Filmisasi Karya-Karya Sastra Islami

September 2, 2008

Pemfiliman karya-karya sastra (baik yang serius maupun yang pop) tentu bukanlah gejala baru. Sejak dini, film sudah banyak yang mengambil inspirasi (inspired by) atau (adapted from) karya-karya sastra. Menurut Garin Nugroho, 85% film pemenang Oscar merupakan adaptasi dari karya sastra (novel, cerpen, drama). Sementara 45% film cerita dan 83% miniseri televisi merupakan adaptasi dari novel. Bahkan 70% peraih Emmy Award –penghargaan terbaik untuk karya-karya televisi— merupakan adaptasi dari berbagai karya tulis. Read the rest of this entry »


Jurnalisme Sastrawi dan Etnografi Awam

July 10, 2008

Setelah membolak-balik dan menelusuri apa yang disebut sebagai ‘jurnalisme sastrawi,’ saya berpendapat setidaknya ada tiga hal yang penting di dalamnya.

Pertama, sebagaimana namanya menunjukkan, jurnalisme sastrawi pertama-tama adalah suatu tulisan yang bersifat jurnalistik, yang disuguhkan kepada pembaca. Sifat jurnalistiknya tercermin dari penggalian subyek berita yang sungguh-sungguh menerapkan asas-asas jurnalistik: berdasar peristiwa aktual, wawancara atau datang langsung ke sumber berita, jujur, mencakup sumber dua arah, dan lainnya.

Kedua, ia tak sekadar suatu laporan yang singkat dan dangkal. Ia berdasar pada suatu investigasi yang mendalam, yang meliputi pengamatan dan wawancara yang luas. Pada tingkat tertentu, boleh dikata, investigasi ini sudah setara –untuk tidak mengatakannya kadang bahkan melebihi— suatu penelitian sosial. Tak jarang ia diperlengkapi pula dengan studi pustaka. Membacanya kita bukan semata beroleh ‘keping-keping informasi,’ tapi juga suatu ‘pengetahuan.’ Kita tak sekadar mendapat ‘kesan,’ tapi sungguh seperti menemu ‘ilmu.’

Ketiga, ia –sebagaimana adjektif yang disandangnya— dihadirkan sebagai ‘laporan panjang’ atau sejenis features yang ditulis dengan pola seperti orang bercerita. Dan memang pada dasarnya ia hendak bercerita, bukan sekadar berkabar. Lancar, mengalir, dan renyah. Tidak kaku dan berat sebagaimana bahasa ilmiah, namun juga tidak dangkal sebagaimana tulisan straight news biasa. Diksinya dipilih dengan cermat. Sebisa mungkin tidak boleh ada pengulangan kata. Kalimat-kalimat yang panjang dan bertingkat, yang membuat rumit dan berbelit, sedemikian rupa dihindari. Pembaca lalu seperti disuguhkan sebuah ‘tulisan bergaya sastra,’ yang tak membosankan dan ingin terus mencicipinya.

Read the rest of this entry »


Pengalaman Membaca Esai

December 6, 2007

rak-buku-dan-meja-makan.jpg

Di usia sekolah tingkat pertama dan atas, saya biasa membaca majalah-majalah milik ayah seperti Tempo, Panjimas, dan sesekali koran Kompas yang didapatnya secara temporer. Kadang saya juga beroleh bacaan dari majalah Kartini dan Amanah milik kakak tertua saya. Dan rupanya dari kebiasaan inilah yang memupuk kecintaan saya untuk membaca. Barulah agak belakangan, setelah minat membaca itu mekar bertumbuh, saya akrab dengan sejumlah buku: novel, biografi, sejarah, dan lainnya yang dihamparkan oleh perpustakaan sekolah.  Read the rest of this entry »