Mengapa Saya Menonton “Laskar Pelangi”

September 26, 2008

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

25 September 2008. Bersama Zaki, saya ikut berjubel membeli tiket film “Laskar Pelangi” di bioskop 21, Ambarukmo Plaza, Yogyakarta. Calon penonton luar biasa banyak. Tiga baris antrean memanjang sampai ke luar dekat eskalator. Hari itu hari pertama pemutaran film yang diangkat dari novel yang telah meraup sukses itu. Saya yakin ada banyak calon penonton yang tak beroleh tiket dan harus menunda menonton esok hari. Saya sendiri akhirnya dapat tiket untuk pemutaran ke-2, pukul 13.15. Oke saja, karena itu malah berarti bareng dengan sutradara, produser, sejumlah para pemain, dan juga Sultan Hamengkubowono XI dan beberapa tokoh lain yang menjadi penonton tamu undangan.

Sejak membaca novelnya, saya sudah ‘jatuh cinta’ dengan Laskar Pelangi, karena alasan yang mungkin sangat pribadi sekali. Seperti Andrea Hirata, penulis novel itu, yang menjadi ‘aku’ atau ‘Ikal’ dalam novel itu, atau sekarang film itu, saya juga menjalani kehidupan sebagai anak-anak SD di akhir tahun 70-an dan awal 80-an. ‘Kami’ karena itu bisa dikata kurang lebih se-angkatan. Read the rest of this entry »


Menonton “Kantata Takwa”

August 10, 2008

Tahun 1989, Iwan Fals, Rendra, Sawung Jabo, Jokcy Soerprayogo, dana lain-lain mengeluarkan album Swami. Setahun berikutnya, dengan formasi yang kurang lebih sama, mereka menelurkan Kantata Takwa, dan berpentas di senayan. Sebuah pementasan yang penontonnya mungkin paling besar selama ini.

Lagu “Bento” dan “Bongkar,” saya ingat betul, sering distel ketika demonstrasi-demonstrasi tahun 1990-an. Berbeda dengan itu, lagu-lagu di dalam “Kantata Takwa,” agak sulit untuk dijadikan semacam lagu protes, meski syairnya, yang banyak mengambil puisi Rendra itu, penuh dengan nada gugatan pada keadaan. Saya membeli kaset Kantata Takwa, mendapatkan posternya, dan satu karcis untuk nonton pertunjukan mereka di Senayan. Tapi, karena sesuatu dan lain hal, saya gagal berangkat ke Jakarta. Betapa kecewanya waktu itu!

Yang saya tidak tahu –mungkin juga banyak orang— mereka sebenarnya membuat ‘semacam’ film dokumenter juga saat itu. Tetapi film ini hingga belasan tahun tak pernah bisa –karena sebab apa, entahlah— dirampungkan. Baru setelah 18 tahun, atas usaha Gotot Prakosa dan Eros Djarot, film ini berhasil ‘diselesaikan.’ Pada Jogja-Netpac Asian Film Festival yang ke-3 (9-13 Agustus), film ini hadir sebagai ‘opening film.’

Menonton film ini jadi memutar kenangan saja. Lagu-lagu di dalam Swami dan Kantata Takwa menggema indah dan gagah. Peristiwa tahun-tahun itu dan reaksi mahasiswa seperti hadir lagi di ingatan. Rendra, Jocky, Jabo, Iwan, dan lain-lain, kelihatan masih sangat muda dan perkasa. Mereka, seperti mewakili jutaan rakyat Indonesia, meneriakkan protes-protes politik ke wajah penguasa. Read the rest of this entry »


SMS-SMS Lawan Soeharto

February 1, 2008

images-harto21.jpg

Sudah jelas, Soeharto mempunyai kawan sekaligus lawan. Kedua kelompok ini, pengagum dan pembencinya, ternyata ada di sekitar saya. Mungkin juga ada di sekitar Anda. Mereka bisa tetangga, teman sekantor, famili dekat, bekas teman sekolah, dan lainnya.  

Sejak Soeharto sakit, ponsel saya rutin menerima SMS dari seorang teman yang rupanya pembencinya. Ada SMS yang lucu dan ada yang kasar sekali. Meski saya tak pernah membalasnya, SMS itu terus saja mampir. Sebagai balasannya saya ingin membagi sebagiannya di sini. SMS, seperti rumor, beredar luas tak terkontrol, jadi bisa saja sebagiannya sudah anda baca. Saya mohon maaf untuk hal ini.   

Pada hari-hari pertama sakitnya, ponsel saya menerima SMS dari teman itu seperti ini: “Gmna ya, dlu P Harto mlrang kita-kita (bc: mahasiswa) kritis, e…skrg malah dy sendr yg kritis…hehehe.”  

Ketika sakit berjalan beberapa hari, SMS lain datang dengan bunyi seperti ini: “Menurut Tim Dokter, Harto mengalami kegagalan multiorgan. Jalan keluarnya adalah: dihibur dengan permainan organ tunggal.”  

Saya menerima lebih dari 25 SMS yang lucu dan kasar dari hanya satu orang. Tentu tak bisa semua saya tuliskan di sini, lebih-lebih yang kasar, mungkin tak elok sekali. Sampai sekarang pun, setelah tiga hari Soeharto meninggal, ia masih kirim SMS. Yang ini saya terima tadi malam: “Ternyata Astana Giribangun, tanahnya masih milik Perum Perhutani Lawu Utara. Soeharto mati saja masih korupsi tanah!…”   

Anda mungkin juga bisa berbagi SMS-SMS seperti ini, baik para pembenci maupun pengagumnya!   

Tulisan ini dan beberapa komentar pembaca bisa diakses juga di http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=6241     


Tertawalah dengan Cerdas

April 4, 2007

aku-hantunya.jpg

“Aku Hantunya!”

Setelah malam-malam dalam setahun terakhir ini kita mungkin selalu menonton 4mata Tukul Arwana, sekarang palingkanlah perhatian ke film Nagabonar Jadi 2-nya Deddy Mizwar. Sungguh, ini bukan dagelan dengan eksploitasi kekurangan atau cacat tubuh seseorang, atau kegenitan lelaki bergaya pria, atau gaya plesetan yang sudah klise. Kualitas film ini cukup setara dengan Nagabonar-nya Asrul Sani (1986) dan Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1987). Film ini sendiri memang didedikasikan untuk Asrul Sani, penyair, esais, penerjemah, dan juga sutradara. Saran saya, kalau ada waktu tontonlah! Kalau punya teman dekat ajaklah! Tertawalah dengan cerdas!


Impresi tentang Tiga Penyair

March 28, 2007

img_1482.JPG

Sabtu malam, 3 Maret 2007. Aku diserbu 3 buah puisi. Masing-masing Renungan Kloset: dari cengkeh sampai utrecht karya artis sinetron dan bintang iklan Rieke Diah Pitaloka, Bunglon, karya Hasyim Wahid, adik kandung Gus Dur, dan Kupilih Sepi, karya Maman Imanulhaq Faqieh, seorang kiai muda yang bermukim di Majalengka. Awalnya, malam itu aku menghadiri diskusi buku kumpulan cerpen Geligi (?) karya Gunawan ”Cindil” Maryanto, di Toga Mas, Yogya. Rupanya di acara itu juga ada Rieke yang akan ikut membacakan salah satu cerpen (konon kabarnya penerbit Geligi, ”Koekoesan” adalah milik Rieke). Di situ juga dijual buku kumpulan puisi karya Rieke. Seorang teman kemudian menghadiahkan padaku buku itu. Nah, ikutan yang lain, aku juga minta tanda tangan Rieke. Lalu di sampul halaman dalamnya ditulis ”To: Hairus …Love…ttd… Rieke”…Aku liat yang lain juga dapat serupa, kecuali nama yang beda. Ha…ha…ha… hal ini tampak sudah standar dan otomatis seperti sebuah templet yang tinggal dipasang. Di acara itu juga hadir Roni (yang ternyata adik seorang teman dulu semasa kuliah), penggiat buku di Fresh Book (Jakarta), penerbit yang kini juga mulai naik daun. Dia kasih untuk perpus kantor Gong sekaligus untuk rubrik ”info buku” buku puisi karya Hasyim Wahid atau dikenal Gus I’im itu. Malamnya sesudah acara, Kang Maman yang mampir dari perjalanan dari Surabaya ke Jakarta memberi pula dua buku puisinya untuk info buku di Gong.   

Read the rest of this entry »


Musim hujan, enak naik Jazz

March 9, 2007

Musim hujan begini, enak, aman, sehat, dan sudah barang tentu, keren ya…naik jazz

hondajazz21.jpg

Tapi kalau nggak punya jazz honda…ya “jazz” hujan saja cukup…murah meriah…n merakyat!!! 

jashujan.jpg


Menonton ‘Badai Pasti Berlalu’

February 22, 2007

images2.jpg

cover kaset ‘Badai Pasti Berlalu’, 1975. Gambarnya Christine Hakim berlari…yang diambil dari adegan dlm film tersebut.

obrolan buat laksmi Kemarin, 21 Feb 2007, aku nonton film “Badai Pasti Berlalu” di Bioskop 21, Ambarukmo Plaza. Penasaran saja, karena film ini dulu ketika dibintangi Christina Hakim, Roy Marten, dan Slamet Rahardjo, serta disutradarai Teguh Karya, lalu musiknya Eros Jarot dengan suara indah Chrisye, konon merupakan film terbaik, laris, dan legendaris. Film yang sekarang ini didaurulang oleh Teddy Soeriaatmadja (yang sblumnya bikin Banyu Biru) dengan bintang Raihaanun, Vino G. Bastian, dan  Winky  Wiryawan.

Read the rest of this entry »