Pernahkah anda punya seorang teman, kenalan, sanak, tetangga, atau siapapun juga, yang tak senang tertawa? Orang itu, dalam situasi apapun, tak sudi tertawa. Ia memilih menghindar dari tawa dan menutup, bukan saja mulutnya, tapi juga keinginanannya untuk tertawa. Jika suatu kali ia terjebak dalam hiruk pikuk tawa, di mana di depannya berlangsung suatu lintasan peristiwa yang semestinya bisa menghadirkan gelak tawa, ia tetap tak akan tertawa. Ia bahkan mungkin merasa bersalah berada –meski secara kebetulan— dalam arena yang menimbulkan tawa itu. Lalu, ia akan mencipta alibi dan mencari permakluman maaf untuk kesalahan yang baginya sangat besar itu. Pada tingkatan tertentu, ia bukan lagi tak ingin tertawa, tapi memang sudah tak bisa lagi tertawa.

Posted by haisa