Tahun 1989, Iwan Fals, Rendra, Sawung Jabo, Jokcy Soerprayogo, dana lain-lain mengeluarkan album Swami. Setahun berikutnya, dengan formasi yang kurang lebih sama, mereka menelurkan Kantata Takwa, dan berpentas di senayan. Sebuah pementasan yang penontonnya mungkin paling besar selama ini.
Lagu “Bento” dan “Bongkar,” saya ingat betul, sering distel ketika demonstrasi-demonstrasi tahun 1990-an. Berbeda dengan itu, lagu-lagu di dalam “Kantata Takwa,” agak sulit untuk dijadikan semacam lagu protes, meski syairnya, yang banyak mengambil puisi Rendra itu, penuh dengan nada gugatan pada keadaan. Saya membeli kaset Kantata Takwa, mendapatkan posternya, dan satu karcis untuk nonton pertunjukan mereka di Senayan. Tapi, karena sesuatu dan lain hal, saya gagal berangkat ke Jakarta. Betapa kecewanya waktu itu!
Yang saya tidak tahu –mungkin juga banyak orang— mereka sebenarnya membuat ‘semacam’ film dokumenter juga saat itu. Tetapi film ini hingga belasan tahun tak pernah bisa –karena sebab apa, entahlah— dirampungkan. Baru setelah 18 tahun, atas usaha Gotot Prakosa dan Eros Djarot, film ini berhasil ‘diselesaikan.’ Pada Jogja-Netpac Asian Film Festival yang ke-3 (9-13 Agustus), film ini hadir sebagai ‘opening film.’
Menonton film ini jadi memutar kenangan saja. Lagu-lagu di dalam Swami dan Kantata Takwa menggema indah dan gagah. Peristiwa tahun-tahun itu dan reaksi mahasiswa seperti hadir lagi di ingatan. Rendra, Jocky, Jabo, Iwan, dan lain-lain, kelihatan masih sangat muda dan perkasa. Mereka, seperti mewakili jutaan rakyat Indonesia, meneriakkan protes-protes politik ke wajah penguasa. Read the rest of this entry »

Posted by haisa
Posted by haisa