:0cm;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
25 September 2008. Bersama Zaki, saya ikut berjubel membeli tiket [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haisa.wordpress.com&blog=801864&post=128&subd=haisa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://haisa.files.wordpress.com/2008/09/laskar-pelangi.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-129" title="laskar-pelangi" src="http://haisa.files.wordpress.com/2008/09/laskar-pelangi.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]-->&lt;!&#8211;  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:&#8221;"; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} &#8211;&gt;</p>
<p><!--[if gte mso 10]&gt;--><br />
 /* Style Definitions */<br />
 table.MsoNormalTable<br />
	{mso-style-name:&#8221;Table Normal&#8221;;<br />
	mso-tstyle-rowband-size:0;<br />
	mso-tstyle-colband-size:0;<br />
	mso-style-noshow:yes;<br />
	mso-style-parent:&#8221;";<br />
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;<br />
	mso-para-margin:0cm;<br />
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;<br />
	mso-pagination:widow-orphan;<br />
	font-size:10.0pt;<br />
	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;<br />
	mso-ansi-language:#0400;<br />
	mso-fareast-language:#0400;<br />
	mso-bidi-language:#0400;}</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">25 September 2008. Bersama Zaki, saya ikut berjubel membeli tiket film “Laskar Pelangi” di bioskop 21, Ambarukmo Plaza, Yogyakarta. Calon penonton luar biasa banyak. Tiga baris antrean memanjang sampai ke luar dekat eskalator. Hari itu hari pertama pemutaran film yang diangkat dari novel yang telah meraup sukses itu. Saya yakin ada banyak calon penonton yang tak beroleh tiket dan harus menunda menonton esok hari. Saya sendiri akhirnya dapat tiket untuk pemutaran ke-2, pukul 13.15. Oke saja, karena itu malah berarti bareng dengan sutradara, produser, sejumlah para pemain, dan juga Sultan Hamengkubowono XI dan beberapa tokoh lain yang menjadi penonton tamu undangan.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Sejak membaca novelnya, saya sudah ‘jatuh cinta’ dengan Laskar Pelangi, karena alasan yang mungkin sangat pribadi sekali. Seperti Andrea Hirata, penulis novel itu, yang menjadi ‘aku’ atau ‘Ikal’ dalam novel itu, atau sekarang film itu, saya juga menjalani kehidupan sebagai anak-anak SD di akhir tahun 70-an dan awal 80-an. ‘Kami’ karena itu bisa dikata kurang lebih se-angkatan. </span><span id="more-128"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="FI">Tapi bukan sezaman itu saja alasannya. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Ada alasan lain yang lebih kuat: yaitu lingkungan perusahaan tambang yang melingkupi. Jika Andrea hidup di lingkungan tambang PN Timah, saya hidup di lingkungan tambang Pertamina Unit IV, Murung Pudak, Tanjung, sebuah kecamatan kecil di pedalaman Kalimantan Selatan. Rupanya, nasib anak yang bukan bagian dari perusahaan tambang, di mana pun sama, meski dia penduduk ’asli’ di situ, jadi pariah dan kelas II, di bawah para pekerja dan staf tambang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Maka seperti anak-anak SD Muhammadiyah di film itu, saya dan teman-teman dari SD pinggiran yang miskin, juga ngiler melihat bagaimana anak-anak SD Pertamina dengan pakaian seragam yang bersih dan sepatu, pergi ke sekolah. Sementara kami, sebagian besar tak berseragam dan bersepatu. Jika pada hari libur, anak-anak Pertamina itu bermain sepatu roda atau sepeda mini yang indah, kami hanya bisa menonton dari jauh dengan perasaan yang iri dan juga rendah diri. Pada hari-hari besar, setiap diadakan karnaval, anak-anak SD Pertamina tampil dengan drum bandnya yang membuat kami berdecak. Sering anak-anak Pertamina itu bertingkah arogan dan seperti mencibir kami anak-anak kampung ini, yang membuat kami panas hati luar biasa. Tapi kami tak bisa berbuat apa-apa.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Itulah alasannya, mengapa saya senang membaca, dan lalu, bersemangat menonton film ”Laskar Pelangi.” Bagiku, ia seperti mereperesentasikan pengalaman hidupku masa kecil. Jika Andrea dan teman-temannya<span> </span>itu senang pergi ke pinggir laut, maka kami biasa bermain ke sungai dan hutan. Dua kawasan ’merdeka’ yang karena berbagai alasan tak akan pernah dikunjungi anak-anak Pertamina. (Tentu saja, anak-anak Pertamina renang di kolam renang fasilitas Pertamina).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Cerita tentang buaya dalam film itu, saya kira kami di Kalimantan waktu kecil, tak kalah kayanya dengan pemandangan dan cerita-cerita mistik mengenai buaya ini. Lalu, ada lagi buah yang tumbuh liar di daerah tambang timah itu, yang rupanya juga sama dengan lingkungan panas di kawasan Pertamina tempat kami. Kami menyebut buah itu ’karamunting’, tapi saya lupa apa namanya di Gantong, Belitung, di dalam novel itu. Buah ini makin manis kalau terkena panas matahari. Ah, rupanya seperti di Belitung, di tempat kami juga, waktu itu Rhoma Irama sedang menancapkan kukunya sebagai ’Si Raja Dangdut’, yang kini adegannya di dalam film itu, dilihat jadi komikal.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">SD kami juga sering ikut lomba yang diadakan Pertamina, mulai cerdas cermat hingga karnaval. Tapi kami tak seberuntung Andrea dan teman-temannya SD Muhammadiyahnya, yang berhasil mengalahkan SD PN Timah dalam lomba karnaval dan cerdas cermat. Kami sering, kalau bukan selalu, kalah dan berada di bawah prestasi SD Pertamina. Sebagian kami merasa memang kami layak kalah, karena memang tak punya apa-apa dan kalah dalam fasilitas. Tapi sebagian lain, kami juga merasa sering dikibuli oleh panitia yang notabene ’bapak-bapak’ guru atau orang-orang tua SD Pertamina itu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="FI">Jauh sebelum membaca novel ini, saya pernah berpikir untuk menuliskan pengalaman masa kecil itu menjadi sebuah cerita. Tapi kesempatan dan kemampuan untuk itu saya belum punya. Hingga muncullah karya Andrea ini. Niat saya jadi bangkit lagi. Karena itu, jika ada kesempatan saya akan juga akan menuliskannya. Tentu dengan sudut yang berbeda. Saya yakin, di samping ada kemiripan, juga banyak sekali perbedaannya. Masing-masing tempat dan waktu, serta pengalaman yang mengarunginya, punya keunikan sendiri. ’Keunikan’ inilah yang menarik untuk dieksploirasi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV">Nah, lalu bagaimana dengan film itu? Susah bagi saya untuk menilai (novel dan) film ini secara obyektif, karena sejak awal telah jatuh cinta pada ceritanya. Filmnya, bagi saya, sangat berhasil, meski sempat saya merasa ada adegan yang bergerak lamban, terutama di awal-awal, dan bagian-bagian dialog yang terlalu verbal, bertendensi mengkhotbahi. Juga ada adegan yang terasa ’wagu’ mungkin karena dipandang dari sudut masa kini, seperti cara tokoh ’Ikal’ jatuh cinta pada A Ling, gadis Tionghoa. Atau ketika anak-anak itu menyanyikan lagu Melayu ”Seroja.” Tetapi secara keseluruhan, film ini sangat menarik. Apalagi bintang-bintang ciliknya dimainkan langsung oleh anak-anak Belitung, sedang bintang senior diperankan aktor-aktor hebat macam Ikranagara, Slamet Rahardjo, Matias Muchus, Tora Sudiro. Cut Mini yang jadi Bu Guru Muslimah juga bermain cantik. Lucu di dalam film itu lucu yang mencerdaskan. Unsur-unsur dramatik yang menyedihkan tidak membuat cengeng, tapi malah membuat hati jadi terketuk. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="SV">Yach, kalau Anda ada waktu, dan juga ada duit, saya sarankan, tontonlah! Tentu tak harus Anda memiliki pengalaman yang mirip seperti diceritakan dalam novel/film itu. Setidaknya, film ini berkali-kali lebih baik daripada sinetron televisi kita, yang ’busuk’ itu. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p>tulisan ini dan beberapa komentar pembaca juga muncul di situs jurnalisme warga:</p>
<p>http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=10823&amp;post=1</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haisa.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haisa.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haisa.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haisa.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haisa.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haisa.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haisa.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haisa.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haisa.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haisa.wordpress.com/128/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haisa.wordpress.com&blog=801864&post=128&subd=haisa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haisa.wordpress.com/2008/09/26/mengapa-saya-menonton-%e2%80%9claskar-pelangi%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb571dc20662e091bb5a8429c979f9e3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haisa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://haisa.files.wordpress.com/2008/09/laskar-pelangi.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">laskar-pelangi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Filmisasi Karya-Karya Sastra Islami</title>
		<link>http://haisa.wordpress.com/2008/09/02/filmisasi-karya-karya-sastra-islami/</link>
		<comments>http://haisa.wordpress.com/2008/09/02/filmisasi-karya-karya-sastra-islami/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 05:48:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kertas Kerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haisa.wordpress.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[
Pemfiliman karya-karya sastra (baik yang serius maupun yang pop) tentu bukanlah gejala baru. Sejak dini, film sudah banyak yang mengambil inspirasi (inspired by) atau (adapted from) karya-karya sastra. Menurut Garin Nugroho, 85% film pemenang Oscar merupakan adaptasi dari karya sastra (novel, cerpen, drama). Sementara 45% film cerita dan 83% miniseri televisi merupakan adaptasi dari novel. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haisa.wordpress.com&blog=801864&post=121&subd=haisa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://haisa.files.wordpress.com/2008/09/images.jpeg"><img class="alignnone size-full wp-image-120" src="http://haisa.files.wordpress.com/2008/09/images.jpeg?w=150&#038;h=113" alt="" width="150" height="113" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Pemfiliman karya-karya sastra (baik yang serius maupun yang pop) tentu bukanlah gejala baru. Sejak dini, film sudah banyak yang mengambil inspirasi (<em>inspired by</em>) atau (<em>adapted from</em>) karya-karya sastra. Menurut Garin Nugroho, 85% film pemenang Oscar merupakan adaptasi dari karya sastra (novel, cerpen, drama). Sementara 45% film cerita dan 83% miniseri televisi merupakan adaptasi dari novel. Bahkan 70% peraih Emmy Award –penghargaan terbaik untuk karya-karya televisi— merupakan adaptasi dari berbagai karya tulis. </span><span id="more-121"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Dalam sejarah film Indonesia, prosentasinya barangkali tidak sebesar itu. Meski begitu, film-film Indonesia yang mengadaptasi karya-karya sastra boleh dikata tidak sedikit. Sebagian besar film-film ini laku secara komersial (seperti <em>Badai Pasti Berlalu</em>, <em>Cintaku di Kampus Biru</em>, dan <em>Karmila</em>), meski jarang berhasil secara estetis (dalam arti memperoleh penghargaan). Dari 20 film peraih Piala Citra sejak 1973-1992 misalnya, dalam penelusuran saya hanya ada 2 film yang diambil dari karya sastra, yaitu <em>Kemelut Hidup</em> (1979) dan <em>Taksi</em> (1990).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Sementara itu, dalam ranah karya sastra islami, sejauh ini hanya ada satu karya sastra yang diangkat ke film yaitu roman <em>Di Bawah Lindungan Ka’bah</em> karya Hamka. Film ini sempat tertahan lama di badan sensor karena judulnya dianggap merupakan kampanye bagi suatu partai politik. Setelah itu, mungkin di antaranya karena faktor politis itu film ini peredarannya tersendat, tidak mengalami sukses secara komersial, dan tak juga memperoleh apresiasi yang memadai dari pengamat film.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Sedikitnya karya sastra yang difilmkan dalam sejarah film Indonesia, mungkin bisa ditelusuri dari tidak mudah dan problematisnya mengadaptasi sastra ke dalam film. Tetapi dalam kasus film keagamaan Islam, mungkin alasannya tidak sekadar soal teknis itu, tetapi juga memang sedikit dan terbatasnya apa yang disebut karya-karya sastra islami saat itu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Sukses komersial film “Ayat-Ayat Cinta” yang diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Habiburrahman el-Syirazi baru-baru ini karena itu dapat dipastikan segera akan mendorong gerakan pemfiliman kembali karya-karya sastra, <em>lebih khusus lagi karya-karya sastra islami</em>. Estimasi ini tidak hanya berangkat dari kebetulan sukses itu diperoleh oleh sebuah film yang diambil dari novel islami, tetapi juga kenyataan bahwa kini demikian banyak karya sastra islami tersebut. Didorong oleh aktivitas sanggar-sanggar penulisan kreatif, baik yang berbasis di kampus, kampung, maupun NGO, kini lahir banyak sastrawan muda, dengan karya-karya sastra mereka, termasuk yang bercorak islami. Dengan berbagai motif, pemfiliman karya-karya sastra islami ini akan menjadi kecenderungan setidaknya dalam 2-3 tahun mendatang. Novel <em>Ketika Cinta Bertasbih</em> karya Habiburrahman yang lain dan <em>Laskar Pelangi</em> karya Andrea Hirata, serta <em>Bait-Bait Cinta</em><span> </span>karya Gaidurrahman misalnya, kini sedang dalam proses penulisan skenario dan pengambilan gambar. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Dengan demikian, jika ada minat, kini ada banyak karya sastra islami yang ‘bisa’ untuk difilmkan. Tetapi soalnya, tentu bukan semata ketersediaan dan kelimpahan karya-karya ini, tetapi pada soal adaptasi karya-karya ini ke dalam film. Soalnya yang pertama, apakah karya-karya sastra itu perlu dan layak, terutama dari segi cerita (dan juga dari segi komersial), untuk difilmkan. Yang kedua, pada kemampuan untuk mengadaptasinya. Sastra dan film memiliki bahasa dan logika penceritaan yang berbeda. Karena berbedanya bahasa yang diekspresikannya, pengadaptasian sebuah karya sastra yang berbasis pada bahasa tulis ke bahasa film yang berbasis visual, tentu butuh keterampilan dan kemampuan yang khas. Karya-karya sastra dalam bentuk buku baru merupakan bahan mentah atau baru sebagai bibit. Keduanya perlu diolah atau dipupuk dan disiram. Tahap awalnya adalah <em>penulisan skenario </em>(dari tiga tahap pembuatan film sebelum <em>penyutradaraan</em> dan <em>penyuntingan</em>). Naskah skenario menentukan baik tidaknya sebuah film. Karya sastra yang baik tetapi skenarionya tidak ditulis dengan bagus akan menjadi film yang juga tidak bagus. Sebaliknya, karya sastra yang biasa-biasa saja kalau diskenario dengan baik akan menghasilkan film yang baik pula. Karena bahasa ceritanya yang berbeda, maka ada dua problem utama dalam pengadaptasian karya sastra ke film. Pertama seberapa jauh kesetiaan dan ketidaksetiaan pada teks asli karya satra dan kedua melakukan penyesuaian, baik berupa pengurangan maupun penambahan, yang dianggap perlu. Jika hendak difilmkan, karya-karya sastra ini membutuhkan (penulis) skenario yang bagus.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Sering orang mengatakan: nilailah film sebagai film. Tetapi dalam kaitan film yang diadaptasi dari karya sastra, tak terhindarkan orang, terutama pembaca novel yang difilmkan itu, akan menghubungkan dengan karya novelnya. Kerap terlontar pertanyaan: sesuai tidak dengan novelnya? bagus mana antara novel dan filmnya? Tokoh A-nya atau B-nya bagaimana, ganteng tidak? Gantengnya seperti apa? Dst? Kadang pandangan ini datang dari si penulis novelnya sendiri. Beberapa tahun yang lalu ketika berkunjung ke rumah Ahmad Tohari saya pernah menyinggung film <em>Ronggeng Dukuh Paruk</em>-nya. Ia menyatakan kecewa dengan film itu dan meminta saya untuk melupakannya saja. Hal yang sama pernah saya dengar langsung juga mengenai film <em>Roro Mendut</em> dari mulut Y. B. Mangunwijaya. <span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Pemfiliman novel pertama-tama harus berhadapan dengan ‘persepsi’ pembaca novel yang telah dulu hadir. Lebih-labih kalau novel itu novel yang laku keras. Tidak setiap adegan atau dialog dalam sastra perlu dan harus tampil di film. Dan jika pun harus tampil, ia perlu strategi adaptasi sesuai kebutuhan medianya sebagai film, dan terutama plot cerita yang dirancang untuk film itu sendiri. Ketika mengangkat <em>Salah Asuhan</em>, pengamat JB Kristanto mempertanyakan adegan dan karakter sombong Hanafi yang baru pulang dari sekolah di luar negeri. Di zaman di mana sekolah dan pergi ke luar negeri sekarang merupakan hal yang biasa, adegan dan karakterisasi itu jadi lucu, kata JB Kristanto. Para pembaca <em>Ayat-Ayat Cinta</em> yang menonton filmnya banyak yang kecewa karena tidak mendapat panorama Cairo dengan Sungai Nil dan Piramidanya yang eksotik serta Al-Azhar yang legendaris, yang bertebaran dalam novel. Tetapi para penonton, yang tak membaca novel ini, atau pembaca novel ini yang berorientasi <em>happy week end</em> sangat senang karena akhirnya Fahri menikah dengan Maria dan sempat menikmati manisnya bulan madu suami istri, sesuatu yang di dalam novel tidak ada. Tetapi untuk film yang skenarionya tiga babak ala Hollywood, strategi ini dianggap tepat karena di bagian ini sutradara mengaduk-aduk emosi penonton, membangun adegan-adegan lucu dan paradoksal dalam sebuah keluarga poligami.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Demikian problematis hubungan film dan novel ini, karena itu dari segi audiens, ada orang yang memutuskan tidak menonton film yang diangkat dari novel, kalau novelnya itu telah ia baca. Sebaliknya, ia tak akan membaca novel yang filmnya sudah ia tonton. Ini menjaga agar ia tak kecewa dan ia tetap mampu melihat film sebagai film.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Memperlakukan film sebagai film, inilah soalnya. Di luar negeri, penulis yang telah merelakan novelnya difilmkan, akan menyerahkan sepenuhnya pemfiliman novelnya itu kepada ahlinya. Terserah mau diapakan. Karena bagi mereka, film itu telah berdiri sebagai karya sendiri, dan sebagai penulis, ia tidak mempunyai wewenang profesional untuk mencampurinya. Kalau dia bagus, harus dilihat sebagai film yang bagus. Sebaliknya juga kalau ia jelek. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Untuk film dengan basis sastra islami barangkali tingkat kesulitan berikutnya tentu ada pada ajektif ‘islami’ tersebut. Karena ia diambil dari karya sastra yang dianggap ‘islami’ maka karya filmnya pun ‘mesti’ islami. Maka, soalnya bagaimanakah ‘islami’ itu dikonstruksi?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Mengikuti pernyataan Goenawan Mohamad beberapa tahun lampau, sastra keagamaan<span> </span>umumnya mengacu pada dua hal, yaitu menghadirkan <em>kehidupan agama sebagai latar belakang</em> dan <em>agama sebagai pemecah masalah</em>. Dua kecenderungan ini, saya kira, masih relevan untuk melihat ranah sastra islami ini. Bedanya hanya, jika sastra islami tempo dulu, misal karya-karya Hamka dan Jamil Suherman, menghadirkan latar kehidupan Islam, karya-karya islami sekarang bersemangat menghadirkan Islam sebagai pemecah masalah. Apapun juga kecenderungannya, apa yang disebut sastra islami –karena demikian sifat dan tujuannya&#8211; memiliki nilai didaktis yang tinggi, penuh khotbah dan pesan keagamaan. Nilai-nilai yang ditawarkan sangat formalistis dan sesisi. Pemfiliman karya-karya sastra islami ini tak akan jauh-jauh amat dari kecenderungan ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Sebagai kasus aktual, <em>Ayat-Ayat Cinta</em>, baik sebagai novel maupun film mengangkat kehidupan keluarga Islam Indonesia di Cairo sebagai latar dan pada saat yang sama menghadirkan Islam itu sebagai pemecah masalah. Nilai-nilai yang dihadirkan adalah nilai yang ideal. Hampir-hampir tak ada pergumulan dan konflik batin di antara tokoh-tokohnya dalam melihat masalah. Yang baik pasti menang. Semua berjalan mulus dan linear. Film seperti ini tak akan memantulkan perenungan yang dalam bagi penonton, kecuali kesan sesaat yang bersifat hiburan dan mimpi bahwa kehidupan sehari-hari akan berjalan demikian lurus juga dalam kenyataan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Sukses film <em>Ayat-Ayat Cinta</em> jelas mengikuti sukses novelnya yang terjual ribuan kopi dan tepat waktu ketika film Indonesia dipenuhi tema hantu dan cinta remaja yang cengeng. Tetapi saya khawatir jika kecenderungan melodramatis dan didaktis yang formal seperti ini terus berlangsung, film-film islami hanya akan segera membosankan dan menjadi trend sesaat saja. Seperti film hantu dan cinta cengeng remaja, ia hanya akan jadi <em>film konsumen</em>, dan bukan <em>film prestise</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Dalam sejarah film Indonesia, barangkali kita bisa belajar dan membandingkan dua film bercorak islami –meski tak diangkat dari novel Islami&#8211; yang sampai sekarang masih terus dikenang, yaitu <em>Al-Kautsar</em> (1977) dan <em>Titian Serambut Dibelah Tujuh</em> (1983). Kedua film ini, meski bercorak islami, sama sekali tak jatuh dalam khotbah yang verbal dan klise serta hitam-putih. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoFootnoteText"><span style="font-family:Arial;">Catatan untuk Workshop “Filmisasi Sastra Islami” di UII, Yogyakarta, 13 Juni 2008.</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/haisa.wordpress.com/121/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/haisa.wordpress.com/121/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haisa.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haisa.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haisa.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haisa.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haisa.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haisa.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haisa.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haisa.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haisa.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haisa.wordpress.com/121/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haisa.wordpress.com&blog=801864&post=121&subd=haisa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haisa.wordpress.com/2008/09/02/filmisasi-karya-karya-sastra-islami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb571dc20662e091bb5a8429c979f9e3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haisa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://haisa.files.wordpress.com/2008/09/images.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Menonton “Kantata Takwa”</title>
		<link>http://haisa.wordpress.com/2008/08/10/menonton-%e2%80%9ckantata-takwa%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://haisa.wordpress.com/2008/08/10/menonton-%e2%80%9ckantata-takwa%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Aug 2008 12:47:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gerundelan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haisa.wordpress.com/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[

Tahun 1989, Iwan Fals, Rendra, Sawung Jabo, Jokcy Soerprayogo, dana lain-lain mengeluarkan album Swami. Setahun berikutnya, dengan formasi yang kurang lebih sama, mereka menelurkan Kantata Takwa, dan berpentas di senayan. Sebuah pementasan yang penontonnya mungkin paling besar selama ini.
 
Lagu “Bento” dan “Bongkar,” saya ingat betul, sering distel ketika demonstrasi-demonstrasi tahun 1990-an. Berbeda dengan itu, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haisa.wordpress.com&blog=801864&post=108&subd=haisa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><a href="http://haisa.files.wordpress.com/2008/08/200px-iwan_fals_-_kantata_takwa1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-111" src="http://haisa.files.wordpress.com/2008/08/200px-iwan_fals_-_kantata_takwa1.jpg?w=200&#038;h=234" alt="" width="200" height="234" /></a></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tahun 1989, Iwan Fals, Rendra, Sawung Jabo, Jokcy Soerprayogo, dana lain-lain mengeluarkan album Swami. Setahun berikutnya, dengan formasi yang kurang lebih sama, mereka menelurkan Kantata Takwa, dan berpentas di senayan. Sebuah pementasan yang penontonnya mungkin paling besar selama ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Lagu “Bento” dan “Bongkar,” saya ingat betul, sering distel ketika demonstrasi-demonstrasi tahun 1990-an. Berbeda dengan itu, lagu-lagu di dalam “Kantata Takwa,” agak sulit untuk dijadikan semacam lagu protes, meski syairnya, yang banyak mengambil puisi Rendra itu, penuh dengan nada gugatan pada keadaan. Saya membeli kaset Kantata Takwa, mendapatkan posternya, dan satu karcis untuk nonton pertunjukan mereka di Senayan. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tapi, karena sesuatu dan lain hal, saya gagal berangkat ke Jakarta. Betapa kecewanya waktu itu!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Yang saya tidak tahu –mungkin juga banyak orang— mereka sebenarnya membuat ‘semacam’ film dokumenter juga saat itu. Tetapi film ini hingga belasan tahun tak pernah bisa –karena sebab apa, entahlah— dirampungkan. Baru setelah 18 tahun, atas usaha Gotot Prakosa dan Eros Djarot, film ini berhasil ‘diselesaikan.’ Pada Jogja-Netpac Asian Film Festival yang ke-3 (9-13 Agustus), film ini hadir sebagai ‘opening film.’</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Menonton film ini jadi memutar kenangan saja. Lagu-lagu di dalam Swami dan Kantata Takwa menggema indah dan gagah. Peristiwa tahun-tahun itu dan reaksi mahasiswa seperti hadir lagi di ingatan. Rendra, Jocky, Jabo, Iwan, dan lain-lain, kelihatan masih sangat muda dan perkasa. Mereka, seperti mewakili jutaan rakyat Indonesia, meneriakkan protes-protes politik ke wajah penguasa.</span><span id="more-108"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Film musik, mungkin boleh disebut. Visualnya mendedahkan syair-syair dengan musik yang dominan perkusinya. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Gambaran umumnya, situasi politik di bawah Orde Baru di mana orang tak bebas bicara. Para aktivis, cendikiawan, mahasiswa, budayawan, seniman dikejar dan ditangkapi, bahkan ada yang dibunuh. Para penguasa menguasai hampir seluruh relung kehidupan. Tentu saja ekspresinya bersifat metaforik, meski jika dilihat sekarang terasa sangat verbal sekali. Saya yakin seandainya pun film itu bisa diselesaikan waktu itu, pasti juga tidak akan diperbolehkan diputar secara publik. Bukankah ini merupakan visualisasi verbal dari semangat lagu-lagu yang dari sononya sudah seperti pamflet politik.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Film ini mengingatkan pada ”Dongeng Dirah,” kata Djadug yang duduk di samping saya. ”Mereka bekerja di luar mainstream, dan hasilnya lebih banyak diselesaikan di atas meja, tahap editing,” tambahnya. Tapi, ”saya tidak paham,” kata seorang anak muda yang mungkin berumur 2-3 tahunan ketika film itu dibuat dalam obrolan sehabis menonton. ”Saya senang, saya ingin suasana ’perlawanan’ itu muncul lagi, biar kami bersemangat lagi,” kata Nico, seorang fotografer untuk majalah remaja.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Komentar berterbangan. Jennifer Lindsay dan Barbara Hatley mengusulkan perlunya disertakan potongan-potongan gambar yang menjelaskan suasana represif zaman itu. Agar film itu bisa dipahami anak-anak muda sekarang, alasannya. Saya sendiri, selain melihat lagi kenangan itu, tetap bertanya-tanya apa relevansi film itu bagi zaman ini, dan perasaan, betapa cepatnya waktu menguap.</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mereka bicara cinta</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Atas nama Tuhannya</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sambil membunuh &#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Berdasarkan keyakinan mereka</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">&#8230; </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sebagian dari bait syair di dalam album ”Swami” ini, menjawab sebagian dari pertanyaan ini. Album dan film ini akhirnya, jadi sejarah, dan juga kesaksian! </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/haisa.wordpress.com/108/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/haisa.wordpress.com/108/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haisa.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haisa.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haisa.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haisa.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haisa.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haisa.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haisa.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haisa.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haisa.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haisa.wordpress.com/108/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haisa.wordpress.com&blog=801864&post=108&subd=haisa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haisa.wordpress.com/2008/08/10/menonton-%e2%80%9ckantata-takwa%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb571dc20662e091bb5a8429c979f9e3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haisa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://haisa.files.wordpress.com/2008/08/200px-iwan_fals_-_kantata_takwa1.jpg?w=200" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>B e r p i k i r</title>
		<link>http://haisa.wordpress.com/2008/08/07/b-e-r-p-i-k-i-r/</link>
		<comments>http://haisa.wordpress.com/2008/08/07/b-e-r-p-i-k-i-r/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Aug 2008 07:38:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tatap]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haisa.wordpress.com/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[
“Nagabonar,” satu dari sedikit film komedi Indonesia yang bermutu dikenang para penontonnya di antaranya karena ungkapan, “Sudah kubilang kau, berhentilah berpikir!” Ungkapan yang diekspresikan tokoh Nagabonar dengan dialek Batak dan terus diulang sepanjang film itu meninggalkan pesan yang menarik.
Dalam suasana genting dan mendesak, seperti situasi perang dalam film tersebut, ‘berpikir’ –atau lebih lunak, berpikir yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haisa.wordpress.com&blog=801864&post=106&subd=haisa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://haisa.files.wordpress.com/2008/08/parmenidesthumbnail.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-105" src="http://haisa.files.wordpress.com/2008/08/parmenidesthumbnail.jpg?w=98&#038;h=128" alt="" width="98" height="128" /></a></p>
<p>“Nagabonar,” satu dari sedikit film komedi Indonesia yang bermutu dikenang para penontonnya di antaranya karena ungkapan, “Sudah kubilang kau, berhentilah berpikir!” Ungkapan yang diekspresikan tokoh Nagabonar dengan dialek Batak dan terus diulang sepanjang film itu meninggalkan pesan yang menarik.</p>
<p>Dalam suasana genting dan mendesak, seperti situasi perang dalam film tersebut, ‘berpikir’ –atau lebih lunak, berpikir yang terlalu lama— adalah tindakan yang boros, tidak efisien, dan juga tidak efektif. Berpikir jadi suatu yang negatif, yang mengguratkan kesan lamban dan juga dalam banyak hal, pengecut. Yang diperlukan dengan segera adalah tindakan yang cepat dan praktis, yang langsung mengarah pada penyelesaian masalah. Soal hasil dan akibat nanti urusan belakang.</p>
<p>Tapi, adakah tindakan yang betul-betul tidak dilandasi pemikiran dan perenungan lebih dulu, seminim apapun kadarnya?<span id="more-106"></span></p>
<p>Konon yang membedakan manusia dan binatang adalah adanya otak yang menjadi instrumen untuk berpikir. Berpikir dengan demikian merupakan fitrah insani. Hilang pemikiran berarti hilang unsur kemanusiaan. Berpikir menjadi landasan eksistensial manusia. Itulah yang dikemukakan oleh filsuf Rene Descartes, “Aku berpikir, maka aku ada,” yang kemudian menjadi landasan filsafat rasionalisme. Lalu manusia didorong untuk berpikir sekeras-keras dan sedalam-dalamnya. Bukan semata untuk mengatasi problem dan tantangan hidup, tapi itulah kenyataan hidup itu sendiri.</p>
<p>Manusia terus berpikir, baik untuk tujuan yang bersifat praktis-pragmatis maupun yang etis-filosofis. Pada yang pertama, berpikir memang menjadi suatu mahal dan mewah sekali, sementara pada yang kedua, berpikir menjadi suatu yang langka dan juga bisa berbahaya. Tapi apapun juga manusia harus terus berpikir dan mungkin tak pernah bebas dari ‘berpikir.’ Tidak berpikir, bebas dari kungkungan pemahaman intelektualitas, mungkin hanya ada dalam gagasan mistik, yang bertujuan untuk menyatu dengan yang Ilahi. Agus S. Gunadi pernah menceritakan dengan verbal soal ini:</p>
<p>Suatu hari seorang bhiksu sedang bermeditasi di taman vihara. Temannya, seorang bhiksu yang lain, lewat. Ia tergoda untuk bertanya, “Mengapa engkau duduk di sini dengan diam. Bagai batu?”</p>
<p>Bhiksu yang ditanya itu tetap diam, tak bergeming.</p>
<p>“Apa yang sedang engkau pikirkan?” tanya teman itu lagi sambil memegang pundaknya.</p>
<p>“Saya sedang tidak berpikir.”</p>
<p>Heran dengan jawaban itu, ia bertanya lagi, “bagaimana kau melakukan itu?”</p>
<p>“Dengan tidak berpikir!”</p>
<p>Tidak berpikir, atau setidaknya berendah hati dengan kemampuan berpikir, barangkali suatu resistensi terhadap rasionalisme yang menjadi basis modernisme. Tapi itu tak mudah. “Sudah kubilang, berhentilah berpikir,” yang diulang-ulang dalam film Nagabonar itu bukan mengesankan lucu saja tapi juga bahwa berhenti berpikir itu sangatlah sulit, dan dalam banyak juga, mustahil.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/haisa.wordpress.com/106/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/haisa.wordpress.com/106/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haisa.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haisa.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haisa.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haisa.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haisa.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haisa.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haisa.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haisa.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haisa.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haisa.wordpress.com/106/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haisa.wordpress.com&blog=801864&post=106&subd=haisa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haisa.wordpress.com/2008/08/07/b-e-r-p-i-k-i-r/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb571dc20662e091bb5a8429c979f9e3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haisa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://haisa.files.wordpress.com/2008/08/parmenidesthumbnail.jpg?w=98" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Jurnalisme Sastrawi dan Etnografi Awam</title>
		<link>http://haisa.wordpress.com/2008/07/10/jurnalisme-sastrawi-dan-etnografi-awam/</link>
		<comments>http://haisa.wordpress.com/2008/07/10/jurnalisme-sastrawi-dan-etnografi-awam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jul 2008 07:28:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kertas Kerja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haisa.wordpress.com/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[Setelah membolak-balik dan menelusuri apa yang disebut sebagai ‘jurnalisme sastrawi,’ saya berpendapat setidaknya ada tiga hal yang penting di dalamnya.
 
Pertama, sebagaimana namanya menunjukkan, jurnalisme sastrawi pertama-tama adalah suatu tulisan yang bersifat jurnalistik, yang disuguhkan kepada pembaca. Sifat jurnalistiknya tercermin dari penggalian subyek berita yang sungguh-sungguh menerapkan asas-asas jurnalistik: berdasar peristiwa aktual, wawancara atau datang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haisa.wordpress.com&blog=801864&post=104&subd=haisa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Setelah membolak-balik dan menelusuri apa yang disebut sebagai ‘jurnalisme sastrawi,’ saya berpendapat setidaknya ada tiga hal yang penting di dalamnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Pertama, sebagaimana namanya menunjukkan, jurnalisme sastrawi pertama-tama adalah suatu tulisan yang bersifat jurnalistik, yang disuguhkan kepada pembaca. Sifat jurnalistiknya tercermin dari penggalian subyek berita yang sungguh-sungguh menerapkan asas-asas jurnalistik: berdasar peristiwa aktual, wawancara atau datang langsung ke sumber berita, jujur, mencakup sumber dua arah, dan lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Kedua, ia tak sekadar suatu laporan yang singkat dan dangkal. Ia berdasar pada suatu investigasi yang mendalam, yang meliputi pengamatan dan wawancara yang luas. Pada tingkat tertentu, boleh dikata, investigasi ini sudah setara –untuk tidak mengatakannya kadang bahkan melebihi— suatu penelitian sosial. Tak jarang ia diperlengkapi pula dengan studi pustaka. Membacanya kita bukan semata beroleh ‘keping-keping informasi,’ tapi juga suatu ‘pengetahuan.’ Kita tak sekadar mendapat ‘kesan,’ tapi sungguh seperti menemu ‘ilmu.’ <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Ketiga, ia –sebagaimana adjektif yang disandangnya— dihadirkan sebagai ‘laporan panjang’ atau sejenis <em>features</em> yang ditulis dengan pola seperti orang bercerita. Dan memang pada dasarnya ia hendak bercerita, bukan sekadar berkabar. Lancar, mengalir, dan renyah. Tidak kaku dan berat sebagaimana bahasa ilmiah, namun juga tidak dangkal sebagaimana tulisan <em>straight news</em> biasa. Diksinya dipilih dengan cermat. Sebisa mungkin tidak boleh ada pengulangan kata. Kalimat-kalimat yang panjang dan bertingkat, yang membuat rumit dan berbelit, sedemikian rupa dihindari. Pembaca lalu seperti disuguhkan sebuah ‘tulisan bergaya sastra,’ yang tak membosankan dan ingin terus mencicipinya.<span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span><span id="more-104"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Ketiga hal di atas setara pentingnya. Tak ada yang lebih utama dan tak ada yang lebih di belakang. Ketiganya merupakan pokok yang menyatu dan berada dalam satu tubuh yang disebut jurnalisme sastrawi itu. Kemampuan jurnalistik, penelitian sosial, dan penulisan bergaya sastra sekaligus <em>tampaknya</em> harus dimiliki oleh seorang pelaku jurnalisme sastrawi. Sungguh betapa beratnya! Betapa idealnya juga!<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Biar tidak buru-buru berkerut kening dan mengundurkan diri, harap diingat jurnalisme sastrawi tetaplah jurnalisme. Sastrawi dan ‘me’ di situ hanya menunjukkan bahwa ia meminjam dan mengadopsi gaya penulisan sastra dan<span> </span>pola penelitian sosial. Dua yang terakhir ini ‘dicuri’ sebagai suatu gaya, dan diterapkan dengan segala penyesuaian dan kebutuhan sebagai suatu jurnalisme. Saya ingin membicarakan yang kedua, yakni ilmu sosial dan kaitannya dengan jurnalisme sastrawi.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Etnografi Awam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Ketika menelaah kemungkinan menghadirkan etnografi sebagai kritik budaya, beberapa tahun lalu, Heddy Shri Ahimsa-Putra dari UGM, Yogyakarta, memperkenalkan apa yang disebutnya sebagai ‘etnografi awam.’ Etnografi adalah metode penelitian sosial yang dikenal di kalangan antropologi. Karya penelitian yang mereka tulis disebut sebagai karya etnografi. Berbeda dengan pengertian itu, etnografi awam adalah etnografi yang umumnya bukan ditulis oleh para ahli antropologi, tetapi oleh para jurnalis. Kebanyakan tulisan ini dimuat di surat-surat kabar dan majalah-majalah populer. Heddy menunjuk beberapa laporan <em>feutures</em> mengenai kehidupan suku-suku yang terpencil seperti yang termuat dalam <em>Kompas</em>, <em>Suara Karya</em>, atau majalah <em>Intisari</em>, sebagai contoh dari etnografi awam ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Tulisan-tulisan itu ia sebut ‘etnografi,’ karena memiliki ciri yang tidak jauh berbeda dengan berbagai etnografi para ahli antropologi. Tetapi pada saat yang sama, ia sandangkan kata ‘awam’ karena seturutnya tidak menerapkan konsep-konsep antropologis atau pun analitis yang biasa ditemui dalam etnografi antropologis. Selain itu, deskripsi etnografi awam ini dipandangnya sangat datar, tidak mendalam. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Pemikiran ini menarik. Apa yang dikemukakan Heddy menunjukkan bahwa dalam tingkatan-tingkatan tertentu kalangan jurnalis telah mengadopsi (mungkin tanpa disadari) suatu pola penelitian sosial (dalam hal ini etnografi) dalam kerja jurnalistiknya. Lepas bahwa pengadopsian itu masih bersifat artifisial.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Etnografi kadang dimaknai sebagai metode observasi-partisipasi. Dalam metode ini, peneliti biasanya terlibat, terang-terangan maupun tersamar, dalam kehidupan sehari-hari subjek yang diteliti: menyaksikan apa yang terjadi, mendengar apa yang dikatakan, menanya dan mewawancara, dan mengumpulkan data-data yang diperlukan lainnya. Setelah keterlibatan dalam periode yang agak panjang itu, peneliti menuliskan laporan penelitiannya dalam bentuk suatu deskripsi, atau bentuk penyempaian cerita. Karena itu, tak aneh jika ada yang mendefinisikan etnografi sebagai ‘suatu deskripsi mengenai suku, komunitas, kelompok, orang&#8230;’ atau sebagai suatu ‘cerita mengenai&#8230;’ (<em>telling-story</em>). Sifat ‘literer’ dari etnografi membuat ‘fakta’nya sering dipertanyakan, dan ‘fiksi’nya demikian terasa menonjol. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Penggalian dan pengumpulan data, serta kemudian pola penyusunan dan penulisan seluruh data itu membuat etnografi berkesesuaian dengan kebutuhan jurnalisme sastrawi. Dan jurnalisme sastrawi, saya pikir, kian memperoleh ‘daging’-nya dengan pengadopsian metode etnografi. Apalagi jika kita menengok ‘pembaruan’ yang luas dalam bidang etnografi beberapa dekade terakhir ini. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Satu misal mengenai <em>subject of matter</em>-nya. Dulu etnografi dianggap ilmu yang khusus mempelajari suku-suku terpencil (seperti juga yang ditunjukkan Heddy di atas), tapi sekarang mencakup topik sosial budaya yang lebih luas. Ia tidak lagi mempelajari desa tapi juga kota. Ia tak membatasi semata komunitas tapi juga pribadi. Tak semata suku/etnis tapi juga kelompok-kelompok sosial. Tak melulu lapangan, tapi juga pustaka. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Kita misalnya selama ini jarang mendapat informasi yang mendalam bagaimana suatu proses penciptaan karya teater karena yang disuguhkan pada kita selalu laporan ‘produk akhirnya,’ yakni ketika karya itu dipentaskan. Ikhtiar berdarah-darah, perdebatan, intrik, problema kekurangan dana, pemilihan aktor dan pergantiannya, dan lain-lain, tak pernah kita peroleh. Kita juga jarang menemukan informasi yang mendalam bagaimana kehidupan seorang seniman di hari-hari tuanya. Dilema dan tawar-menawar sosial sebuah sekte keagamaan, kelompok anak muda <em>punk</em>, atau rombongan seni keliling, hilang begitu saja dari pandangan kita, kecuali laporan-laporan yang lebih banyak bersifat stereotifikal mengenai mereka. Metode etnografi mungkin bisa membantu di tingkat ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Dalam bidang penulisan, etnografi telah menerapkan penggunaan orang pertama tunggal ‘saya’ atau ‘aku’ dalam penulisan laporan (ilmiah)nya. Kita tahu, selama ini metode penulisan ilmiah mengharamkan penggunaan penggunaan orang pertama tunggal, karena dianggap arogan. Tapi etnografi berpendapat sebaliknya. Penggunaan orang pertama tunggal itu bagian dari pertanggungjawaban sekaligus pengakuan bahwa tulisan itu hanya pendapat dia pribadi dan karena itu menjadi tanggung jawab pribadinya pula. Ia mengkritik penggunaan kata pasif yang menghilang subjek di dalam penelitian sekaligus pada saat yang sama menjadikan yang diteliti sebagai objek. Ia juga tak terima dengan kata ‘kami’ karena itu seperti manipulasi seakan tulisan itu pendapat banyak orang. Penggunaan orang pertama tunggal dalam tulisan populer (termasuk jurnalisme sastrawi), bagi etnografi, jadi jauh dianggap lebih ‘ilmiah’ dan ‘jujur.’<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Sementara dalam bidang epistimologis, etnografi telah mencairkan apa yang disebut sebagai ‘objektivitas.’ Karena tulisan adalah sebuah ‘konstruksi,’ maka ia mengandung fakta tapi sekaligus dengan itu juga fiksi. Bagaimana mungkin peristiwa menyedihkan seperti pembunuhan atau kemiskinan bisa ditulis dengan indah dan literer, kalau tidak berperan di dalamnya ‘fiksi’? Objektivitas karena itu adalah konstruksi. Objektivitas bisa tidak ada, tapi kalau pun ada ia tertera dalam seberapa jujur dan rendah hati tulisan itu. Pada kejujuran (<em>fairness</em>) itulah letak objektivitas. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Dengan beberapa strategi, metode etnografi sangat membantu jurnalisme sastrawi. Inilah yang ingin saya tawarkan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Tulisan untuk ‘Workshop Esai, Kritik Sastra, dan Jurnalisme Sastra,’ <span style="color:black;">Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah, 28 Juni 2008. </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">&#8212;&#8212;&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Clifford, James and George E. Marcus, <em>Writing Culture: The Poetics and Politics of Etnography</em>, Univesity og California Press, 1986. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Hammersley, Martin dan Paul Atkinson, <em>Ethnography: Principles in Practice</em>, Tavistock Publications, London and New York, 1983.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Santana Kurnia, Septiawan, <em>Jurnalisme Sastra</em>, Gramedia, Jakarta, 2002</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN">Shri, Heddy Ahimsa-Putera, “Etnografi sebagai Kritik Budaya: Mungkinkah di Indonesia?” <em>Jerat Budaya</em>, No. 1, 1997.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span> </span><span> </span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/haisa.wordpress.com/104/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/haisa.wordpress.com/104/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haisa.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haisa.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haisa.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haisa.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haisa.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haisa.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haisa.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haisa.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haisa.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haisa.wordpress.com/104/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haisa.wordpress.com&blog=801864&post=104&subd=haisa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haisa.wordpress.com/2008/07/10/jurnalisme-sastrawi-dan-etnografi-awam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb571dc20662e091bb5a8429c979f9e3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haisa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Agelaste</title>
		<link>http://haisa.wordpress.com/2008/06/05/agelaste/</link>
		<comments>http://haisa.wordpress.com/2008/06/05/agelaste/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2008 05:51:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tatap]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haisa.wordpress.com/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[
Pernahkah anda punya seorang teman, kenalan, sanak, tetangga, atau siapapun juga, yang tak senang tertawa? Orang itu, dalam situasi apapun, tak sudi tertawa. Ia memilih menghindar dari tawa dan menutup, bukan saja mulutnya, tapi juga keinginanannya untuk tertawa. Jika suatu kali ia terjebak dalam hiruk pikuk tawa, di mana di depannya berlangsung suatu lintasan peristiwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haisa.wordpress.com&blog=801864&post=102&subd=haisa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://haisa.files.wordpress.com/2008/06/milan.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-103" src="http://haisa.files.wordpress.com/2008/06/milan.jpg?w=128&#038;h=96" alt="" width="128" height="96" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Pernahkah anda punya seorang teman, kenalan, sanak, tetangga, atau siapapun juga, yang tak senang tertawa? Orang itu, dalam situasi apapun, tak sudi tertawa. Ia memilih menghindar dari tawa dan menutup, bukan saja mulutnya, tapi juga keinginanannya untuk tertawa. Jika suatu kali ia terjebak dalam hiruk pikuk tawa, di mana di depannya berlangsung suatu lintasan peristiwa yang semestinya bisa menghadirkan gelak tawa, ia tetap tak akan tertawa. Ia bahkan mungkin merasa bersalah berada –meski secara kebetulan— dalam arena yang menimbulkan tawa itu. Lalu, ia akan mencipta alibi dan mencari permakluman maaf untuk kesalahan yang baginya sangat besar itu. Pada tingkatan tertentu, ia bukan lagi tak ingin tertawa, tapi memang sudah tak bisa lagi tertawa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> <span id="more-102"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Bukan. Yang saya maksud bukan karena orang itu sedang terkena sakit gigi. Ini bisa saja, tapi itu pasti berlangsung sangat sementara. Sesembuh dari sakit giginya, ia bisa jadi akan tertawa penuh gelak menengok lagi ironi dirinya ketika sakit gigi: sebuah serangan kecil sebenarnya tapi ia rasakan saat itu seperti badai yang maha besarnya. Sekali lagi, bukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Anda akan jawab tegas: tidak pernah. Dan orang seperti itu mungkin tidak akan pernah ada, lanjut anda. Ya. Lukisan orang yang tak bisa tertawa seperti di atas mungkin tak pernah seutuhnya ada. Tapi semburat karakter dan ciri orang seperti itu, bagi novelis Ceko Milan Kundera, akan selalu ada. Itulah <em>agelaste</em>: sebuah kata Yunani yang artinya seseorang yang tak bisa tertawa, yang tak memilki <em>sense of humor</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Milan Kundera mengambil neologisme itu dari novelis Prancis, Francois Rabelais. Rabelais, menurut Kundera, membenci para agelaste. Ia takut pada mereka. Ia mengeluh para agelaste telah memperlakukannya tidak manusiawi sehingga ia hampir saja berhenti menulis –dan sudah barang tentu berpikir— untuk selamanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Untuk memahami agelaste-agelaste ini mungkin para aparat keamanan negara bisa jadi umpama. Pernahkah anda melihat tentara atau polisi yang tertawa ketika mereka sedang bertugas dengan uniformnya yang gagah? Saya tak pernah, sungguh. Entah kalau anda. Mengapa? Mungkin karena tawa diyakini menghilangkan wibawa. Dan terutama karena tawa membuat apa yang seharusnya mereka awasi tak sepenuhnya jelas lagi untuk mereka awasi, apa yang <span> </span>seharusnya mereka amankan tak sepenuhnya lagi tampak untuk mereka amankan, dan akhirnya apa yang seharusnya mereka jaga tak sepenuhnya penting lagi untuk dijaga. Semua telah menjadi kabur dan cair, dan itu akibat tawa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Sebuah pepatah Yahudi mengatakan: Manusia berpikir, Tuhan tertawa. Manusia menelusur dan melacak sampai ke dasar yang dasar dan ujung yang ujung untuk merumuskan kebenaran, tapi persis ketika mereka merasa ‘kebenaran’ yang mereka ikhtiarkan itu ketemu pada saat itu jugalah kebenaran itu menciut dan mengerucut. Kebenaran ternyata demikian cair, ia bisa meleleh ke segala arah. Kebenaran juga banyak, ia terpancar di banyak tempat. Upaya manusia mencari kebenaran itu lalu seperti sebuah lelucon. Meski begitu kebenaran tetap harus dicari, tapi tidak untuk dimonopoli, dipeluk hidup-mati. Ia hanya perlu diyakini dan dijalankan dengan sikap rendah hati.<span>  </span><span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Tapi para agelaste tidak setuju dengan pandangan demikian. Bagi mereka, kebenaran itu jelas dan tegas. Kebenaran seperti benda konkrit yang bisa diraba dan dipegangi dengan tangan. Tidak ada posisi abu-abu: kemungkinan sama benar dan sama salahnya. Ia juga suatu yang satu dan padu. Tak ada tawar-menawar terhadapnya. Ia sesuatu yang serius, tidak main-main, dan tak bisa ditertawakan. Keyakinan terhadap kebenaran seperti ini pada akhirnya mendorong dan mewajibkan mereka untuk menegakkan kebenaran itu sepenuh hati dan jiwa. Dengan cara apapun juga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"><span>   </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Para agelaste tentu bukan milik zaman Rabelais saja. Ia ada dan lahir di setiap zaman dan tempat. <span> </span>Para agelaste bersarang di kepala atau di kelompok mereka yang punya tendensi untuk memonopoli suatu kebenaran. Mereka yang merasa kebenaran milik mereka, dari mereka, dan untuk mereka. Bisa jadi mereka ada di sekitar anda, mengawasi gerak-gerik anda, bahkan juga pikiran anda. Tentu, mereka akan segera meluruskan jika tingkah dan pikiran anda itu dianggap bengkok </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;" lang="IN">Kini, masihkah anda yakin bahwa anda tak pernah punya teman, kenalan, sanak, tetangga, atau siapapun juga di sekitar anda, yang tak suka, bahkan tak bisa, tertawa? </span></p>
<p> </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/haisa.wordpress.com/102/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/haisa.wordpress.com/102/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haisa.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haisa.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haisa.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haisa.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haisa.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haisa.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haisa.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haisa.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haisa.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haisa.wordpress.com/102/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haisa.wordpress.com&blog=801864&post=102&subd=haisa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haisa.wordpress.com/2008/06/05/agelaste/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb571dc20662e091bb5a8429c979f9e3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haisa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://haisa.files.wordpress.com/2008/06/milan.jpg?w=128" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Terkenang Pada Laksmi</title>
		<link>http://haisa.wordpress.com/2008/04/24/terkenang-pada-laksmi/</link>
		<comments>http://haisa.wordpress.com/2008/04/24/terkenang-pada-laksmi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 09:32:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haisa.wordpress.com/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[
Setiap kali pulang selalu saja tumbuh perasaan yang sentimentil. Dan perasaan itu terasa makin menguat ketika aku membuka pintu pagar rumah. Suasana sudah cukup malam. Dan seperti biasa di setiap musim kemarau ini Yogyakarta demikian sangat terasa dingin. Tapi lampu ruang tamu kulihat masih terang benderang. Rupanya bapak masih ada tamu. 
 
Aku mengucap salam. Bapak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haisa.wordpress.com&blog=801864&post=101&subd=haisa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://haisa.files.wordpress.com/2008/04/tarian-okti.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-100" src="http://haisa.files.wordpress.com/2008/04/tarian-okti.jpg?w=300&#038;h=199" alt="Tarian Okty" width="300" height="199" /></a></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Setiap kali pulang selalu saja tumbuh perasaan yang sentimentil. Dan perasaan itu terasa makin menguat ketika aku membuka pintu pagar rumah. Suasana sudah cukup malam. Dan seperti biasa di setiap musim kemarau ini Yogyakarta demikian sangat terasa dingin. Tapi lampu ruang tamu kulihat masih terang benderang. Rupanya bapak masih ada tamu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> <span id="more-101"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Aku mengucap salam. Bapak berdiri sambil menyahut salamku. Wajahnya kelihatan riang karena puteranya datang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Wualah, mas Harsa toh,” tamu bapak menyela dan ikut berdiri. Tak terlalu sulit bagiku untuk mengenalinya. Ia adalah <em>Pak Lik</em> Jono. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Ya lik, ini kebetulan ada libur sebentar,” jawabku. Setelah bersalaman dengan kedua mereka aku langsung saja masuk ke dalam untuk menemui ibu. Pak Lik Jono yang mungkin merasa kuatir ikut mengganggu kegembiraan bapakku rupanya juga langsung berpamitan pulang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Keinginanku untuk langsung mandi kuurungkan karena bapak langsung mengajakku ngobrol. “Pak lik Jono tadi ke sini membincangkan si Laksmi, anak sulungnya itu,” kata bapak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Memang kenapa?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Lha Laksmi itu sampai sekarang belum nikah. Padahal adiknya sudah nikah.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Lho kok malah adiknya duluan. Apa adiknya itu sudah selesai kuliah juga?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Aku rupanya lebih terkejut mendengar penjelasan bapak soal adiknya yang nikah duluan daripada soal Laksmi yang belum nikah. Karena seingatku, Laksmi baru berusia 26-an. Usia yang menurutku masih terbilang muda. Gampang saja mengukurnya, usianya dan usiaku terpaut 10 tahun. Dulu sewaktu aku awal kuliah dia masih duduk di kelas 3 SD. Aku sering mengajaknya jalan-jalan, makan mie ayam atau bakso. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Nah, masalahnya sekarang Pak Lik-mu itu merasa kuatir kalau-kalau Laksmi tak mendapat jodoh. Padahal, kata Pak Lik-mu itu, teman-teman seangkatan Laksmi di kampungnya sudah pada nikah semua. Ia juga merasa malu karena adiknya yang laki-laki kok malah sudah duluan nikah,” sambung bapak, “jadi, Pak Lik-mu minta tolong saya kalau ada pandangan, ada laki-laki bujangan di keluarga besar kita yang masih belum punya calon, barangkali saja cocok dengan Laksmi.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Wualah pak, sekarang bukan zaman Siti Nurbaya lagi. Sudah lewat zamannya orang dijodohkan. Lagian, Dik Laksmi paling juga nggak sudi dijodohkan,” jawabku datar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Yach, saya cuma ingin cerita kok,” sahut bapak. Dan perbincangan malam itu terhenti sampai di situ.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Pagi-pagi sekali aku bangun. Setelah sarapan aku harus segera ke kantor kelurahan, kecamatan, dan kabupaten untuk mengurus surat-surat keberangkatanku ke luar negeri. Hanya hari Sabtu ini waktuku. Besok Minggu libur, dan Senin pagi aku sudah harus kembali ke Jakarta. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Birokrasi kantor di daerah ternyata tidak sesangar di Jakarta. Semua urusanku berjalan lancar. Memang segala macam surat keterangan dan berbagai fotokopian sudah aku siapkan, sehingga aku tak perlu bolak-balik ke kios fotokopi. Para pegawai kelurahan dan kecamatan rupanya juga masih kenal bahwa aku anak Pak Jemeidi, pegawai PLN kabupaten. Di kantor inilah bapak berkawan akrab dengan Pak Lik Jono, orang tua Laksmi. Mereka sama-sama pegawai PLN. Tapi Pak Lik Jono, entah mengapa, kemudian mengambil <em>peni</em>, alias pensiun dini. Lalu, dia jadi BTL, yaitu menjual jasa pemasangan instalasi listrik ke rumah-rumah atau kantor. Di samping itu ia juga berbisnis angkutan truk.<span>  </span>Dan menurut bapakku lagi, Pak Lik Jono itu banyak punya tanah. Sebagian diolah menjadi sawah, dan sebagiannya lagi dijadikan kos-kosan setelah di dekat tanahnya itu didirikan kampus terpadu sebuah universitas. Aku memanggil Pak Jono Pak Lik, karena dia memang lebih muda dari bapakku. Sebenarnya kami tidak punya hubungan keluarga sama sekali, tapi sedemikian berteman dekat dan baik justru bisa membuat orang seperti keluarga sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Meski pensiun dini, bapakku dan Pak Lik Jono tetap berteman. Masing-masingnya saling berkunjung. Mereka senang sekali berbicara politik. Dan meski keduanya hanya lulusan SMA, kalau sudah berbicara topik itu mereka sangat meyakinkan sekali, seperti kaum intelek saja. Padahal kebanyakan berita itu mereka olah dari koran dan isu-isu di warung angkringan saja. Aku sering tersenyum mendengar bagaimana mereka berbincang topik itu sampai larut malam. Aku dengar sekarang Pak Lik Jono jadi ketua BPD (Badan Perwakilan Desa). Hebat juga, pikirku, mungkin itu bagian dari hasil bincang-bincang dengan bapakku itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Pak Lik Jono sering mengajak Laksmi yang waktu itu masih kelas 3 SD sore-sore ke rumahku. Dan biar Pak Lik Jono asyik ngobrol dan tidak diganggu Laksmi, biasanya aku disuruh mengajak dia jalan-jalan. Yach aku senang-senang saja karena aku sendiri nggak punya adik perempuan. Apalagi kalau kebetulan sore-sore itu aku juga tidak punya kegiatan. Laksmi anak manis dan lucu. Pipinya montok dan rambutnya dikepang dua. Cuma kadang ia cerewet dan gampang <em>mewe</em>, tapi kalau sudah dibelikan permen dan bakso biasanya ia sudah senang dan tenang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Aku terkedut dengan lamunanku. Pukul 12 siang, menjelang dzuhur urusanku sudah beres. Aku senang sekali, karena sebelumnya aku sempat was-was kalau tidak selesai, karena itu artinya minggu depan aku harus ke Yogya lagi atau aku harus menunda kepulangan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Aku tidak ingin langsung ke rumah, karena di rumah pasti masih sepi. Bapak masih di kantor dan ibu pasti masih di pasar. Jadi kuputuskan mampir ke rumah teman kuliahku dulu saja. Ia sekarang membuka kios yang menjual asesoris, pulsa, dan HP setengah pakai. Ketemu aku di siang itu ia langsung mengajakku ke warung soto dan es kopyor, tempat yang dulu sering kami datangi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Pukul setengah 3-an barulah aku pulang ke rumah. Tapi entah mengapa pas lewat depan rumah Pak Lik Jono aku tiba-tiba kepikiran untuk mampir. Dan seperti tak terkontrol setang sepeda motorku membelok ke rumahnya. Gas sepeda motorku sengaja kutarik agak keras biar maksudku ada yang keluar. Dan tepat juga harapanku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“O, dik Harsa,” dari dalam rumah keluar Bu Lik Jono. Tak banyak yang berubah dari rautnya, kecuali bahwa sekarang ia makin tampak jauh lebih tua. Bahkan dari Pak Lik Jono sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Monggo dik, tapi ini bapak sedang ke sawah,” lanjutnya. Aku turun dari sepeda motor dan mengambil salam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Wah gak apa-apa bu lik, ini cuma mampir kok.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Iya, tadi malam pak likmu juga cerita kalau kamu sedang di Yogya.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Monggo, silahkan masuk.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Sampun lik, saya di luar saja,” jawabku sambil mengambil duduk di teras rumah yang sejuk dan berhalaman luas. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“O ya toh, monggo dinikmati.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Nggak usah repot-repot lho lik, saya barusan makan,” lanjutku lagi setelah kulihat Bu Lik Jono masuk ke dalam. Aku kuatir ia akan membuatkanku minum. Apalagi kalau teh, karena pasti manis sekali. Padahal aku tidak terlalu senang teh yang manis sekali. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Tak lama berselang, sebuah sepeda motor merah masuk ke halaman. Di atasnya seorang gadis muda dengan celana ketat dan jaket hitam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Nah, itu Laksmi,” suara bu lik tiba-tiba menyeru keluar dari dalam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Wah, mas Harsa. Apa kabar mas?” tanya perempuan yang disebut bu lik Laksmi itu sambil melepaskan helm robotnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Kabar baik dik,” jawabku agak terbata. Ya aku memang sempat pangling dan terpana. Perasaanku Laksmi kok jauh berbeda. Sekarang tubuhnya langsing dan cukup tinggi. Kalau pakai sandal karet tinggi seperti itu ia pasti lebih tinggi dari aku, pikirku. Lalu wajahnya bersih dan rambutnya diikat. Bibirnya dioles pemerah tipis bersinar. Dan kulitnya sekarang jauh lebih bersih dibanding waktu kecilnya dulu. Laksmi sekarang manis dan menarik sekali. Aku tak percaya –dan siapapun pasti tak akan percaya—gadis semanis itu belum punya pacar. Pasti banyak kumbang yang mendekati bunga ini pikirku. Terakhir aku bertemu dia ketika kelas 2 SMA. Ketika itu ia kelihatan masih sangat <em>ndeso</em> sekali. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Gimana mas, sudah lama nih aku gak diajak makan bakso lagi,” tanyanya sambil menyalamiku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Ya, boleh…boleh…” Rupanya dia masih ingat ketika kecil dulu sering kuajak makan bakso.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Dan tak berapa lama kemudian kami sudah meluncur di jalan Solo, ikut dalam arus ribuan motor dan mobil yang kini memenuhi jalan-jalan Yogya. Telah lama memang aku mendengar bahwa Yogya sudah tak seperti dulu lagi. Kini polusi dan kemacetan ada di mana-mana dan kota dikepung mal-mal dan supermarket-supermarket. Kami pakai motornya, yang katanya kreditan, karena motor tuaku sudah tak memadai lagi membonceng cewek semanis dia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Sekarang di Yogya ada mal baru lo, mas, Mal Ambarukmo. Ada bioskop 21-nya,” kata Dik Laksmi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“O, ya,” jawabku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Gimana kalau kita nonton dulu mas. Aku kan belum pernah nonton di bioskop 21,” lanjutnya lagi manja. Aku mengiyakan tanda setuju.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Aku percaya Dik Laksmi memang belum pernah nonton di bioskop 21. Sejak hampir delapan tahunan yang lalu di Yogya memang tidak ada lagi bioskop bagus. Bioskop-bioskop ini bangkrut karena kalah bersaing dengan persewaan dan penjualan VCD bajakan yang menjamur saat itu. Menyusul itu bioskop Empire 21 dan Regent di jalan Solo juga terbakar, entah mengapa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Pokoknya yang bayar aku saja,” lanjutnya lagi. “Kan mas belum pernah menikmati uang gajiku.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Wah hebat kamu sekarang sudah kerja ya. Tapi begini saja, yang bayar nonton aku tapi nanti yang bayar makan baru Dik Laksmi.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Ok deh,” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Lalu kami pun menonton <em>Mission Imposible II</em>. Kupilih film ini karena kubilang aktornya Tom Cruise itu ganteng. Menonton bioskop seperti ini mengingatkanku pada masa-masa mahasiswaku dulu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Sepulang nonton Dik Laksmi mengajak mampir ke rumah bu de-nya yang rumahnya kebetulan tak jauh dari Mal Ambarukmo. “Sudah lama aku gak main ke rumahnya,” katanya. Aku sendiri baru tahu kalau dia punya bude di situ. Lucunya kepada bu de nya itu, ia mengenalkanku sebagai bos di kantornya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Memangnya dik Laksmi kerja di mana,”<span>  </span>tanyaku ketika kami pulang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Aku kerja jadi sekretaris di sebuah majalah seni, mas!” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Majalah apa?” tanyaku penasaran, karena sebagai penulis aku mestinya tahu terbitan apapun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Majalah <em>Genta.</em>” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Ya Tuhan, itu majalah yang kukenal sekali. Beberapa temanku bekerja di sana,” terangku setengah terkejut. Aku sama sekali tak memperhatikan bahwa yang jadi sekretaris redaksi di majalah itu adikku yang manis ini. Kami akhirnya saling bertukar cerita dan tertawa-tawa. Dunia memang hanya sebesar daun pisang. Beberapa temannya kini ternyata adalah temanku dulu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Kalau mas Harsa kerja apa?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Aku nggak punya kerja tetap. Sehari-hari aku hanya menulis, meneliti, mengedit, dan memberikan pelatihan,” jawabku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Wah, enak dong, berarti sering keliling daerah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Ya, lumayan, tapi duitnya nggak banyak.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Tapi omong-omong kok bisa kerja di Genta?”<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Nggak tahulah mas kenapa. Waktu itu aku hanya melamar saja. E…kok diterima,” terangnya. Ya, aku yakin itu dunia baru baginya. Dunia kerja yang mungkin nggak pernah dibayangkannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Berapa kali aku melamar jadi PNS dan pegawai bank, berapa kali ikut tes, nggak pernah diterima-terima e mas,” lanjutnya lagi dengan nada yang agak nelangsa. “Ya, jadi kubetah-betahkanlah kerja di situ. Untungnya bosku itu baik hati. Ia nggak pernah melarangku melamar kerja ke tempat lain dan selalu kasih semangat aku.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Aku hanya tersenyum mendengar ceritanya. Dalam hatiku bilang, mana ada laki-laki yang nggak baik hati sama gadis yang polos dan manis seperti ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Ya bagaimanapun selama kamu belum diterima bekerja di tempat lain, kamu harus tetap loyal pada tempat kerja yang ada. Dan sabar saja, mungkin suatu saat nanti kamu diterima jadi PNS atau pegawai bank.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Nggak diterima jadi PNS <em>ya ra papa</em>, asal jadi istri PNS,” jawabnya bercanda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Motor meluncur perlahan. Obrolan kami semakin hangat saja. Mungkin karena kami lama tak pernah bertemu. Mungkin karena aku nggak punya adik perempuan. Dan Dik Laksmi juga nggak punya kakak laki-laki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Karena aku yang bayar, maka mas lah yang milih tempat makannya.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Wah aku sudah lama tak tahu peta warung makan di Yogya. Jadi kamu sajalah dik yang milih.” Aku mencoba mengelak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Ya pakai peta lama juga gak papa kok,” jawabnya agak ngeyel. Aku memutar-mutar ingatanku sejenak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Bagaimana kalau nasi goreng depan keraton?” kataku tiba-tiba. “Sudah lama aku nggak makan di sana.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Ya boleh,…aku tahu tempat itu. Bapak ibu juga sering ngajak makan kami di situ,” sahutnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Warung nasi goreng yang dulu biasanya ramai itu tampak sepi. Mungkin karena suasana malam yang begitu dingin. Serombongan pengamen menghampiri kami. Dik Laksmi minta dinyanyikan lagu “Serenada” tapi para pengamen itu bilang tidak menguasai. Sambil menunggu suguhan kami lalu menikmati lagu “Aku Ingin” dari Dewa yang tadi diminta dik Laksmi sebagai ganti “Serenada” itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Ganteng kan Tom Cruise?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Iya sih, tapi lebih ganteng Brandon Routh yang jadi Superman itu.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Hhm masa!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Beneran mas, nanti kalau dah main di sini aku mau nonton, ayo mas nonton bareng lagi!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Wah berarti aku harus pulang lagi dong.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Ya gak papa kan!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span> </span>“Ini kan malam Minggu dik. Apa nggak ada yang cari dan ngapeli nanti,” aku mencoba mengalihkan pembicaran. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Wualah mas, nggak ada. Nggak ada yang mau,” katanya sambil tersenyum. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Setelah dulu pacaran zaman SMA sampai sekarang aku nggak pernah pacaran lagi,” jelasnya polos. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Aku merasa bersalah mengingatkannya pada kenangan masa SMA-nya. Aku tahu dia merasa agak sakit hati karena hanya merasa diperalat oleh cowok itu. Menurut cerita bapaknya, uang jajannya banyak habis hanya untuk mentraktir cowok itu. Aku sendiri waktu itu heran mengapa kok Dik Laksmi bisa terlena segampang itu. Tapi aku selalu bilang padanya, lupakan dan anggap itu kenangan yang indah saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Ah masa. Atau orangnya mungkin jauh di luar kota?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Nggak mas, sungguh.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Masa di kantor juga nggak ada sih yang masih singel.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Wah di kantor cowoknya hampir semua sudah pada nikah. Sudah pada beranak lagi,” jawabnya tersenyum. “Kecuali selingkuh….ha….ha…ha…tapi sori saja, orang-orangnya gak ada yang ganteng <em>tur kere-kere</em> lagi,” lanjutnya sambil tertawa. Dan aku pun ikut tertawa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Sebenarnya ada sih yang mau, mas. Tapi kok rasanya belum cocok ya.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Siapa saja, boleh donk diceritakan!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Ya, ada orang Sumatera. Tidak sarjana, kerja jadi karyawan sebuah perusahaan pemasangan jasa internet. Orangnya gak terlalu menarik. Jadi ia sudah ku<em>delete</em> dari pertimbanganku,” jawabnya senyum-senyum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Dia masih sering SMS aku. Tapi aku nggak pedulikan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Lalu, siapa lagi?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Seorang PNS.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Lha itukan pas,” sahutku. “Kamu kan pingin suami PNS?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Namanya Sigit. Tapi usianya terlalu tua, 37 tahun, terpaut 11 tahun dengan aku.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Wah, gak masalah. Nanti juga seimbang. Ingat lo, perempuan itu cepat kelihatan tua,” kataku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Iya sih, tapi aku merasa belum cocok dengan keadaan keluarganya. Ia punya delapan bersaudara, enam di antaranya belum pada menikah dan hidup satu rumah dengan dia.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Wah ya memang tidak terlalu mendukung.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Terus?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Yang baru-baru ini sering ajak aku keluar makan. Namanya Ruli. Anak orang kaya. Motornya gonta-ganti dan kadang bahkan pakai mobil. Dia juga senang kasih hadiah aku yang mahal-mahal dan sering traktir di restoran mahal. Ia sebenarnya teman adikku di klub pencita motor gede. Bapak ibu sudah kenal dia, karena itulah kami bisa keluar malam. Hampir setiap malam malah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Lalu, masalahnya apa? Jelek ya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“O gak, cukupan deh. Tapi masalahnya dia lebih muda dari aku!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Lha kan nggak apa-apa, kan ibumu juga lebih muda dari bapakmu. Teman-temanku juga banyak yang lebih tua istrinya, gak papa tuh, yang penting orangnya dewasa.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Nah itulah problemnya. Dia sangat kekanak-kanakkan. Padahal kan sebagai anak tertua, aku butuh suami yang bisa ngemong aku dan keluargaku. Masa aku yang ngemong dia.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Benar juga sih,” aku berkata lirih sambil manggut-manggut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Lagian dia sudah kuanggap adik kok selama ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Wah itu bukan alasan yang kuat. <em>Wong</em> dia bukan keluargamu sedarah kok,” jawabku mematahkan alasannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Ia tampak tersipu dengan perkataanku yang terakhir itu. Aku lihat ada sedikit keraguan di matanya, tapi pada saat yang sama kulihat juga ada warna bahagia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Tapi anaknya ganteng dan kaya kan?” tanyaku menggoda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Iya sih, tapi orangnya boros dan agak ngeyel. Aku kuatir ada kesenjangan berpikir nanti. Dia juga cuma tamat SLTA kok.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Tapi mungkin kamu bisa mengubah dia!” aku coba memberi semangat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Entahlah, aku juga belum tahu, apa dia senang aku, atau hanya sekadar main-main saja.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Wah, kalau sudah datang hampir tiap hari. Kasih hadiah yang mahal dan traktir ke sana-sini. Itu sudah jelas, dia senang kamu. Senang itu nggak perlu dinyatakan secara lisan, secara verbal. Secara simbolik juga bisa, kok.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Iya sih mas. Tapi aku tetap merasa ragu. Masih banyak kesenjangannya. Pokoknya aku masih bingung deh.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Awan kelabu seperti merona di matanya yang sayu. Antara pesimisme dan optimisme berayun tarik-menarik. Ia jadi kelihatan muram. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Ya memang, memilih teman hidup itu tidak gampang, dik. Karena ia jadi teman sepanjang kita hidup,” aku mencoba menenangkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Karena itu memang harus dipertimbangkan secara mendalam. Mungkin sabar sedikit juga perlu. Lagi pula kan kau baru 26 tahun. Siapa tahu akan datang nanti Arjuna yang betul-betul kau anggap pas,” lanjutku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Suasana jadi sepi sejenak. Dik Laksmi seperti tenggelam dalam pikirannya. Wajahnya sayu dalam pantulan temaram lampu warung. Dik Laksmi sungguh manis. Karena itu, tidak seperti kekuatiran bapaknya, sebenarnya banyak yang naksir dia. Ia punya banyak pilihan. Ia bisa menikah kapan pun kalau mau. Dan sejak melihat penampilannya, aku sudah yakin bahwa banyak yang menyenanginya. Yang diceritakannya padaku tentu hanya sebagian dari cowok-cowok itu. Jadi, semua hanya soal waktu saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Lalu<span>  </span>aku pun mencoba menyambung pembicaraan dengan bercerita bahwa bapaknya sangat mengkuatirkannya kalau-kalau dia tidak dapat jodoh. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Wah, bapak itu<span>  </span><em>ngisin-ngisini</em>. Selalu saja begitu terutama kalau ada undangan nikah anak temannya itu.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Pernah lo mas, saya mau dinikahkan dengan teman bapak yang umurnya sudah 50 tahun.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Masa!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Iya, hampir saja kuterima waktu itu. Orangnya sih mapan secara ekonomi. Tapi kan masa aku menikah dengan orang yang seusia bapak. Ibu sering menangis dan aku sedih luar biasa. Sampai-sampai waktu itu aku berpikir apa bapak punya utang dengan Pak Pras, lelaki tua 50 tahun itu. Tapi ibu bilang, tidak. Entah mengapa, rencana bapak itu akhirnya nggak jadi. Memang bapak itu kumat-kumatan kok,” katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Iya kok bisa ya,” tanyaku ikut heran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Berarti tadi malam itu bapak kumat lagi. Memang sore kemarin ada undangan pernikahan anak temannya. Mungkin dia ingat lagi anak gadisnya yang belum nikah,” katanya ketawa seolah sudah terbiasa dengan perilaku bapaknya itu. Kami pun tertawa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Malam terasa semakin larut. Dingin makin terasa menusuk ke tubuh. Jaket yang membungkus tubuhku terasa tak berarti apa-apa. Aku segera mengajak Dik Laksmi pulang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Sampai di rumah, aku bilang secara bercanda pada ibunya: “Lik, ini Dik Laksmi aku kembalikan. Nggak kurang satu apapun. Boleh diperiksa.” Aku memang biasa bercanda, karena sudah seperti dianggap keluarga sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Setelah dua hari di Jakarta aku dapat SMS dari Dik Laksmi. Isinya: “Ada cerita lucu<span>  </span>mas. Bu de ku yang kemarin kita datangi itu bilang sama ibu, kalau bosku itu ganteng dan masih muda ke ibuku. He…he….Kayaknya cocok dengan Dik Laksmi.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Aku menjawab singkat saja: “Wah aku jadi tersanjung, dik. Salam ke ibu!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Tentu saja aku jadi tersanjung. Pertama, karena dipasangkan dengan Dik Laksmi yang manis dan ayu itu. Kedua, karena aku masih dianggap muda dan ganteng.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Tiba-tiba aku membayangkan wajah Dik Laksmi. Bayangannya masa kecil dengan rambut yang masih dikepang bergayutan dengan wajahnya yang kulihat kemarin. Aku bahkan ingat ketika menggendong tubuhnya ketika dia tidak bisa melihat suatu pertunjukan <em>mbarang</em> topeng monyet. Bayangan ini bertabrakan maut dengan wajah dewasa dan tenang yang kulihat di warung nasi goreng malam itu. Ibarat bunga, sekarang Dik Laksmi sedang mekar-mekarnya dan ibarat buah ia sedang ranum-ranumnya.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Dalam hatiku bertanya, apakah Dik Laksmi masih menganggap aku masnya yang dulu mengajaknya keliling makan bakso dan membelikan balon? Tidakkah semestinya ia juga menganggapku sebagai pria dewasa? Toh, kami juga bukan keluarga sedarah. Dalam bayanganku, Laksmi yang dulu, yang sebagai adik itu, adalah perempuan SD dengan rambut dikepang dua. Sementara Dik Laksmi yang ini adalah seorang gadis dewasa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Pikiran nakal ini muncul karena sebelum aku balik ke Jakarta, bapak mnyentilku: “Mengapa tidak kau saja yang mengambil Dik Laksmi sebagai istri?” Aku menjawab: “Dik Laksmi nggak mungkin mau, pak. Dia pasti cari yang lebih muda, ganteng, dan mapan.” Bapak terdiam. Sudah lama ia ingin agar aku tinggal di Yogya saja dan ia ingin itu menjadi salah satu cara. Tapi sebenarnya bukan itu masalahnya. Bapak ibu dan mungkin juga Dik Laksmi tidak tahu kalau di Jakarta aku sudah berkeluarga. Kalau seandainya aku masih bujangan, betapa bodohnya aku menolak tawaran itu. Dengan catatan, itu kalau Dik Laksmi juga bersedia menerima. Tapi apa boleh buat, keretaku telah jauh berangkat. Bahkan kini telah melewati petang dan memasuki senja.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Maka kini yang aku bisa hanya terkenang pada Dik Laksmi!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span> </span></span></p>
<p> </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/haisa.wordpress.com/101/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/haisa.wordpress.com/101/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haisa.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haisa.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haisa.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haisa.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haisa.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haisa.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haisa.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haisa.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haisa.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haisa.wordpress.com/101/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haisa.wordpress.com&blog=801864&post=101&subd=haisa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haisa.wordpress.com/2008/04/24/terkenang-pada-laksmi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb571dc20662e091bb5a8429c979f9e3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haisa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://haisa.files.wordpress.com/2008/04/tarian-okti.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Tarian Okty</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Abu Nuwas</title>
		<link>http://haisa.wordpress.com/2008/03/29/abu-nuwas/</link>
		<comments>http://haisa.wordpress.com/2008/03/29/abu-nuwas/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 04:37:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tatap]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haisa.wordpress.com/2008/03/29/abu-nuwas/</guid>
		<description><![CDATA[
Dari dulu saya sudah menganggap tokoh jenaka ‘Abu Nuwas’ itu ada, dan hebatnya, tokoh itu berasal dari kampung saya sendiri. Tersebab dulu waktu saya bocah ada seorang laki-laki yang selalu berpakaian aneh: berserban putih, baju koko putih lengan panjang, dan pantalon katun yang kedodoran. Bagi kami, pakaiannya itu sangat lucu, dan memang ia sering mengundang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haisa.wordpress.com&blog=801864&post=98&subd=haisa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a title="abu nuwas" href="http://haisa.files.wordpress.com/2008/03/abunuwas.gif"><img src="http://haisa.files.wordpress.com/2008/03/abunuwas.thumbnail.gif" alt="abu nuwas" /></a></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Dari dulu saya sudah menganggap tokoh jenaka ‘Abu Nuwas’ itu ada, dan hebatnya, tokoh itu berasal dari kampung saya sendiri. Tersebab dulu waktu saya bocah ada seorang laki-laki yang selalu berpakaian aneh: berserban putih, baju koko putih lengan panjang, dan pantalon katun yang kedodoran. Bagi kami, pakaiannya itu sangat lucu, dan memang ia sering mengundang tawa ketika berbicara, bercerita, dan bernyanyi riang. Karena jenakanya itu, ia lalu selalu menjadi tontonan banyak orang, lebih-lebih kami anak-anak. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Bahwa tokoh bernama Abu Nuwas itu ada, dan bahwa ia jenaka, saya tidaklah keliru. Tapi kalau ia berasal dari kampung saya, sudah barang tentu salah besar. <span id="more-98"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Nama lengkap tokoh ini sebenarnya adalah Hasan Ibn Hani. Ia hidup di lingkungan istana Abbasiyah di Baghdad sebagai pujangga istana. Meski tinggal di lingkungan istana, ia tak sungkan dan tak takut mengkritik penguasa istana dan juga penguasa agama. Sebagai seniman, kehidupannya sangat eksentrik. Kegemaran utamanya adalah minum <em>khamar </em>(tuak), karena itu ia disebut juga sebagai ‘penyair khamriyyat.’ Ia digambarkan memang sering melanggar ajaran agama (<em>syariat</em>), mengolok-olok haji dan meremehkan shalat. Dan jangan kaget, ia juga bercinta dengan perempuan dan sekaligus juga laki-laki. </span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Tingkahnya boleh jadi merupakan kritik terhadap zamannya. Saat itu, ortodoksi keagamaan dan primordialisme menguat. Padahal Abbasiyah yang demikian luas wilayahnya sangat plural, bukan saja dalam konteks lingkungan internal Islam sendiri, tapi komunitas-komunitas non-muslim juga tersebar dan bertumbuhan. Abu Nuwas menentang diskriminasi terhadap komunitas non-muslim dan non-Arab. Tetapi beberapa mereka yang dianggap ‘kritis’ terhadap hegemoni ajaran resmi ini kemudian dituduh <em>zindik</em> –sebuah penghukuman teologis yang statusnya hampir setara dengan ‘<em>kafir</em>,’ diadili, dan bahkan sebagiannya ada yang dihukum gantung. <span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Karena pengabaiannya terhadap ajaran agama, ia juga sempat dituduh para agamawan sebagai <em>zindik</em>. Menariknya, Abu Nuwas selalu lolos dari pengadilan ini. Mengapa? Salah satu sebabnya mungkin karena ia tetap setia sebagai seorang muslim monoteistis. Alasan lain, ia mengungkapkan kritiknya melalui lelucon, anekdot, dan olok-olok yang mengundang tawa. Tingkahnya, dalam banyak hal, boleh dibilang konyol. Para agamawan menganggapnya sebagai ‘pelawak’ saja. Memang awalnya gelar <em>zindik</em> lebih bersifat budaya saja dan dialamatkan ke mereka yang senang main-main, berkelakar, dan pesta-pesta—yang menjadi ciri kosmopolitanisme dan hibriditas kehidupan Abbasiyyah zaman itu. Tetapi belakangan zindik dibawa ke level agama. Aliran-aliran kepercayaan, sekte-sekte Majusi, bahkan penganut Zoroaster dan Budha, serta yang lebih mencolok –mereka yang mengkritik ajaran resmi— juga dituduh zindik. </span></span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Di Indonesia, yang sampai kepada kita adalah citra Abu Nuwas sebagai pelawak. Tidak aneh, kalau ada seseorang yang lucu, penuh anekdot, humoris, dan juga eksentrik –seperti sosok di kampung saya itu— digelari dan dihubung-hubungkan sebagai ‘Abu Nuwas.’ Syahdan, jenakanya terbawa hingga matinya. Makamnya, dari depan tampak di kelilingi dinding tinggi dan tebal, dengan pintu bagian depannya bergembok besar. Hampir-hampir tak ada orang yang bisa memasukinya. Tapi, bagian belakangnya justru tanpa dinding sama sekali. Dari belakang itulah, orang yang ingin berziarah bisa masuk.<span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Abu Nuwas memang terlanjur dianggap dan menjadi gambaran orang yang tak serius, main-main, dan penuh lelucon. Sisi lain sosok ini, sebagai pemikir dan teolog, hampir-hampir terabaikan. Padahal kritik-kritiknya terhadap ortodoksi keagamaan, telah membentuk apa yang disebut sebagai ‘teologi negatif,’ demikian ungkap Moh. Hanif Anwari dalam <em>Teologi Negatif</em>, yang merupakan kajian pemikiran tokoh ini. Teologi negatif mengajarkan bahwa manusia hanya mengetahui Tuhan dengan mengetahui siapa-siapa dan apa-apa yang bukan-Tuhan.</span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Mungkin tak banyak orang yang tahu bahwa salah satu syair Abu Nuwas yang jenaka sangat populer di sini. Dulu di pesantren saya, syair dalam Bahasa Arab ini dinyanyikan sehabis pembacaan wirid shalat Shubuh. Saya pernah dengar kabar, syair juga ini dinyanyikan di Pesantren Gontor, Ponorogo. Di bawah rubrik ‘musik Islami,’ syair ini direproduksi dengan berbagai rima oleh Haddad Alwi, Emha Ainun Nadjib, bahkan Arman Maulana (Gigi) dan Ungu, serta beberapa lagi, dalam sejumlah rekaman, baik dalam bahasa Arabnya, Jawa, dan juga Indonesia. Syairnya berbunyi begini: </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></em></p>
<p><em></em><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Tuhanku, aku tak layak berada di firdaus-Mu, tapi</span></em></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><em>Aku juga tak kuasa berada di neraka-Mu</em></span></span></p>
<p></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><em>Karena itu, anugerahkan taubat dan ampunkan dosa-dosaku</em></span></p>
<p><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Sungguh Engkau penerima taubat&#8230;</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></em></p>
<p> </p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Penyair yang patungnya tegak berdiri hingga sekarang kota di Baghdad ini, dan di akhir hidupnya banyak menulis puisi zuhud ini, tampak demikian akrab dan bahkan seperti terkesan bercanda saja dengan Tuhan. Ia tahu diri tak pantas untuk masuk sorga, namun ia sadar juga tak akan kuat menghuni neraka. Maka, hanya pengampunan yang memberinya kunci menuju sorga. Untuk apa? Ya mungkin, untuk mabuk-mabuk dan berpesta lagi seperti dulu waktu mudanya. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><em><strong>Dimuat dalam Majalah Gong, ed. 99, Maret 2008</strong> <span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span> </span></span></em></span></p>
<p></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </p>
<p></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/haisa.wordpress.com/98/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/haisa.wordpress.com/98/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haisa.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haisa.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haisa.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haisa.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haisa.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haisa.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haisa.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haisa.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haisa.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haisa.wordpress.com/98/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haisa.wordpress.com&blog=801864&post=98&subd=haisa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haisa.wordpress.com/2008/03/29/abu-nuwas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb571dc20662e091bb5a8429c979f9e3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haisa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://haisa.files.wordpress.com/2008/03/abunuwas.thumbnail.gif" medium="image">
			<media:title type="html">abu nuwas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SMS-SMS Lawan Soeharto</title>
		<link>http://haisa.wordpress.com/2008/02/01/sms-sms-lawan-soeharto/</link>
		<comments>http://haisa.wordpress.com/2008/02/01/sms-sms-lawan-soeharto/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 07:10:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gerundelan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haisa.wordpress.com/2008/02/01/sms-sms-lawan-soeharto/</guid>
		<description><![CDATA[
Sudah jelas, Soeharto mempunyai kawan sekaligus lawan. Kedua kelompok ini, pengagum dan pembencinya, ternyata ada di sekitar saya. Mungkin juga ada di sekitar Anda. Mereka bisa tetangga, teman sekantor, famili dekat, bekas teman sekolah, dan lainnya.  
Sejak Soeharto sakit, ponsel saya rutin menerima SMS dari seorang teman yang rupanya pembencinya. Ada SMS yang lucu dan ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haisa.wordpress.com&blog=801864&post=96&subd=haisa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://haisa.files.wordpress.com/2008/02/images-harto21.jpg" title="images-harto21.jpg"><img src="http://haisa.files.wordpress.com/2008/02/images-harto21.thumbnail.jpg" alt="images-harto21.jpg" /></a></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Sudah jelas, Soeharto mempunyai kawan sekaligus lawan. Kedua kelompok ini, pengagum dan pembencinya, ternyata ada di sekitar saya. Mungkin juga ada di sekitar Anda. Mereka bisa tetangga, teman sekantor, famili dekat, bekas teman sekolah, dan lainnya.</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></p>
<p>Sejak Soeharto sakit, ponsel saya rutin menerima SMS dari seorang teman yang rupanya pembencinya. Ada SMS yang lucu dan ada yang kasar sekali. Meski saya tak pernah membalasnya, SMS itu terus saja mampir. Sebagai balasannya saya ingin membagi sebagiannya di sini. SMS, seperti rumor, beredar luas tak terkontrol, jadi bisa saja sebagiannya sudah anda baca. Saya mohon maaf untuk hal ini. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></p>
<p>Pada hari-hari pertama sakitnya, ponsel saya menerima SMS dari teman itu seperti ini: “Gmna ya, dlu P Harto mlrang kita-kita (bc: mahasiswa) kritis, e&#8230;skrg malah dy sendr yg kritis&#8230;hehehe.”</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></p>
<p>Ketika sakit berjalan beberapa hari, SMS lain datang dengan bunyi seperti ini: “Menurut Tim Dokter, Harto mengalami kegagalan multiorgan. Jalan keluarnya adalah: dihibur dengan permainan organ tunggal.”</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></p>
<p>Saya menerima lebih dari 25 SMS yang lucu dan kasar dari hanya satu orang. Tentu tak bisa semua saya tuliskan di sini, lebih-lebih yang kasar, mungkin tak elok sekali. Sampai sekarang pun, setelah tiga hari Soeharto meninggal, ia masih kirim SMS. Yang ini saya terima tadi malam: “Ternyata Astana Giribangun, tanahnya masih milik Perum Perhutani Lawu Utara. Soeharto mati saja masih korupsi tanah!&#8230;” </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></p>
<p>Anda mungkin juga bisa berbagi SMS-SMS seperti ini, baik para pembenci maupun pengagumnya! <span> </span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></p>
<p>Tulisan ini dan beberapa komentar pembaca bisa diakses juga di http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=6241<span>  </span><span>  </span><span> </span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/haisa.wordpress.com/96/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/haisa.wordpress.com/96/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haisa.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haisa.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haisa.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haisa.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haisa.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haisa.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haisa.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haisa.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haisa.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haisa.wordpress.com/96/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haisa.wordpress.com&blog=801864&post=96&subd=haisa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haisa.wordpress.com/2008/02/01/sms-sms-lawan-soeharto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb571dc20662e091bb5a8429c979f9e3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haisa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://haisa.files.wordpress.com/2008/02/images-harto21.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">images-harto21.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>