Setiap kali pulang selalu saja tumbuh perasaan yang sentimentil. Dan perasaan itu terasa makin menguat ketika aku membuka pintu pagar rumah. Suasana sudah cukup malam. Dan seperti biasa di setiap musim kemarau ini Yogyakarta demikian sangat terasa dingin. Tapi lampu ruang tamu kulihat masih terang benderang. Rupanya bapak masih ada tamu.
Migrasi Para Hantu
February 22, 2007Cerpen Hairus Salim HS
Waktu itu kira-kira jam menunjukkan pukul sebelas malam. Tiba-tiba kudengar pintu rumah diketuk sangat keras. Itu pasti ayah, pikirku. Tapi mengapa ketukannya begitu sangat keras, bahkan mirip orang menggedor-gedor. Seperti sedang ada sesuatu yang mengejarnya dan membuatnya takut.
“Dok…dok… dok… Assalamu’alaikum,” ucap ayah keras dan berulang-ulang.
“Wa’alaikum salam,” jawab ibu dan dengan tergopoh-gopoh terus berjalan ke arah pintu.
Lalu, aku lihat samar-samar ayah masuk rumah dengan tubuh gemetar dan wajah pucat.
“Tolong, ambilkan aku air putih,” pinta ayah.
Tanpa banyak bertanya ibu segera ke belakang, mengambil segelas air putih, dan menyuguhkannya kepada ayah. Ayah segera mereguknya. Dua tiga kali regukan. Lalu, suasana hening. Beberapa saat setelah itu kulihat ayah mulai agak sedikit tenang.
“Apa yang terjadi?” tanya ibu pelan.
“Tadi ada seorang perempuan dengan rambut panjang terurai dan gaun kelabu ikut menumpang sepedaku. Katanya, ia juga hendak ke Murung Pudak…,”
“Lalu…?”
“Aku kira ia perempuan nakal yang hendak menggoda. Jadi langsung saja aku ingin menolaknya. Tapi setelah kupikir-pikir, jangan-jangan sangkaku keliru. Mungkin ia betul-betul orang yang butuh bantuan. Akhirnya, kupersilahkan saja ia membonceng…”
Aku memasang lebih baik telingaku. Ingin tahu juga apa yang menimpa ayah. Kugeser pelan-pelan tubuhku dengan posisi telinga mengarah ke pintu kamar yang terbuka. Ayah dan ibu tentu mengira aku sudah tidur. Dan kalau mereka tahu aku terjaga, tentu mereka tidak mau cerita itu didengarkan anaknya. Kudengar suara ayah masih bergetar, dan sebentar-sebentar ceritanya tersendat. Rupanya ayah ditimpa takut yang berlipat-lipat. Read the rest of this entry »
Rumah di Samping Kuburan
February 22, 2007Cerpen: Hairus Salim HS
Keputusan Heri untuk membangun rumah yang bersebelahan dengan kompleks sebuah pekuburan hingga sekarang tetap dianggap keluarganya sebagai sebuah tindakan yang gila.
“Apa-apaan kamu. Apa tidak ada lagi tanah di Jakarta sini hingga membeli tanah yang bertetangga dengan kuburan,” demikian komentar ayahnya ketika dulu pertama kali ia mengutarakan rencana tempat tinggalnya itu.
“Apa uangmu tidak cukup untuk membeli tanah di tempat yang lebih baik. Ngirit kok ngawur,” tambah adiknya. Memang harga tanah yang dibelinya itu jauh, sangat jauh lebih murah dibanding tanah-tanah di tempat lain. Maklumlah tanah di samping kuburan.
Tentu saja rencananya itu bikin sewot keluarga besarnya. Menurut mereka, tanah di samping kuburan tak layak huni. Bukan hanya angker dan menyeramkan, tapi juga bisa bikin sial. Kalau pun di Jakarta sini ada yang tinggal di samping kuburan, itu karena memang mereka sudah tidak punya kesempatan lagi tinggal di tempat lain. Uang mereka memang hanya pas-pasan untuk mendapatkan tanah di samping kuburan.
H a j i
February 22, 2007Cerpen Hairus Salim HS
Dengan kayuhan satu kali dua, jukung yang kutumpangi perlahan melaju, menelusuri perkampungan di sisi sungai itu. Mentari waktu itu jatuh persis di atas ubun-ubun kepala. Rasa panas menjadi silir oleh hembusan angin yang menerpa.
Beberapa klotok menyelip jukung yang kutumpangi. Ombak yang dihasilkan klotok yang sebenarnya tak begitu besar itu sempat juga membuat jukung ini terombang-ambing. Ditilik dari berbagai macam barang yang mereka bawa, para penumpang klotok-klotok itu tampaknya baru pulang dari pasar kota. Ya, aku baru ingat, ini Rabu, hari pasar besar di kota Martapura. Pantas banyak sekali klotok hilir-mudik, pikirku.
Sungai ini memang satu-satuya jalan penghubung antara kota Martapura dan Dalam Pagar, kampung yang kutuju. Selain memakai klotok, orang masih banyak yang menggunakan jukung yang hanya mengandalkan kayuhan tangan saja. Aku sengaja memilih jukung biar agak lama dan lambat, sehingga aku bisa melihat-lihat keadaan sepanjang jalan sungai yang hampir tujuh tahun ini tidak pernah kulewati.
Dalam Pagar, memang nama kampung yang sering mengundang tanya. Orang yang belum tahu tentu menyangkanya sebuah perkampungan penduduk yang dikelilingi pagar secara eksklusif. Padahal tidaklah demikian. Kampung Dalam Pagar tidaklah berbeda dengan umumnya kampung-kampung pinggiran sungai di daerah Banjar lainnya.
Read the rest of this entry »
Intan Galuh Mandika
February 22, 2007Cerpen: Hairus Salim HS
Surat bersampul putih itu segera kusambar. Sudah hampir empat tahun terakhir ini aku tak bersentuhan dengan secarik kertas berisi kabar. Dulu, sewaktu masih menjadi mahasiswa, bersurat-suratan tentulah menjadi kebiasaan. Dengan kedua orang tua, saudara, teman, atau bahkan kekasih. Menjadi kesibukan yang mengasyikkan. Sekarang kebiasaan dan kehangatan bersurat-suratan itu telah hilang. Dengan siapapun kini aku lebih sering berkomunikasi lewat telpon, SMS atau e-mail. Alasannya, tentu lebih praktis.
Badan sebenarnya masih terasa penat. Pakaian sepulang kerja belum juga salin. Tapi, nama di sampul surat itu mendesak-desakku untuk segera membukanya. Galuh, teringatlah seorang gadis dengan lesung pipit menghias pipi, sibakan rambut di balik kakamban yang dikenakan, dan kulit yang putih bersih. Inilah nama yang terus memburu lamunanku akhir-akhir ini.
***
Tigapuluh satu tahun usiaku. Dan statusku masih bujangan. Belum menikah seusia itu rasanya tidaklah terlalu tua untuk generasi sekarang, tapi ibuku telah disergap cemas. Katanya, ia ingin segera menimang cucu dari anak laki satu-satunya.
Sebagai antropolog pekerjaanku adalah melakukan penelitian, jauh ke berbagai daerah. Bagai mur ketemu bautnya, pekerjaan ini cocok dengan hobiku berpetualang. Namun ada yang terus menggelisahkanku. Meski sudah sekian kali aku menggeluti dunia penelitian, belum pernah aku menginjakkan kaki di Kalimantan. Padahal pedalaman Sulawesi, Nusa Tenggara, Irian sudah kusambangi, kujelajahi, bahkan juga Serawak, Malaysia, dan negeri Siam. Berkali-kali aku mengajukan proposal baik pribadi maupun kelompok untuk penelitian ke Kalimantan, selalu ditolak. Sebaliknya, yang diterima adalah penelitian di daerah-daerah yang tak begitu menjadi favoritku dan topik penelitian yang sebenarnya tak begitu kuminati. Namun begitulah rupanya pasar penelitian.
Read the rest of this entry »
Kubur Penuh Cahaya
February 22, 2007Cerpen: Hairus Salim HS
Sewaktu ia dikuburkan hanya sedikit orang yang mengiringi dan mengantarkannya. Ya, itu pun para tetangga dan kerabat dekatnya. Maklumlah, ia hanya seorang kecil yang tak berharta dan tak punya kuasa. Ia sama sekali bukan orang yang hebat dan pantas untuk terkenal.
Tetapi sehari setelah penguburannya itu, namanya langsung melambung ke seantero desa. Bahkan tiga hari setelah itu keterkenalan namanya sudah berhembus melewati batas-batas desa, menembus udara kecamatan, dan lantas masuk ke kantor-kator, rumah-rumah, dan warung-warung di kota kabupaten. Dan seminggu kemudian namanya sudah menghiasi pembicaraan warga seluruh propinsi itu. Di pasar dan masjid orang ramai membincangkannya.
“Siapa sebenarnya orang itu?,” tanya orang-orang.
“Kuburnya mengeluarkan cahaya.”
“Kompleks pemakaman kampung itu menjadi terang. Padahal di situ tidak ada penerangan listrik sama sekali,” kata seorang dari mereka lagi.
“Siapa sesungguhnya lelaki yang berkubur di situ?”
Read the rest of this entry »
Oleh-Oleh
February 22, 2007Cerita: Hairus Salim HS
Untuk kesekian kali aku datang lagi ke Bali. Kalau dulu kali pertama aku berkunjung untuk belajar dan menambah pengetahuan melukisku, sekarang untuk kepentingan pameran lukisan. Bagaimanapun, suasana hati setiap kunjungan selalu saja berbeda.
Kendati demikian, entah mengapa setiap kali menginjakkan kaki di pulau ini aku tetap selalu teringat kakek. Ya, itu mungkin karena ketika pertama kali berkunjung ke pulau ini beberapa tahun lalu kakek melarangku dengan keras.
“Untuk apa jauh-jauh ke Bali. Di Yogya kan juga banyak guru menggambar. Ada banyak sanggar melukis,” kata kakek waktu itu.
“Beda!”
“Beda apanya?”
“Beda, di Bali lebih alamiah, kalau di Yogya terlalu teknis.”
“Lho, kan sama-sama lukisan toh.”
“Di Bali lukisan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Lukisan penuh penjiwaan, dan karena itu goresan dan pewarnaannya sangat bertenaga dan bernyawa. Aku juga ingin melukis alam Bali yang indah dan upacara ritualnya yang menakjubkan,” aku mencoba menjelaskan agak panjang.
“Ah, apa bedanya, di sini juga banyak tempat yang indah. Kau bisa ke Parangkusomo atau ke Merapi sana.”
Read the rest of this entry »
Teratai Kota
February 22, 2007Cerpen Hairus Salim HS
Hujan pagi hari. Tak mungkin untuk berkeliling kota ini. Kalau pun ada angkutan mobil itu juga tetap tak menyenangkan. Selokan-selokan kota yang kecil, mampet, penuh sampah. Tak akan mampu menampung luapan air dari langit yang begitu deras dan tak henti. Kali-kali kecil yang dulu berjejeran indah membelah kota semestinya bisa menjadi pelimpahan air. Tapi kini atasnya telah dibangun rumah-rumah dan bagian bawahnya sudah buntu oleh sampah. Jalan-jalan terendam hingga setengah kaki. Lalu, setelah itu becek dan kubangan air di mana-mana. Dan, jalan kota yang memang sudah sejak awal sempit itu pastilah macet.
Paaliran Caran
February 22, 2007Hairus Salim HS
Caran berdiri tegar di atas jukung itu. Tubuhnya basah kuyup. Dari seluruh badan dan rambutnya masih mengalir tetes-tetes air. Matanya memerah, karena sedemikian lamanya menyelam. Dan kulit jemarinya mengeriput karena lama terendam.
Arus deras sungai menghantam badan jukung yang diikat di bekas batang pohon Kariwaya. Jukung tampak terbawa arus ke hilir dan hulu. Terombang-ambing. Namun Caran tegak tak goyah.
Ia kembali mengenakan pakaian kebesarannya. Baju dan ikat kepala berwarna kuning jingga. Meski kuningnya telah kumal dan luntur, pantulannya tetap berpendaran tertimpa sinar matahari menjelang senja. Mandau dengan sarungnya yang berukir dan penuh manik tulang belulang kering, berhulu tanduk rusa terselip di pinggangnya. Caran adalah seorang paaliran. Seorang pendekar sungai dan pawang buaya.
Orang-orang di tepian sungai yang menyaksikannya berdecak kagum. Juga para petinggi desa, kecamatan dan beberapa staf pimpinan PT Adhi Wana, perusahaan penebangan kayu yang beroperasi di kawasan itu .
Ustadz Jufri
February 22, 2007Hairus Salim HS
Kali ini aku ingin bercerita tentang salah seorang ustazku di pesantren. Namanya Jufri, atau lengkapnya Muhammad Jufri. Orangnya masih belia, belum menikah, kulitnya putih bersih, agak pendiam, dan sangat nyentrik.
Perhatianku berawal ketika aku bertemu dengannya sewaktu mau menonton film di sebuah bioskop. Ia melemparkan senyum padaku. Hatiku kecut. Pakaiannya waktu itu sangat nggaya, mengenakan jeans biru dan kaos oblong kuning bergambar anjing snoopy. Itu tentu tidak seberapa mengejutkan. Kami di pesantren sudah banyak tahu kalau Ustaz Jufri berpenampilan sangat beda jika berada di luar pesantren. Memang itu pertama kali aku melihatnya berpenampilan seperti itu, setelah selama ini hanya sering mendengar ceritanya saja. Tetapi yang lebih mengejutkanku, ia menggandeng seorang gadis remaja. Mesra sekali.

Posted by haisa
Posted by haisa
Posted by haisa