Setiap kali pulang selalu saja tumbuh perasaan yang sentimentil. Dan perasaan itu terasa makin menguat ketika aku membuka pintu pagar rumah. Suasana sudah cukup malam. Dan seperti biasa di setiap musim kemarau ini Yogyakarta demikian sangat terasa dingin. Tapi lampu ruang tamu kulihat masih terang benderang. Rupanya bapak masih ada tamu.
Aku mengucap salam. Bapak berdiri sambil menyahut salamku. Wajahnya kelihatan riang karena puteranya datang.
“Wualah, mas Harsa toh,” tamu bapak menyela dan ikut berdiri. Tak terlalu sulit bagiku untuk mengenalinya. Ia adalah Pak Lik Jono.
“Ya lik, ini kebetulan ada libur sebentar,” jawabku. Setelah bersalaman dengan kedua mereka aku langsung saja masuk ke dalam untuk menemui ibu. Pak Lik Jono yang mungkin merasa kuatir ikut mengganggu kegembiraan bapakku rupanya juga langsung berpamitan pulang.
Keinginanku untuk langsung mandi kuurungkan karena bapak langsung mengajakku ngobrol. “Pak lik Jono tadi ke sini membincangkan si Laksmi, anak sulungnya itu,” kata bapak.
“Memang kenapa?”
“Lha Laksmi itu sampai sekarang belum nikah. Padahal adiknya sudah nikah.”
“Lho kok malah adiknya duluan. Apa adiknya itu sudah selesai kuliah juga?”
Aku rupanya lebih terkejut mendengar penjelasan bapak soal adiknya yang nikah duluan daripada soal Laksmi yang belum nikah. Karena seingatku, Laksmi baru berusia 26-an. Usia yang menurutku masih terbilang muda. Gampang saja mengukurnya, usianya dan usiaku terpaut 10 tahun. Dulu sewaktu aku awal kuliah dia masih duduk di kelas 3 SD. Aku sering mengajaknya jalan-jalan, makan mie ayam atau bakso.
“Nah, masalahnya sekarang Pak Lik-mu itu merasa kuatir kalau-kalau Laksmi tak mendapat jodoh. Padahal, kata Pak Lik-mu itu, teman-teman seangkatan Laksmi di kampungnya sudah pada nikah semua. Ia juga merasa malu karena adiknya yang laki-laki kok malah sudah duluan nikah,” sambung bapak, “jadi, Pak Lik-mu minta tolong saya kalau ada pandangan, ada laki-laki bujangan di keluarga besar kita yang masih belum punya calon, barangkali saja cocok dengan Laksmi.”
“Wualah pak, sekarang bukan zaman Siti Nurbaya lagi. Sudah lewat zamannya orang dijodohkan. Lagian, Dik Laksmi paling juga nggak sudi dijodohkan,” jawabku datar.
“Yach, saya cuma ingin cerita kok,” sahut bapak. Dan perbincangan malam itu terhenti sampai di situ.
***
Pagi-pagi sekali aku bangun. Setelah sarapan aku harus segera ke kantor kelurahan, kecamatan, dan kabupaten untuk mengurus surat-surat keberangkatanku ke luar negeri. Hanya hari Sabtu ini waktuku. Besok Minggu libur, dan Senin pagi aku sudah harus kembali ke Jakarta.
Birokrasi kantor di daerah ternyata tidak sesangar di Jakarta. Semua urusanku berjalan lancar. Memang segala macam surat keterangan dan berbagai fotokopian sudah aku siapkan, sehingga aku tak perlu bolak-balik ke kios fotokopi. Para pegawai kelurahan dan kecamatan rupanya juga masih kenal bahwa aku anak Pak Jemeidi, pegawai PLN kabupaten. Di kantor inilah bapak berkawan akrab dengan Pak Lik Jono, orang tua Laksmi. Mereka sama-sama pegawai PLN. Tapi Pak Lik Jono, entah mengapa, kemudian mengambil peni, alias pensiun dini. Lalu, dia jadi BTL, yaitu menjual jasa pemasangan instalasi listrik ke rumah-rumah atau kantor. Di samping itu ia juga berbisnis angkutan truk. Dan menurut bapakku lagi, Pak Lik Jono itu banyak punya tanah. Sebagian diolah menjadi sawah, dan sebagiannya lagi dijadikan kos-kosan setelah di dekat tanahnya itu didirikan kampus terpadu sebuah universitas. Aku memanggil Pak Jono Pak Lik, karena dia memang lebih muda dari bapakku. Sebenarnya kami tidak punya hubungan keluarga sama sekali, tapi sedemikian berteman dekat dan baik justru bisa membuat orang seperti keluarga sendiri.
Meski pensiun dini, bapakku dan Pak Lik Jono tetap berteman. Masing-masingnya saling berkunjung. Mereka senang sekali berbicara politik. Dan meski keduanya hanya lulusan SMA, kalau sudah berbicara topik itu mereka sangat meyakinkan sekali, seperti kaum intelek saja. Padahal kebanyakan berita itu mereka olah dari koran dan isu-isu di warung angkringan saja. Aku sering tersenyum mendengar bagaimana mereka berbincang topik itu sampai larut malam. Aku dengar sekarang Pak Lik Jono jadi ketua BPD (Badan Perwakilan Desa). Hebat juga, pikirku, mungkin itu bagian dari hasil bincang-bincang dengan bapakku itu.
Pak Lik Jono sering mengajak Laksmi yang waktu itu masih kelas 3 SD sore-sore ke rumahku. Dan biar Pak Lik Jono asyik ngobrol dan tidak diganggu Laksmi, biasanya aku disuruh mengajak dia jalan-jalan. Yach aku senang-senang saja karena aku sendiri nggak punya adik perempuan. Apalagi kalau kebetulan sore-sore itu aku juga tidak punya kegiatan. Laksmi anak manis dan lucu. Pipinya montok dan rambutnya dikepang dua. Cuma kadang ia cerewet dan gampang mewe, tapi kalau sudah dibelikan permen dan bakso biasanya ia sudah senang dan tenang.
Aku terkedut dengan lamunanku. Pukul 12 siang, menjelang dzuhur urusanku sudah beres. Aku senang sekali, karena sebelumnya aku sempat was-was kalau tidak selesai, karena itu artinya minggu depan aku harus ke Yogya lagi atau aku harus menunda kepulangan.
Aku tidak ingin langsung ke rumah, karena di rumah pasti masih sepi. Bapak masih di kantor dan ibu pasti masih di pasar. Jadi kuputuskan mampir ke rumah teman kuliahku dulu saja. Ia sekarang membuka kios yang menjual asesoris, pulsa, dan HP setengah pakai. Ketemu aku di siang itu ia langsung mengajakku ke warung soto dan es kopyor, tempat yang dulu sering kami datangi.
Pukul setengah 3-an barulah aku pulang ke rumah. Tapi entah mengapa pas lewat depan rumah Pak Lik Jono aku tiba-tiba kepikiran untuk mampir. Dan seperti tak terkontrol setang sepeda motorku membelok ke rumahnya. Gas sepeda motorku sengaja kutarik agak keras biar maksudku ada yang keluar. Dan tepat juga harapanku.
“O, dik Harsa,” dari dalam rumah keluar Bu Lik Jono. Tak banyak yang berubah dari rautnya, kecuali bahwa sekarang ia makin tampak jauh lebih tua. Bahkan dari Pak Lik Jono sendiri.
“Monggo dik, tapi ini bapak sedang ke sawah,” lanjutnya. Aku turun dari sepeda motor dan mengambil salam.
“Wah gak apa-apa bu lik, ini cuma mampir kok.”
“Iya, tadi malam pak likmu juga cerita kalau kamu sedang di Yogya.”
“Monggo, silahkan masuk.”
“Sampun lik, saya di luar saja,” jawabku sambil mengambil duduk di teras rumah yang sejuk dan berhalaman luas.
“O ya toh, monggo dinikmati.”
“Nggak usah repot-repot lho lik, saya barusan makan,” lanjutku lagi setelah kulihat Bu Lik Jono masuk ke dalam. Aku kuatir ia akan membuatkanku minum. Apalagi kalau teh, karena pasti manis sekali. Padahal aku tidak terlalu senang teh yang manis sekali.
Tak lama berselang, sebuah sepeda motor merah masuk ke halaman. Di atasnya seorang gadis muda dengan celana ketat dan jaket hitam.
“Nah, itu Laksmi,” suara bu lik tiba-tiba menyeru keluar dari dalam.
“Wah, mas Harsa. Apa kabar mas?” tanya perempuan yang disebut bu lik Laksmi itu sambil melepaskan helm robotnya.
“Kabar baik dik,” jawabku agak terbata. Ya aku memang sempat pangling dan terpana. Perasaanku Laksmi kok jauh berbeda. Sekarang tubuhnya langsing dan cukup tinggi. Kalau pakai sandal karet tinggi seperti itu ia pasti lebih tinggi dari aku, pikirku. Lalu wajahnya bersih dan rambutnya diikat. Bibirnya dioles pemerah tipis bersinar. Dan kulitnya sekarang jauh lebih bersih dibanding waktu kecilnya dulu. Laksmi sekarang manis dan menarik sekali. Aku tak percaya –dan siapapun pasti tak akan percaya—gadis semanis itu belum punya pacar. Pasti banyak kumbang yang mendekati bunga ini pikirku. Terakhir aku bertemu dia ketika kelas 2 SMA. Ketika itu ia kelihatan masih sangat ndeso sekali.
“Gimana mas, sudah lama nih aku gak diajak makan bakso lagi,” tanyanya sambil menyalamiku.
“Ya, boleh…boleh…” Rupanya dia masih ingat ketika kecil dulu sering kuajak makan bakso.
***
Dan tak berapa lama kemudian kami sudah meluncur di jalan Solo, ikut dalam arus ribuan motor dan mobil yang kini memenuhi jalan-jalan Yogya. Telah lama memang aku mendengar bahwa Yogya sudah tak seperti dulu lagi. Kini polusi dan kemacetan ada di mana-mana dan kota dikepung mal-mal dan supermarket-supermarket. Kami pakai motornya, yang katanya kreditan, karena motor tuaku sudah tak memadai lagi membonceng cewek semanis dia.
“Sekarang di Yogya ada mal baru lo, mas, Mal Ambarukmo. Ada bioskop 21-nya,” kata Dik Laksmi.
“O, ya,” jawabku.
“Gimana kalau kita nonton dulu mas. Aku kan belum pernah nonton di bioskop 21,” lanjutnya lagi manja. Aku mengiyakan tanda setuju.
Aku percaya Dik Laksmi memang belum pernah nonton di bioskop 21. Sejak hampir delapan tahunan yang lalu di Yogya memang tidak ada lagi bioskop bagus. Bioskop-bioskop ini bangkrut karena kalah bersaing dengan persewaan dan penjualan VCD bajakan yang menjamur saat itu. Menyusul itu bioskop Empire 21 dan Regent di jalan Solo juga terbakar, entah mengapa.
“Pokoknya yang bayar aku saja,” lanjutnya lagi. “Kan mas belum pernah menikmati uang gajiku.”
“Wah hebat kamu sekarang sudah kerja ya. Tapi begini saja, yang bayar nonton aku tapi nanti yang bayar makan baru Dik Laksmi.”
“Ok deh,”
Lalu kami pun menonton Mission Imposible II. Kupilih film ini karena kubilang aktornya Tom Cruise itu ganteng. Menonton bioskop seperti ini mengingatkanku pada masa-masa mahasiswaku dulu.
Sepulang nonton Dik Laksmi mengajak mampir ke rumah bu de-nya yang rumahnya kebetulan tak jauh dari Mal Ambarukmo. “Sudah lama aku gak main ke rumahnya,” katanya. Aku sendiri baru tahu kalau dia punya bude di situ. Lucunya kepada bu de nya itu, ia mengenalkanku sebagai bos di kantornya.
“Memangnya dik Laksmi kerja di mana,” tanyaku ketika kami pulang.
“Aku kerja jadi sekretaris di sebuah majalah seni, mas!”
“Majalah apa?” tanyaku penasaran, karena sebagai penulis aku mestinya tahu terbitan apapun.
“Majalah Genta.”
“Ya Tuhan, itu majalah yang kukenal sekali. Beberapa temanku bekerja di sana,” terangku setengah terkejut. Aku sama sekali tak memperhatikan bahwa yang jadi sekretaris redaksi di majalah itu adikku yang manis ini. Kami akhirnya saling bertukar cerita dan tertawa-tawa. Dunia memang hanya sebesar daun pisang. Beberapa temannya kini ternyata adalah temanku dulu.
“Kalau mas Harsa kerja apa?”
“Aku nggak punya kerja tetap. Sehari-hari aku hanya menulis, meneliti, mengedit, dan memberikan pelatihan,” jawabku.
“Wah, enak dong, berarti sering keliling daerah.”
“Ya, lumayan, tapi duitnya nggak banyak.”
“Tapi omong-omong kok bisa kerja di Genta?”
“Nggak tahulah mas kenapa. Waktu itu aku hanya melamar saja. E…kok diterima,” terangnya. Ya, aku yakin itu dunia baru baginya. Dunia kerja yang mungkin nggak pernah dibayangkannya.
“Berapa kali aku melamar jadi PNS dan pegawai bank, berapa kali ikut tes, nggak pernah diterima-terima e mas,” lanjutnya lagi dengan nada yang agak nelangsa. “Ya, jadi kubetah-betahkanlah kerja di situ. Untungnya bosku itu baik hati. Ia nggak pernah melarangku melamar kerja ke tempat lain dan selalu kasih semangat aku.”
Aku hanya tersenyum mendengar ceritanya. Dalam hatiku bilang, mana ada laki-laki yang nggak baik hati sama gadis yang polos dan manis seperti ini.
“Ya bagaimanapun selama kamu belum diterima bekerja di tempat lain, kamu harus tetap loyal pada tempat kerja yang ada. Dan sabar saja, mungkin suatu saat nanti kamu diterima jadi PNS atau pegawai bank.”
“Nggak diterima jadi PNS ya ra papa, asal jadi istri PNS,” jawabnya bercanda.
Motor meluncur perlahan. Obrolan kami semakin hangat saja. Mungkin karena kami lama tak pernah bertemu. Mungkin karena aku nggak punya adik perempuan. Dan Dik Laksmi juga nggak punya kakak laki-laki.
“Karena aku yang bayar, maka mas lah yang milih tempat makannya.”
“Wah aku sudah lama tak tahu peta warung makan di Yogya. Jadi kamu sajalah dik yang milih.” Aku mencoba mengelak.
“Ya pakai peta lama juga gak papa kok,” jawabnya agak ngeyel. Aku memutar-mutar ingatanku sejenak.
“Bagaimana kalau nasi goreng depan keraton?” kataku tiba-tiba. “Sudah lama aku nggak makan di sana.”
“Ya boleh,…aku tahu tempat itu. Bapak ibu juga sering ngajak makan kami di situ,” sahutnya.
***
Warung nasi goreng yang dulu biasanya ramai itu tampak sepi. Mungkin karena suasana malam yang begitu dingin. Serombongan pengamen menghampiri kami. Dik Laksmi minta dinyanyikan lagu “Serenada” tapi para pengamen itu bilang tidak menguasai. Sambil menunggu suguhan kami lalu menikmati lagu “Aku Ingin” dari Dewa yang tadi diminta dik Laksmi sebagai ganti “Serenada” itu.
“Ganteng kan Tom Cruise?”
“Iya sih, tapi lebih ganteng Brandon Routh yang jadi Superman itu.”
“Hhm masa!”
“Beneran mas, nanti kalau dah main di sini aku mau nonton, ayo mas nonton bareng lagi!”
“Wah berarti aku harus pulang lagi dong.”
“Ya gak papa kan!”
“Ini kan malam Minggu dik. Apa nggak ada yang cari dan ngapeli nanti,” aku mencoba mengalihkan pembicaran.
“Wualah mas, nggak ada. Nggak ada yang mau,” katanya sambil tersenyum.
“Setelah dulu pacaran zaman SMA sampai sekarang aku nggak pernah pacaran lagi,” jelasnya polos.
Aku merasa bersalah mengingatkannya pada kenangan masa SMA-nya. Aku tahu dia merasa agak sakit hati karena hanya merasa diperalat oleh cowok itu. Menurut cerita bapaknya, uang jajannya banyak habis hanya untuk mentraktir cowok itu. Aku sendiri waktu itu heran mengapa kok Dik Laksmi bisa terlena segampang itu. Tapi aku selalu bilang padanya, lupakan dan anggap itu kenangan yang indah saja.
“Ah masa. Atau orangnya mungkin jauh di luar kota?”
“Nggak mas, sungguh.”
“Masa di kantor juga nggak ada sih yang masih singel.”
“Wah di kantor cowoknya hampir semua sudah pada nikah. Sudah pada beranak lagi,” jawabnya tersenyum. “Kecuali selingkuh….ha….ha…ha…tapi sori saja, orang-orangnya gak ada yang ganteng tur kere-kere lagi,” lanjutnya sambil tertawa. Dan aku pun ikut tertawa.
“Sebenarnya ada sih yang mau, mas. Tapi kok rasanya belum cocok ya.”
“Siapa saja, boleh donk diceritakan!”
“Ya, ada orang Sumatera. Tidak sarjana, kerja jadi karyawan sebuah perusahaan pemasangan jasa internet. Orangnya gak terlalu menarik. Jadi ia sudah kudelete dari pertimbanganku,” jawabnya senyum-senyum.
“Dia masih sering SMS aku. Tapi aku nggak pedulikan.”
“Lalu, siapa lagi?”
“Seorang PNS.”
“Lha itukan pas,” sahutku. “Kamu kan pingin suami PNS?”
“Namanya Sigit. Tapi usianya terlalu tua, 37 tahun, terpaut 11 tahun dengan aku.”
“Wah, gak masalah. Nanti juga seimbang. Ingat lo, perempuan itu cepat kelihatan tua,” kataku.
“Iya sih, tapi aku merasa belum cocok dengan keadaan keluarganya. Ia punya delapan bersaudara, enam di antaranya belum pada menikah dan hidup satu rumah dengan dia.”
“Wah ya memang tidak terlalu mendukung.”
“Terus?”
“Yang baru-baru ini sering ajak aku keluar makan. Namanya Ruli. Anak orang kaya. Motornya gonta-ganti dan kadang bahkan pakai mobil. Dia juga senang kasih hadiah aku yang mahal-mahal dan sering traktir di restoran mahal. Ia sebenarnya teman adikku di klub pencita motor gede. Bapak ibu sudah kenal dia, karena itulah kami bisa keluar malam. Hampir setiap malam malah.”
“Lalu, masalahnya apa? Jelek ya?”
“O gak, cukupan deh. Tapi masalahnya dia lebih muda dari aku!”
“Lha kan nggak apa-apa, kan ibumu juga lebih muda dari bapakmu. Teman-temanku juga banyak yang lebih tua istrinya, gak papa tuh, yang penting orangnya dewasa.”
“Nah itulah problemnya. Dia sangat kekanak-kanakkan. Padahal kan sebagai anak tertua, aku butuh suami yang bisa ngemong aku dan keluargaku. Masa aku yang ngemong dia.”
“Benar juga sih,” aku berkata lirih sambil manggut-manggut.
“Lagian dia sudah kuanggap adik kok selama ini.”
“Wah itu bukan alasan yang kuat. Wong dia bukan keluargamu sedarah kok,” jawabku mematahkan alasannya.
Ia tampak tersipu dengan perkataanku yang terakhir itu. Aku lihat ada sedikit keraguan di matanya, tapi pada saat yang sama kulihat juga ada warna bahagia.
“Tapi anaknya ganteng dan kaya kan?” tanyaku menggoda.
“Iya sih, tapi orangnya boros dan agak ngeyel. Aku kuatir ada kesenjangan berpikir nanti. Dia juga cuma tamat SLTA kok.”
“Tapi mungkin kamu bisa mengubah dia!” aku coba memberi semangat.
“Entahlah, aku juga belum tahu, apa dia senang aku, atau hanya sekadar main-main saja.”
“Wah, kalau sudah datang hampir tiap hari. Kasih hadiah yang mahal dan traktir ke sana-sini. Itu sudah jelas, dia senang kamu. Senang itu nggak perlu dinyatakan secara lisan, secara verbal. Secara simbolik juga bisa, kok.”
“Iya sih mas. Tapi aku tetap merasa ragu. Masih banyak kesenjangannya. Pokoknya aku masih bingung deh.”
Awan kelabu seperti merona di matanya yang sayu. Antara pesimisme dan optimisme berayun tarik-menarik. Ia jadi kelihatan muram.
“Ya memang, memilih teman hidup itu tidak gampang, dik. Karena ia jadi teman sepanjang kita hidup,” aku mencoba menenangkan.
“Karena itu memang harus dipertimbangkan secara mendalam. Mungkin sabar sedikit juga perlu. Lagi pula kan kau baru 26 tahun. Siapa tahu akan datang nanti Arjuna yang betul-betul kau anggap pas,” lanjutku.
Suasana jadi sepi sejenak. Dik Laksmi seperti tenggelam dalam pikirannya. Wajahnya sayu dalam pantulan temaram lampu warung. Dik Laksmi sungguh manis. Karena itu, tidak seperti kekuatiran bapaknya, sebenarnya banyak yang naksir dia. Ia punya banyak pilihan. Ia bisa menikah kapan pun kalau mau. Dan sejak melihat penampilannya, aku sudah yakin bahwa banyak yang menyenanginya. Yang diceritakannya padaku tentu hanya sebagian dari cowok-cowok itu. Jadi, semua hanya soal waktu saja.
Lalu aku pun mencoba menyambung pembicaraan dengan bercerita bahwa bapaknya sangat mengkuatirkannya kalau-kalau dia tidak dapat jodoh.
“Wah, bapak itu ngisin-ngisini. Selalu saja begitu terutama kalau ada undangan nikah anak temannya itu.”
“Pernah lo mas, saya mau dinikahkan dengan teman bapak yang umurnya sudah 50 tahun.”
“Masa!”
“Iya, hampir saja kuterima waktu itu. Orangnya sih mapan secara ekonomi. Tapi kan masa aku menikah dengan orang yang seusia bapak. Ibu sering menangis dan aku sedih luar biasa. Sampai-sampai waktu itu aku berpikir apa bapak punya utang dengan Pak Pras, lelaki tua 50 tahun itu. Tapi ibu bilang, tidak. Entah mengapa, rencana bapak itu akhirnya nggak jadi. Memang bapak itu kumat-kumatan kok,” katanya.
“Iya kok bisa ya,” tanyaku ikut heran.
“Berarti tadi malam itu bapak kumat lagi. Memang sore kemarin ada undangan pernikahan anak temannya. Mungkin dia ingat lagi anak gadisnya yang belum nikah,” katanya ketawa seolah sudah terbiasa dengan perilaku bapaknya itu. Kami pun tertawa.
Malam terasa semakin larut. Dingin makin terasa menusuk ke tubuh. Jaket yang membungkus tubuhku terasa tak berarti apa-apa. Aku segera mengajak Dik Laksmi pulang.
Sampai di rumah, aku bilang secara bercanda pada ibunya: “Lik, ini Dik Laksmi aku kembalikan. Nggak kurang satu apapun. Boleh diperiksa.” Aku memang biasa bercanda, karena sudah seperti dianggap keluarga sendiri.
***
Setelah dua hari di Jakarta aku dapat SMS dari Dik Laksmi. Isinya: “Ada cerita lucu mas. Bu de ku yang kemarin kita datangi itu bilang sama ibu, kalau bosku itu ganteng dan masih muda ke ibuku. He…he….Kayaknya cocok dengan Dik Laksmi.”
Aku menjawab singkat saja: “Wah aku jadi tersanjung, dik. Salam ke ibu!”
Tentu saja aku jadi tersanjung. Pertama, karena dipasangkan dengan Dik Laksmi yang manis dan ayu itu. Kedua, karena aku masih dianggap muda dan ganteng.
Tiba-tiba aku membayangkan wajah Dik Laksmi. Bayangannya masa kecil dengan rambut yang masih dikepang bergayutan dengan wajahnya yang kulihat kemarin. Aku bahkan ingat ketika menggendong tubuhnya ketika dia tidak bisa melihat suatu pertunjukan mbarang topeng monyet. Bayangan ini bertabrakan maut dengan wajah dewasa dan tenang yang kulihat di warung nasi goreng malam itu. Ibarat bunga, sekarang Dik Laksmi sedang mekar-mekarnya dan ibarat buah ia sedang ranum-ranumnya.
Dalam hatiku bertanya, apakah Dik Laksmi masih menganggap aku masnya yang dulu mengajaknya keliling makan bakso dan membelikan balon? Tidakkah semestinya ia juga menganggapku sebagai pria dewasa? Toh, kami juga bukan keluarga sedarah. Dalam bayanganku, Laksmi yang dulu, yang sebagai adik itu, adalah perempuan SD dengan rambut dikepang dua. Sementara Dik Laksmi yang ini adalah seorang gadis dewasa.
Pikiran nakal ini muncul karena sebelum aku balik ke Jakarta, bapak mnyentilku: “Mengapa tidak kau saja yang mengambil Dik Laksmi sebagai istri?” Aku menjawab: “Dik Laksmi nggak mungkin mau, pak. Dia pasti cari yang lebih muda, ganteng, dan mapan.” Bapak terdiam. Sudah lama ia ingin agar aku tinggal di Yogya saja dan ia ingin itu menjadi salah satu cara. Tapi sebenarnya bukan itu masalahnya. Bapak ibu dan mungkin juga Dik Laksmi tidak tahu kalau di Jakarta aku sudah berkeluarga. Kalau seandainya aku masih bujangan, betapa bodohnya aku menolak tawaran itu. Dengan catatan, itu kalau Dik Laksmi juga bersedia menerima. Tapi apa boleh buat, keretaku telah jauh berangkat. Bahkan kini telah melewati petang dan memasuki senja.
Maka kini yang aku bisa hanya terkenang pada Dik Laksmi!

April 29, 2008 at 1:44 am |
O dah kawin rupanya.. Cerita yang bagus, mengalir dengan sangat lancarnya..
May 16, 2008 at 4:25 am |
trims… baca cerpen ini!
June 5, 2008 at 6:36 pm |
Wah ada potongan Mas Harsa nih poligami. Kereta sepertinya belum terlalu jauh berangkat.
June 7, 2008 at 3:30 am |
yee…jgn gitu donk….itukan cuma cerpen…ujar orang banjar…khayalan haja nang ai!….
June 10, 2008 at 6:16 am |
Cerpennya oks…buanget…
June 11, 2008 at 8:14 am |
wah namanya laksmi ya?
June 24, 2008 at 12:17 am |
salam
June 24, 2008 at 6:02 am |
salam kembali