Skip to content

Wawasan Jurnalis Indonesia: Tawaran Perbincangan

Bahan perbincangan dengan anggota baru AJI

Baru-baru ini saya membaca sebuah buku bertajuk Jurnalisme dan Politik di Indonesia (YOI, 2011) karya David T. Hill, seorang indonesianis penting asal Australia. Buku ini adalah biografi kritis terhadap perjalanan hidup, pemikiran, sepak terjang, dan perjuangan Mochtar Lubis (alm.), seorang jurnalis dan pengarang Indonesia terkemuka pada zamannya.

Mochtar Lubis dikenal sebagai jurnalis yang berjihad melalui media mengkritik rezim penguasa, baik pada masa Orde Lama maupun pada masa Orde Baru. Ketegaran, ketegasan, dan keberaniannya dalam mengkritik penyalahgunaan kekuasaan mengantarnya dua kali ke bilik penjara, masing-masing pada akhir kekuasaan Sukarno dan terulang pada masa-masa awal kekuasaan Suharto. Serentak dengan itu juga koran yang dipimpinnya Indonesia Raya dibreidel. Read more…

Blusukan

Catatan: sekitar 6 bulanan setelah Jokowi menjabat Gubernur DKI, saya membuat tulisan sederhana ini. Saya kirim ke sebuah media, tapi tak ada kabar alias tidak dimuat.

Joko Widodo (Jokowi), mantan walikota Solo, yang kini menduduki kursi nomor 1 DKI melesat sebagai tokoh nasional. Bersamanya juga melesat sebuah kata Jawa: ‘blusukan.’ Jokowi terkenal dan dielu-elukan di antaranya karena kegiatan ‘blusukan’-nya. Sedemikian memesonanya blusukan ini, bahkan Presiden SBY pun disebut-sebut meniru kegiatan blusukan ala Jokowi ini. Read more…

Menuju Jurnalis sebagai Cendikiawan

Hairus Salim HS, Penulis dan salah seorang pendiri AJI Jogjakarta

Orasi Budaya pada Hari Kebebasan Pers, 3 Mei 2014, di Bentara Budaya, yang diselenggarakan oleh AJI Jogjakarta.

 

Ass. Selamat malam dan salam sejahtera utk kita semua.

 

Yang terhormat Ketua AJI Jogjakarta dan teman-teman jurnalis, aktivis, dan mahasiswa.

Pertama, saya ingin mengucapkan selamat Hari Kebebasan Pers kepada semua teman jurnalis. Semoga kebebasan dan jaminan keamanan bagi jurnalis semakin membaik dan meningkat, serta tidak akan ada lagi kekerasan pada jurnalis, dan dengan atmosfir itu semua jurnalis makin berperan dlm membentuk masyarakat yang demokratis, damai, adil dan sejahtera.

 

Kawan-kawan sekalian. Para jurnalis idealis mungkin seperti makhluk alien sekarang ini.

Read more…

Sengketa Visual Ruang Publik

Oleh Hairus Salim HS

Artikel ini pernah dimuat di Koran Tempo, 21 September 2011

Ketegangan antargolongan, yang dalam banyak hal bisa meningkat menjadi konflik, yang terjadi belakangan ini di tanah air boleh dikatakan meningkat, bukan berkurang, meluas bukan menyempit. Jika sebelumnya ketegangan didasarkan pada soal penyiaran agama atau pendirian rumah ibadah, kini sebab masalah bertambah menyangkut soal visual di ruang publik. Read more…

Penerjemahan Karya Sastra: Pandangan seorang Pembaca

Hairus Salim HS

(Ikhwal penerjemahan sastra telah banyak dibicarakan. Baca misal Anton Kurnia “Penerjemahan Sastra, Sebuah Pandangan”, Horison, Oktober 2012 yang membahas hampir seluruh isu –yang sepertinya tak bergeser—mengenai penerjemahan sastra modern ini. Kajian Doris Jedamsky (2008) dan Maya H.T Liem (2011) memberikan wawasan bagaimana praktik penerjemahan era kolonial dan setelah kemerdekaan, yang tak banyak berubah situasinya dengan masa kini. Lalu sebuah himpunan tebal berjudul Sadur: Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia (2009), yang dikumpulkan dan disunting oleh Henri Chambert-Loir, memberikan pengetahuan luar biasa jenis-jenis, problem-problem, dan sumbangan karya terjemahan pada kebudayaan. Rasanya hampir tak ada lagi yang bisa dibahas. Berikut ini sekadar catatan seorang pembaca sastra terjemahan modern dalam bahasa Indoensia). 

———————————————————————————————————

Terlalu sering kita dengar bahwa karya terjemahan merupakan karya tersendiri, yang mesti mendapatkan apresiasi tersendiri pula. Dan ini ungkapan klise yang lain: melalui jasa para penerjemahlah, kita mengenal karya-karya sastra dunia.   

Meski demikian, tak ada penghormatan yang memadai terhadap karya sastra terjemahan. Penghargaan-penghargaan sastra sama sekali tidak meliriknya dan mungkin menganggapnya sepi. Tidak ada undangan khusus kepada penerjemah untuk membincangkan sekaligus mempertanggungjawabkan karya terjemahannya.

Tapi para penerjemah sendiri rupanya tidak begitu percaya diri. Hal ini terlihat dari jarangnya ‘mereka’ mencantumkan nama sebagai penerjemah di sampul depan sebuah buku sastra terjemahan. Di antara yang sedikit bisa disebut misalnya NH Dini, Nin Bakdi Soemanto dan A.S. Laksana. Masing-masing ketika menerjemahkan Sampar (Albert Camus), The Name of the Rose (Umberto Eco) dan Daerah Salju (Yasunari Kawabata). Umumnya nama penerjemah tertulis kecil di dalam halaman kredit titel. Tanpa riwayat, tanpa penjelasan. Atau sekadar tertera di halaman dalam, dengan nada yang agak malu-malu.   Read more…

Kisah-Kisah Mereka yang “Terganggu oleh Bacaan.”

Diskusi buku Mantra Maira, Sofie Dawayanti, Jalasutra, 2010, diselenggarakan BPAD dan Penerbit Jalasutra, 23 September 2013.

“Alia, kau tahu, di era postmodern ini, jarak antara teks dan pembaca sudah lebur sama sekali. Sebagai penulis, semakin dalam dan semakin reflektif, tulisanmu akan semakin baik. Seharusnya kau merasa beruntung karena terganggu oleh bacaan. Itu wajar. Kita tak bisa berjarak dari buku dan menganggapnya terpisah dari hidupmu. Kau tahu itu, kita sudah membahasnya berminggu-minggu.”

(“Jalan Bata”)

Sebuah bacaan adalah sebuah dunia alternatif. Melalui kegiatan membaca orang menyulam dan membangun dunianya, yang sepi, yang indah, yang tak seorang pun bisa mengintervensinya.

Alia, mahasiswa sastra sebuah universitas, tak hendak, dan merasa tak kuasa, melanjutkan pekerjaannya menulis tinjauan sebuah novel. Nazneen, tokoh perempuan dalam novel yang hendak dibahasnya itu, seakan-akan hidup dan bergerak; mengajaknya berbicara, mengajukan tanya padanya, dan mengejeknya. Nazneen, yang menikah dengan seorang lelaki tua, yang menyayangi dan memanjakannya, tapi tak pernah membuatnya dewasa, seperti pantulan nasibnya saja. Jika ia meneruskan tinjauan itu, sesungguhnya ia tak menulis tentang Nazneen, tapi tentang nasib dan duka dirinya sendiri. Read more…

Perempuan Yang Tak Pernah Menyerah Tak Pernah Mencampakkan Mimpi[1]

Hairus Salim HS

 

Seorang perempuan tua meninggal pada dini hari, 10 Oktober 2002. Harian Kompas, memuat beritanya, 10 Oktober 2002, dalam sebuah kolom kecil di halaman 10: “Sulami Djoyoprawiro Meninggal Dunia.” Dikatakan dalam berita itu bahwa Ny. Sulami, tokoh pergerakan perempuan Indonesia, meninggal dalam usia 76 tahun, karena serangan stroke, menyusul berbagai komplikasi lainnya. Siapakah Sulami?

Tokoh Sulami, sejak zaman Belanda, aktif di pergerakan perempuan. Saat Agresi II, ia membantu TNI melawan Belanda. Pada tahun 1958, Sulami menjadi wakil Indonesia dalam Kongres Perempuan sedunia di Wina. Sulami menjadi buron setelah peristiwa G30S. Ia ditangkap setelah 15 bulan berpindah-pindah tempat di Jakarta, dan kemudian diinterogasi di markas tentara Bukit Duri Jakarta. Read more…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.