Kalau menelusuri Kotagede, bekas kota kuno keraton Mataram, jangan lupakan sekumpulan cerpen “Orang-Orang Kotagede” yang ditulis oleh Darwis Khudori, seorang penulis dan arsitek yang kini bermukim di Prancis. Cerpen-cerpen ini ditulis sekitar tahun 1970an dan awal 80an, dan diterbitkan menjadi buku oleh Bentang pada tahun 2000. Suasana kehidupan di Kotagede lebih dari 25 tahunan lalu itu jelaslah berbeda dengan keadaannya kini.
Dalam pengantarnya, Darwis menulis: “Saya sudah mencoba menceritakan dalam kumpulan cerpen ini bagaimana orang-orang Kotagede hidup, terutama rakyat kecil, kaum buruh, dan pedagang gurem, yang merupakan bagian terbesar dari penduduk Kotagede: suka-duka…, kepoloson,…kecerdikan-kecerdikan…, kelucuan-kelucuan…, cinta-kasih…, juga kebrutalan-kebrutalan…dan tragedi-tragedi mereka. Tapi saya belum mengungkapkan bagaimana semua itu bisa terjadi. Saya belum bercerita bagaimana para juragan Kotagede mengeruk keuntungan dari upah buruh yang sangat rendah; bagaimana ajaran Islam digunakan, …langsung atau tidak langsung, untuk keuntungan para juragan santri (…); bagaimana golongan PKI, …mengambil peran dalam perubahan sosial di Kotagede sebelum tahun 1965. …bagaimana…. kota suci dan peziarahan orang Jawa, pusat Kejawen, pusat kaum abangan, bisa berubah menjadi pusat kaum santri…”
Nah, menarikkan?…

