Kebebasan Beragama/Berpendapat dan Pelarangan Buku

 

Oleh: Hairus Salim HS

Bahan dibacakan pada Diskusi Publik “Pelarangan Buku: Menutup Jendela Dunia”, Senin, 31 Mei 2010, Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta.

Pelarangan buku di Indonesia selama ini banyak terkait, langsung maupun tidak langsung, dengan keberadaan agama, terutama Islam. Dalam sejumlah kajian, bahkan ditemukan peran lembaga seperti Departemen Agama, Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan beberapa ormas Islam lainnya dalam proses pelarangan buku.

Ini sebuah paradoks, karena Islam dikenal sebagai agama yang sangat menghargai bacaan. Wahyu Islam dimulai dengan kalimat ‘bacalah’ (Iqra!) dan salah satu sebutan kitab sucinya adalah Quran yang berarti ‘bacaan’. Pengaruh aksara, kitab, teks dalam agama ini begitu mendalam sehingga ada yang menyebut peradaban yang dibentuk (Arab)Islam ini sebagai ‘peradaban teks’. Maka bagaimana hal ini bisa ‘dipahami?’

Continue reading

Leave a Comment

Filed under Kertas Kerja

Identitas, Kitab, dan Sejarah: Catatan atas Karya-karya Amin Maalouf

Oleh: Hairus Salim HS
Bahan diskusi di TBS Surakarta
  • Novel-novel Amin Maalouf adalah novel-novel sejarah, dalam arti bahan ceritanya berlatar dari suatu peristiwa dan suatu periode sejarah. Tokoh-tokohnya diangkat dari tokoh yang menyejarah juga. Sejarah dalam novel tentu bukanlah sejarah yang berhenti, tapi sejarah yang hidup dan terus bergerak. Peristiwa-peristiwanya, tokoh-tokohnya, interaksi tokoh-tokohnya, pertarungan dan perkawanan kelompok-kelompok masyarakat, serta ‘ketegangan’ yang diakibatkan dari itu semua, membuat ‘sejarah’ itu seperti hidup, berputar-putar, dan memantul di hadapan kita, di masa kini. Continue reading

Leave a Comment

Filed under Kertas Kerja

Pertemuan Kedua dengan Soepriyadi Tomodihardjo: Sedikit Tentang Kumpulan Cerpen “Cucu Tukang Perang”

Pengantar diskusi yang diselenggarakan oleh Kelompok Rumah Lebah, 2011

Oleh: Hairus Salim HS

Saya bertemu lelaki itu di rumah Asahan Aidit, di sebuah kawasan di pinggiran kota Leiden. Hari itu matahari bersinar cerah sekali dan udara terasa hangat setelah sebelumnya selalu gelap, berkabut, dan dingin. Saya datang ke rumah itu atas ajakan Pak Mintardjo, seorang eksil yang tinggal di Leiden, tempat saya menumpang inap. Katanya, di rumah Asahan hari itu akan ada pertemuan dengan sastrawan sepuh Ajip Rosidi yang kebetulan sedang ada acara di kota pendidikan ini. Continue reading

2 Comments

Filed under Resensi Buku

Orang-Orang Kotagede

Kalau menelusuri Kotagede, bekas kota kuno keraton Mataram, jangan lupakan sekumpulan cerpen “Orang-Orang Kotagede” yang ditulis oleh Darwis Khudori, seorang penulis dan arsitek yang kini bermukim di Prancis. Cerpen-cerpen ini ditulis sekitar tahun 1970an dan awal 80an, dan diterbitkan menjadi buku oleh Bentang pada tahun 2000. Suasana kehidupan di Kotagede lebih dari 25 tahunan lalu itu jelaslah berbeda dengan keadaannya kini. Continue reading

Leave a Comment

Filed under Resensi Buku

Bouraq

Saya akrab dengan sosok ini. Di daerah saya dulu, sosok ini tampil dalam poster-poster atau fotokopian buram yang ditempel di dinding-dinding rumah. Saya juga pernah melihat sosok ini dalam berbagai variasi wajah dan warna dalam banyak lukisan kaca, ketika dulu menemani Jerome Samuel, yang meneliti topik lukisan kaca di Jawa pada pertengahan abad lalu. Continue reading

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

Ki Ageng Suryomentaram: Ukuran Keempat

Ada empat ukuran dalam kehidupan manusia. Ukuran pertama menyangkut garis, ukuran kedua berkaitan dengan dataran yang mengandung panjang dan lebar, ukuran ketiga berbentuk benda yang mengandung panjang, lebar, dan tebal, dan ukuran keempat adalah benda hidup yang mengandung rasa. Continue reading

2 Comments

Filed under Uncategorized

Agama dalam Sastra: Pertemuan dan Persimpangannya

Oleh Hairus Salim HS

Catatan: Pengantar diskusi ‘Agama dan Kesusasteraan,’ Balai Budaya Soejatmoko, Solo, 6 September 2009 M/16 Ramadhan 1430 H.

Kehidupan dan pandangan keagamaan di dalam sastra adalah suatu yang mendalam di dalam tradisi sastra Indonesia. Di kalangan para pengarang Muslim misalnya, sastra diyakini sebagai suatu sarana yang penting untuk mengungkapkan ekspresi dan aspirasi keagamaan. Kehidupan keagamaan terutama sebagai latar belakang dan sekaligus sebagai ’pemecah persoalan’ di dalam sastra seperti disinyalir Gonawan Mohamad beberapa tahun silam masih sangat kuat terutama di lingkungan pengarang Muslim. Dan ini menurut saya menjadi corak utama sastra Indonesia dalam relasinya dengan agama dalam beberapa tahun terakhir ini.
Continue reading

Leave a Comment

Filed under Kertas Kerja

Djohan Effendi: Kosmopolitanisme Se-“Urang Banjar”

Catatan: Tulisan ini merupakan pengantar untuk buku biografi Dr. Djohan Effendy: Sang Pelintas Batas. Djohan adalah mantan Menteri Sekretaris Kabinet era Gus Dur, penulis pidato Presiden Soeharto, dan salah seorang tokoh pembaruharuan Islam Indonesia. 2009 yang lalu, beliau berusia 70 tahun. Rekan-rekannya merayakannya dengan di antaranya menerbitkan biografi beliau dan sebuah persembahan dari sejumlah aktivis dan intelektual, Merayakan Kebebasan Beragama: Persembahan 70 tahun Djohan Effendy. Kedua buku tersebut diterbitkan oleh ICRP dan Kompas, Jakarta (HS).

Hairus Salim HS

Di Yogyakarta, atau tepatnya di jalan Mataram, berseberangan dengan Hotel Melia Purosani, persis di pojok jalan, ada sebuah masjid mungil. Quwwatul Islam namanya. Masjid ini didirikan oleh para saudagar asal Banjar, Kalimantan Selatan, beberapa warsa yang lalu, dan awalnya dimaksudkan sebagai ‘transito’ bagi para pendatang Banjar di Yogyakarta, baik mereka yang hendak mengadu nasib maupun yang ingin menuntut ilmu di Yogyakarta. Pendirinya konon berwasiat agar pengurus takmir masjid ini selalu orang Banjar, supaya ia selalu bisa menjadi ‘pusat’ pertemuan dan komunikasi orang-orang Banjar di Yogyakarta. Memang pada tahun-tahun pendiriannya, belum ada asrama daerah milik warga Kalimantan Selatan yang bisa menjadi pusat pertemuan dan kegiatan, serta komunikasi pasti masih sulit. Karena itu, fungsi masjid itu –di luar untuk kepentingan ibadah— sangat penting bagi warga Banjar di Yogyakarta. Dan sesuai dengan wasiat, hingga sekarang pengurus takmirnya selalu orang asal atau keturunan Banjar yang bermukim di Yogyakarta. Meski peranan masa lalunya telah merosot, hingga kini masjid itu tetap menjadi pusat pertemuan warga Banjar di Yogyakarta.

Continue reading

1 Comment

Filed under Kertas Kerja

Si Bongkok

Konon, di Cina hiduplah seorang penjahit dengan istri yang jelita dan setia. Sebagai penghiburan, suatu hari mereka mengundang makan malam seorang lelaki bongkok yang piawai main rebana, bernyanyi, dan melucu. Dengan perut kenyang, mereka tertawa riang. Sambil bergurau si penjahit menjejalkan sepotong ikan ke mulut Si Bongkok yang membuatnya tak dapat bernapas dan tidak sempat mengunyah, hingga langsung menelannya. Bagian tulang ikan itu menancap di kerongkongannya dan membuatnya tewas seketika.
Continue reading

1 Comment

Filed under Tatap

Toleransi

Mengingat Voltaire adalah di antaranya mengingat Jean Calas. Dan mengenang dua nama ini dalam satu nafas adalah menyadari bahwa sikap toleransi, menegang, dan menghormati orang yang berbeda, tidaklah datang serta merta, tapi melalui perjuangan, pengalaman, dan juga air mata.
Continue reading

Leave a Comment

Filed under Uncategorized