10 Tahun Amuk “Jumat Kelabu” dan Munir

May 23, 2007

sampulamuk-banjarmsn.jpg

Sepuluh tahun yang lalu, tepatnya 23 Mei 1997, sebuah kerusuhan sosial melanda Banjarmasin. Kerusuhan yang berawal dari kampanye putaran terakhir Pemilu 1997 itu, telah mengakibatkan –menurut data resmi–, 123 orang tewas, 1 gereja musnah dan 10 rusak berat, 151 rumah, 144 buah toko, 3 pusat perbelanjaan dan hiburan, 3 pasar swalayan, 5 bank, 4 kantor pemerintah, 1 sarana hiburan, 3 sekolah, 1 rumah jompo, 1 apotik, 36 mobil, dan 34 sepeda motor musnah terbakar. Media setempat dan nasional menamai peristiwa itu sebagai peristiwa “Jumat Kelabu,” karena kebetulan terjadi pada hari Jumat.  

Beberapa hari setelah peristiwa itu, Lembaga Bantuan Hukum (LBH), Jakarta, yang ketika itu dipimpin oleh Bambang Widjojanto, meminta seorang relawan untuk membantu mereka melakukan investigasi. Sebagai orang Banjar yang sedang di rantau, saya menangkap tawaran itu. Demikianlah, bersama Andi Achdian dan Munir (alm.) dari Jakarta dan saya dari Yogyakarta, kami terbang ke Banjarmasin. Selain membantu menyelidiki kemungkinan ada pelanggaran HAM baik dalam maupun sesudah peristiwa itu, saya bersama Andi Achdian juga menelusuri latar belakang sosial yang mengalasi peristiwa itu. Sebagian laporan kami kemudian diolah menjadi buku dan terbit dengan judul, Amuk Banjarmasin (YLBHI, 1997). Kami bukan satu-satunya yang melakukan investigasi saat itu. Setidaknya, masih ada Komnas HAM yang dipimpin Baharuddin Lopa (alm.) dan juga sebuah kelompok yang menamakan Lembaga Pengkaji Pengembangan Potensi Pembangunan Banjar (LP4R) yang juga melakukan invenstigasi.   Read the rest of this entry »


Modul BB Membangun Pluralisme dari Bawah

May 5, 2007

islampluralisme.jpg

Kalau yang ini adalah modul Belajar Bersama mengenai pluralisme dan multikulturalisme. Saya susun bersama seorang teman Suhadi  (staf CRCS, UGM, Yogyakarta) berdasarkan pengalaman berbilang tahun mengampu belajar bersama mengenai dialog, pluralisme, hubungan antaragama, multikulturalisme, dan topik-topik yang terkait dengannya di LKiS sejak tahun 1998 hingga kira-kira tahun 2004. 

Persisnya judulnya, Modul Belajar Bersama: Membangun Pluralisme dari Bawah, terbit Januari 2007 yang lalu. Masih agak segar, meski naskahnya sebenarnya sudah lama rampung. Tebal 170 + xiv hlm., dengan ukuran 19 cm x 26 cm.  

Sebagaimana sebuah modul, isinya meliputi bagaimana merencanakan, mengatur, menjalankan, mengelola forum, membagi waktu, mengisi topik-topik, dan mengevaluasi, serta hal-hal yang terkait dengan sebuah pelatihan, khususnya yang bersifat lintasagama, lintasbudaya, dan lintas etnik.   

Dengan segala kekurangan dan (barangkali kalau ada) kelebihannya, buku ini saya kira cocok buat Anda yang ingin membuat sebuah pelatihan lintasagama dan lintasetnik.      


Kelompok Paramiliter NU

May 3, 2007

banser.jpg

Ini adalah buku yang saya tulis secara utuh, Kelompok Paramiliter NU. Itu pun karena merupakan tesis di S-2 Antropologi UGM. Kajiannya tentang pasukan paramiliter NU yang bernama Banser dan terbit akhir 2004 yang lalu. Tebal 234 hlm+xxviii, 12 cm x 18 cm, dan diterbitkan oleh LKIS. Barangkali saja ada teman yang masih berminat membacanya. Pengantar diberikan oleh Dr. Budi Susanto S.J., dari Pusat Studi Realino Berikut saya kutipkan secuil kalimat dari pengantarnya (tentu yang agak memuji ya! Hehehe!): 

“…Buku ini memang bukan kitab tentang beragam peristiwa yang terjadi. Buku ini lebih tepat disebut “buku menyejarah” karena bercerita kepada pembaca lebih tentang maknanya, daripada tentang peristiwanya.”