Sabtu malam, 3 Maret 2007. Aku diserbu 3 buah puisi. Masing-masing Renungan Kloset: dari cengkeh sampai utrecht karya artis sinetron dan bintang iklan Rieke Diah Pitaloka, Bunglon, karya Hasyim Wahid, adik kandung Gus Dur, dan Kupilih Sepi, karya Maman Imanulhaq Faqieh, seorang kiai muda yang bermukim di Majalengka. Awalnya, malam itu aku menghadiri diskusi buku kumpulan cerpen Geligi (?) karya Gunawan ”Cindil” Maryanto, di Toga Mas, Yogya. Rupanya di acara itu juga ada Rieke yang akan ikut membacakan salah satu cerpen (konon kabarnya penerbit Geligi, ”Koekoesan” adalah milik Rieke). Di situ juga dijual buku kumpulan puisi karya Rieke. Seorang teman kemudian menghadiahkan padaku buku itu. Nah, ikutan yang lain, aku juga minta tanda tangan Rieke. Lalu di sampul halaman dalamnya ditulis ”To: Hairus …Love…ttd… Rieke”…Aku liat yang lain juga dapat serupa, kecuali nama yang beda. Ha…ha…ha… hal ini tampak sudah standar dan otomatis seperti sebuah templet yang tinggal dipasang. Di acara itu juga hadir Roni (yang ternyata adik seorang teman dulu semasa kuliah), penggiat buku di Fresh Book (Jakarta), penerbit yang kini juga mulai naik daun. Dia kasih untuk perpus kantor Gong sekaligus untuk rubrik ”info buku” buku puisi karya Hasyim Wahid atau dikenal Gus I’im itu. Malamnya sesudah acara, Kang Maman yang mampir dari perjalanan dari Surabaya ke Jakarta memberi pula dua buku puisinya untuk info buku di Gong.
Posted by haisa
Posted by haisa