August 7, 2008

“Nagabonar,” satu dari sedikit film komedi Indonesia yang bermutu dikenang para penontonnya di antaranya karena ungkapan, “Sudah kubilang kau, berhentilah berpikir!” Ungkapan yang diekspresikan tokoh Nagabonar dengan dialek Batak dan terus diulang sepanjang film itu meninggalkan pesan yang menarik.
Dalam suasana genting dan mendesak, seperti situasi perang dalam film tersebut, ‘berpikir’ –atau lebih lunak, berpikir yang terlalu lama— adalah tindakan yang boros, tidak efisien, dan juga tidak efektif. Berpikir jadi suatu yang negatif, yang mengguratkan kesan lamban dan juga dalam banyak hal, pengecut. Yang diperlukan dengan segera adalah tindakan yang cepat dan praktis, yang langsung mengarah pada penyelesaian masalah. Soal hasil dan akibat nanti urusan belakang.
Tapi, adakah tindakan yang betul-betul tidak dilandasi pemikiran dan perenungan lebih dulu, seminim apapun kadarnya? Read the rest of this entry »
Leave a Comment » |
Tatap |
Permalink
Posted by haisa
June 5, 2008

Pernahkah anda punya seorang teman, kenalan, sanak, tetangga, atau siapapun juga, yang tak senang tertawa? Orang itu, dalam situasi apapun, tak sudi tertawa. Ia memilih menghindar dari tawa dan menutup, bukan saja mulutnya, tapi juga keinginanannya untuk tertawa. Jika suatu kali ia terjebak dalam hiruk pikuk tawa, di mana di depannya berlangsung suatu lintasan peristiwa yang semestinya bisa menghadirkan gelak tawa, ia tetap tak akan tertawa. Ia bahkan mungkin merasa bersalah berada –meski secara kebetulan— dalam arena yang menimbulkan tawa itu. Lalu, ia akan mencipta alibi dan mencari permakluman maaf untuk kesalahan yang baginya sangat besar itu. Pada tingkatan tertentu, ia bukan lagi tak ingin tertawa, tapi memang sudah tak bisa lagi tertawa.
Read the rest of this entry »
1 Comment |
Tatap |
Permalink
Posted by haisa
March 29, 2008

Dari dulu saya sudah menganggap tokoh jenaka ‘Abu Nuwas’ itu ada, dan hebatnya, tokoh itu berasal dari kampung saya sendiri. Tersebab dulu waktu saya bocah ada seorang laki-laki yang selalu berpakaian aneh: berserban putih, baju koko putih lengan panjang, dan pantalon katun yang kedodoran. Bagi kami, pakaiannya itu sangat lucu, dan memang ia sering mengundang tawa ketika berbicara, bercerita, dan bernyanyi riang. Karena jenakanya itu, ia lalu selalu menjadi tontonan banyak orang, lebih-lebih kami anak-anak.
Bahwa tokoh bernama Abu Nuwas itu ada, dan bahwa ia jenaka, saya tidaklah keliru. Tapi kalau ia berasal dari kampung saya, sudah barang tentu salah besar. Read the rest of this entry »
2 Comments |
Tatap |
Permalink
Posted by haisa
January 18, 2008

Akhir-akhir ini, dalam perjalanan ke berbagai kota, saya sering melihat orang ‘gila’ berkeliaran di pinggir-pinggir jalan, jembatan, taman kota, terminal, atau pembuangan sampah. Pakaian mereka compang camping dan kumal, kulit dekil dan penuh daki, rambut gimbal penuh debu, terkekeh-kekeh tanpa sebab yang jelas, mengumpat-umpat tak tahu arah, atau melemparkan tatapan kosong dan jauh entah ke mana, termangu dan melamun, atau asyik mengotak-atik sesuatu. Kadang ada yang tak berpakaian sama sekali. Mereka seperti telah menjadi pemandangan buram dari sebuah kota.
Saya tidak tahu apakah itu sebenarnya gejala lama yang kebetulan saja baru saya perhatikan. Atau suatu gejala yang benar-benar baru, yang mengiringi perkembangan pesat kota-kota yang makin gemar dan terburu-buru menggabungkan dirinya pada kapitalisme dunia. Entahlah! Nyatanya di koran-koran terlalu sering saya membaca bagaimana katanya kuantitas orang yang disebut gila itu terus meningkat, tentang rumah sakit jiwa yang tak lagi muat untuk menampung. Atau tentang orang ‘gila’ yang mengamuk, mengobrak-abrik dan menghancurkan rumah, warung, atau mengganggu orang-orang yang hendak dan sedang lewat. Read the rest of this entry »
4 Comments |
Tatap |
Permalink
Posted by haisa
September 5, 2007
Riwayat pakaian adalah riwayat sejumlah perjumpaan. Orang Eropa, Cina, atau Asia Barat, yang berkunjung ke Asia Tenggara pada abad ke-16 merasa terkejut dengan ‘ketelanjangan’ banyak penduduknya, demikian tulis sejarawan Anthony Reid. Maksudnya, orang Asia Tenggara –termasuk tentu Nusantara ini— waktu itu hampir tanpa kecuali bertelanjang kaki, bertelanjang kepala, dan seringkali juga telanjang dari pinggang ke atas. Perjumpaan dengan Islam, Kristen, dan Konfusianismelah yang membuat seluruh –atau setidaknya sebagian— dari tubuh yang terbuka ini lalu ditutupi.
Read the rest of this entry »
2 Comments |
Tatap |
Permalink
Posted by haisa
August 30, 2007
Sudah lama saya penasaran dengan istilah “maestro.” Di dunia seni Indonesia akhir-akhir ini, istilah ini makin sering didengungkan. Tapi entah mengapa selalu kesan yang muncul maestro di sini artinya ”tua” atau ”sepuh.” Di kampus ISI Yogyakarta akhir Desember tahun 2006 lalu, saya lihat ada spanduk pentas tari berjudul ”Sang Maestro”. Lalu di bawahnya ada nama lima penari dari berbagai daerah sekaligus umurnya. Dalam catatan saya, yang termuda dari lima penari itu berumur 58 tahun. Kesan saya jadi tambah tegak: maestro = tua.
Read the rest of this entry »
2 Comments |
Tatap |
Permalink
Posted by haisa
June 21, 2007

“Speed is part of my life.” Setiap kali pergi ke tempat kerja pandangan mata saya tertumbuk pada reklame dalam baliho besar bertuliskan kalimat ini. Bagi salah satu produk minyak pelumas ini, kecepatan tentu saja menjadi prinsip utama yang mereka tawarkan.
Kata “saya” (my) yang dipakai dalam kalimat itu, memaksa mereka yang membaca seolah menyatakan sendiri pernyataan itu. Lalu, pemajangannya di jalan utama dengan ukuran besar, kian menegaskan bahwa slogan ini tidak hanya untuk produk itu saja tapi telah menjadi prinsip utama dalam kehidupan sekarang ini. Harus cepat dalam hal apapun, jika tidak ingin ketinggalan dalam hal apapun juga! Read the rest of this entry »
4 Comments |
Tatap |
Permalink
Posted by haisa
February 28, 2007

Hujan di Senaru, kaki Gunung Rinjani, 2006, foto by hs
Karena hujan itu kelembutan, kesegaran, dan keindahan, maka ia sangat mencintainya. Setiap hujan datang ia duduk di beranda rumah, menatap keserempakan hujan, bercakap-cakap dengan hujan, dan menikmati hujan yang menari-nari. Perlahan ia sendiri kemudian menari dengan diiringi musik hujan. Lama. Tubuhnya basah kuyup, bukan oleh hujan, tapi oleh keringat. Hujan lalu menjelma dan memancar dari dalam dirinya. Demikian cerpen “Hujan” Sutardji Calzoum Bachri yang bercerita tentang Ayesha, gadis 16 tahun, yang demikian mencintai hujan.
Hujan adalah inspirasi. Karena itulah banyak karya seni: puisi dan cerita, lagu, musik, rupa, film, dan juga teater, yang menggali, mengambil, dan mengolah tema hujan. Mungkin karena hujan berarti kesuburan, yang menyegarkan bumi yang kering kerontang. Dan sebelumnya, ia menghapus mendung, yang bermakna kelam dan pesimistik.
Read the rest of this entry »
6 Comments |
Tatap |
Permalink
Posted by haisa
February 22, 2007
‘Recycle’ adalah sebuah gagasan mengenai efisiensi. Sebuah benda lama, bekas atau sisa, yang statusnya boleh dibilang sampah, tidak seharusnya dibuang begitu saja. Dengan sebuah tekad dan dukungan teknologi sederhana, himpunan sampah itu bisa diolah menjadi suatu produk baru yang bermanfaat dan bernilai. Recycle memang alternatif terhadap pemborosan.
Read the rest of this entry »
Leave a Comment » |
Tatap |
Permalink
Posted by haisa