Djohan Effendi: Kosmopolitanisme Se-“Urang Banjar”

January 19, 2010

Catatan: Tulisan ini merupakan pengantar untuk buku biografi Dr. Djohan Effendy: Sang Pelintas Batas. Djohan adalah mantan Menteri Sekretaris Kabinet era Gus Dur, penulis pidato Presiden Soeharto, dan salah seorang tokoh pembaruharuan Islam Indonesia. 2009 yang lalu, beliau berusia 70 tahun. Rekan-rekannya merayakannya dengan di antaranya menerbitkan biografi beliau dan sebuah persembahan dari sejumlah aktivis dan intelektual, Merayakan Kebebasan Beragama: Persembahan 70 tahun Djohan Effendy. Kedua buku tersebut diterbitkan oleh ICRP dan Kompas, Jakarta (HS).

Hairus Salim HS

Di Yogyakarta, atau tepatnya di jalan Mataram, berseberangan dengan Hotel Melia Purosani, persis di pojok jalan, ada sebuah masjid mungil. Quwwatul Islam namanya. Masjid ini didirikan oleh para saudagar asal Banjar, Kalimantan Selatan, beberapa warsa yang lalu, dan awalnya dimaksudkan sebagai ‘transito’ bagi para pendatang Banjar di Yogyakarta, baik mereka yang hendak mengadu nasib maupun yang ingin menuntut ilmu di Yogyakarta. Pendirinya konon berwasiat agar pengurus takmir masjid ini selalu orang Banjar, supaya ia selalu bisa menjadi ‘pusat’ pertemuan dan komunikasi orang-orang Banjar di Yogyakarta. Memang pada tahun-tahun pendiriannya, belum ada asrama daerah milik warga Kalimantan Selatan yang bisa menjadi pusat pertemuan dan kegiatan, serta komunikasi pasti masih sulit. Karena itu, fungsi masjid itu –di luar untuk kepentingan ibadah— sangat penting bagi warga Banjar di Yogyakarta. Dan sesuai dengan wasiat, hingga sekarang pengurus takmirnya selalu orang asal atau keturunan Banjar yang bermukim di Yogyakarta. Meski peranan masa lalunya telah merosot, hingga kini masjid itu tetap menjadi pusat pertemuan warga Banjar di Yogyakarta.

Read the rest of this entry »


Si Bongkok

January 5, 2010

Konon, di Cina hiduplah seorang penjahit dengan istri yang jelita dan setia. Sebagai penghiburan, suatu hari mereka mengundang makan malam seorang lelaki bongkok yang piawai main rebana, bernyanyi, dan melucu. Dengan perut kenyang, mereka tertawa riang. Sambil bergurau si penjahit menjejalkan sepotong ikan ke mulut Si Bongkok yang membuatnya tak dapat bernapas dan tidak sempat mengunyah, hingga langsung menelannya. Bagian tulang ikan itu menancap di kerongkongannya dan membuatnya tewas seketika.
Read the rest of this entry »


Toleransi

January 5, 2010

Mengingat Voltaire adalah di antaranya mengingat Jean Calas. Dan mengenang dua nama ini dalam satu nafas adalah menyadari bahwa sikap toleransi, menegang, dan menghormati orang yang berbeda, tidaklah datang serta merta, tapi melalui perjuangan, pengalaman, dan juga air mata.
Read the rest of this entry »


Pembaharuan Abdurrahman Wahid: Gagasan dan Strategi

January 2, 2010

Hairus Salim HS

Catatan: Tulisan ini merupakan bagian dari sebuah buku berjudul Para Pembaharu: Pemikiran dan Gerakan Islam Asia Tenggara, terbitan Seamus, 2009).

Kesulitan pertama di dalam upaya membentangkan pemikiran-pemikiran Abdurrahman Wahid (selanjutnya Gus Dur, sesuai sebutan akrabnya) terletak pada luasnya spektrum yang menjadi minatnya selama ini. Gus Dur bukan seorang akademisi yang setia menghuni perguruan tinggi dan menumpahkan perhatiannya pada satu dua topik masalah saja. Ia adalah seorang cendikiawan-aktivis, dan boleh dikata juga, seorang eksiklopedis, dengan perhatian luas dan beragam, yang membentang mulai topik agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan hingga soal-soal praktis seperti sepak bola dan film.

Read the rest of this entry »


‘Deadline’

December 26, 2008

bandung

Ini mungkin merupakan salah satu kata yang sulit dicari padanannya dalam Bahasa Indonesia. Secara harfiah, maknanya terdengar sangar: “garis atau batas yang mati.” Ya memang, barangsiapa yang tidak bisa memenuhi batas atau garis yang telah ditentukan tersebut alamat rezekinya akan terbang dan bahkan mungkin kariernya akan melayang.

‘Deadline’ –fixed limit of time for finishing a piece of work— memang kata yang berasal dari latar masyarakat Barat yang sangat menghargai dan memuliakan waktu. Dari latar masyarakat ini pula lahir pepatah ‘waktu adalah uang.’ Tentu saja tidak dari sono-nya masyarakat Barat demikian. Adalah melalui proses-proses sosial yang panjang yang telah membentuk pandangan mereka menjadi sedemikian ketat —dan dalam beberapa hal juga kaku– terhadap waktu. Menurut sejarawan E. P. Thompson, pemuliaan yang tinggi terhadap waktu di Inggris baru dimulai pada abad ke-14 ketika jam mulai diperkenalkan dan disebarkan, serta menyusul itu, terjadi revolusi industri. Sejak itulah mulai dikenal namanya target, waktu dan disiplin kerja, upah, status buruh-majikan, dan juga deadline itu.

Dalam bahasa Indonesia, deadline sering diterjemahkan sebagai ‘batas waktu’ atau ‘tenggat waktu.’ Dengan terjemahan itu, kesan sangarnya terasa jadi mencair. Tak aneh kalau karena itu ‘batas waktu’ atau ‘tenggat waktu’ ini seringkali masih bisa ditawar dan diulur-ulur, karena ia tidak lagi sesuatu yang ‘dead(ly),’ yang (me)mati(kan). Bisa dipahami jika banyak teman tetap lebih senang menggunakan kata aslinya, deadline, agar tetap terasa efek represi dan provokasinya.

Sebagian besar masyarakat masih memperlakukan waktu secara lunak dan santai. Bahkan di kalangan urban, yang telah terikat pada budaya industri pun, perlakuan demikian masih kuat melekat. Diburu waktu, dalam hal apapun, sangat menekan dan menyiksa. Santai sungguh sebuah kemewahan. Terlalu patuh pada deadline memang belum menjadi bagian dari budaya kita.

Tetapi yang menarik, jika kita menengok beberapa legenda, tersurat di sana soal deadline ini. Ingat misalnya legenda Sangkuriang yang jatuh cinta pada ibunya Dayang Sumbi. Sang ibu yang tahu itu cinta terlarang menolak dengan cara meminta Sangkuriang membuatkannya sebuah danau dan sebuah perahu dalam semalam. Sangkuriang yang mandraguna bersedia dan hampir bisa memenuhi permintaan itu. Tapi sebelum deadline itu tiba dan pekerjaan hendak usai, Dayang Sumbi dengan culas bersama teman-temannya telah mengetuk lesung dan menggemakan kokok ayam pertanda fajar menjelang. Sangkuriang kalah dalam pertaruhan itu.

Legenda yang serupa terjadi berkaitan dengan asal-mula Candi Prambanan. Konon Roro Jonggrang yang ogah menerima cinta Bandung Bondowoso mensyaratkannya membuat seribu candi dalam semalam. Tak sulit bagi Bandung Bondowoso yang sakti untuk memenuhi syarat itu. Tapi seperti legenda Sangkuriang, sebelum fajar benar-benar menyingsing, Roro Jonggrang dan para dayangnya telah membakar jerami dan menumbuk lesung. Dan ayam pun berkokok pertanda hari telah pagi. Karya Bandung Bondowoso dianggap gagal.

Dari legenda yang meninggalkan pusaka alam yang indah Tangkubanperahu dan Candi Prambanan ini, tampak bahwa orang-orang yang sanggup memenuhi deadline adalah mereka yang digjaya dan hebat. Dalam konteks modern sekarang: merekalah orang-orang yang profesional, yang tangkas dan siap bertarung dan berkontestasi dalam hidup. Tapi kesanggupan memenuhi deadline ini, celakanya tidak sepenuhnya diterima dan dianggap benar. Ia dipotong dan ditolak dengan curang. Dianggap ngoyo atau nggaya.

Barangkali ini sebab kita tak sepenuhnya bisa menjadi Sangkuriang atau Bandung Bondowoso, meski tak mau juga jadi Dayang Sumbi atau Roro Jonggrang!

Gong edisi 105, November 2008


Mengapa Saya Menonton “Laskar Pelangi”

September 26, 2008

25 September 2008. Bersama Zaki, saya ikut berjubel membeli tiket film “Laskar Pelangi” di bioskop 21, Ambarukmo Plaza, Yogyakarta. Calon penonton luar biasa banyak. Tiga baris antrean memanjang sampai ke luar dekat eskalator. Hari itu hari pertama pemutaran film yang diangkat dari novel yang telah meraup sukses itu. Saya yakin ada banyak calon penonton yang tak beroleh tiket dan harus menunda menonton esok hari. Saya sendiri akhirnya dapat tiket untuk pemutaran ke-2, pukul 13.15. Oke saja, karena itu malah berarti bareng dengan sutradara, produser, sejumlah para pemain, dan juga Sultan Hamengkubowono XI dan beberapa tokoh lain yang menjadi penonton tamu undangan.

Sejak membaca novelnya, saya sudah ‘jatuh cinta’ dengan Laskar Pelangi, karena alasan yang mungkin sangat pribadi sekali. Seperti Andrea Hirata, penulis novel itu, yang menjadi ‘aku’ atau ‘Ikal’ dalam novel itu, atau sekarang film itu, saya juga menjalani kehidupan sebagai anak-anak SD di akhir tahun 70-an dan awal 80-an. ‘Kami’ karena itu bisa dikata kurang lebih se-angkatan. Read the rest of this entry »


Filmisasi Karya-Karya Sastra Islami

September 2, 2008

Pemfiliman karya-karya sastra (baik yang serius maupun yang pop) tentu bukanlah gejala baru. Sejak dini, film sudah banyak yang mengambil inspirasi (inspired by) atau (adapted from) karya-karya sastra. Menurut Garin Nugroho, 85% film pemenang Oscar merupakan adaptasi dari karya sastra (novel, cerpen, drama). Sementara 45% film cerita dan 83% miniseri televisi merupakan adaptasi dari novel. Bahkan 70% peraih Emmy Award –penghargaan terbaik untuk karya-karya televisi— merupakan adaptasi dari berbagai karya tulis. Read the rest of this entry »


Menonton “Kantata Takwa”

August 10, 2008

Tahun 1989, Iwan Fals, Rendra, Sawung Jabo, Jokcy Soerprayogo, dana lain-lain mengeluarkan album Swami. Setahun berikutnya, dengan formasi yang kurang lebih sama, mereka menelurkan Kantata Takwa, dan berpentas di senayan. Sebuah pementasan yang penontonnya mungkin paling besar selama ini.

Lagu “Bento” dan “Bongkar,” saya ingat betul, sering distel ketika demonstrasi-demonstrasi tahun 1990-an. Berbeda dengan itu, lagu-lagu di dalam “Kantata Takwa,” agak sulit untuk dijadikan semacam lagu protes, meski syairnya, yang banyak mengambil puisi Rendra itu, penuh dengan nada gugatan pada keadaan. Saya membeli kaset Kantata Takwa, mendapatkan posternya, dan satu karcis untuk nonton pertunjukan mereka di Senayan. Tapi, karena sesuatu dan lain hal, saya gagal berangkat ke Jakarta. Betapa kecewanya waktu itu!

Yang saya tidak tahu –mungkin juga banyak orang— mereka sebenarnya membuat ‘semacam’ film dokumenter juga saat itu. Tetapi film ini hingga belasan tahun tak pernah bisa –karena sebab apa, entahlah— dirampungkan. Baru setelah 18 tahun, atas usaha Gotot Prakosa dan Eros Djarot, film ini berhasil ‘diselesaikan.’ Pada Jogja-Netpac Asian Film Festival yang ke-3 (9-13 Agustus), film ini hadir sebagai ‘opening film.’

Menonton film ini jadi memutar kenangan saja. Lagu-lagu di dalam Swami dan Kantata Takwa menggema indah dan gagah. Peristiwa tahun-tahun itu dan reaksi mahasiswa seperti hadir lagi di ingatan. Rendra, Jocky, Jabo, Iwan, dan lain-lain, kelihatan masih sangat muda dan perkasa. Mereka, seperti mewakili jutaan rakyat Indonesia, meneriakkan protes-protes politik ke wajah penguasa. Read the rest of this entry »


B e r p i k i r

August 7, 2008

“Nagabonar,” satu dari sedikit film komedi Indonesia yang bermutu dikenang para penontonnya di antaranya karena ungkapan, “Sudah kubilang kau, berhentilah berpikir!” Ungkapan yang diekspresikan tokoh Nagabonar dengan dialek Batak dan terus diulang sepanjang film itu meninggalkan pesan yang menarik.

Dalam suasana genting dan mendesak, seperti situasi perang dalam film tersebut, ‘berpikir’ –atau lebih lunak, berpikir yang terlalu lama— adalah tindakan yang boros, tidak efisien, dan juga tidak efektif. Berpikir jadi suatu yang negatif, yang mengguratkan kesan lamban dan juga dalam banyak hal, pengecut. Yang diperlukan dengan segera adalah tindakan yang cepat dan praktis, yang langsung mengarah pada penyelesaian masalah. Soal hasil dan akibat nanti urusan belakang.

Tapi, adakah tindakan yang betul-betul tidak dilandasi pemikiran dan perenungan lebih dulu, seminim apapun kadarnya? Read the rest of this entry »


Jurnalisme Sastrawi dan Etnografi Awam

July 10, 2008

Setelah membolak-balik dan menelusuri apa yang disebut sebagai ‘jurnalisme sastrawi,’ saya berpendapat setidaknya ada tiga hal yang penting di dalamnya.

Pertama, sebagaimana namanya menunjukkan, jurnalisme sastrawi pertama-tama adalah suatu tulisan yang bersifat jurnalistik, yang disuguhkan kepada pembaca. Sifat jurnalistiknya tercermin dari penggalian subyek berita yang sungguh-sungguh menerapkan asas-asas jurnalistik: berdasar peristiwa aktual, wawancara atau datang langsung ke sumber berita, jujur, mencakup sumber dua arah, dan lainnya.

Kedua, ia tak sekadar suatu laporan yang singkat dan dangkal. Ia berdasar pada suatu investigasi yang mendalam, yang meliputi pengamatan dan wawancara yang luas. Pada tingkat tertentu, boleh dikata, investigasi ini sudah setara –untuk tidak mengatakannya kadang bahkan melebihi— suatu penelitian sosial. Tak jarang ia diperlengkapi pula dengan studi pustaka. Membacanya kita bukan semata beroleh ‘keping-keping informasi,’ tapi juga suatu ‘pengetahuan.’ Kita tak sekadar mendapat ‘kesan,’ tapi sungguh seperti menemu ‘ilmu.’

Ketiga, ia –sebagaimana adjektif yang disandangnya— dihadirkan sebagai ‘laporan panjang’ atau sejenis features yang ditulis dengan pola seperti orang bercerita. Dan memang pada dasarnya ia hendak bercerita, bukan sekadar berkabar. Lancar, mengalir, dan renyah. Tidak kaku dan berat sebagaimana bahasa ilmiah, namun juga tidak dangkal sebagaimana tulisan straight news biasa. Diksinya dipilih dengan cermat. Sebisa mungkin tidak boleh ada pengulangan kata. Kalimat-kalimat yang panjang dan bertingkat, yang membuat rumit dan berbelit, sedemikian rupa dihindari. Pembaca lalu seperti disuguhkan sebuah ‘tulisan bergaya sastra,’ yang tak membosankan dan ingin terus mencicipinya.

Read the rest of this entry »