Mengapa Saya Menonton “Laskar Pelangi”

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

25 September 2008. Bersama Zaki, saya ikut berjubel membeli tiket film “Laskar Pelangi” di bioskop 21, Ambarukmo Plaza, Yogyakarta. Calon penonton luar biasa banyak. Tiga baris antrean memanjang sampai ke luar dekat eskalator. Hari itu hari pertama pemutaran film yang diangkat dari novel yang telah meraup sukses itu. Saya yakin ada banyak calon penonton yang tak beroleh tiket dan harus menunda menonton esok hari. Saya sendiri akhirnya dapat tiket untuk pemutaran ke-2, pukul 13.15. Oke saja, karena itu malah berarti bareng dengan sutradara, produser, sejumlah para pemain, dan juga Sultan Hamengkubowono XI dan beberapa tokoh lain yang menjadi penonton tamu undangan.

Sejak membaca novelnya, saya sudah ‘jatuh cinta’ dengan Laskar Pelangi, karena alasan yang mungkin sangat pribadi sekali. Seperti Andrea Hirata, penulis novel itu, yang menjadi ‘aku’ atau ‘Ikal’ dalam novel itu, atau sekarang film itu, saya juga menjalani kehidupan sebagai anak-anak SD di akhir tahun 70-an dan awal 80-an. ‘Kami’ karena itu bisa dikata kurang lebih se-angkatan.

Tapi bukan sezaman itu saja alasannya. Ada alasan lain yang lebih kuat: yaitu lingkungan perusahaan tambang yang melingkupi. Jika Andrea hidup di lingkungan tambang PN Timah, saya hidup di lingkungan tambang Pertamina Unit IV, Murung Pudak, Tanjung, sebuah kecamatan kecil di pedalaman Kalimantan Selatan. Rupanya, nasib anak yang bukan bagian dari perusahaan tambang, di mana pun sama, meski dia penduduk ’asli’ di situ, jadi pariah dan kelas II, di bawah para pekerja dan staf tambang.

Maka seperti anak-anak SD Muhammadiyah di film itu, saya dan teman-teman dari SD pinggiran yang miskin, juga ngiler melihat bagaimana anak-anak SD Pertamina dengan pakaian seragam yang bersih dan sepatu, pergi ke sekolah. Sementara kami, sebagian besar tak berseragam dan bersepatu. Jika pada hari libur, anak-anak Pertamina itu bermain sepatu roda atau sepeda mini yang indah, kami hanya bisa menonton dari jauh dengan perasaan yang iri dan juga rendah diri. Pada hari-hari besar, setiap diadakan karnaval, anak-anak SD Pertamina tampil dengan drum bandnya yang membuat kami berdecak. Sering anak-anak Pertamina itu bertingkah arogan dan seperti mencibir kami anak-anak kampung ini, yang membuat kami panas hati luar biasa. Tapi kami tak bisa berbuat apa-apa.

Itulah alasannya, mengapa saya senang membaca, dan lalu, bersemangat menonton film ”Laskar Pelangi.” Bagiku, ia seperti mereperesentasikan pengalaman hidupku masa kecil. Jika Andrea dan teman-temannya itu senang pergi ke pinggir laut, maka kami biasa bermain ke sungai dan hutan. Dua kawasan ’merdeka’ yang karena berbagai alasan tak akan pernah dikunjungi anak-anak Pertamina. (Tentu saja, anak-anak Pertamina renang di kolam renang fasilitas Pertamina).

Cerita tentang buaya dalam film itu, saya kira kami di Kalimantan waktu kecil, tak kalah kayanya dengan pemandangan dan cerita-cerita mistik mengenai buaya ini. Lalu, ada lagi buah yang tumbuh liar di daerah tambang timah itu, yang rupanya juga sama dengan lingkungan panas di kawasan Pertamina tempat kami. Kami menyebut buah itu ’karamunting’, tapi saya lupa apa namanya di Gantong, Belitung, di dalam novel itu. Buah ini makin manis kalau terkena panas matahari. Ah, rupanya seperti di Belitung, di tempat kami juga, waktu itu Rhoma Irama sedang menancapkan kukunya sebagai ’Si Raja Dangdut’, yang kini adegannya di dalam film itu, dilihat jadi komikal.

SD kami juga sering ikut lomba yang diadakan Pertamina, mulai cerdas cermat hingga karnaval. Tapi kami tak seberuntung Andrea dan teman-temannya SD Muhammadiyahnya, yang berhasil mengalahkan SD PN Timah dalam lomba karnaval dan cerdas cermat. Kami sering, kalau bukan selalu, kalah dan berada di bawah prestasi SD Pertamina. Sebagian kami merasa memang kami layak kalah, karena memang tak punya apa-apa dan kalah dalam fasilitas. Tapi sebagian lain, kami juga merasa sering dikibuli oleh panitia yang notabene ’bapak-bapak’ guru atau orang-orang tua SD Pertamina itu.

Jauh sebelum membaca novel ini, saya pernah berpikir untuk menuliskan pengalaman masa kecil itu menjadi sebuah cerita. Tapi kesempatan dan kemampuan untuk itu saya belum punya. Hingga muncullah karya Andrea ini. Niat saya jadi bangkit lagi. Karena itu, jika ada kesempatan saya akan juga akan menuliskannya. Tentu dengan sudut yang berbeda. Saya yakin, di samping ada kemiripan, juga banyak sekali perbedaannya. Masing-masing tempat dan waktu, serta pengalaman yang mengarunginya, punya keunikan sendiri. ’Keunikan’ inilah yang menarik untuk dieksploirasi.

Nah, lalu bagaimana dengan film itu? Susah bagi saya untuk menilai (novel dan) film ini secara obyektif, karena sejak awal telah jatuh cinta pada ceritanya. Filmnya, bagi saya, sangat berhasil, meski sempat saya merasa ada adegan yang bergerak lamban, terutama di awal-awal, dan bagian-bagian dialog yang terlalu verbal, bertendensi mengkhotbahi. Juga ada adegan yang terasa ’wagu’ mungkin karena dipandang dari sudut masa kini, seperti cara tokoh ’Ikal’ jatuh cinta pada A Ling, gadis Tionghoa. Atau ketika anak-anak itu menyanyikan lagu Melayu ”Seroja.” Tetapi secara keseluruhan, film ini sangat menarik. Apalagi bintang-bintang ciliknya dimainkan langsung oleh anak-anak Belitung, sedang bintang senior diperankan aktor-aktor hebat macam Ikranagara, Slamet Rahardjo, Matias Muchus, Tora Sudiro. Cut Mini yang jadi Bu Guru Muslimah juga bermain cantik. Lucu di dalam film itu lucu yang mencerdaskan. Unsur-unsur dramatik yang menyedihkan tidak membuat cengeng, tapi malah membuat hati jadi terketuk.

Yach, kalau Anda ada waktu, dan juga ada duit, saya sarankan, tontonlah! Tentu tak harus Anda memiliki pengalaman yang mirip seperti diceritakan dalam novel/film itu. Setidaknya, film ini berkali-kali lebih baik daripada sinetron televisi kita, yang ’busuk’ itu.

tulisan ini dan beberapa komentar pembaca juga muncul di situs jurnalisme warga:

http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=10823&post=1

8 Responses to “Mengapa Saya Menonton “Laskar Pelangi””

  1. Abid Says:

    Mas Hairus,
    Sama dengan njenengan, saya sendiri juga mengalami byk peristiwa mirip dengan Laskar Pelangi. Saya di jambi juga di kawasan tidak begitu jauh dr Pertamina. Cuma di tempat saya pertaminanya gak kaya, jadi gak terlalu jauh berbeda kampung pusat pertamina sama yg bukan. Juga gak ada sekolah khusus untuk anak-anak karyawan pertamina.
    Mungkin tidak ada itu sebab karyawannya rata2 pendatang semua. Hanya sedikit yg orang kampung, dan hanya rendahan saja.
    Hehe, omong2, tempat saya itu mirip sekali sama tempat njenengan di Kalimantan: banyak sungai, rawa2. Eh, sungai di sana airnya hitam kan? Di tempat saya juga begitu, banyak orang Banjar malah. Saya yg keturunan Jawa (pujakesuma) bisa omong Banjar. Aku gin saikit hingkat basurah banjar, hehe. Begitulah, yg Banjar-Jawa yang mayoritas di tempat saya saling bisa ngomong dengan bahasa yg bukan bhs ibunya.
    Tentang Laskar Pelangi, saya waktu kecil juga ke sekolah gak bersepatu, kalo banjir naik perahu. Trus jauh banget jalannya, 5 kilometer lebih. Temen2 saya banyak yg gak nyambung sekolah setelah SD. Eh, waktu sekolah, banyak yg sering bolos karena bantu ortunya di ladang, dsb.
    Sekolah itu mewah. Dan dengan kuasa Tuhan, saya sedikit bisa mencicipinya sampe Yogya, sering ketemu njenengan tapi pasti njenengan gak tahu saya to. Soal Laskar Pelangi, saya tak baca semuanya, membacanya juga tak terlalu serius. Ada perasaan lain yg menyergap saya, terutama soal iri melihat orang sesukses dia dalam hal bersekolah yg mewah—itu impian kita yg di kampung barangkali.
    Juga perasaan serupa saya rasa akan menghampiri bila Njenengan menulis cerita serupa Laskar Pelangi dan saya membacanya.
    Salam buat temen2 di Yogya. Wah, saya kangen baca Gong ki mas. Bisa gak ya saya menulis di sana? Hehe.

    Abid

  2. haisa Says:

    mas abid
    trims komentarmu. kta pernah ketemu ternyta mohn maaf klo aq lupa. sy jg bersykur krn perbedaan itu memotivasi sy utk maju… silahkan bung menulis di Gong!

  3. Ajaran Says:

    Film ini begitu menggugah kemanusiaan, semangat untuk maju..

    Kapan lagi ada film ginian??

  4. ratudiskon Says:

    membaca dan melihat laskar pelangi, sepertinya ikal beruntung punya teman-teman baik…bu guru es de cantik (cut mini maksudnya) hehe…

    bertolak belakang, sd saya di tempat gersang, jangankan tambang timah…singkong pun sering tak berumur panjang. jangankan bu guru cantik…bahkan ruang kelas berbeda kelas pun digabung menjadi satu dengan satu guru pada waktu bersamaan…

    duh, seandainya waktu bisa diputar ulang…akan saya undang cut mini jadi guru sd saya..:) hehehe.

    salam hormat mas hairus salim.

  5. wonka Says:

    membaca dan melihat laskar pelangi, sepertinya ikal beruntung punya teman-teman baik…bu guru es de cantik (cut mini maksudnya) hehe…

    bertolak belakang, sd saya di tempat gersang, jangankan tambang timah…singkong pun sering tak berumur panjang. jangankan bu guru cantik…bahkan ruang kelas berbeda kelas pun digabung menjadi satu dengan satu guru pada waktu bersamaan…

    duh, seandainya waktu bisa diputar ulang…akan saya undang cut mini jadi guru sd saya..:) hehehe.

    salam hormat,

    wonka

  6. haisa Says:

    salam kenal hormat juga bung wonka….trims komentarnya. meski di SD, anda sampai ke Amerika…heabat!!!

  7. heruyaheru Says:

    ayo mas lagsung tulis saja. …

  8. Fayyadl Says:

    Para penggemar Laskar Pelangi perlu membaca ulasan bagus dan kritis, buku Nurhady Sirimorok, LASKAR PEMIMPI: ANDREA HIRATA, PEMBACANYA DAN MODERNISASI INDONESIA (Jogja: Insist, 2008).

    Di situ ada “narasi tak terbaca”, yang mungkin mengejutkan bagi penyuka novel ini.

    Sebab, sering kali, dalam sastra, kita mudah begitu silau oleh publisitas media.

Leave a Reply