Pada awalnya, para seniman dan pemikir berkumpul di kafe, mungkin hanya sekadar untuk bersantai, ngobrol yang ringan dan sehari-hari, dan membunuh kejenuhan. Tapi pertemuan yang bebas, tanpa batasan, dan tanpa beban itu memberikan keleluasaan yang besar bagi mereka untuk bertukar pikiran dan membicarakan hal-hal yang lebih serius: tentang misalnya bagaimana masyarakat mesti keluar dari problem sosial zamannya atau tentang inovasi di dalam karya seni. Read the rest of this entry »
Tertawalah dengan Cerdas
April 4, 2007“Aku Hantunya!”
Setelah malam-malam dalam setahun terakhir ini kita mungkin selalu menonton 4mata Tukul Arwana, sekarang palingkanlah perhatian ke film Nagabonar Jadi 2-nya Deddy Mizwar. Sungguh, ini bukan dagelan dengan eksploitasi kekurangan atau cacat tubuh seseorang, atau kegenitan lelaki bergaya pria, atau gaya plesetan yang sudah klise. Kualitas film ini cukup setara dengan Nagabonar-nya Asrul Sani (1986) dan Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1987). Film ini sendiri memang didedikasikan untuk Asrul Sani, penyair, esais, penerjemah, dan juga sutradara. Saran saya, kalau ada waktu tontonlah! Kalau punya teman dekat ajaklah! Tertawalah dengan cerdas!
Politik dalam Kebudayaan
April 4, 2007Draft Pengantar Diskusi Buku, Bentara Budaya, Yogyakarta, 31 Juli 2005.
Politik Kebudayaan di Dunia Seni Rupa Kontemporer: A.D. Pirous dan Medan Seni Indonesia, karya Kenneth George, Yayasan Seni Cemeti/Retorik Press, 2005
i
“Antropologi visual harus memasukkan antropologi seni.” Ini adalah pernyataan antropolog Nicholas Thomas, ketika ia merumuskan apa yang disebut sebagai antropologi visual. Tetapi syaratnya, antropologi seni itu sendiri sebelumnya mesti direformulasikan ulang. Menurutnya, antropologi seni selama ini secara khusus (atau terbatas) hanya mengkaji “seni non-Barat”. Dengan itu, seni kontemporer, yang hakikat maupun bentuknya bersifat barat sedikit banyak terabaikan, terutama dalam hal ini apa yang dimaksud sebagai “visual art.” Ini karena, menurutnya, antropologi seni memang awalnya dirumuskan dari studi secara langsung terhadap ‘seni masyarakat primitif’ (study of primitive of art).
Bagi Nicholas, antropologi seni seperti ini sudah tidak cocok lagi. Pertama, tentu karena sifatnya sangat terbatas. Kedua, pada praktiknya media-media baru di dalam seni sering berkait dengan ikonografi tradisional. Wilayah seni seperti ‘seni visual’ sering menjadi lahan transformasi dan eksplorasi baru para seniman tradisi. Ketiga, sebagai konsekuensinya, seni sekarang ini selalu bersifat hibrid, hasil dari interaksi dan dialog global. Tentu tidak bisa lagi ditarik garis hitam putih ini seni barat dan ini seni (tradisi) timur.
Di dalam dunia antropologi, seni memang telah lama menjadi bahan perhatian. Terlepas dari apakah ‘seni’ di situ bagian dari ‘sistem ritual’, atau sebagai bagian dari bentuk permainan dan hiburan. Tetapi seperti dikeluhkan Nicholas di atas, kajian seni di dalam antropologi selama ini berlingkup sangat terbatas: biasanya terfokus pada bagaimana bentuk, struktur, teknik penyajian, dan lain-lain dari suatu “seni pertunjukan.”
Pengalaman Membaca Cerpen-Cerpen Gunawan ‘Cindhil’ Maryanto
April 4, 2007Bahan perbincangan kumpulan Cerpen “Bonsuwung”, karya Gunawan Maryanto, di Toko Buku Toga Mas, 13 April 2005.
Bagi mereka yang terbiasa membaca cerpen pada hari minggu, dengan ‘stereotipe’-nya bahwa cerpen benar-benar ‘cerita pendek’ yang bisa menghibur, membaca cerpen-cerpen Gunawan ‘Cindhil’ Maryanto (GcM) tentu sebuah teror yang menyesakkan. Cerpen-cerpen GcM bukan saja berat tapi memang sama sekali tidak punya pretensi ‘menghibur.’ Malah kepala bisa-bisa pusing dibuatnya. Tema-tema ceritanya memang menarik tapi juga sangat ‘aneh.’ Alur ceritanya tak lazim atau bahkan seperti tanpa alur. Tokoh-tokohnya misterius dan hadir seperti tiba-tiba. Tidak ada awal dan tidak ada akhir sebagai sebuah cerita. Dan kalaupun ada, cerita-cerita itu tampak rangkap dan berlapis-lapis. Semacam ada gaya ‘cerita dalam cerita.’
Posted by haisa
Posted by haisa
Posted by haisa