Dari dulu saya sudah menganggap tokoh jenaka ‘Abu Nuwas’ itu ada, dan hebatnya, tokoh itu berasal dari kampung saya sendiri. Tersebab dulu waktu saya bocah ada seorang laki-laki yang selalu berpakaian aneh: berserban putih, baju koko putih lengan panjang, dan pantalon katun yang kedodoran. Bagi kami, pakaiannya itu sangat lucu, dan memang ia sering mengundang tawa ketika berbicara, bercerita, dan bernyanyi riang. Karena jenakanya itu, ia lalu selalu menjadi tontonan banyak orang, lebih-lebih kami anak-anak.
Bahwa tokoh bernama Abu Nuwas itu ada, dan bahwa ia jenaka, saya tidaklah keliru. Tapi kalau ia berasal dari kampung saya, sudah barang tentu salah besar. Nama lengkap tokoh ini sebenarnya adalah Hasan Ibn Hani. Ia hidup di lingkungan istana Abbasiyah di Baghdad sebagai pujangga istana. Meski tinggal di lingkungan istana, ia tak sungkan dan tak takut mengkritik penguasa istana dan juga penguasa agama. Sebagai seniman, kehidupannya sangat eksentrik. Kegemaran utamanya adalah minum khamar (tuak), karena itu ia disebut juga sebagai ‘penyair khamriyyat.’ Ia digambarkan memang sering melanggar ajaran agama (syariat), mengolok-olok haji dan meremehkan shalat. Dan jangan kaget, ia juga bercinta dengan perempuan dan sekaligus juga laki-laki.
Tingkahnya boleh jadi merupakan kritik terhadap zamannya. Saat itu, ortodoksi keagamaan dan primordialisme menguat. Padahal Abbasiyah yang demikian luas wilayahnya sangat plural, bukan saja dalam konteks lingkungan internal Islam sendiri, tapi komunitas-komunitas non-muslim juga tersebar dan bertumbuhan. Abu Nuwas menentang diskriminasi terhadap komunitas non-muslim dan non-Arab. Tetapi beberapa mereka yang dianggap ‘kritis’ terhadap hegemoni ajaran resmi ini kemudian dituduh zindik –sebuah penghukuman teologis yang statusnya hampir setara dengan ‘kafir,’ diadili, dan bahkan sebagiannya ada yang dihukum gantung.
Karena pengabaiannya terhadap ajaran agama, ia juga sempat dituduh para agamawan sebagai zindik. Menariknya, Abu Nuwas selalu lolos dari pengadilan ini. Mengapa? Salah satu sebabnya mungkin karena ia tetap setia sebagai seorang muslim monoteistis. Alasan lain, ia mengungkapkan kritiknya melalui lelucon, anekdot, dan olok-olok yang mengundang tawa. Tingkahnya, dalam banyak hal, boleh dibilang konyol. Para agamawan menganggapnya sebagai ‘pelawak’ saja. Memang awalnya gelar zindik lebih bersifat budaya saja dan dialamatkan ke mereka yang senang main-main, berkelakar, dan pesta-pesta—yang menjadi ciri kosmopolitanisme dan hibriditas kehidupan Abbasiyyah zaman itu. Tetapi belakangan zindik dibawa ke level agama. Aliran-aliran kepercayaan, sekte-sekte Majusi, bahkan penganut Zoroaster dan Budha, serta yang lebih mencolok –mereka yang mengkritik ajaran resmi— juga dituduh zindik.
Di Indonesia, yang sampai kepada kita adalah citra Abu Nuwas sebagai pelawak. Tidak aneh, kalau ada seseorang yang lucu, penuh anekdot, humoris, dan juga eksentrik –seperti sosok di kampung saya itu— digelari dan dihubung-hubungkan sebagai ‘Abu Nuwas.’ Syahdan, jenakanya terbawa hingga matinya. Makamnya, dari depan tampak di kelilingi dinding tinggi dan tebal, dengan pintu bagian depannya bergembok besar. Hampir-hampir tak ada orang yang bisa memasukinya. Tapi, bagian belakangnya justru tanpa dinding sama sekali. Dari belakang itulah, orang yang ingin berziarah bisa masuk.
Abu Nuwas memang terlanjur dianggap dan menjadi gambaran orang yang tak serius, main-main, dan penuh lelucon. Sisi lain sosok ini, sebagai pemikir dan teolog, hampir-hampir terabaikan. Padahal kritik-kritiknya terhadap ortodoksi keagamaan, telah membentuk apa yang disebut sebagai ‘teologi negatif,’ demikian ungkap Moh. Hanif Anwari dalam Teologi Negatif, yang merupakan kajian pemikiran tokoh ini. Teologi negatif mengajarkan bahwa manusia hanya mengetahui Tuhan dengan mengetahui siapa-siapa dan apa-apa yang bukan-Tuhan.
Mungkin tak banyak orang yang tahu bahwa salah satu syair Abu Nuwas yang jenaka sangat populer di sini. Dulu di pesantren saya, syair dalam Bahasa Arab ini dinyanyikan sehabis pembacaan wirid shalat Shubuh. Saya pernah dengar kabar, syair juga ini dinyanyikan di Pesantren Gontor, Ponorogo. Di bawah rubrik ‘musik Islami,’ syair ini direproduksi dengan berbagai rima oleh Haddad Alwi, Emha Ainun Nadjib, bahkan Arman Maulana (Gigi) dan Ungu, serta beberapa lagi, dalam sejumlah rekaman, baik dalam bahasa Arabnya, Jawa, dan juga Indonesia. Syairnya berbunyi begini:
Tuhanku, aku tak layak berada di firdaus-Mu, tapi
Aku juga tak kuasa berada di neraka-Mu
Karena itu, anugerahkan taubat dan ampunkan dosa-dosaku
Sungguh Engkau penerima taubat…
Penyair yang patungnya tegak berdiri hingga sekarang kota di Baghdad ini, dan di akhir hidupnya banyak menulis puisi zuhud ini, tampak demikian akrab dan bahkan seperti terkesan bercanda saja dengan Tuhan. Ia tahu diri tak pantas untuk masuk sorga, namun ia sadar juga tak akan kuat menghuni neraka. Maka, hanya pengampunan yang memberinya kunci menuju sorga. Untuk apa? Ya mungkin, untuk mabuk-mabuk dan berpesta lagi seperti dulu waktu mudanya.
Dimuat dalam Majalah Gong, ed. 99, Maret 2008
April 7, 2008 at 12:49 pm |
Salam,
Rumahmu tlah kunjungi, juga tlah kubikinkan jembatan dari rumahku.
Salam,
April 12, 2008 at 7:11 pm |
andai dulu sudah ada internet, pasti tokoh kita ini juga jadi blogger dan skrag lagi marah2nya sama menkominfo…