Menonton “Kantata Takwa”

August 10, 2008

Tahun 1989, Iwan Fals, Rendra, Sawung Jabo, Jokcy Soerprayogo, dana lain-lain mengeluarkan album Swami. Setahun berikutnya, dengan formasi yang kurang lebih sama, mereka menelurkan Kantata Takwa, dan berpentas di senayan. Sebuah pementasan yang penontonnya mungkin paling besar selama ini.

Lagu “Bento” dan “Bongkar,” saya ingat betul, sering distel ketika demonstrasi-demonstrasi tahun 1990-an. Berbeda dengan itu, lagu-lagu di dalam “Kantata Takwa,” agak sulit untuk dijadikan semacam lagu protes, meski syairnya, yang banyak mengambil puisi Rendra itu, penuh dengan nada gugatan pada keadaan. Saya membeli kaset Kantata Takwa, mendapatkan posternya, dan satu karcis untuk nonton pertunjukan mereka di Senayan. Tapi, karena sesuatu dan lain hal, saya gagal berangkat ke Jakarta. Betapa kecewanya waktu itu!

Yang saya tidak tahu –mungkin juga banyak orang— mereka sebenarnya membuat ‘semacam’ film dokumenter juga saat itu. Tetapi film ini hingga belasan tahun tak pernah bisa –karena sebab apa, entahlah— dirampungkan. Baru setelah 18 tahun, atas usaha Gotot Prakosa dan Eros Djarot, film ini berhasil ‘diselesaikan.’ Pada Jogja-Netpac Asian Film Festival yang ke-3 (9-13 Agustus), film ini hadir sebagai ‘opening film.’

Menonton film ini jadi memutar kenangan saja. Lagu-lagu di dalam Swami dan Kantata Takwa menggema indah dan gagah. Peristiwa tahun-tahun itu dan reaksi mahasiswa seperti hadir lagi di ingatan. Rendra, Jocky, Jabo, Iwan, dan lain-lain, kelihatan masih sangat muda dan perkasa. Mereka, seperti mewakili jutaan rakyat Indonesia, meneriakkan protes-protes politik ke wajah penguasa. Read the rest of this entry »


B e r p i k i r

August 7, 2008

“Nagabonar,” satu dari sedikit film komedi Indonesia yang bermutu dikenang para penontonnya di antaranya karena ungkapan, “Sudah kubilang kau, berhentilah berpikir!” Ungkapan yang diekspresikan tokoh Nagabonar dengan dialek Batak dan terus diulang sepanjang film itu meninggalkan pesan yang menarik.

Dalam suasana genting dan mendesak, seperti situasi perang dalam film tersebut, ‘berpikir’ –atau lebih lunak, berpikir yang terlalu lama— adalah tindakan yang boros, tidak efisien, dan juga tidak efektif. Berpikir jadi suatu yang negatif, yang mengguratkan kesan lamban dan juga dalam banyak hal, pengecut. Yang diperlukan dengan segera adalah tindakan yang cepat dan praktis, yang langsung mengarah pada penyelesaian masalah. Soal hasil dan akibat nanti urusan belakang.

Tapi, adakah tindakan yang betul-betul tidak dilandasi pemikiran dan perenungan lebih dulu, seminim apapun kadarnya? Read the rest of this entry »