‘Deadline’

December 26, 2008

bandung

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Ini mungkin merupakan salah satu kata yang sulit dicari padanannya dalam Bahasa Indonesia. Secara harfiah, maknanya terdengar sangar: “garis atau batas yang mati.” Ya memang, barangsiapa yang tidak bisa memenuhi batas atau garis yang telah ditentukan tersebut alamat rezekinya akan terbang dan bahkan mungkin kariernya akan melayang.

Read the rest of this entry »


Mengapa Saya Menonton “Laskar Pelangi”

September 26, 2008

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

25 September 2008. Bersama Zaki, saya ikut berjubel membeli tiket film “Laskar Pelangi” di bioskop 21, Ambarukmo Plaza, Yogyakarta. Calon penonton luar biasa banyak. Tiga baris antrean memanjang sampai ke luar dekat eskalator. Hari itu hari pertama pemutaran film yang diangkat dari novel yang telah meraup sukses itu. Saya yakin ada banyak calon penonton yang tak beroleh tiket dan harus menunda menonton esok hari. Saya sendiri akhirnya dapat tiket untuk pemutaran ke-2, pukul 13.15. Oke saja, karena itu malah berarti bareng dengan sutradara, produser, sejumlah para pemain, dan juga Sultan Hamengkubowono XI dan beberapa tokoh lain yang menjadi penonton tamu undangan.

Sejak membaca novelnya, saya sudah ‘jatuh cinta’ dengan Laskar Pelangi, karena alasan yang mungkin sangat pribadi sekali. Seperti Andrea Hirata, penulis novel itu, yang menjadi ‘aku’ atau ‘Ikal’ dalam novel itu, atau sekarang film itu, saya juga menjalani kehidupan sebagai anak-anak SD di akhir tahun 70-an dan awal 80-an. ‘Kami’ karena itu bisa dikata kurang lebih se-angkatan. Read the rest of this entry »


Filmisasi Karya-Karya Sastra Islami

September 2, 2008

Pemfiliman karya-karya sastra (baik yang serius maupun yang pop) tentu bukanlah gejala baru. Sejak dini, film sudah banyak yang mengambil inspirasi (inspired by) atau (adapted from) karya-karya sastra. Menurut Garin Nugroho, 85% film pemenang Oscar merupakan adaptasi dari karya sastra (novel, cerpen, drama). Sementara 45% film cerita dan 83% miniseri televisi merupakan adaptasi dari novel. Bahkan 70% peraih Emmy Award –penghargaan terbaik untuk karya-karya televisi— merupakan adaptasi dari berbagai karya tulis. Read the rest of this entry »


Menonton “Kantata Takwa”

August 10, 2008

Tahun 1989, Iwan Fals, Rendra, Sawung Jabo, Jokcy Soerprayogo, dana lain-lain mengeluarkan album Swami. Setahun berikutnya, dengan formasi yang kurang lebih sama, mereka menelurkan Kantata Takwa, dan berpentas di senayan. Sebuah pementasan yang penontonnya mungkin paling besar selama ini.

Lagu “Bento” dan “Bongkar,” saya ingat betul, sering distel ketika demonstrasi-demonstrasi tahun 1990-an. Berbeda dengan itu, lagu-lagu di dalam “Kantata Takwa,” agak sulit untuk dijadikan semacam lagu protes, meski syairnya, yang banyak mengambil puisi Rendra itu, penuh dengan nada gugatan pada keadaan. Saya membeli kaset Kantata Takwa, mendapatkan posternya, dan satu karcis untuk nonton pertunjukan mereka di Senayan. Tapi, karena sesuatu dan lain hal, saya gagal berangkat ke Jakarta. Betapa kecewanya waktu itu!

Yang saya tidak tahu –mungkin juga banyak orang— mereka sebenarnya membuat ‘semacam’ film dokumenter juga saat itu. Tetapi film ini hingga belasan tahun tak pernah bisa –karena sebab apa, entahlah— dirampungkan. Baru setelah 18 tahun, atas usaha Gotot Prakosa dan Eros Djarot, film ini berhasil ‘diselesaikan.’ Pada Jogja-Netpac Asian Film Festival yang ke-3 (9-13 Agustus), film ini hadir sebagai ‘opening film.’

Menonton film ini jadi memutar kenangan saja. Lagu-lagu di dalam Swami dan Kantata Takwa menggema indah dan gagah. Peristiwa tahun-tahun itu dan reaksi mahasiswa seperti hadir lagi di ingatan. Rendra, Jocky, Jabo, Iwan, dan lain-lain, kelihatan masih sangat muda dan perkasa. Mereka, seperti mewakili jutaan rakyat Indonesia, meneriakkan protes-protes politik ke wajah penguasa. Read the rest of this entry »


B e r p i k i r

August 7, 2008

“Nagabonar,” satu dari sedikit film komedi Indonesia yang bermutu dikenang para penontonnya di antaranya karena ungkapan, “Sudah kubilang kau, berhentilah berpikir!” Ungkapan yang diekspresikan tokoh Nagabonar dengan dialek Batak dan terus diulang sepanjang film itu meninggalkan pesan yang menarik.

Dalam suasana genting dan mendesak, seperti situasi perang dalam film tersebut, ‘berpikir’ –atau lebih lunak, berpikir yang terlalu lama— adalah tindakan yang boros, tidak efisien, dan juga tidak efektif. Berpikir jadi suatu yang negatif, yang mengguratkan kesan lamban dan juga dalam banyak hal, pengecut. Yang diperlukan dengan segera adalah tindakan yang cepat dan praktis, yang langsung mengarah pada penyelesaian masalah. Soal hasil dan akibat nanti urusan belakang.

Tapi, adakah tindakan yang betul-betul tidak dilandasi pemikiran dan perenungan lebih dulu, seminim apapun kadarnya? Read the rest of this entry »


Jurnalisme Sastrawi dan Etnografi Awam

July 10, 2008

Setelah membolak-balik dan menelusuri apa yang disebut sebagai ‘jurnalisme sastrawi,’ saya berpendapat setidaknya ada tiga hal yang penting di dalamnya.

Pertama, sebagaimana namanya menunjukkan, jurnalisme sastrawi pertama-tama adalah suatu tulisan yang bersifat jurnalistik, yang disuguhkan kepada pembaca. Sifat jurnalistiknya tercermin dari penggalian subyek berita yang sungguh-sungguh menerapkan asas-asas jurnalistik: berdasar peristiwa aktual, wawancara atau datang langsung ke sumber berita, jujur, mencakup sumber dua arah, dan lainnya.

Kedua, ia tak sekadar suatu laporan yang singkat dan dangkal. Ia berdasar pada suatu investigasi yang mendalam, yang meliputi pengamatan dan wawancara yang luas. Pada tingkat tertentu, boleh dikata, investigasi ini sudah setara –untuk tidak mengatakannya kadang bahkan melebihi— suatu penelitian sosial. Tak jarang ia diperlengkapi pula dengan studi pustaka. Membacanya kita bukan semata beroleh ‘keping-keping informasi,’ tapi juga suatu ‘pengetahuan.’ Kita tak sekadar mendapat ‘kesan,’ tapi sungguh seperti menemu ‘ilmu.’

Ketiga, ia –sebagaimana adjektif yang disandangnya— dihadirkan sebagai ‘laporan panjang’ atau sejenis features yang ditulis dengan pola seperti orang bercerita. Dan memang pada dasarnya ia hendak bercerita, bukan sekadar berkabar. Lancar, mengalir, dan renyah. Tidak kaku dan berat sebagaimana bahasa ilmiah, namun juga tidak dangkal sebagaimana tulisan straight news biasa. Diksinya dipilih dengan cermat. Sebisa mungkin tidak boleh ada pengulangan kata. Kalimat-kalimat yang panjang dan bertingkat, yang membuat rumit dan berbelit, sedemikian rupa dihindari. Pembaca lalu seperti disuguhkan sebuah ‘tulisan bergaya sastra,’ yang tak membosankan dan ingin terus mencicipinya.

Read the rest of this entry »


Agelaste

June 5, 2008

Pernahkah anda punya seorang teman, kenalan, sanak, tetangga, atau siapapun juga, yang tak senang tertawa? Orang itu, dalam situasi apapun, tak sudi tertawa. Ia memilih menghindar dari tawa dan menutup, bukan saja mulutnya, tapi juga keinginanannya untuk tertawa. Jika suatu kali ia terjebak dalam hiruk pikuk tawa, di mana di depannya berlangsung suatu lintasan peristiwa yang semestinya bisa menghadirkan gelak tawa, ia tetap tak akan tertawa. Ia bahkan mungkin merasa bersalah berada –meski secara kebetulan— dalam arena yang menimbulkan tawa itu. Lalu, ia akan mencipta alibi dan mencari permakluman maaf untuk kesalahan yang baginya sangat besar itu. Pada tingkatan tertentu, ia bukan lagi tak ingin tertawa, tapi memang sudah tak bisa lagi tertawa.

 

  Read the rest of this entry »


Terkenang Pada Laksmi

April 24, 2008

Tarian Okty

Setiap kali pulang selalu saja tumbuh perasaan yang sentimentil. Dan perasaan itu terasa makin menguat ketika aku membuka pintu pagar rumah. Suasana sudah cukup malam. Dan seperti biasa di setiap musim kemarau ini Yogyakarta demikian sangat terasa dingin. Tapi lampu ruang tamu kulihat masih terang benderang. Rupanya bapak masih ada tamu.

  Read the rest of this entry »


Abu Nuwas

March 29, 2008

abu nuwas

Dari dulu saya sudah menganggap tokoh jenaka ‘Abu Nuwas’ itu ada, dan hebatnya, tokoh itu berasal dari kampung saya sendiri. Tersebab dulu waktu saya bocah ada seorang laki-laki yang selalu berpakaian aneh: berserban putih, baju koko putih lengan panjang, dan pantalon katun yang kedodoran. Bagi kami, pakaiannya itu sangat lucu, dan memang ia sering mengundang tawa ketika berbicara, bercerita, dan bernyanyi riang. Karena jenakanya itu, ia lalu selalu menjadi tontonan banyak orang, lebih-lebih kami anak-anak.   

Bahwa tokoh bernama Abu Nuwas itu ada, dan bahwa ia jenaka, saya tidaklah keliru. Tapi kalau ia berasal dari kampung saya, sudah barang tentu salah besar. Read the rest of this entry »


SMS-SMS Lawan Soeharto

February 1, 2008

images-harto21.jpg

Sudah jelas, Soeharto mempunyai kawan sekaligus lawan. Kedua kelompok ini, pengagum dan pembencinya, ternyata ada di sekitar saya. Mungkin juga ada di sekitar Anda. Mereka bisa tetangga, teman sekantor, famili dekat, bekas teman sekolah, dan lainnya.  

Sejak Soeharto sakit, ponsel saya rutin menerima SMS dari seorang teman yang rupanya pembencinya. Ada SMS yang lucu dan ada yang kasar sekali. Meski saya tak pernah membalasnya, SMS itu terus saja mampir. Sebagai balasannya saya ingin membagi sebagiannya di sini. SMS, seperti rumor, beredar luas tak terkontrol, jadi bisa saja sebagiannya sudah anda baca. Saya mohon maaf untuk hal ini.   

Pada hari-hari pertama sakitnya, ponsel saya menerima SMS dari teman itu seperti ini: “Gmna ya, dlu P Harto mlrang kita-kita (bc: mahasiswa) kritis, e…skrg malah dy sendr yg kritis…hehehe.”  

Ketika sakit berjalan beberapa hari, SMS lain datang dengan bunyi seperti ini: “Menurut Tim Dokter, Harto mengalami kegagalan multiorgan. Jalan keluarnya adalah: dihibur dengan permainan organ tunggal.”  

Saya menerima lebih dari 25 SMS yang lucu dan kasar dari hanya satu orang. Tentu tak bisa semua saya tuliskan di sini, lebih-lebih yang kasar, mungkin tak elok sekali. Sampai sekarang pun, setelah tiga hari Soeharto meninggal, ia masih kirim SMS. Yang ini saya terima tadi malam: “Ternyata Astana Giribangun, tanahnya masih milik Perum Perhutani Lawu Utara. Soeharto mati saja masih korupsi tanah!…”   

Anda mungkin juga bisa berbagi SMS-SMS seperti ini, baik para pembenci maupun pengagumnya!   

Tulisan ini dan beberapa komentar pembaca bisa diakses juga di http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=6241