February 28, 2007

Hujan di Senaru, kaki Gunung Rinjani, 2006, foto by hs
Karena hujan itu kelembutan, kesegaran, dan keindahan, maka ia sangat mencintainya. Setiap hujan datang ia duduk di beranda rumah, menatap keserempakan hujan, bercakap-cakap dengan hujan, dan menikmati hujan yang menari-nari. Perlahan ia sendiri kemudian menari dengan diiringi musik hujan. Lama. Tubuhnya basah kuyup, bukan oleh hujan, tapi oleh keringat. Hujan lalu menjelma dan memancar dari dalam dirinya. Demikian cerpen “Hujan” Sutardji Calzoum Bachri yang bercerita tentang Ayesha, gadis 16 tahun, yang demikian mencintai hujan.
Hujan adalah inspirasi. Karena itulah banyak karya seni: puisi dan cerita, lagu, musik, rupa, film, dan juga teater, yang menggali, mengambil, dan mengolah tema hujan. Mungkin karena hujan berarti kesuburan, yang menyegarkan bumi yang kering kerontang. Dan sebelumnya, ia menghapus mendung, yang bermakna kelam dan pesimistik.
Read the rest of this entry »
6 Comments |
Tatap |
Permalink
Posted by haisa
February 22, 2007

cover kaset ‘Badai Pasti Berlalu’, 1975. Gambarnya Christine Hakim berlari…yang diambil dari adegan dlm film tersebut.
obrolan buat laksmi Kemarin, 21 Feb 2007, aku nonton film “Badai Pasti Berlalu” di Bioskop 21, Ambarukmo Plaza. Penasaran saja, karena film ini dulu ketika dibintangi Christina Hakim, Roy Marten, dan Slamet Rahardjo, serta disutradarai Teguh Karya, lalu musiknya Eros Jarot dengan suara indah Chrisye, konon merupakan film terbaik, laris, dan legendaris. Film yang sekarang ini didaurulang oleh Teddy Soeriaatmadja (yang sblumnya bikin Banyu Biru) dengan bintang Raihaanun, Vino G. Bastian, dan Winky Wiryawan.
Read the rest of this entry »
6 Comments |
Gerundelan |
Permalink
Posted by haisa
February 22, 2007
‘Recycle’ adalah sebuah gagasan mengenai efisiensi. Sebuah benda lama, bekas atau sisa, yang statusnya boleh dibilang sampah, tidak seharusnya dibuang begitu saja. Dengan sebuah tekad dan dukungan teknologi sederhana, himpunan sampah itu bisa diolah menjadi suatu produk baru yang bermanfaat dan bernilai. Recycle memang alternatif terhadap pemborosan.
Read the rest of this entry »
Leave a Comment » |
Tatap |
Permalink
Posted by haisa
February 22, 2007
Cerpen Hairus Salim HS
Waktu itu kira-kira jam menunjukkan pukul sebelas malam. Tiba-tiba kudengar pintu rumah diketuk sangat keras. Itu pasti ayah, pikirku. Tapi mengapa ketukannya begitu sangat keras, bahkan mirip orang menggedor-gedor. Seperti sedang ada sesuatu yang mengejarnya dan membuatnya takut.
“Dok…dok… dok… Assalamu’alaikum,” ucap ayah keras dan berulang-ulang.
“Wa’alaikum salam,” jawab ibu dan dengan tergopoh-gopoh terus berjalan ke arah pintu.
Lalu, aku lihat samar-samar ayah masuk rumah dengan tubuh gemetar dan wajah pucat.
“Tolong, ambilkan aku air putih,” pinta ayah.
Tanpa banyak bertanya ibu segera ke belakang, mengambil segelas air putih, dan menyuguhkannya kepada ayah. Ayah segera mereguknya. Dua tiga kali regukan. Lalu, suasana hening. Beberapa saat setelah itu kulihat ayah mulai agak sedikit tenang.
“Apa yang terjadi?” tanya ibu pelan.
“Tadi ada seorang perempuan dengan rambut panjang terurai dan gaun kelabu ikut menumpang sepedaku. Katanya, ia juga hendak ke Murung Pudak…,”
“Lalu…?”
“Aku kira ia perempuan nakal yang hendak menggoda. Jadi langsung saja aku ingin menolaknya. Tapi setelah kupikir-pikir, jangan-jangan sangkaku keliru. Mungkin ia betul-betul orang yang butuh bantuan. Akhirnya, kupersilahkan saja ia membonceng…”
Aku memasang lebih baik telingaku. Ingin tahu juga apa yang menimpa ayah. Kugeser pelan-pelan tubuhku dengan posisi telinga mengarah ke pintu kamar yang terbuka. Ayah dan ibu tentu mengira aku sudah tidur. Dan kalau mereka tahu aku terjaga, tentu mereka tidak mau cerita itu didengarkan anaknya. Kudengar suara ayah masih bergetar, dan sebentar-sebentar ceritanya tersendat. Rupanya ayah ditimpa takut yang berlipat-lipat. Read the rest of this entry »
4 Comments |
Cerita |
Permalink
Posted by haisa
February 22, 2007
Cerpen: Hairus Salim HS
Keputusan Heri untuk membangun rumah yang bersebelahan dengan kompleks sebuah pekuburan hingga sekarang tetap dianggap keluarganya sebagai sebuah tindakan yang gila.
“Apa-apaan kamu. Apa tidak ada lagi tanah di Jakarta sini hingga membeli tanah yang bertetangga dengan kuburan,” demikian komentar ayahnya ketika dulu pertama kali ia mengutarakan rencana tempat tinggalnya itu.
“Apa uangmu tidak cukup untuk membeli tanah di tempat yang lebih baik. Ngirit kok ngawur,” tambah adiknya. Memang harga tanah yang dibelinya itu jauh, sangat jauh lebih murah dibanding tanah-tanah di tempat lain. Maklumlah tanah di samping kuburan.
Tentu saja rencananya itu bikin sewot keluarga besarnya. Menurut mereka, tanah di samping kuburan tak layak huni. Bukan hanya angker dan menyeramkan, tapi juga bisa bikin sial. Kalau pun di Jakarta sini ada yang tinggal di samping kuburan, itu karena memang mereka sudah tidak punya kesempatan lagi tinggal di tempat lain. Uang mereka memang hanya pas-pasan untuk mendapatkan tanah di samping kuburan.
Read the rest of this entry »
Leave a Comment » |
Cerita |
Permalink
Posted by haisa
February 22, 2007
Cerpen Hairus Salim HS
Dengan kayuhan satu kali dua, jukung yang kutumpangi perlahan melaju, menelusuri perkampungan di sisi sungai itu. Mentari waktu itu jatuh persis di atas ubun-ubun kepala. Rasa panas menjadi silir oleh hembusan angin yang menerpa.
Beberapa klotok menyelip jukung yang kutumpangi. Ombak yang dihasilkan klotok yang sebenarnya tak begitu besar itu sempat juga membuat jukung ini terombang-ambing. Ditilik dari berbagai macam barang yang mereka bawa, para penumpang klotok-klotok itu tampaknya baru pulang dari pasar kota. Ya, aku baru ingat, ini Rabu, hari pasar besar di kota Martapura. Pantas banyak sekali klotok hilir-mudik, pikirku.
Sungai ini memang satu-satuya jalan penghubung antara kota Martapura dan Dalam Pagar, kampung yang kutuju. Selain memakai klotok, orang masih banyak yang menggunakan jukung yang hanya mengandalkan kayuhan tangan saja. Aku sengaja memilih jukung biar agak lama dan lambat, sehingga aku bisa melihat-lihat keadaan sepanjang jalan sungai yang hampir tujuh tahun ini tidak pernah kulewati.
Dalam Pagar, memang nama kampung yang sering mengundang tanya. Orang yang belum tahu tentu menyangkanya sebuah perkampungan penduduk yang dikelilingi pagar secara eksklusif. Padahal tidaklah demikian. Kampung Dalam Pagar tidaklah berbeda dengan umumnya kampung-kampung pinggiran sungai di daerah Banjar lainnya.
Read the rest of this entry »
Leave a Comment » |
Cerita |
Permalink
Posted by haisa
February 22, 2007
Cerpen: Hairus Salim HS
Surat bersampul putih itu segera kusambar. Sudah hampir empat tahun terakhir ini aku tak bersentuhan dengan secarik kertas berisi kabar. Dulu, sewaktu masih menjadi mahasiswa, bersurat-suratan tentulah menjadi kebiasaan. Dengan kedua orang tua, saudara, teman, atau bahkan kekasih. Menjadi kesibukan yang mengasyikkan. Sekarang kebiasaan dan kehangatan bersurat-suratan itu telah hilang. Dengan siapapun kini aku lebih sering berkomunikasi lewat telpon, SMS atau e-mail. Alasannya, tentu lebih praktis.
Badan sebenarnya masih terasa penat. Pakaian sepulang kerja belum juga salin. Tapi, nama di sampul surat itu mendesak-desakku untuk segera membukanya. Galuh, teringatlah seorang gadis dengan lesung pipit menghias pipi, sibakan rambut di balik kakamban yang dikenakan, dan kulit yang putih bersih. Inilah nama yang terus memburu lamunanku akhir-akhir ini.
***
Tigapuluh satu tahun usiaku. Dan statusku masih bujangan. Belum menikah seusia itu rasanya tidaklah terlalu tua untuk generasi sekarang, tapi ibuku telah disergap cemas. Katanya, ia ingin segera menimang cucu dari anak laki satu-satunya.
Sebagai antropolog pekerjaanku adalah melakukan penelitian, jauh ke berbagai daerah. Bagai mur ketemu bautnya, pekerjaan ini cocok dengan hobiku berpetualang. Namun ada yang terus menggelisahkanku. Meski sudah sekian kali aku menggeluti dunia penelitian, belum pernah aku menginjakkan kaki di Kalimantan. Padahal pedalaman Sulawesi, Nusa Tenggara, Irian sudah kusambangi, kujelajahi, bahkan juga Serawak, Malaysia, dan negeri Siam. Berkali-kali aku mengajukan proposal baik pribadi maupun kelompok untuk penelitian ke Kalimantan, selalu ditolak. Sebaliknya, yang diterima adalah penelitian di daerah-daerah yang tak begitu menjadi favoritku dan topik penelitian yang sebenarnya tak begitu kuminati. Namun begitulah rupanya pasar penelitian.
Read the rest of this entry »
Leave a Comment » |
Cerita |
Permalink
Posted by haisa
February 22, 2007
Cerpen: Hairus Salim HS
Sewaktu ia dikuburkan hanya sedikit orang yang mengiringi dan mengantarkannya. Ya, itu pun para tetangga dan kerabat dekatnya. Maklumlah, ia hanya seorang kecil yang tak berharta dan tak punya kuasa. Ia sama sekali bukan orang yang hebat dan pantas untuk terkenal.
Tetapi sehari setelah penguburannya itu, namanya langsung melambung ke seantero desa. Bahkan tiga hari setelah itu keterkenalan namanya sudah berhembus melewati batas-batas desa, menembus udara kecamatan, dan lantas masuk ke kantor-kator, rumah-rumah, dan warung-warung di kota kabupaten. Dan seminggu kemudian namanya sudah menghiasi pembicaraan warga seluruh propinsi itu. Di pasar dan masjid orang ramai membincangkannya.
“Siapa sebenarnya orang itu?,” tanya orang-orang.
“Kuburnya mengeluarkan cahaya.”
“Kompleks pemakaman kampung itu menjadi terang. Padahal di situ tidak ada penerangan listrik sama sekali,” kata seorang dari mereka lagi.
“Siapa sesungguhnya lelaki yang berkubur di situ?”
Read the rest of this entry »
Leave a Comment » |
Cerita |
Permalink
Posted by haisa
February 22, 2007
Cerita: Hairus Salim HS
Untuk kesekian kali aku datang lagi ke Bali. Kalau dulu kali pertama aku berkunjung untuk belajar dan menambah pengetahuan melukisku, sekarang untuk kepentingan pameran lukisan. Bagaimanapun, suasana hati setiap kunjungan selalu saja berbeda.
Kendati demikian, entah mengapa setiap kali menginjakkan kaki di pulau ini aku tetap selalu teringat kakek. Ya, itu mungkin karena ketika pertama kali berkunjung ke pulau ini beberapa tahun lalu kakek melarangku dengan keras.
“Untuk apa jauh-jauh ke Bali. Di Yogya kan juga banyak guru menggambar. Ada banyak sanggar melukis,” kata kakek waktu itu.
“Beda!”
“Beda apanya?”
“Beda, di Bali lebih alamiah, kalau di Yogya terlalu teknis.”
“Lho, kan sama-sama lukisan toh.”
“Di Bali lukisan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Lukisan penuh penjiwaan, dan karena itu goresan dan pewarnaannya sangat bertenaga dan bernyawa. Aku juga ingin melukis alam Bali yang indah dan upacara ritualnya yang menakjubkan,” aku mencoba menjelaskan agak panjang.
“Ah, apa bedanya, di sini juga banyak tempat yang indah. Kau bisa ke Parangkusomo atau ke Merapi sana.”
Read the rest of this entry »
Leave a Comment » |
Cerita |
Permalink
Posted by haisa
February 22, 2007
Cerpen Hairus Salim HS
Hujan pagi hari. Tak mungkin untuk berkeliling kota ini. Kalau pun ada angkutan mobil itu juga tetap tak menyenangkan. Selokan-selokan kota yang kecil, mampet, penuh sampah. Tak akan mampu menampung luapan air dari langit yang begitu deras dan tak henti. Kali-kali kecil yang dulu berjejeran indah membelah kota semestinya bisa menjadi pelimpahan air. Tapi kini atasnya telah dibangun rumah-rumah dan bagian bawahnya sudah buntu oleh sampah. Jalan-jalan terendam hingga setengah kaki. Lalu, setelah itu becek dan kubangan air di mana-mana. Dan, jalan kota yang memang sudah sejak awal sempit itu pastilah macet.
Read the rest of this entry »
Leave a Comment » |
Cerita |
Permalink
Posted by haisa